로그인Super hectic karena tugas kuliah, bahkan sempat mau nyerah ngelanjutin cerita ini... untungnya liburan tiba, terima kasih banyak untuk yang masih membaca sampai sekarang...
"Wanna join?"Senyuman miringnya terbit, matanya berkilat nakal. Dengan dengusan yang penuh kekuatan, wanita itu menatap sosok pria yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Setiap inci tubuh pria itu ia amati, tak ada yang terlewatkan dari pandangannya."Ada banyak hal yang harus kubicarakan denganmu, Esther."Wanita itu, yang tak lain adalah Esther, mengedipkan matanya beberapa kali. Ia berpura-pura terkejut, bahkan sedikit ketakutan, sembari menutupi sebagian tubuhnya dengan tangan yang tergenggam erat."Tunggu..." sahutnya, "Tidak biasannya seorang Matthew berbicara seperti ini kepadaku. Matthew selalu berbicara dengan kelembutan dan penuh kasih. Tapi, ini... apa yang terjadi?""Maaf. Waktuku tidak banyak. Aku tidak ingin itu terbuang sia-sia.""Sia-sia? Kau gila?" balas Esther tak percaya. "Biasanya, kau selalu memohon agar sedikit waktuku bisa ku beri, atau setidaknya agar kau bisa melihatku. Lalu sekarang, kau bilang waktu bersamaku itu sia-sia?!"Suasana ballroom hotel mendadak men
Lola terdiam.Christian menatapnya, tidak dengan maksud lain—hanya memohon tempat untuk bernafas.Lola tidak menjawab, hanya mengangguk pelan.Dan untuk pertama kalinya, sejak perjalanan itu dimulai, keduanya duduk berdampingan dalam diam yang tidak menyakitkan.Lola menyandarkan kepalanya di bahu Christian, sementara pria itu memejamkan mata.Tidak ada kata cinta di antara mereka malam itu, tapi ada sesuatu yang lebih jujur dari cinta—keberanian untuk berhenti berpura-pura kuat.Dan ketika lampu apartemen dimatikan, hanya cahaya kota yang masuk lewat tirai, Christian membuka matanya pelan, menatap wajah Lola yang tertidur di bahunya.Ia menelusuri garis wajah itu, lalu berbisik lirih, seperti pada dirinya sendiri.“Seandainya kau tahu, Lola... apa yang sebenarnya terjadi malam ini.”Wajahnya suram, tapi ada keputusan di matanya.Ia tahu, begitu matahari terbit nanti, semuanya akan berubah lagi.Tapi untuk sekarang, hanya malam ini, ia izinkan dirinya untuk beristirahat di dunia kecil
Hujan tidak turun malam itu, tapi udara terasa lembap, seperti kota baru saja selesai menangis.Di kamar apartemen kecil itu, Lola sudah terlelap di atas kasurnya. Rambutnya terurai berantakan di atas bantal, napasnya teratur, sesekali bibirnya bergerak kecil, mungkin sedang bermimpi, mungkin hanya sekadar bergumam.Ia baru saja menutup matanya kurang dari satu jam lalu. Matanya bengkak karena kelelahan, bukan karena tangis, meski keduanya terasa sama di tubuh yang nyaris tumbang itu.Tapi kemudian suara itu datang.Suara bel apartement nya.Lola menggeliat pelan, mengerang, mencoba mengabaikan. Ia menyelipkan kepalanya ke balik bantal, berharap suara itu hanyalah bagian dari mimpi. Tapi kemudian disusul bunyi bel pintu.Sekali. Dua kali. Panik, mendesak.Ia membuka mata, mendengus kesal. “Tengah malam begini...” gumamnya serak, bangkit setengah malas dari ranjang.Matanya masih setengah tertutup ketika ia menyeret langkah ke arah pintu, masih memakai kaus tipis dan celana tidur panja
Esther berdiri terpaku, menatapnya dengan pandangan tak percaya, lalu tiba-tiba ia tertawa mengejek. “Jadi sekarang kau membawa perempuan murahan itu ke dalam pembicaraan keluarga ini? Yang kedua, setelah aku?” katanya dingin. “Kau benar-benar kehilangan akal sehat, Christian.”Kata itu, 'murahan', membuat rahang Christian mengeras. Pria itu bahkan mengepalkan tangannya, mencoba meredam emosi yang semakin menggila. Ia menatap Esther perlahan, pandangannya naik dari ujung sepatu hingga ke mata wanita itu. Dan untuk pertama kalinya sejak perceraian mereka, rahangnya benar-benar mengeras.“Jaga bicaramu.” Suaranya pelan, tapi berat. Terlalu tenang untuk disebut ancaman, tapi cukup membuat udara di sekitar mereka menegang.Esther mengangkat dagu, tak gentar. “Kau marah karena aku mengatakan yang sebenarnya?”“Tidak,” jawab Christian cepat. “Aku marah karena kau dengan mudah meludahi nama orang lain, hanya karena kau ingin terlihat lebih tinggi dariku.” Nadanya kini naik setengah oktaf.I
Di sisi ruangan, lilin-lilin panjang menyala tenang, melemparkan cahaya keemasan yang bergetar di wajah tiga orang yang membisu di sana.Tuan Luciano menatap anaknya yang berdiri tegak di hadapannya. Tatapan itu seperti ujung pisau: dingin, presisi, dan berlapis kebencian yang tak terucap.Lalu ia membuka suara pelan, nyaris seperti gumaman:“Jangan pernah kau tadahkan kepalamu, sampai kau memastikan benar-benar bisa hidup tanpa bantuanku.”Christian tidak bergeming. Tatapan matanya menusuk lurus ke arah ayahnya.Kemudian, ia tersenyum tipis, senyum yang bukan untuk ramah, melainkan untuk menyembunyikan rasa muak yang sudah menahun.“Aku bisa hidup dengan kakiku sendiri sejak lama, Ayah,” ucapnya datar.“Hanya saja, setiap aku berhasil melaluinya sendiri, kau selalu memberikanku masalah lain dengan sengaja. Dengan begitu, usahaku akan tertutup, dan kau akan datang seperti pahlawan dalam kehidupanku. Selalu begitu.”Kata-kata itu jatuh seperti pecahan kaca.Nyonya Maria Luciano pucat.
Lola duduk di kursi belakang mobil, menatap kosong ke luar jendela. Cahaya lampu jalan berganti satu per satu di wajahnya, menciptakan bayangan samar di pipinya yang basah oleh cahaya. Mobil melaju tenang di jalanan kota yang belum sepenuhnya terjaga.Ia masih bisa mendengar suara Christian sebelum pria itu menjauh.“Antarkan dia pulang. Pastikan dia sampai dengan selamat.”Hanya itu. Tanpa menoleh, tanpa melihatnya sedikit pun. Lalu langkah Christian menghilang, digantikan suara sepatu pria itu yang perlahan menjauh.Lola menunduk. Tangannya menutup wajah, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan gemetar. Ia menepuk-nepuk pipinya pelan, mencoba menahan rasa panas yang tiba-tiba menggenang di mata.Ingin menangis, tapi tidak bisa.Kenyataan memang tidak sesederhana itu, pikirnya. Hanya karena seseorang mencintaimu, bukan berarti segalanya bisa berjalan mudah. Cinta tidak serta-merta memindahkan gunung yang berdiri di antara kalian.Dan begitulah kehidupan, selalu mengingatka







