Masuk
"Apa pun yang terjadi semalam... sebaiknya kita lupakan saja, Mario."
Cassandra Lazuardy mengeratkan selimut yang membungkus tubuh telanjangnya. Kepalanya berdenyut pening saat terbangun pagi ini dan mendapati dirinya berbagi ranjang yang sama dengan rival abadinya di kantor, Mario Dirgantara!
Perempuan muda itu memejamkan mata, berusaha keras merajut kembali ingatan semalam. Namun, alih-alih alasan logis mengapa mereka bisa terdampar di sini, benaknya justru dibombardir oleh kilasan memori memalukan, termasuk suara desahannya sendiri yang begitu menikmati sentuhan pria itu!
Cassandra langsung menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Rona merah menjalar hebat hingga ke lehernya, dibakar oleh rasa malu yang teramat sangat.
'Bagaimana mungkin aku bisa berakhir di sini?! Dan bagaimana mungkin aku bisa... menikmati semuanya?!!!'
**
Satu Bulan Sebelumnya...
"Desain yang Anda presentasikan ini sama sekali nggak masuk akal secara struktural, Bu Cassandra."
Suara bariton yang berat dan penuh tekanan itu memotong kalimat Cassandra tepat di tengah-tengah presentasinya. Ruangan rapat utama di lantai dua puluh gedung PT Arunika Properti yang semula dipenuhi oleh suara ketikan laptop mendadak berubah menjadi hening senyap. Udara di dalam ruangan ber-AC itu mendadak terasa membeku.
Cassandra menghentikan gerakannya yang hendak menekan tombol next pada slide presentasi. Perlahan, dengan keanggunan dan senyuman yang dipaksakan, perempuan itu menurunkan tangannya dan menoleh ke arah ujung meja rapat yang panjang. Matanya menatap lurus ke arah pria yang sedang duduk dengan posisi terlalu santai, menyandarkan punggungnya dengan satu tangan menopang dagu.
Mario Dirgantara menatapnya balik dengan sepasang mata tajam yang dingin, tanpa ada sedikit pun rasa bersalah karena telah memotong pembicaraan rekan kerjanya di depan forum resmi.
Tatapan mata mereka bertemu di udara, menciptakan sebuah medan tegangan tinggi yang tak kasat mata. Hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuat seluruh peserta rapat menahan napas mereka secara serentak.
Mereka semua tahu betul hukum tidak tertulis di perusahaan ini: jika dua orang ini sudah mulai bergesekan, rapat yang seharusnya selesai dalam waktu tiga puluh menit bisa molor menjadi debat kusir selama satu setengah jam penuh.
"Boleh saya menyelesaikan penjelasan saya terlebih dahulu, Pak Mario yang terhormat?" tanya Cassandra. Suaranya terdengar manis, namun ada nada dingin yang sanggup menguliti kulit pelapis baja. Senyum tipis di bibirnya sama sekali tidak mencerminkan keramahan.
Mario tidak membalas senyuman itu. Ia justru membetulkan posisi duduknya, mencondongkan tubuhnya ke depan meja rapat, melipat kedua tangannya di atas tumpukan berkas cetak biru. "Nggak perlu ditumpuk sampai selesai, Ibu Cassandra. Saya sudah tahu ujung dari konsep estetika yang Anda bawa ini."
"Oh ya? Boleh tahu apa analisis hebat Anda?" Cassandra melipat tangannya di depan dada, menantang.
"Anda ingin membangun sebuah megaproyek apartemen mewah dengan dinding kaca setinggi lima meter di lobi tanpa kolom penyangga struktural di bagian tengah," ujar Mario dengan artikulasi yang jelas dan tajam. "Secara visual di maket dan render 3D Anda, itu memang kelihatan seperti mahakarya. Tapi kamu lupa satu hal penting: bangunan ini bakal dibangun oleh manusia di atas tanah riil, bukan disulap dengan aplikasi desain semata."
Beberapa staf di sisi kanan meja rapat langsung menundukkan kepala sedalam-dalamnya, pura-pura sangat sibuk memeriksa catatan atau mengetik sesuatu yang tidak penting di laptop mereka agar tidak terlibat dalam baku tembak verbal ini.
Cassandra meletakkan laser pointer di atas meja dengan bunyi ketukan yang cukup keras. "Kalau Divisi Pelaksana dan tim lapangan Anda merasa nggak sanggup atau ketakutan untuk merealisasikan desain inovatif dari divisi saya, mungkin masalah utamanya bukan terletak pada desainnya, Pak Mario. Tapi pada kompetensi tim Anda."
Mario tertawa pendek, sebuah tawa sarkas yang seringkali ia perlihatkan ketika sedang berdebat dengan Cassandra. "Percaya diri banget ya, Bu Perancang."
"Ini bukan sekadar masalah percaya diri," Cassandra menatap mata Mario lurus-lurus. "Saya cuma tipe pekerja yang nggak terbiasa mencari-cari alasan teknis untuk menutupi ketidakmampuannya sendiri."
Cassandra tersenyum tipis pada Mario yang kehilangan senyumannya.
Rahang pria itu mengetat, matanya menggelap. Ruangan rapat yang dingin karena setelan AC maksimum mendadak terasa jauh lebih panas dan menyesakkan bagi siapa pun yang berada di dalamnya.
"Kalau memang tim Anda tidak sanggup..." Cassandra menatap Mario sekali lagi, sebelum berujar santai, "Bagaimana kalau Anda mundur dari Kepala Divisi Pelaksana Proyek saja?"
Cassandra berusaha keras menguasai keterkejutannya. Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahunya yang tegap, dan memasang ekspresi seprofesional mungkin di balik blazer kerjanya. Di matanya saat ini, Bima hanyalah bagian dari rombongan tamu VIP proyek, tidak lebih dan tidak boleh kurang.Namun, menolak kenyataan bahwa kehadiran Bima membawa riak tersendiri ternyata jauh lebih sulit dari perkiraannya.Sepanjang tur peninjauan berlangsung—mulai dari maket tiga dimensi di lobi, penjelasan teknis spesifikasi beton, hingga peninjauan area lantai dasar—Bima hampir tidak pernah melepaskan pandangannya dari Cassandra.Pria itu selalu mengambil posisi berdiri tepat di barisan depan rombongan, menyimak setiap penjelasan teknis yang disampaikan Cassandra dengan perhatian yang sangat dalam. Setiap
Atmosfer hangat dan perhatian intens yang baru saja terbangun di antara mereka seketika mendingin hingga ke titik beku.Mario perlahan menarik kembali tangannya yang mengepal erat di atas meja kayu yang kasar. Tangan yang tadinya lembut mengusap wajah Cassandra itu kini menyusup kaku ke dalam saku jaketnya. Raut santai dan binar hangat di wajahnya menguap habis tanpa sisa, berganti dengan tatapan dingin, kaku, dan datar yang begitu asing.Tembok pembatas profesionalisme, batasan ruang publik, dan gengsi tinggi yang sempat mencair di antara mereka mendadak berdiri tegak kembali, menyadarkan keduanya akan kenyataan bahwa mereka masih dua kepala divisi yang punya re
Melihat ringisan kecil dan cengiran bersalah dari wajah cantik Cassandra, gelombang emosi yang tadinya mendidih di dalam dada Mario mendadak surut tak berbekas. Rasa jengkel dan kemarahan akibat abaian pesan tadi pagi menguap begitu saja, berganti dengan helaan napas panjang yang pasrah dari bibirnya.Namun, saat Mario meneliti wajah Cassandra lebih dekat di bawah terik terik matahari siang, matanya menyipit kencang. Kulit pipi wanita itu tampak agak pucat, dan bibir mewahnya tampak kering diterpa angin laut dan debu proyek."Kamu sudah makan siang belum?" tanya Mario lembut.Cassandra mengedipkan matanya beberapa kali, agak kaget dengan pertanyaan acak yang tidak ada hubungannya dengan gambar teknik di tangannya. "Belum. Tanggung, sedikit lagi peninjauan penulangan zona D selesai—""Tidak ada peninjauan zona D atau z
Matahari lantai lima terasa kian terik menyengat kulit, membiaskan hawa panas di atas jaring-jaring besi struktural yang membentang luas. Namun, keheningan kaku antara Cassandra dan Mario di tengah bisingnya deru mesin proyek terasa jauh lebih membakar daripada terik siang itu.Cassandra memperhatikan raut wajah Mario yang sekeras batu karang. Rahang tegap pria itu mengetat keras, matanya yang kelam masih menatap tajam ke arah pintu tangga darurat tempat Theo baru saja melangkah pergi dengan tergesa-gesa.Bukannya merasa terintimidasi oleh aura dingin yang memancar dari tubuh tegap Mario, bibir Cassandra justru terangkat tipis. Ia mengulas senyum halus yang sarat akan godaan rahasia.Sungguh, melihat seorang Mario—pria yang paling dominan, dingin, berkuasa, dan paling disegani oleh seluruh staf di PT Arunika Properti—bertingkah konyol dan kekanakan
Lantai lima megaproyek Emerald Residence masih berupa deretan tiang beton setengah jadi dan jaring-jaring besi struktural yang membentang luas. Udara di ketinggian itu terasa panas menyengat, terisi oleh deru mesin tower crane yang berputar pelan di atas langit dan ketukan konstan martil para pekerja.Cassandra berdiri anggun di tengah debu konstruksi. Dengan safety helmet putih dan buku catatan di tangannya, ia sama sekali tidak tampak terganggu oleh terik matahari yang membakar. Matanya yang tajam menatap teliti pada ikatan besi beton di bawah kakinya.Di sampingnya, berdiri Theo—senior surveyor yang terkenal paling kaku, dingin, dan perfeksionis di seluruh tim pelaksa
Genderang konstruksi megaproyek Emerald Residence resmi ditabuh. Hanya dalam hitungan hari setelah persetujuan komisaris, area tapak proyek yang semula tenang mendadak berubah menjadi arena kerja yang riuh dan sibuk.Suara deru mesin alat berat, dentang besi struktural, dan hilir mudik truk pengangkut material memadati area lantai dasar hingga lantai-lantai atas yang mulai berdiri tegap.Seluruh divisi terkait bekerja dalam ritme gila-gilaan. Namun, yang paling mencuri perhatian dari seluruh pergerakan itu adalah Cassandra.Sebagai Kepala Divisi Perencanaan, Cassandra yang biasanya lebih banyak menghabiskan waktu di balik meja kerjanya yang dingin—bergelut dengan kertas kalkir, maket 3D, dan analisis anggaran—kini berubah drastis.Rasa lega dan euforia atas kemen







