LOGIN
“Kamu mengalami pergeseran bahu, juga cedera pergelangan tangan yang parah. Pergerakan akan terbatas dan–”
“Tunggu, Dokter.” Fiore menyela. Fiore tidak bisa mencerna semuanya sekaligus. Baru saja, ia terbangun di atas ranjang rumah sakit. “Apa maksudnya … aku enggak akan bisa main biola lagi?” Tenggorokan Fiore tercekat. Biola adalah dunianya. Satu hal yang paling Fiore banggakan. Ia adalah violinist pendatang baru terbaik. Bahkan, kalau bukan karena kecelakaan yang menimpanya, ia sedang memainkan biola di Rising Strings Gala, konser paling besar di Negara Indravia! “Tolong jawab, Dokter! Setelah sembuh, aku masih bisa bermain biola, kan?!” Fiore berteriak pilu. Suaranya menyayat hati. Air mata sudah menumpuk di sudut matanya. Sejak kecil, ia sudah menggantungkan cita-cita pada biola. Tidak bisa seperti ini. Dokter menarik napas berat. Bibirnya bergerak mengucapkan jawaban. “Setelah melakukan pengobatan, kami bisa melihat perkembangannya, mungkin–” “Mungkin?!” Air mata mengalir di pipi Fiore yang penuh luka. Perih tidak cukup membuat Fiore berhenti menangis. Ia telah kehilangan biolanya. Dokter di depannya menunduk dalam. “Maaf, kami akan terus pantau perkembangannya.” Fiore hanya bisa meratapi punggung dokter yang perlahan menjauh. Salah satu perawat menyempatkan diri untuk menepuk lengannya, menghibur, sebelum ikut keluar ruangan. Namun, Fiore tidak merasa lebih baik. “Permainan biolamu yang terbaik di Harmonia Royal University!” “Kamu adalah jenius yang baru muncul setelah 20 tahun!” Sorak sorai selalu menggema setiap kali Fiore memainkan biola. Pujian mengalir bagaikan air bah untuknya. Di umur yang masih 21 tahun, Fiore sudah berkeliling ke berbagai negara untuk mengikuti konser. Ia adalah bintang yang harusnya terus bersinar. “Aku tidak bisa … tidak bisa lagi.…” Ucapannya terpotong oleh isak yang menekan dada. Tubuhnya menggigil dalam pelukan kesedihan yang tak terbendung. Malam itu, Fiore tersedu tanpa henti. Ia tidak tahu berapa banyak waktu yang berlalu sampai dokter membangunkannya untuk pemeriksaan keesokan hari. Seluruh badannya sakit. Wajahnya kuyu. Matanya sembab dan rambutnya berantakan. Fiore sehancur itu. “Selamat pagi.” Suara dokter terdengar mengambang di telinganya. Fiore tidak menjawab. Ia hanya membiarkan tangan dingin dokter memeriksa lengannya yang dibalut perban, sementara matanya menatap kosong ke langit-langit kamar. Bau disinfektan menusuk hidungnya, mengingatkannya bahwa ini bukan mimpi buruk, tapi kenyataan. “Usahakan untuk tidak terlalu banyak bergerak.” Dokter memperbaiki letak shoulder immobilizer yang dipakai oleh Fiore. Fiore tak merespon. Ia hanya menatap sang dokter dengan pandangan kosong. “Kami berharap keadaanmu cepat membaik,” ucap dokter sebelum akhirnya berlalu. Fiore masih tertegun, tubuhnya lemas tak berdaya. Bahunya berdenyut-denyut nyeri, dan shoulder immobilizer yang membebat dadanya terasa seperti sangkar yang mengungkung. Ia belum bisa menerima kenyataan. Tangan yang dulu lincah menari di atas senar biola, kini bahkan tak bisa menggenggam. “Apalagi yang aku miliki?” Fiore masih tenggelam dalam kesedihan saat pintu ruang rawat terbuka. Beberapa perawat melangkah masuk, membawa pasien baru. Saat itu, Fiore baru menyadari jika ada ranjang kosong di sampingnya. Fiore menghapus air matanya cepat. Ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran pasien baru itu. “Suster!” Fiore memanggil salah satu perawat. “Kenapa orang ini masuk ke kamar saya?” Perawat itu terkejut sejenak, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Fiore dengan sebuah senyum. “Ini kamar kelas dua, memang diisi lebih dari satu pasien.” Fiore tersentak kaget. Ia tidak tahu kalau ruang rawat yang ia tempati bukan ruang VIP. “Kenapa aku di sini? Enggak mungkin Ayah sama Ibu biarin aku sekamar sama orang lain. Mereka pasti….” Kalimat Fiore tidak selesai. Suaranya berubah mencicit, perlahan tenggelam dalam gumaman. “Ayah sama ibu ke mana?” Fiore baru menyadarinya. Sejak kemarin, ia terlalu fokus pada biola. Hilangnya kemampuan Fiore untuk bermain alat musik kebanggannya itu membuat Fiore terpuruk. Ia sampai tidak memperhatikan hal lain, termasuk orang-orang di sampingnya. “Mereka belum tau aku di sini?” Fiore berucap bingung. Apa kabar kecelakaannya belum terdengar? Atau Ayah dan Ibunya sudah datang saat ia belum sadar? “Nak! Untung kamu selamat!” Suara tangis dari seorang wanita sampai ke telinga Fiore. Fiore menoleh. Ia melihat sosok ibu dari pasien yang dirawat di sampingnya. Sebersit rasa iri menyayat hatinya. Ibu itu menangis bersyukur melihat anaknya selamat, lalu dia? Siapa yang menangis dan bersyukur untuknya? Saat itu juga, Fiore termenung. Apa benar ayah dan ibunya tidak tahu ia ada di sini? Apa mereka tidak mencarinya? Fiore menggeleng keras. Mustahil. “Aku putri keluarga Wijaya satu-satunya. Tidak mungkin Ayah dan Ibu tidak peduli padaku!” Fiore berucap lantang. Selama ini, ia adalah anak kesayangan. Fiore tumbuh dengan limpahan cinta. Queen Fiore Wijaya, adalah simbol bahwa dirinya seorang ratu dalam keluarga Wijaya. Ayahnya, Rudi Wijaya, yang memberikan nama itu. Ibunya, Yeni Wijaya, bahkan tidak keberatan memberikan posisi tertinggi pada Fiore. Lantas, kenapa? Kenapa sekarang Fiore sendirian? "Aku harus menghubungi Ayah dan Ibu," gumam Fiore dengan suara serak. Dengan sisa tenaga, ia mencoba mendorong tubuhnya yang berat dan sakit untuk bangkit. Tangannya meraba-raba mencari tombol panggil perawat. Orang tuanya pasti belum tahu ia di sini. Mereka pasti sedang mencari dirinya. Harusnya begitu, kan?“Fiore, jangan tolak aku.” Pandangan Ethan memelas luar biasa. Pria itu terus membujuk dan memohon. Di depan Ethan, Fiore masih menatap pria itu ragu. Harga dirinya terluka karena ucapan Ethan. Namun, jika Jay tak bisa menolongnya, maka hanya tertinggal Ethan. Suasana rumah sakit mulai ramai. Karena hari semakin siang, beberapa orang mulai datang untuk menjenguk.Fiore harus memilih secepatnya. Ia tak mau terus menunda proses keluar rumah sakit. “Aku enggak janji bisa maafin Om,” ucap Fiore jujur. Fiore tak akan sepeduli ini jika hinaan yang ia terima bukan dari Ethan. Namun, sebagai satu-satunya orang yang paling Fiore percaya, Ethan memegang seluruh hatinya. Mungkin memang salah Fiore sendiri karena ia terlalu percaya pada seseorang. Selalu saja Fiore mendahulukan Ethan dibandingkan dirinya sendiri.Namun, setelah semua hal yang Fiore lakukan, ia malah mendapatkan penghinaan. Tepat di depan wajahnya! “Enggak masalah!” Sebuah senyum membuat wajah Ethan yang berantakan terlihat
“Malamku sangat buruk.” Fiore menghela berat. Semalaman, ia tak bisa tidur nyenyak. Padahal di ruang rawat rumah sakit ini, hanya ada Fiore sendiri. Ranjang lain kosong, tapi ia terus-terusan mendengar suara orang lain di sampingnya. “Sudahlah, sebentar lagi juga aku akan keluar dari sini. Tinggal menunggu Kak Jay datang saja.”Fiore membersihkan dirinya sedikit. Ia mencuci wajah sebentar lalu kembali hanya untuk mendapatkan Ethan sudah berdiri di tepi ranjangnya. Kedua mata Fiore memicing. Satu hal yang ia sadari saat tatapannya bertemu dengan Ethan adalah betapa kuyu wajah pria itu. Bahkan pakaian Ethan masih sama seperti kemarin.“Om enggak pulang semalam?” tuduh Fiore tanpa ragu. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Terjawab sudah semua pertanyaannya sebelum ini. Suara yang ia dengar semalaman, pasti adalah suara Ethan. “Apa pun yang Om lakukan, aku enggak mau balik sama Om. Aku udah bilang, kan?”
“Kamu enggak apa-apa?” Jay menepuk lembut punggung Fiore. Pria itu tak bisa memberikan penghiburan yang lebih layak karena Fiore seperti sengaja menjaga jaraknya. Di sudut ranjang, Fiore duduk membisu, membiarkan air matanya membanjir tanpa banyak peduli. Hatinya terasa sakit luar biasa. Membayangkan Ethan yang menjauh darinya membuat Fiore sangat terluka. Ia yang akhirnya bisa bangkit karena Ethan, malah ditinggalkan lagi. Fiore tak tahu kesalahan apa yang sudah diperbuatnya selama hidup. Kenapa ia harus menghadapi nasib seburuk ini? “Aku enggak apa-apa,” sahut Fiore dengan suara serak. Ia berusaha keras untuk menahan isak tangisnya yang masih menyangkut di tenggorokan.Fiore berdehem beberapa kali. Ia menarik napas panjang sebelum mencoba bicara kembali dengan suara yang masih bergetar. “Aku cuma merasa sedih karena hidupku mengerikan. Kayaknya aku benar-benar ditakdirkan sendirian. Setiap kali ada orang di sampingku, pasti selalu pergi.”Orang tua Fiore sudah tak menganggapnya
“Fi! Jangan pergi!” Ethan memohon.Tangan pria itu terulur, mencoba menggapai Fiore kembali. Tinggal selangkah lagi Fiore sampai di pintu ruang rawat, tapi Ethan terus menghalangi. “Aku bersalah. Aku minta maaf. Tolong maafkan aku!” Ethan berteriak putus asa. Hari sudah gelap, tapi ruang rawat Fiore ramai. Keributan itu akhirnya membuat beberapa perawat menghampiri. Salah satu dari mereka menegur dengan tegas. “Harap jangan berisik. Ada pasien lain yang perlu istirahat!” ujar salah satu perawat dengan tatapan galak. Perawat yang lain lebih tenang, tapi tak kalah tegasnya. “Jam besuk lima belas menit lagi.”Fiore menghela keras. Ia harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. “Ayo kita bicara, Om. Tapi aku punya satu syarat. Jangan memaksa!” Peringatan Fiore akhirnya membuat Ethan mengangguk menurut. Meski ia tidak yakin mampu membuat Fiore luluh, Ethan tetap harus mencoba. Mungkin ini adalah kesempatan ter
“Maaf, boleh pinjam handphone?” Fiore merasakan dejavu saat dulu ia terbangun di rumah sakit. Momen pertama saat ia menghadapi kenyataan tentang cedera di bahunya yang tak akan pernah sembuh. Sama seperti saat itu, kali ini Fiore juga memohon belas kasihan orang-orang. Meminta sedikit saja kesempatan untuk mencari bantuan. Kali ini bukan keluarganya, bukan Ethan, bukan teman. Fiore memilih untuk percaya pada Jay. Tak mengapa, ia akan mencoba membayar semuanya dengan bekerja pada Jay nanti. Masalah Prime Luxury, terserah saja. Ethan juga pasti tak mau melihatnya lagi. “Jangan lama-lama, ya?” Seorang perawat berwajah ramah akhirnya menyodorkan handphone miliknya. Perawat itu berdiri di sisi Fiore, mengawasi dalam diam. Fiore pun tak keberatan. Ia cuma meminjam handphone untuk masuk ke dalam akun media sosialnya dan mengirim pesan pada Jay. Kak, apa Kak Jay ke rumahku? Pestanya batal. Maaf ya. Aku tiba-tiba sakit. Ak
Pagi itu Ethan bangun dengan suasana hati yang buruk. Laporan yang ia terima dari Roy membuat ia begitu marah. Ethan memang sempat curiga jika Fiore melakukan sesuatu di belakangnya. Seringkali ia melihat Fiore lebih fokus kepada handphone saat mereka sedang berdua. Lalu, hadiah-hadiah itu adalah puncaknya. “Apa Fiore ke rumah cowok itu?” Ethan menendang selimutnya kesal.Ia beranjak dari tempat tidur. Kepalanya yang panas membuat Ethan ingin mendinginkannya segera. Ia beranjak ke kamar mandi dan berendam sampai bosan. Saat hendak berganti pakaian, Ethan melihat sebuah gaun di dalam lemari. Ia tak mengenali gaun itu. Seingat Ethan, ia tak pernah membelikannya untuk Fiore. Gaun itu juga bukan milik Natasha. Semua milik Natasha sudah ia singkirkan. “Hadiah dari cowok itu juga?” Kesal, Ethan mengambil baju asal. Saat ia sedang berpakaian, terdengar suara bel. “Tidak mungkin Fiore,” gumam Ethan pelan. Meski ia sangat marah, tapi seluruh perhatiannya tertuju hanya pada Fiore. Sejak







