Share

Sssttt! Orang Kantor Nggak Perlu Tau!
Sssttt! Orang Kantor Nggak Perlu Tau!
Author: Nona Teh Pahit

Bab 1 - Rival Abadi

last update publish date: 2026-07-19 12:42:54

"Apa pun yang terjadi semalam... sebaiknya kita lupakan saja, Mario."

Cassandra Lazuardy mengeratkan selimut yang membungkus tubuh telanjangnya. Kepalanya berdenyut pening saat terbangun pagi ini dan mendapati dirinya berbagi ranjang yang sama dengan rival abadinya di kantor, Mario Dirgantara!

Perempuan muda itu memejamkan mata, berusaha keras merajut kembali ingatan semalam. Namun, alih-alih alasan logis mengapa mereka bisa terdampar di sini, benaknya justru dibombardir oleh kilasan memori memalukan, termasuk suara desahannya sendiri yang begitu menikmati sentuhan pria itu!

Cassandra langsung menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Rona merah menjalar hebat hingga ke lehernya, dibakar oleh rasa malu yang teramat sangat.

'Bagaimana mungkin aku bisa berakhir di sini?! Dan bagaimana mungkin aku bisa... menikmati semuanya?!!!'

**

Satu Bulan Sebelumnya...

"Desain yang Anda presentasikan ini sama sekali nggak masuk akal secara struktural, Bu Cassandra."

Suara bariton yang berat dan penuh tekanan itu memotong kalimat Cassandra tepat di tengah-tengah presentasinya. Ruangan rapat utama di lantai dua puluh gedung PT Arunika Properti yang semula dipenuhi oleh suara ketikan laptop mendadak berubah menjadi hening senyap. Udara di dalam ruangan ber-AC itu mendadak terasa membeku.

Cassandra menghentikan gerakannya yang hendak menekan tombol next pada slide presentasi. Perlahan, dengan keanggunan dan senyuman yang dipaksakan, perempuan itu menurunkan tangannya dan menoleh ke arah ujung meja rapat yang panjang. Matanya menatap lurus ke arah pria yang sedang duduk dengan posisi terlalu santai, menyandarkan punggungnya dengan satu tangan menopang dagu.

Mario Dirgantara menatapnya balik dengan sepasang mata tajam yang dingin, tanpa ada sedikit pun rasa bersalah karena telah memotong pembicaraan rekan kerjanya di depan forum resmi.

Tatapan mata mereka bertemu di udara, menciptakan sebuah medan tegangan tinggi yang tak kasat mata. Hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuat seluruh peserta rapat menahan napas mereka secara serentak.

Mereka semua tahu betul hukum tidak tertulis di perusahaan ini: jika dua orang ini sudah mulai bergesekan, rapat yang seharusnya selesai dalam waktu tiga puluh menit bisa molor menjadi debat kusir selama satu setengah jam penuh.

"Boleh saya menyelesaikan penjelasan saya terlebih dahulu, Pak Mario yang terhormat?" tanya Cassandra. Suaranya terdengar manis, namun ada nada dingin yang sanggup menguliti kulit pelapis baja. Senyum tipis di bibirnya sama sekali tidak mencerminkan keramahan.

Mario tidak membalas senyuman itu. Ia justru membetulkan posisi duduknya, mencondongkan tubuhnya ke depan meja rapat, melipat kedua tangannya di atas tumpukan berkas cetak biru. "Nggak perlu ditumpuk sampai selesai, Ibu Cassandra. Saya sudah tahu ujung dari konsep estetika yang Anda bawa ini."

"Oh ya? Boleh tahu apa analisis hebat Anda?" Cassandra melipat tangannya di depan dada, menantang.

"Anda ingin membangun sebuah megaproyek apartemen mewah dengan dinding kaca setinggi lima meter di lobi tanpa kolom penyangga struktural di bagian tengah," ujar Mario dengan artikulasi yang jelas dan tajam. "Secara visual di maket dan render 3D Anda, itu memang kelihatan seperti mahakarya. Tapi kamu lupa satu hal penting: bangunan ini bakal dibangun oleh manusia di atas tanah riil, bukan disulap dengan aplikasi desain semata."

Beberapa staf di sisi kanan meja rapat langsung menundukkan kepala sedalam-dalamnya, pura-pura sangat sibuk memeriksa catatan atau mengetik sesuatu yang tidak penting di laptop mereka agar tidak terlibat dalam baku tembak verbal ini.

Cassandra meletakkan laser pointer di atas meja dengan bunyi ketukan yang cukup keras. "Kalau Divisi Pelaksana dan tim lapangan Anda merasa nggak sanggup atau ketakutan untuk merealisasikan desain inovatif dari divisi saya, mungkin masalah utamanya bukan terletak pada desainnya, Pak Mario. Tapi pada kompetensi tim Anda."

Mario tertawa pendek, sebuah tawa sarkas yang seringkali ia perlihatkan ketika sedang berdebat dengan Cassandra. "Percaya diri banget ya, Bu Perancang."

"Ini bukan sekadar masalah percaya diri," Cassandra menatap mata Mario lurus-lurus. "Saya cuma tipe pekerja yang nggak terbiasa mencari-cari alasan teknis untuk menutupi ketidakmampuannya sendiri."

Cassandra tersenyum tipis pada Mario yang kehilangan senyumannya. 

Rahang pria itu mengetat, matanya menggelap. Ruangan rapat yang dingin karena setelan AC maksimum mendadak terasa jauh lebih panas dan menyesakkan bagi siapa pun yang berada di dalamnya.

"Kalau memang tim Anda tidak sanggup..." Cassandra menatap Mario sekali lagi, sebelum berujar santai, "Bagaimana kalau Anda mundur dari Kepala Divisi Pelaksana Proyek saja?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sssttt! Orang Kantor Nggak Perlu Tau!   Bab 71 - Bersama Kembali

    Evaluasi kinerja di akhir pekan menunjukkan pencapaian yang sangat luar biasa. Berkat restrukturisasi manajerial dan efisiensi kerja yang dipimpin secara kolaboratif oleh Cassie dan Mario, keterlambatan jadwal proyek akibat krisis kemarin berhasil dipangkas penuh.Di sisi lain, tim legal perusahaan membawa kabar bahwa Bima—yang kini berada di ujung tanduk secara finansial, ditinggalkan oleh koalisi partainya, dan menghadapi kehancuran karier politik secara total—akhirnya menyerah dan berlutut memohon perdamaian.Untuk merayakan keberhasilan pemulihan proyek sekaligus menandai selesainya babak kelam skandal tersebut, Mario mengajak Cassie untuk menikmati makan malam privat di sebuah restoran eksklusif yang bertengger di puncak gedung pencakar langit kota.Suasana restoran begitu tenang dan

  • Sssttt! Orang Kantor Nggak Perlu Tau!   Bab 70 - Normal Kembali

    Suntikan dana penjamin dari Mario serta gugatan hukum yang bertubi-tubi terbukti berhasil melumpuhkan total pergerakan politik Bima. Di luar sana, karier politik Bima yang semula meroket kini hancur berkeping-keping hingga ke dasarnya.Berbagai media berita utama beralih menyoroti secara tajam bagaimana seorang pejabat dan politisi muda yang terlihat santun ternyata tega memanfaatkan posisinya, menyewa buzzer kotor, dan mengorbankan nama baik seorang wanita profesional murni demi menutupi motif pribadi serta melarikan diri dari komitmen perjodohan bisnis keluarganya sendiri.Sementara itu, di area konstruksi utama Integrated Smart District, Cassandra dan Mario kini harus bekerja berdampingan secara jauh lebih intens di lapangan demi mengejar keterlambatan jadwal konstruksi akibat

  • Sssttt! Orang Kantor Nggak Perlu Tau!   Bab 69 - Pertahanan Mario

    Dampak dari gugatan hukum yang dilayangkan oleh tim pengacara perusahaan Cassandra terhadap Bima tidak hanya berhenti pada kehancuran reputasi pribadinya di hadapan keluarga Prameswari.Sebagai seorang politisi muda yang sedang naik daun dan digadang-gadang akan maju dalam bursa pemilihan daerah mendatang, badai skandal ini menghantam tepat di jantung karier politik yang telah dibangunnya dengan penuh kepura-puraan.Berita fitnah yang berbalik menjadi bumerang secara brutal, dipadu dengan gugatan pidana atas perbuatan melawan hukum serta manipulasi publik, langsung menyulut gelombang kecaman hebat dari konstituen dan desakan penonaktifan Bima dari jajaran kepengurusan partai pengusungnya.Namun, di tingkat operasional Integrated Smart District—sebuah megaproyek bernilai triliunan rupiah—tindakan

  • Sssttt! Orang Kantor Nggak Perlu Tau!   Bab 68 - Kemenangan

    Kemenangan mutlak berada di tangan Cassandra dan perusahaannya. Dengan tuntutan hukum bernilai fantastis yang dilayangkan perusahaan Cassie kepada Bima, serta ancaman kebocoran bukti manipulasi tersebut, pihak keluarga Ibu Sukma dan Prameswari akhirnya terpaksa membatalkan tuduhan mereka dan merilis permohonan maaf terbuka demi menyelamatkan nama baik keluarga dari ancaman persidangan publik.Malam harinya, hujan deras kembali mengguyur ibu kota dengan sangat lebat. Mario mengantarkan Cassie kembali ke rumah singgah di pinggiran kota untuk mengambil barang-barang pribadinya sebelum Cassie kembali ke apartemennya sendiri besok.Suasana di dalam rumah kayu itu begitu sunyi, hanya dihiasi oleh irama gemericik air hujan yang memukul-mukul kaca jendela luar. Uap dingin menyeruak, membuat atmosfer di antara mereka terasa teramat intim dan emosional.Cassie duduk

  • Sssttt! Orang Kantor Nggak Perlu Tau!   Bab 67 - Kehancuran, atau Kebangkitan Kembali?

    Setelah siaran konferensi pers gila itu berakhir, nama Cassandra berada di puncak kehancuran opini publik. Warganet, media massa, dan bahkan pihak internal perusahaan pengelola proyek menyerukan agar Cassandra segera dipecat dan dimintai pertanggungjawaban demi menyelamatkan citra korporasi.Namun, yang tidak diketahui oleh siapa pun—bahkan oleh Cassie sendiri—keangkuhan Bima tidak pernah lolos dari pengawasan Mario.Mario memboyong Cassie kembali ke kantor pusat siang itu juga. Pria tegap itu mengawal Cassie menerobos barisan wartawan di luar gedung dengan penjagaan ketat dari tim keamanan khusus yang ia sewa secara pribadi. Mario menggandeng erat tangan Cassie, melangkah penuh intimidasi menuju lantai paling atas—ruang rapat Direksi.Di dalam ruang rapat yang tegang, telah berkumpul seluruh jajaran Direktur Operasional, tim

  • Sssttt! Orang Kantor Nggak Perlu Tau!   Bab 66 - Konferensi Pers

    Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden kayu di ruang tengah perlahan membangunkan Cassandra dari tidur nyenyaknya. Rasa aman yang melingkupi rumah singgah itu sempat membuat tubuhnya merasa bugar. Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa saat sebelum suara dering ponsel pribadi Cassie yang mendadak bernada nyaring di atas meja rias memecah kesunyian.Panggilan itu datang dari Marga, rekan kerja sekaligus sahabat dekat Cassie di divisi perencanaan.Dengan dahi berkerut cemas, Cassie mengusap layar ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut. "Halo, Marga?""Cassie! Kamu ada di mana sekarang?! Kamu aman, kan?" suara Marga terdengar sangat panik dari seberang telepon, napasnya memburu cepat. "Cass, tolong kamu cari televisi sekarang! Nyalakan siaran berita nasional atau saluran infotain

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status