Share

Bab 7

Author: adorable.lady
last update Petsa ng paglalathala: 2025-09-12 11:55:55

“Kita pergi sekarang.”

Aku buru-buru membereskan tumpukan kertas yang membuatku keteteran pagi ini. Dengan perjanjian imbalan Christian yang memenuhi pikiran, sungguh rasanya ingin melarikan diri dan tidak kembali lagi ke perusahaan ini.

Tapi nyatanya, yang aku lakukan sekarang adalah mengekor dibalik tubuh bidang Christian yang berjalan dengan langkah besar, sementara aku berlari kecil mengimbanginya.

Sesampainya di lobi, aku terperangah.

Aku duduk dimana?

Bu Emma, yang menjadi mentorku selama satu bulan ini telah duduk di kursi sebelah sopir, sementara Christian telah melaju lebih dulu masuk kebagian belakang penumpang.

“Lola! Ayo masuk!” sahut Bu Emma, sementara aku menatapnya ragu.

“B-bu, saya duduk dimana?”

Bu Emma terlihat mengernyitkan dahi, lalu tangannya memberi instruksi agar aku duduk dibelakang… tepatnya di samping Christian.

Aku meneguk ludah.

Buru-buru mengangguk dan mendudukkan diri disebelah Christian.

Untungnya saat ini pria itu sedang fokus dengan ponselnya. Aku semakin duduk merapat ke arah pintu, meskipun Christian tidak melakukan apapun padaku, tapi pikiran burukku padanya tak kunjung sirna.

“Apa kau takut?”

Suara berat nan dingin itu mengudara.

Sempat aku lihat Bu Emma dan juga sopir di depan sempat melirik ke arah kami. Mungkin terkejut atas kata yang keluar dari mulut Christian.

Ya, aku takut dan tolong berhentilah mengacau…

Tapi yang kukatakan adalah, “Tidak, Pak.”

Suasana kembali hening, sampai kurasakan mobil perlahan berhenti.

Dan dengan jelas didepanku berdiri satu bangunan megah dengan nama ‘ESTHER COMPANY’ terpampang nyata. Ukurannya bahkan tidak kalah besar dengan perusahaan milik Christian.

Syukurlah. Kami sudah sampai.

Aku meliriknya, namun Christian tampak acuh dan keluar lebih dulu dari mobil.

Memasuki perusahaan, aku sempat tercengang.

Para karyawan berlalu lalang dengan penampilan yang mencuri perhatian. Ada yang memamerkan jaket leopard dengan kilau sequin, dipadukan dengan sepatu sneakers. Beberapa rambut mereka diwarnai terang pink fuchsia, biru elektrik, hingga hijau lime. Dan tawa canda mereka yang menggema.

Terlihat sangat menikmati pekerjaan.

Sangat kontras dengan perusahaan yang dimiliki Christian.

Orang-orang hanya datang untuk: Kerja, kerja, dan kerja—oh, jangan lupakan, menggosip.

Kemudian aku lihat Christian memasuki ruangan yang berada di ujung koridor. Bu Emma tidak ikut masuk, membuatku turut menghentikan langkah.

“Bu, kita tidak ikut masuk?” tanyaku pelan.

Bu Emma menatapku sekilas dari sudut matanya.

“Tidak.”

Oh. “Baik.”

Suasana kembali canggung. Kantuk yang tak kunjung reda mulai menyerang. Aku berulang kali menahan menguap, tapi sepertinya Bu Emma menyadarinya.

“Pergi, basuh wajahmu,” katanya tegas, dan aku segera menurut.

Di Dalam toilet, aku bergumam sendiri.

“Toilet ini bahkan lebih mewah daripada butik kecantikan,” gumamku, setengah putus asa. Aku menatap cermin—wajahku pucat, kantung mata menonjol, bibirku kering.

Kelelahan yang terpancar, membuatku terlihat jauh lebih tua.

“Sepertinya aku salah masuk perusahaan…” ucapku lirih, sambil membasuh wajah.

Hingga… suara terkekeh pelan terdengar dari arah bilik. Tawa ringan, tapi anggun, seperti milik seseorang yang terbiasa menarik perhatian tanpa perlu berusaha keras.

Wanita itu melangkah keluar dengan aura yang hampir menelan seluruh ruangan. Rambut panjangnya yang bergelombang jatuh indah hingga punggung, warnanya merah tua—seperti wine mahal yang berkilau di bawah lampu restoran mewah.

Ditambah dengan kulit putih bersih. Aku—yang jelas-jelas juga perempuan—tak bisa menahan rasa kagum.

Wanita itu berjalan santai ke arah wastafel. Tidak melirik sedikitpun ke arahku. Tangannya terulur menekan sensor air, lalu ia membiarkan air mengalir membasahi jari-jarinya yang lentik dengan kuku terawat sempurna.

Sementara itu, mataku… masih saja mengikuti setiap gerakannya.

Hingga akhirnya—

Wanita itu menoleh. Tatapan matanya jatuh tepat padaku.

Aku langsung tersentak. Buru-buru menegakkan tubuh, berpura-pura sibuk dengan rambutku yang jelas-jelas tak perlu dirapikan.

Namun, alih-alih menegur, wanita itu hanya menyunggingkan senyum tipis.

Dan dengan nada suara lembut namun penuh keyakinan, ia berkata,

“Sekretaris baru Christian?”

Aku membeku. Bagaimana bisa… dia tahu?

Dalam hati, otaknya langsung berpacu.

"Apa kabar kalau aku sekretaris barunya Christian sudah menyebar? Atau… jangan-jangan Christian sendiri yang kasih tahu orang-orang?"

Tapi… nggak mungkin. Christian? Orang sekaku itu ngenalin aku ke orang lain?

Wanita itu kembali tertawa, seakan bisa membaca isi pikiranku, ia berkata:

“Don’t think about it.” ucapnya lembut, dan tanpa menunggu responku, ia menambahkan. “Ikut aku.”

Aku masih terpaku, bingung. Ke mana? Tapi kakiku otomatis bergerak mengikuti, seperti terhipnotis.

Aku mengekor di belakang, menjaga jarak, mataku tak lepas dari rambut merah cherry-wine yang bergoyang indah setiap langkahnya.

Hingga akhirnya, aku tersadar. Kami berjalan menuju ruangan tempat Christian masuk tadi.

Benar saja, di depan ruangan itu, Bu Emma masih berdiri tegak, menunggu.

Begitu melihat kami, pandangan Bu Emma beralih. Bukan padaku, tapi pada wanita di depanku. Dalam sekejap, dia menunduk sopan, tubuhnya sedikit membungkuk.

“Selamat datang, Bu Esther,” ucap Bu Emma dengan penuh wibawa.

Aku membeku di tempat.

Kepalaku langsung menoleh ke wanita berambut merah itu. Dia hanya melengkungkan senyum tipis, penuh percaya diri.

Esther?

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Ssst, Diam Pak Boss!   Bab 89

    Lola masih berdiri di balik pintu mobilnya. Kedua tangannya gemetar ringan saat ia mencengkeram ujung pintu yang terbuka. Ia bahkan tidak menyadari sejak kapan ia sudah keluar dari mobil. Kakinya terasa lemah, tetapi tubuhnya tetap berdiri di sana, seperti tertancap di tempatnya sendiri. Matanya terpaku ke depan. Ke arah dua sosok yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk hotel. Christian. Dan Esther. Esther yang berlari keluar dengan wajah basah oleh air mata, lalu langsung memeluk Christian tanpa ragu sedikit pun. Dan Christian… Christian tidak menolak pelukan itu. Tidak mundur. Tidak terlihat terkejut. Sebaliknya, kedua tangannya terangkat dan membalas pelukan itu dengan erat. Bahkan lebih erat daripada yang Lola bayangkan. Seolah itu adalah sesuatu yang sangat alami. Sesuatu yang sudah terlalu lama tertahan. Dunia di sekitar Lola terasa tiba-tiba sunyi. Lampu-lampu hotel masih menyala terang. Orang-orang masih keluar masuk dari pintu utama. Suara kendaraan yang lewat

  • Ssst, Diam Pak Boss!   Bab 88

    Di ujung telepon, setelah kalimat terakhir itu terdengar—“Lalu kenapa dia ada di sini sekarang?”Christian terdiam.Tidak ada nama yang disebutkan. Tidak ada penjelasan tambahan. Namun otaknya tidak membutuhkan itu semua.Ia langsung tahu siapa yang dimaksud Esther.Seolah ada sesuatu yang tersambung begitu saja di dalam kepalanya.Liam.Nama itu muncul seperti kilatan tajam yang memotong pikirannya.Untuk beberapa detik, Christian benar-benar tidak bergerak. Tubuhnya membeku, ponsel masih menempel di telinganya. Tatapannya kosong, tetapi pikirannya berlari jauh lebih cepat daripada detak jantungnya sendiri.Bagaimana mungkin?Sementara itu, tidak jauh darinya, Lola yang sebelumnya duduk santai di atas ranjang memperhatikan perubahan ekspresi Christian.Mereka masih berada di apartemen Lola.Lampu kamar yang redup memberi suasana tenang setelah malam yang panjang. Christian baru saja keluar dari kamar mandi beberapa menit lalu. Rambutnya masih sedikit basah, dan kemeja yang baru saja

  • Ssst, Diam Pak Boss!   Bab 87

    Tubuh Esther membeku.Di seberang ruangan, pria itu mulai berjalan ke arahnya.Langkahnya tenang. Tidak tergesa, tidak pula ragu. Seolah jarak di antara mereka hanyalah sesuatu yang pasti akan terpotong cepat atau lambat.Satu langkah.Dua langkah.Jantung Esther menggila, keringat mulai membasahi pelipisnya dalam sekejap.Suara percakapan para tamu di ballroom yang sebelumnya terdengar riuh kini seolah menjauh dari telinganya. Musik yang mengalun lembut, denting gelas wine yang saling bersentuhan, bahkan tawa kecil para tamu, semuanya terasa seperti tenggelam di bawah suara detak jantungnya sendiri.Esther menatap pria itu tanpa berkedip.Tidak mungkin.Namun wajah itu tidak mungkin salah.Bahu lebar yang tegap. Cara berjalan yang santai namun penuh kendali. Dan sepasang mata yang bahkan dari jarak ini masih terasa terlalu tajam untuk diabaikan.Liam.Nama itu seperti muncul sendiri di dalam kepalanya.Selama bertahun-tahun, ia mengira bayangan itu sudah terkubur cukup dalam. Atau se

  • Ssst, Diam Pak Boss!   Bab 86

    "Wanna join?"Senyuman miringnya terbit, matanya berkilat nakal. Dengan dengusan yang penuh kekuatan, wanita itu menatap sosok pria yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Setiap inci tubuh pria itu ia amati, tak ada yang terlewatkan dari pandangannya."Ada banyak hal yang harus kubicarakan denganmu, Esther."Wanita itu, yang tak lain adalah Esther, mengedipkan matanya beberapa kali. Ia berpura-pura terkejut, bahkan sedikit ketakutan, sembari menutupi sebagian tubuhnya dengan tangan yang tergenggam erat."Tunggu..." sahutnya, "Tidak biasannya seorang Matthew berbicara seperti ini kepadaku. Matthew selalu berbicara dengan kelembutan dan penuh kasih. Tapi, ini... apa yang terjadi?""Maaf. Waktuku tidak banyak. Aku tidak ingin itu terbuang sia-sia.""Sia-sia? Kau gila?" balas Esther tak percaya. "Biasanya, kau selalu memohon agar sedikit waktuku bisa ku beri, atau setidaknya agar kau bisa melihatku. Lalu sekarang, kau bilang waktu bersamaku itu sia-sia?!"Suasana ballroom hotel mendadak men

  • Ssst, Diam Pak Boss!   Bab 85

    Lola terdiam.Christian menatapnya, tidak dengan maksud lain—hanya memohon tempat untuk bernafas.Lola tidak menjawab, hanya mengangguk pelan.Dan untuk pertama kalinya, sejak perjalanan itu dimulai, keduanya duduk berdampingan dalam diam yang tidak menyakitkan.Lola menyandarkan kepalanya di bahu Christian, sementara pria itu memejamkan mata.Tidak ada kata cinta di antara mereka malam itu, tapi ada sesuatu yang lebih jujur dari cinta—keberanian untuk berhenti berpura-pura kuat.Dan ketika lampu apartemen dimatikan, hanya cahaya kota yang masuk lewat tirai, Christian membuka matanya pelan, menatap wajah Lola yang tertidur di bahunya.Ia menelusuri garis wajah itu, lalu berbisik lirih, seperti pada dirinya sendiri.“Seandainya kau tahu, Lola... apa yang sebenarnya terjadi malam ini.”Wajahnya suram, tapi ada keputusan di matanya.Ia tahu, begitu matahari terbit nanti, semuanya akan berubah lagi.Tapi untuk sekarang, hanya malam ini, ia izinkan dirinya untuk beristirahat di dunia kecil

  • Ssst, Diam Pak Boss!   Bab 84

    Hujan tidak turun malam itu, tapi udara terasa lembap, seperti kota baru saja selesai menangis.Di kamar apartemen kecil itu, Lola sudah terlelap di atas kasurnya. Rambutnya terurai berantakan di atas bantal, napasnya teratur, sesekali bibirnya bergerak kecil, mungkin sedang bermimpi, mungkin hanya sekadar bergumam.Ia baru saja menutup matanya kurang dari satu jam lalu. Matanya bengkak karena kelelahan, bukan karena tangis, meski keduanya terasa sama di tubuh yang nyaris tumbang itu.Tapi kemudian suara itu datang.Suara bel apartement nya.Lola menggeliat pelan, mengerang, mencoba mengabaikan. Ia menyelipkan kepalanya ke balik bantal, berharap suara itu hanyalah bagian dari mimpi. Tapi kemudian disusul bunyi bel pintu.Sekali. Dua kali. Panik, mendesak.Ia membuka mata, mendengus kesal. “Tengah malam begini...” gumamnya serak, bangkit setengah malas dari ranjang.Matanya masih setengah tertutup ketika ia menyeret langkah ke arah pintu, masih memakai kaus tipis dan celana tidur panja

  • Ssst, Diam Pak Boss!   Bab 47

    Sore itu, aroma masakan memenuhi dapur di rumah keluarga Sienna. Lola berdiri di samping Nyonya Sienna, membantu memotong bahan-bahan masakan. “Papi belum pulang lagi?” tanyanya pelan tanpa mengalihkan pandangan dari talenan. Mamannya menoleh sebentar sambil mengaduk tumisan. “Lembur. Katanya ada

  • Ssst, Diam Pak Boss!   Bab 46

    Rentetan kejadian dalam satu perjalanan meninggalkan titik hitam di benakku. “Sir, satu croissant dan satu hot chocolate.” Aku duduk menyendiri di sudut ruangan cafe. Hiruk pikuk orang-orang yang berlalu lalang menjadi tontonanku saat ini. Memandang layar ponsel yang sengaja aku matikan sejak s

  • Ssst, Diam Pak Boss!   Bab 45

    Udara malam di Milan menggigit kulit, menusuk lewat sela-sela pakaian. Salju menumpuk di tepian balkon, dan dua cangkir teh yang sejak tadi dibiarkan kini sudah kehilangan uapnya. Hangatnya tinggal sisa di dasar gelas. Christian dan Lola duduk saling berhadapan. Tak ada cahaya lilin, tak ada mu

  • Ssst, Diam Pak Boss!   Bab 44

    Perhatian itu datang kembali. Mungkin aku hanya berhalusinasi, tapi di mata tajam itu kulihat setitik kekhawatiran. Salju di rambutnya mulai mencair, mengalir turun melewati wajah hingga rahang tegasnya yang kini tampak menegang. Pertanyaan yang keluar dari Christian sederhana, tapi lidahku k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status