Share

Menuduh Pak Dosen

Author: Asriaci16
last update Last Updated: 2025-10-20 09:40:53

"Jujur aja! Tadi malem bapak apain saya? Kok, bisa-bisanya saya jadi satu ranjang sama bapak dalam keadaan telanjang bulat gini," tukas Agnia resah. 

Dalam keadaan tubuh dibalut selimut hotel, ia mencoba mengorek informasi dari pria yang saat ini sedang duduk bersandar ke kepala ranjang. 

Melirik, Irgi yang merasa masih sedikit ngantuk dengan keadaan rambut berantakan lantas menjawab, " Kamu tanya sama saya?"

Membulatkan mata, Agnia yang kepalang panik pun lalu kembali terpancing untuk melayangkan sahutan. "Maksud bapak apa? Ya, iyalah! Kalau bukan tanya sama Bapak, terus saya harus tanya sama tembok? Bapak ini ngigau, ya?"

Mendengkus, Irgi membalas, "Kamu yang ngigau. Saya cuma ikutin kemauan kamu saja."

Lagi, mata Agnia terbelalak seiring dengan mulutnya juga yang ikut ternganga. 

"Ikutin kemauan saya? Maksud bapak apa?" 

Irgi mendecak. "Tadi malam, kamu sendiri yang minta saya masukin kamu. Kamu memaksa saya, akhirnya saya melakukan apa yang kamu minta."

Mendengar itu, Agnia terperangah tak percaya akan apa yang baru saja meluncur dari mulut dosen tampannya ini. 

Untuk sesaat, Agnia bahkan terlihat berpikir keras seakan-akan ia sedang memaksa otaknya untuk menayangkan kembali rekaman kronologi yang sebenarnya terjadi di malam tadi.

"Kamu tidak percaya? Perlu bukti?," ujar Irgi santai. Sekaligus, membuat Agnia melayangkan kembali pandangan gelisahnya di tengah otak yang sedang sangat sulit untuk diajak kerja sama. 

"Bu-bukti?" 

Irgi mengangguk."Saya bisa minta orang hotel untuk memberi rekaman CCTV semalam, di beberapa titik yang saya dan kamu lewati. Terutama di lift, dan mungkin di dalam mobil saya pun ada CCTV-nya," lontar Irgi tak gentar. 

Setelah apa yang terjadi semalam, tentu saja ia tak takut memberi bukti. Toh, dia memang melakukannya karena diminta, bukan atas dasar keinginan Irgi sendiri. 

"Ta-tapi, video bisa direkayasa! Siapa tahu bapak memang sudah merencanakan ini semua. Makanya bapak terlihat tenang dan siap memberi bukti," cetus Agnia tak mau tersudut. 

Walau begitu, ia merasa sangat penasaran dengan apa yang sudah terjadi kepadanya sebelum pagi ini datang. 

"Manfaatnya buat saya apa? Saya bukan orang miskin yang akan memanfaatkan keadaan hanya demi uang. Dan saya jujur dengan fakta yang ada," tukas Irgi tegas.

Agnia termangu. Dia sungguh kalut sekarang. Terakhir yang dia ingat adalah, dia masuk ke bar dengan tujuan untuk meluapkan sakit hatinya. 

"Kenapa diam? Menyesal karena sudah menuduh saya, hm?" Lirik Irgi datar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sialnya semakin membuatnya tampan berkali-kali lipat. 

Namun, secepat kilat Agnia pun menepisnya. "Menyesal? Saya bahkan yakin betul, kalau bapak sudah menyusun rencana dengan sangat rapi, kan? Saya juga yakin, sejak lama, bapak udah mantau saya, kan?" 

Dituding seperti itu, Irgi pun refleks mendengkus.

"Memangnya secantik apa kamu sampai harus saya pantau sejak lama? Kalau pun saya mau, saya bisa saja langsung mendatangimu dan mengajakmu tidur di hotel mana pun. Bukan dengan cara klise dan menyusun rencana murahan seperti ini," tandas Irgi mendecak. 

Merasa tidak habis pikir pada wanita yang bahkan tadi malam saja merengek sendiri minta dimasuki. 

"Saya emang gak cantik, tapi saya punya harga diri, Pak!" 

"Oh ya?" Tatap Irgi mencemooh, sebelah alisnya terangkat sinis.

"Bapak ngejek saya?" Pekik Agnia melotot.

Irgi menggeleng. "Tidak. Tapi, perkataanmu itu sangat berbanding terbalik dengan perlakuanmu semalam," tukas Irgi menggedikkan bahunya sekilas. 

"Begini saja, sekarang kamu mandi. Berpakaian. Lalu, kita akan sarapan bersama sambil saya tunjukkan beberapa bukti rekaman CCTV untuk kamu." 

Agnia menahan dongkol. Sama sekali tidak percaya kalau semalam dirinyalah yang memulai. 

"Gimana caranya gue yang mulai? Sama Theo aja gue belum pernah ngelakuin, kok, meskipun pacaran udah bertahun-tahun lamanya," bisik Agnia lirih.

Pikirannya lantas melanglang buana pada kemungkinan demi kemungkinan yang telah terjadi pada saat dirinya tak sadarkan diri. 

***

Setelah sama-sama berpakaian lagi, kini, bukti rekaman sudah ada di tangan Irgi. Tanpa harus memakan waktu yang lama, ia bisa dengan mudahnya mendapatkan rekaman CCTV ketika di lift. 

Bukan hanya itu, tapi, Irgi pun sudah mengantongi rekaman CCTV di dalam mobilnya juga. 

"Kamu bisa lihat dua rekaman itu dengan cermat. No rekayasa!" Pria itu menyodorkan ponselnya ke tangan Agnia. 

Mula-mula, Agnia yang merasa deg-degan pun tampak mengambil ponsel tersebut dan mulai memutar rekaman CCTV ketika berada di dalam lift. 

Terlihat dari layar yang tertangkap kamera CCTV, Agnia memang mencium Irgi duluan yang mana awalnya Irgi sedang diam menunggu liftnya terbuka. Meski tanpa suara, tapi Agnia benar-benar disuguhi pandangan mencengangkan yang membuat wajahnya memanas detik itu juga. 

"I-ini gak mungkin," bisik Agnia tak percaya.

"Kamu bisa slide video satunya lagi. Di sana, ada yang lebih jelas dan ber-su-a-ra ...." Irgi sampai harus mengeja kata terakhir yang diucapkannya, supaya Agnia sadar bahwa semalam dia sangat brutal sekali menyosor pada Irgi.

"Ahh, bibir lo lembut banget kayak permen jelly." Suara Agnia terdengar jelas dalam video kedua yang ia tonton. 

Di sana, Agnia juga melihat dengan sangat nyata betapa ia begitu rakusnya melumat bibir Irgi. Bahkan, Agnia juga mengarahkan tangan Irgi agar menyentuh bagian basah di bawah tubuhnya. 

"Enggak!" Jerit Agnia syok. 

Ponsel yang semula ia pegang pun kini sudah jatuh menghantam lantai. 

"Ada apa?" Tanya Irgi datar. Dia tidak peduli walau ponselnya sudah mati karena mendarat di lantai dengan cukup kencang.

Agnia menggeleng. Wajahnya semakin terasa panas setelah menyaksikan kebrutalannya semalam. 

"Itu pasti editan, kan? Bapak sengaja kan, mengedit saya sampe sebrutal itu? Jaman sekarang udah canggih. Saya yakin itu cuma rekayasa video saja, kan?" 

Irgi sampai harus memutar bola matanya lelah tatkala si wanita masih saja meragukan keaslian rekaman yang sudah ditontonnya tadi. 

"Apa perlu saya telpon ahli IT?" Tawar Irgi dalam ketenangannya. 

"Buat apa?" 

"Supaya kamu berhenti menuduh saya. Sudah jelas itu rekaman nyata tanpa editing. Masih saja kamu tidak percaya," ujarnya datar. 

Agnia bergeming. Ia menggigit bibir bawahnya di tengah kekalutan yang mendera. 

"Persis seperti itu kamu semalam," celetuk Irgi menunjuk.

Mendongak, Agnia yang tak mengerti pun lantas bertanya, "Maksud bapak?" 

"Ya itu, kamu gigit bibir bawahmu seperti itu saat kamu tidak kuasa menahan diri. Dan …," Irgi mencondongkan tubuhnya ke hadapan Agnia, lalu berbisik pelan. “Saat menggoda saya.”

Lagi, Agnia dibuat melotot oleh pernyataan sang dosen yang kembali mengingatkan. 

"Enggak. Bapak bohong, kan?"

"Terserah. Saya capek," pungkas Irgi tak mau lagi berdebat. Kemudian, ia merunduk guna mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai. 

*** 

Setelah sempat mendapat keterangan lebih rinci dari resepsionis hotel dan room servis yang ikut menjadi saksi, Agnia pun akhirnya menyadari kesalahan yang dibuatnya semalam. 

Iya! Dia mengaku sekarang. 

"Kenapa saya bisa begitu, Pak?" Cicit si wanita yang sudah tidak punya muka lagi karena merasa sangat malu. 

Irgi mengangkat bahunya seraya menjawab, "Saya tidak tahu. Tapi saya bisa memberi kamu clue." 

"Maksud bapak?" Tatap Agnia bingung.

"Mungkin, temanmu yang bartender bisa bantu menjelaskan perihal apa yang membuatmu sebrutal itu. Kalau mau, saya bisa antar kamu untuk mendatanginya," ungkap Irgi menawarkan diri. 

Meski masih sangat bingung dengan maksud sang dosen, tetapi rupanya Agnia bersedia saja diantar Irgi menemui teman lelakinya yang bernama Beni.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Skandal Satu Malam Bersama Pak Dosen   Aroma Parfum

    “Jaga diri kalian baik-baik ya selama mama dan papa gak ada di rumah. Jangan menyulitkan nenek kalian. Apalagi dengan kondisinya yang baru pulih dari koma. Sebagai perempuan dewasa yang beradik kakak, kalian berdua harus bisa saling menjaga satu sama lain. Jangan sampai ada perseteruan sekecil apapun di antara kalian ya…” Sembari memeluk kedua putrinya bergantian, Intan memberikan sedikit wejangan untuk mereka selagi dirinya harus menemani sang suami berobat ke luar negeri. Selama itu pula, Intan menaruh kepercayaan penuh terhadap Agnia dan Rossi. Intan yakin jika kedua putrinya ini akan bisa saling mengandalkan satu sama lain.“Titip salam juga buat suamimu ya, Ros. Tadi pas berangkat, kebetulan dia gak di tempat. Jadi, mama sama papa gak sempat pamitan sama suamimu…” tukas Intan lagi pada putri sulungnya.Untuk sesaat, Rossi pun mengernyitkan dahi sedikit heran. Meski begitu, ia tetap mengangguk dan merespon setiap kalimat yang terlontar lugas dan mengandung pesan dari mulut mamany

  • Skandal Satu Malam Bersama Pak Dosen   Selamat dari Situasi Berbahaya

    Di tengah ciuman yang semakin brutal dan tak terkendali, tiba-tiba saja seseorang muncul mengetuk pintu dengan cukup kencang juga mengejutkan. Dalam sekejap, membuat Agnia terpekik kaget seiring dengan mata yang terbelalak lebar sekaligus mendorong dada Irgi sekuat tenaga hingga menyebabkan ciuman mereka terpaksa disudahi. “Agnia!” seru sebuah suara yang tak asing. Melotot, Agnia yang sedang lumayan berantakan karena ulah Irgi sebelumnya pun refleks didera rasa panik tatkala mendapati sang mama yang memanggil dirinya barusan. “Itu suara mama, Mas,” bisik Agnia cemas. Sementara Irgi, dia berusaha menenangkan Agnia dengan cara menempelkan telunjuknya di bibir sendiri. Memberi kode agar Agnia tidak bersuara, sekaligus mencari alasan kuat guna melayangkan jawaban ketika nanti mereka dilontari pertanyaan.“Nia, kamu di dalam, Nak?” Intan kembali bersuara di sela ketukan pintu yang belum disudahi. Kepanikan Agnia bertambah. Buru-buru, ia pun membenahi kembali kancing kemejanya yang sud

  • Skandal Satu Malam Bersama Pak Dosen   Terhanyut Kembali

    “Maafin aku, Mas. Tapi, hubungan kita emang udah gak bisa dilanjut lagi,” gumam Agnia menahan tangis. Akan tetapi, tiba-tiba saja tangannya ditangkap oleh seseorang yang berasal dari belakangnya. Menyebabkan tubuhnya terhuyung mundur, yang seketika membuat Agnia tersentak kaget apalagi saat ada dua tangan yang melingkari perutnya dari belakang. “Jangan pergi,” bisik suara yang Agnia sangat kenali itu, menelusup masuk dengan cukup sopan tepat ke telinganya.Agnia yang hafal bahwa pemilik suara itu adalah Irgi pun lalu buru-buru saja melakukan sedikit pemberontakan. Hanya saja, Irgi yang enggan membiarkan pelukannya terlepas pun justru malah semakin mengeratkan pelukannya hingga Agnia terpaksa menyerah saat tenaganya tak sebanding. “Mas, tolong lepasin. Bahaya kalo sampe ada yang lihat,” ujar Agnia meminta baik-baik. Untuk sesaat, tampaknya cukup berhasil membuat Irgi sadar akan bahaya yang Agnia maksud. Lalu, ia pun melepaskan peluknya. Tetapi, tentu saja bukan untuk membiarkan wan

  • Skandal Satu Malam Bersama Pak Dosen   Hubungan yang Benar-benar Berakhir

    Irgi baru saja keluar dari kamar mandi ketika ruangan terlihat kosong dan Agnia pun tidak ada di tempat. Padahal, Irgi merasa tidak terlalu lama berada kamar mandi. Tapi, wanita itu sudah menghilang saja tanpa pesan. “Tidak kuat, huh? Belum di apa-apakan saja sudah menyerah duluan. Dasar payah,” desisnya mencemooh. Kemudian, Irgi kembali menekuni pekerjaannya sembari mencampuri lagi ember cat nya menggunakan air. Akan tetapi, saat hendak mengaduknya agar tercampur rata, catnya malah menciprat mengenai kemeja yang dikenakannya. “Shit,” umpatnya refleks. Menghentikan kegiatannya, Irgi lalu berdiri tegak sembari mencoba membersihkan noda cat yang kini mengotori kemejanya. Namun, sepertinya tidak berhasil. Membuat Irgi mendecak kesal, sehingga terpaksa pula ia melepas kemejanya tersebut. Menyisakan tubuh topless-nya yang berotot, terutama bagian perut yang memperlihatkan bagian roti sobeknya. Tanpa disangka, Agnia masuk sembari menenteng kresek berisi dua buah minuman sesuai yang dip

  • Skandal Satu Malam Bersama Pak Dosen   Pertahanan yang Nyaris Runtuh

    Beberapa saat setelah Rossi dipastikan benar-benar pergi dari rumah untuk mengurus pekerjaan. Baik Irgi maupun Agnia, tidak satupun dari mereka yang berminat buka suara untuk membahas apapun. Keduanya terlihat sama-sama sibuk mengerjakan bagiannya masing-masing. Irgi dengan kuas catnya, sedangkan Agnia terlihat cukup serius juga dalam menggunakan fungsi roll cat yang sedari tadi sudah setia dipilihnya. Walau begitu, rupanya diam-diam Irgi sempat beberapa kali mencuri pandang. Berharap Agnia pun melakukan hal serupa, tetapi pada kenyataannya tidak sekalipun wanita itu menengok. “Ehem,” dehem Irgi sengaja. Sepertinya, pria itu sedang mencari jalan untuk bisa berinteraksi dengan sang wanita. Hanya saja, Agnia justru cenderung fokus dan berusaha keras untuk tidak terpengaruh oleh suara deheman barusan. “Bagaimana kabarmu?” Untuk pertama kalinya setelah perpisahan sepihak pada malam itu, Irgi baru bertanya soal kabar yang sukses telak membuat tubuh Agnia mendadak beku. Tangan yang sem

  • Skandal Satu Malam Bersama Pak Dosen   Rindu Terhalang Gengsi

    “Nggak! Gue gak mungkin hamil, kan? Paling tadi itu gara-gara masuk angin doang,” gumam Agnia menyangkal. Walau begitu, jantungnya tetap berdebar kencang tak keruan. Membayangkan andai kemungkinan buruk itu sungguh terjadi, maka entah apa yang harus Agnia lakukan dalam situasi serumit itu.Rian bahkan sudah pergi melesat bersama mobilnya sejak beberapa menit yang lalu. Namun, Agnia justru masih berdiri setia di depan pagar rumah orangtuanya sambil menenteng kantong kresek berisi barang belanjaan titipan mamanya di satu tangan, sedangkan tangan satunya lagi ia sentuhkan pada perutnya yang masih rata. “Agni, ngapain berdiri sendiri di luar pagar? Ayo masuk! Tadi mama udah nanyain kamu terus, loh. Katanya nunggu barang belanjaan yang mama suruh kamu beli. Kamu gak lupa, kan?” tegur sebuah suara yang berasal dari balik pintu pagar. Dalam sekejap, Agnia pun buru-buru menurunkan kembali tangannya yang semula memegang perut, dan berlanjut dengan memutar tubuhnya menghadap ke pagar. Diliha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status