ログイン
Aku benci Senin. Tapi lebih aku benci kenyataan bahwa Senin pertamaku sebagai sekretaris justru membuatku menyaksikan sesuatu yang tak boleh terlihat dari CEO di kantorku.
Namaku Lola Sienna. Fresh graduate. Baru sebulan lalu wisuda, dan sekarang sudah harus duduk di kursi sekretaris seorang Christian Luciano. Yes, the Christian. Pria yang hidupnya penuh gosip. Konon pernah menikah, lalu cerai cuma seminggu setelah akad. Orang-orang bilang dia gila. Orang-orang juga bilang dia terlalu perfeksionis, terlalu dingin, dan… terlalu banyak misteri. Aku sih nggak peduli. Selama gajiku lancar, biar saja dia punya seribu rumor. “Lola, tolong ketik ulang proposal ini. Jangan pulang sebelum selesai.” Suara Bu Emma, senior di divisi, membuat bahuku turun drastis. “Baik, Bu,” jawabku pelan. Dalam hatiku, oh selamat tinggal mimpi pulang sebelum malam. Jam dinding menunjukkan pukul 18.30. Lantai kantor sudah sepi. Lampu koridor hanya menyisakan separuh cahaya. Sementara aku masih terjebak dengan huruf-huruf yang menari di layar, jari yang hampir kram, dan otak yang mendidih. Aku berdiri sejenak, meregangkan badan. “Ambil kopi bentar, balik lagi kerja. Oke,” gumamku. Tapi ternyata, hidup nggak pernah simple. Saat melewati lorong menuju pantry, mataku menangkap cahaya dari ruang CEO. Lampunya masih menyala. Aku menggigit bibir. Semua orang tahu Christian selalu datang paling pagi dan pulang paling malam. Tapi melihat sendiri kalau dia masih ada di kantor jam segini? Rasanya bulu kudukku berdiri. Aku berhenti, menatap pintu kaca itu. “Dia belum pulang ya?” suaraku lirih. Kakiku bergerak mendekat. Pintu sedikit terbuka. Awalnya aku mau pura-pura nggak lihat. Tapi mataku malah terpaku. Christian berdiri membelakangi pintu. Jas hitamnya sudah dilepas, kemeja putihnya kusut, dasinya longgar. Bahunya naik-turun cepat, tangannya mencengkeram meja seolah mau meremukkannya. Aku menelan ludah. Ada apa dengannya? Suara berat keluar dari bibirnya. “…hngh…” Erangan. Pelan, tapi jelas. Astaga. Jangan bilang— "Hghh." Tangannya mengepal, urat-urat di lengan menonjol. Dari sisi wajah yang terlihat, napasnya tersengal. Ada ekspresi tertahan, seperti seseorang yang melawan sesuatu di dalam dirinya. “Dia… kenapa?” bisikku tanpa sadar. Tubuhku menegang. Aku harusnya pergi. Aku harusnya pura-pura nggak lihat. Tapi kakiku justru terpaku di depan pintu kaca itu. Bruk! “Akh!” Sepatuku tersandung pot kecil. Tubuhku menubruk gagang pintu, menghasilkan suara nyaring. Aku panik. Tanganku buru-buru menutup mulut. Sial. Bahunya kaku. Tangan yang tadi mencengkeram meja terlepas. Perlahan kepalanya menengadah. Dengan gerakan cepat, dia menoleh. Mata kami bertemu. Dingin. Tajam. Menusuk. Tapi kali ini berbeda. Ada sesuatu yang lebih. Intens. Gelap. Aku membeku. Tubuhku menolak bergerak, meski kepalaku berteriak untuk lari. Christian tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatap. Tatapan yang terlalu lama, terlalu berat, seakan menahan sesuatu yang bahkan aku tak berani bayangkan. “Aku... maaf, aku nggak sengaja lewat,” kataku terbata, mencoba mundur. Dia melangkah satu kali. Hanya satu. Tapi itu cukup membuat jarak di antara kami menyusut drastis. “Apa yang kamu lihat?” suaranya rendah, serak, tapi jelas. Aku menelan ludah. “Nggak… nggak lihat apa-apa, Pak.” “Jangan bohong.” Mata itu menusuk, membuat paru-paruku serasa terhenti. Aku mundur setapak, punggungku hampir menempel ke pintu. “Saya sumpah, saya cuma—” “Kenapa kamu masih di kantor jam segini?” potongnya cepat. Pertanyaan normal. Tapi nada suaranya membuatku terguncang. Seolah dia sengaja mengalihkan, tapi tidak melepas tatapannya dariku. “Saya… masih ada kerjaan dari Bu Emma,” jawabku jujur. Dia terdiam. Hanya napasnya yang masih berat, meski perlahan mulai stabil. Tangannya menyentuh kancing atas kemeja, seolah baru sadar dasinya longgar. “Pulang setelah selesai,” katanya singkat. Aku mengangguk cepat. “Baik, Pak.” Kupikir dia akan kembali ke mejanya. Tapi tidak. Dia tetap berdiri di sana, menatapku seperti sedang menimbang sesuatu. Aku menunduk, mencoba kabur ke lorong. Tapi sebelum aku melangkah jauh, suaranya menahan. “Lola.” Aku berhenti. Bahuku kaku. “Ya, Pak?” “Apa yang kamu lihat barusan…” suaranya pelan, hampir seperti bisikan. “Lupakan.” Deg. Aku berbalik perlahan. Dia masih menatap, kali ini dengan senyum tipis—senyum yang tidak ramah, lebih seperti peringatan. “Kalau kamu pintar, kamu akan berpura-pura tidak tahu apa-apa,” lanjutnya. Jantungku berdetak kacau. “Saya… mengerti.” Dia mengangguk sekali. Lalu berbalik, mengambil jasnya, dan duduk kembali di kursinya. Aku menelan ludah. Kakiku akhirnya bisa bergerak, membawa tubuhku menjauh dari ruangan itu secepat mungkin.Lola masih berdiri di balik pintu mobilnya. Kedua tangannya gemetar ringan saat ia mencengkeram ujung pintu yang terbuka. Ia bahkan tidak menyadari sejak kapan ia sudah keluar dari mobil. Kakinya terasa lemah, tetapi tubuhnya tetap berdiri di sana, seperti tertancap di tempatnya sendiri. Matanya terpaku ke depan. Ke arah dua sosok yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk hotel. Christian. Dan Esther. Esther yang berlari keluar dengan wajah basah oleh air mata, lalu langsung memeluk Christian tanpa ragu sedikit pun. Dan Christian… Christian tidak menolak pelukan itu. Tidak mundur. Tidak terlihat terkejut. Sebaliknya, kedua tangannya terangkat dan membalas pelukan itu dengan erat. Bahkan lebih erat daripada yang Lola bayangkan. Seolah itu adalah sesuatu yang sangat alami. Sesuatu yang sudah terlalu lama tertahan. Dunia di sekitar Lola terasa tiba-tiba sunyi. Lampu-lampu hotel masih menyala terang. Orang-orang masih keluar masuk dari pintu utama. Suara kendaraan yang lewat
Di ujung telepon, setelah kalimat terakhir itu terdengar—“Lalu kenapa dia ada di sini sekarang?”Christian terdiam.Tidak ada nama yang disebutkan. Tidak ada penjelasan tambahan. Namun otaknya tidak membutuhkan itu semua.Ia langsung tahu siapa yang dimaksud Esther.Seolah ada sesuatu yang tersambung begitu saja di dalam kepalanya.Liam.Nama itu muncul seperti kilatan tajam yang memotong pikirannya.Untuk beberapa detik, Christian benar-benar tidak bergerak. Tubuhnya membeku, ponsel masih menempel di telinganya. Tatapannya kosong, tetapi pikirannya berlari jauh lebih cepat daripada detak jantungnya sendiri.Bagaimana mungkin?Sementara itu, tidak jauh darinya, Lola yang sebelumnya duduk santai di atas ranjang memperhatikan perubahan ekspresi Christian.Mereka masih berada di apartemen Lola.Lampu kamar yang redup memberi suasana tenang setelah malam yang panjang. Christian baru saja keluar dari kamar mandi beberapa menit lalu. Rambutnya masih sedikit basah, dan kemeja yang baru saja
Tubuh Esther membeku.Di seberang ruangan, pria itu mulai berjalan ke arahnya.Langkahnya tenang. Tidak tergesa, tidak pula ragu. Seolah jarak di antara mereka hanyalah sesuatu yang pasti akan terpotong cepat atau lambat.Satu langkah.Dua langkah.Jantung Esther menggila, keringat mulai membasahi pelipisnya dalam sekejap.Suara percakapan para tamu di ballroom yang sebelumnya terdengar riuh kini seolah menjauh dari telinganya. Musik yang mengalun lembut, denting gelas wine yang saling bersentuhan, bahkan tawa kecil para tamu, semuanya terasa seperti tenggelam di bawah suara detak jantungnya sendiri.Esther menatap pria itu tanpa berkedip.Tidak mungkin.Namun wajah itu tidak mungkin salah.Bahu lebar yang tegap. Cara berjalan yang santai namun penuh kendali. Dan sepasang mata yang bahkan dari jarak ini masih terasa terlalu tajam untuk diabaikan.Liam.Nama itu seperti muncul sendiri di dalam kepalanya.Selama bertahun-tahun, ia mengira bayangan itu sudah terkubur cukup dalam. Atau se
"Wanna join?"Senyuman miringnya terbit, matanya berkilat nakal. Dengan dengusan yang penuh kekuatan, wanita itu menatap sosok pria yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Setiap inci tubuh pria itu ia amati, tak ada yang terlewatkan dari pandangannya."Ada banyak hal yang harus kubicarakan denganmu, Esther."Wanita itu, yang tak lain adalah Esther, mengedipkan matanya beberapa kali. Ia berpura-pura terkejut, bahkan sedikit ketakutan, sembari menutupi sebagian tubuhnya dengan tangan yang tergenggam erat."Tunggu..." sahutnya, "Tidak biasannya seorang Matthew berbicara seperti ini kepadaku. Matthew selalu berbicara dengan kelembutan dan penuh kasih. Tapi, ini... apa yang terjadi?""Maaf. Waktuku tidak banyak. Aku tidak ingin itu terbuang sia-sia.""Sia-sia? Kau gila?" balas Esther tak percaya. "Biasanya, kau selalu memohon agar sedikit waktuku bisa ku beri, atau setidaknya agar kau bisa melihatku. Lalu sekarang, kau bilang waktu bersamaku itu sia-sia?!"Suasana ballroom hotel mendadak men
Lola terdiam.Christian menatapnya, tidak dengan maksud lain—hanya memohon tempat untuk bernafas.Lola tidak menjawab, hanya mengangguk pelan.Dan untuk pertama kalinya, sejak perjalanan itu dimulai, keduanya duduk berdampingan dalam diam yang tidak menyakitkan.Lola menyandarkan kepalanya di bahu Christian, sementara pria itu memejamkan mata.Tidak ada kata cinta di antara mereka malam itu, tapi ada sesuatu yang lebih jujur dari cinta—keberanian untuk berhenti berpura-pura kuat.Dan ketika lampu apartemen dimatikan, hanya cahaya kota yang masuk lewat tirai, Christian membuka matanya pelan, menatap wajah Lola yang tertidur di bahunya.Ia menelusuri garis wajah itu, lalu berbisik lirih, seperti pada dirinya sendiri.“Seandainya kau tahu, Lola... apa yang sebenarnya terjadi malam ini.”Wajahnya suram, tapi ada keputusan di matanya.Ia tahu, begitu matahari terbit nanti, semuanya akan berubah lagi.Tapi untuk sekarang, hanya malam ini, ia izinkan dirinya untuk beristirahat di dunia kecil
Hujan tidak turun malam itu, tapi udara terasa lembap, seperti kota baru saja selesai menangis.Di kamar apartemen kecil itu, Lola sudah terlelap di atas kasurnya. Rambutnya terurai berantakan di atas bantal, napasnya teratur, sesekali bibirnya bergerak kecil, mungkin sedang bermimpi, mungkin hanya sekadar bergumam.Ia baru saja menutup matanya kurang dari satu jam lalu. Matanya bengkak karena kelelahan, bukan karena tangis, meski keduanya terasa sama di tubuh yang nyaris tumbang itu.Tapi kemudian suara itu datang.Suara bel apartement nya.Lola menggeliat pelan, mengerang, mencoba mengabaikan. Ia menyelipkan kepalanya ke balik bantal, berharap suara itu hanyalah bagian dari mimpi. Tapi kemudian disusul bunyi bel pintu.Sekali. Dua kali. Panik, mendesak.Ia membuka mata, mendengus kesal. “Tengah malam begini...” gumamnya serak, bangkit setengah malas dari ranjang.Matanya masih setengah tertutup ketika ia menyeret langkah ke arah pintu, masih memakai kaus tipis dan celana tidur panja
Milan. Kota mode yang terkenal, bukan tempat asing bagiku. Aku tahu betul udara dinginnya yang menggigit di musim dingin, keseharian penduduknya yang penuh gaya, dan gemerlap butik-butik di sepanjang Via Montenapoleone. Tapi kali ini, aku tidak bisa menebak apa yang akan menantiku di kota ini. A
Aku membencinya.Bagaimana pria ini selalu berhasil membuatku terdiam. Mencubit kecil hatiku hingga terenyuh, lalu dalam sekejap dapat membuangnya jauh kedalam lautan.Matanya masih menatapku, bahkan alisnya hampir menukik lantaran jawaban tak kunjung aku berikan.“Maaf, saya mengantuk. Saya izin t
Lola terdiam beberapa detik. Kata-kata itu bergema di kepalanya. Milan… rumahnya.Rumah.Tanpa sadar, kepalanya mengangguk pelan, seolah otaknya sedang merajut semua benang merah. Nama itu… Christian Luciano. Luciano. Baru sekarang ia betul-betul sadar. Luciano bukan sekadar nama acak. Itu nama yan
“Sudah selesai tidurnya?” tanya Christian, suaranya ringan, terdengar santai. Ada nada samar di balik kata-katanya, seolah ia benar-benar menikmati fakta bahwa sekretarisnya ini terlelap di pangkuannya.Lola sontak meremas rok kerjanya, panas di wajahnya semakin menjadi. “Saya… saya tidak sengaja,