Share

Bab 86

Penulis: adorable.lady
last update Tanggal publikasi: 2025-12-28 13:48:55
"Wanna join?"

Senyuman miringnya terbit, matanya berkilat nakal. Dengan dengusan yang penuh kekuatan, wanita itu menatap sosok pria yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Setiap inci tubuh pria itu ia amati, tak ada yang terlewatkan dari pandangannya.

"Ada banyak hal yang harus kubicarakan denganmu, Esther."

Wanita itu, yang tak lain adalah Esther, mengedipkan matanya beberapa kali. Ia berpura-pura terkejut, bahkan sedikit ketakutan, sembari menutupi sebagian tubuhnya dengan tangan yang tergengga
adorable.lady

Super hectic karena tugas kuliah, bahkan sempat mau nyerah ngelanjutin cerita ini... untungnya liburan tiba, terima kasih banyak untuk yang masih membaca sampai sekarang...

| 2
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Aishwarya Millana Maheswari
wahhh trnyt lg sibuk kuliah lama banget nunggu lanjutanny
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Ssst, Diam Pak Boss!   Bab 89

    Lola masih berdiri di balik pintu mobilnya. Kedua tangannya gemetar ringan saat ia mencengkeram ujung pintu yang terbuka. Ia bahkan tidak menyadari sejak kapan ia sudah keluar dari mobil. Kakinya terasa lemah, tetapi tubuhnya tetap berdiri di sana, seperti tertancap di tempatnya sendiri. Matanya terpaku ke depan. Ke arah dua sosok yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk hotel. Christian. Dan Esther. Esther yang berlari keluar dengan wajah basah oleh air mata, lalu langsung memeluk Christian tanpa ragu sedikit pun. Dan Christian… Christian tidak menolak pelukan itu. Tidak mundur. Tidak terlihat terkejut. Sebaliknya, kedua tangannya terangkat dan membalas pelukan itu dengan erat. Bahkan lebih erat daripada yang Lola bayangkan. Seolah itu adalah sesuatu yang sangat alami. Sesuatu yang sudah terlalu lama tertahan. Dunia di sekitar Lola terasa tiba-tiba sunyi. Lampu-lampu hotel masih menyala terang. Orang-orang masih keluar masuk dari pintu utama. Suara kendaraan yang lewat

  • Ssst, Diam Pak Boss!   Bab 88

    Di ujung telepon, setelah kalimat terakhir itu terdengar—“Lalu kenapa dia ada di sini sekarang?”Christian terdiam.Tidak ada nama yang disebutkan. Tidak ada penjelasan tambahan. Namun otaknya tidak membutuhkan itu semua.Ia langsung tahu siapa yang dimaksud Esther.Seolah ada sesuatu yang tersambung begitu saja di dalam kepalanya.Liam.Nama itu muncul seperti kilatan tajam yang memotong pikirannya.Untuk beberapa detik, Christian benar-benar tidak bergerak. Tubuhnya membeku, ponsel masih menempel di telinganya. Tatapannya kosong, tetapi pikirannya berlari jauh lebih cepat daripada detak jantungnya sendiri.Bagaimana mungkin?Sementara itu, tidak jauh darinya, Lola yang sebelumnya duduk santai di atas ranjang memperhatikan perubahan ekspresi Christian.Mereka masih berada di apartemen Lola.Lampu kamar yang redup memberi suasana tenang setelah malam yang panjang. Christian baru saja keluar dari kamar mandi beberapa menit lalu. Rambutnya masih sedikit basah, dan kemeja yang baru saja

  • Ssst, Diam Pak Boss!   Bab 87

    Tubuh Esther membeku.Di seberang ruangan, pria itu mulai berjalan ke arahnya.Langkahnya tenang. Tidak tergesa, tidak pula ragu. Seolah jarak di antara mereka hanyalah sesuatu yang pasti akan terpotong cepat atau lambat.Satu langkah.Dua langkah.Jantung Esther menggila, keringat mulai membasahi pelipisnya dalam sekejap.Suara percakapan para tamu di ballroom yang sebelumnya terdengar riuh kini seolah menjauh dari telinganya. Musik yang mengalun lembut, denting gelas wine yang saling bersentuhan, bahkan tawa kecil para tamu, semuanya terasa seperti tenggelam di bawah suara detak jantungnya sendiri.Esther menatap pria itu tanpa berkedip.Tidak mungkin.Namun wajah itu tidak mungkin salah.Bahu lebar yang tegap. Cara berjalan yang santai namun penuh kendali. Dan sepasang mata yang bahkan dari jarak ini masih terasa terlalu tajam untuk diabaikan.Liam.Nama itu seperti muncul sendiri di dalam kepalanya.Selama bertahun-tahun, ia mengira bayangan itu sudah terkubur cukup dalam. Atau se

  • Ssst, Diam Pak Boss!   Bab 86

    "Wanna join?"Senyuman miringnya terbit, matanya berkilat nakal. Dengan dengusan yang penuh kekuatan, wanita itu menatap sosok pria yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Setiap inci tubuh pria itu ia amati, tak ada yang terlewatkan dari pandangannya."Ada banyak hal yang harus kubicarakan denganmu, Esther."Wanita itu, yang tak lain adalah Esther, mengedipkan matanya beberapa kali. Ia berpura-pura terkejut, bahkan sedikit ketakutan, sembari menutupi sebagian tubuhnya dengan tangan yang tergenggam erat."Tunggu..." sahutnya, "Tidak biasannya seorang Matthew berbicara seperti ini kepadaku. Matthew selalu berbicara dengan kelembutan dan penuh kasih. Tapi, ini... apa yang terjadi?""Maaf. Waktuku tidak banyak. Aku tidak ingin itu terbuang sia-sia.""Sia-sia? Kau gila?" balas Esther tak percaya. "Biasanya, kau selalu memohon agar sedikit waktuku bisa ku beri, atau setidaknya agar kau bisa melihatku. Lalu sekarang, kau bilang waktu bersamaku itu sia-sia?!"Suasana ballroom hotel mendadak men

  • Ssst, Diam Pak Boss!   Bab 85

    Lola terdiam.Christian menatapnya, tidak dengan maksud lain—hanya memohon tempat untuk bernafas.Lola tidak menjawab, hanya mengangguk pelan.Dan untuk pertama kalinya, sejak perjalanan itu dimulai, keduanya duduk berdampingan dalam diam yang tidak menyakitkan.Lola menyandarkan kepalanya di bahu Christian, sementara pria itu memejamkan mata.Tidak ada kata cinta di antara mereka malam itu, tapi ada sesuatu yang lebih jujur dari cinta—keberanian untuk berhenti berpura-pura kuat.Dan ketika lampu apartemen dimatikan, hanya cahaya kota yang masuk lewat tirai, Christian membuka matanya pelan, menatap wajah Lola yang tertidur di bahunya.Ia menelusuri garis wajah itu, lalu berbisik lirih, seperti pada dirinya sendiri.“Seandainya kau tahu, Lola... apa yang sebenarnya terjadi malam ini.”Wajahnya suram, tapi ada keputusan di matanya.Ia tahu, begitu matahari terbit nanti, semuanya akan berubah lagi.Tapi untuk sekarang, hanya malam ini, ia izinkan dirinya untuk beristirahat di dunia kecil

  • Ssst, Diam Pak Boss!   Bab 84

    Hujan tidak turun malam itu, tapi udara terasa lembap, seperti kota baru saja selesai menangis.Di kamar apartemen kecil itu, Lola sudah terlelap di atas kasurnya. Rambutnya terurai berantakan di atas bantal, napasnya teratur, sesekali bibirnya bergerak kecil, mungkin sedang bermimpi, mungkin hanya sekadar bergumam.Ia baru saja menutup matanya kurang dari satu jam lalu. Matanya bengkak karena kelelahan, bukan karena tangis, meski keduanya terasa sama di tubuh yang nyaris tumbang itu.Tapi kemudian suara itu datang.Suara bel apartement nya.Lola menggeliat pelan, mengerang, mencoba mengabaikan. Ia menyelipkan kepalanya ke balik bantal, berharap suara itu hanyalah bagian dari mimpi. Tapi kemudian disusul bunyi bel pintu.Sekali. Dua kali. Panik, mendesak.Ia membuka mata, mendengus kesal. “Tengah malam begini...” gumamnya serak, bangkit setengah malas dari ranjang.Matanya masih setengah tertutup ketika ia menyeret langkah ke arah pintu, masih memakai kaus tipis dan celana tidur panja

  • Ssst, Diam Pak Boss!   Bab 26

    “Bapak nggak perlu tahu!” seruku, suaraku tajam, berusaha menutup pintu diskusi sebelum Christian bisa menggali lebih dalam. Aku menatapnya dengan mata membara, berharap dia mundur.Tapi Christian justru memandangku, alisnya terangkat, seolah kata-kataku baru saja menyalakan sesuatu di dalam diriny

  • Ssst, Diam Pak Boss!   Bab 25

    "Christian, Luciano…” aku memaki dalam hati, jemariku mengepal di pangkuan. Sialan! Aku sudah muntahin semuanya, dan dia malah tertawa?!“Pak!” suaraku meledak, akhirnya tak bisa kutahan. “Anda pikir ini lucu?!”“Lucu? Tidak, Lola. Aku terpesona. Marahmu jauh lebih indah daripada diam mu.” Suaranya

  • Ssst, Diam Pak Boss!   Bab 24

    Aku melirik sekeliling. Ruang kerja dipenuhi karyawan yang sibuk dengan komputernya masing-masing, telepon berdering, berkas berserakan. Aku tidak perlu mengabsen satu-persatu karyawan disini, yang jelas bahkan Claudia, tidak melirik ke arah kami sama sekali.Tidak ada bisik-bisik, bahkan tidak ada

  • Ssst, Diam Pak Boss!   Bab 23

    "Terima kasih atas tumpangannya, Pak. Saya akan merevisi laporan tadi dan memastikan tidak ada kesalahan sedikit pun yang terjadi pada rapat besok. Selamat malam.” Bukh! Pintu mobil tertutup. Aku melangkah menjauh, menahan diri sekuat tenaga untuk tidak membalikkan badan menatapnya. Christian Lu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status