Share

Bab 2 - Sebuah Solusi?

Penulis: Nona Teh Pahit
last update Tanggal publikasi: 2026-07-19 13:04:32

"Kalau memang tim Anda tidak sanggup..." Cassandra menatap Mario sekali lagi, sebelum berujar dengan nada sesantai mungkin, "Bagaimana kalau Anda mundur dari Kepala Divisi Pelaksana Proyek saja?"

Suasana ruang rapat lantai dua puluh seketika membeku. Beberapa staf senior saling lirik dengan cemas, sementara para junior kompak menahan napas. Kalimat Cassandra barusan bukan lagi sekadar kritik, melainkan sebuah tabuhan genderang perang yang secara terang-terangan menginjak harga diri seorang Mario Dirgantara.

Di ujung meja, Mario perlahan menegakkan punggungnya. Rahangnya mengeras, dan sepasang matanya menatap Cassandra tajam. Semua orang di ruangan itu sudah bersiap untuk skenario terburuk. Mereka mengira pria bertubuh tegap itu akan mengamuk, menggebrak meja, atau setidaknya membalas dengan makian kasar.

Namun, dugaan mereka salah.

Mario justru bangkit dari kursinya dengan gerakan yang tenang. Langkah kakinya yang mantap bergema di atas lantai saat ia berjalan memutari meja panjang, menuju ke arah layar proyeksi tempat Cassandra berdiri. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengikis jarak di antara mereka, lalu dengan gerakan cepat namun halus, merebut laser pointer dari jemari Cassandra.

Sentuhan singkat yang dingin itu membuat Cassandra tersentak kecil, namun ia tetap mempertahankan posisi berdirinya dengan dagu terangkat menantang.

"Mundur, Bu Cassandra?" Mario membalikkan tubuh menghadap forum, seringai tipis yang sarat akan cemoohan terukir di wajahnya. "Kalau saya mundur, siapa yang akan memberitahu Anda kalau fondasi bangunan ini bahkan belum tentu kuat menahan beban dari desain Anda?"

Sebelum Cassandra sempat membalas, Mario sudah menekan tombol pada remote presentasi. Ia memperbesar gambar detail struktur bagian bawah lobi utama. Titik lampu merah dari laser pointer itu kini menari-nari di atas layar.

"Mari kita bicara realita, bukan sekadar fantasi tiga dimensi yang Anda buat di komputer," ujar Mario, suaranya bergaung berat penuh penekanan. "Satu per satu, perhatikan ini. Titik kolom penyangga di area barat daya ini terlalu dipaksakan demi mengejar konsep open space. Akibatnya? Koridor servis di belakangnya menjadi terlalu sempit. Tidak memenuhi standar keselamatan evakuasi jika terjadi kondisi darurat."

Mario menggeser slide ke bagian rencana tata letak eksternal. "Lalu lihat area drop-off ini. Akses untuk heavy crane sama sekali tidak memungkinkan karena Anda bersikeras menaruh taman lanskap statis di jalur utama. Tim saya harus memutar otak dua kali lipat hanya untuk memasang material strukturalnya."

Cassandra mulai merasakan telapak tangannya dingin. Sialan, batinnya bergejolak.

"Dan puncaknya..." Mario menatap Cassandra dengan pandangan meremehkan. "Spesifikasi kaca lengkung tanpa sambungan setinggi lima meter yang Anda agung-agungkan ini. Biaya produksinya hampir dua kali lipat dari total anggaran awal yang sudah disetujui komisaris. Anda ingin membuat mahakarya, atau ingin membuat perusahaan ini bangkrut?"

Semua argumen Mario disampaikan dengan runut, dingin, dan yang paling menyebalkan bagi Cassandra: semuanya didukung oleh data kalkulasi yang akurat.

Senyuman yang semula terpatri di wajah Cassandra kini lenyap sepenuhnya. Wajah cantiknya menegang, menyadari bahwa ia baru saja diserang di titik terlemahnya di depan seluruh jajaran manajemen.

Namun, Cassandra bukanlah tipe wanita yang akan bertekuk lutut begitu saja. Ia merebut kembali laser pointer itu dari tangan Mario dengan sentakan kasar.

"Kalau semua ide baru selalu dianggap mustahil hanya karena keterbatasan logika lapangan Anda, perusahaan ini nggak akan pernah berkembang, Pak Mario!" balas Cassandra dengan suara yang naik satu oktaf. "Tugas Anda sebagai pelaksana adalah mencari solusi teknis untuk mewujudkan visi arsitektural, bukan malah mereduksinya menjadi bangunan kotak semen yang membosankan!"

"Solusi teknis tidak bisa dibangun di atas kebodohan estimasi biaya, Cassandra!" potong Mario, suaranya meninggi.

"Kebodohan Anda bilang?!"

Perdebatan di antara keduanya semakin memanas, saling lempar argumen dengan volume suara yang terus meninggi hingga membuat suasana ruangan terasa menyesakkan. Tepat sebelum Cassandra kembali melontarkan kalimat pedasnya, sebuah suara hantaman keras mengejutkan semua orang.

BRAK!

Direktur Operasional yang duduk di kursi utama memukul meja rapat dengan telapak tangannya. "Cukup! Cukup kalian berdua!"

Ruangan itu seketika hening kembali. Mario dan Cassandra sama-sama terdiam dengan napas yang memburu, namun tatapan mata mereka masih saling menghujam satu sama lain.

Sang Direktur memijat pangkal hidungnya yang terasa pening melihat tingkah kedua aset berharganya tersebut. Setelah menghela napas panjang, ia menegakkan tubuh dan menatap mereka bergantian dengan tatapan mata yang sulit diartikan.

"Saya lelah mendengar laporan pertikaian dari Divisi Perencanaan dan Pelaksana setiap minggunya," ujar Direktur dengan nada final. "Mengingat proyek ini adalah proyek strategis terbesar kita kuartal ini, saya sudah mengambil keputusan. Mulai hari ini, kalian berdua resmi saya tunjuk sebagai Project Integration Controller bersama untuk proyek ini."

Seketika itu juga, ruangan rapat langsung gaduh oleh bisik-bisik terkejut dari para staf. Menyatukan Cassandra dan Mario dalam satu proyek yang sama adalah ide paling gila tahun ini. Itu sama saja dengan menyatukan api dan bensin di dalam satu ruangan tertutup.

Cassandra menjadi orang pertama yang merespons dengan penolakan keras. "Maaf, Pak, tapi saya nggak mungkin bekerja sama dengan dia dalam satu tim yang sama. Metode kerja kami sangat berbeda!"

Mario tidak tinggal diam, ia ikut menyahut dengan nada dingin yang kentara. "Saya juga keberatan, Pak. Saya tidak punya waktu untuk mengasuh seorang perencana yang keras kepala dan anti-kritik di lapangan."

Sang Direktur tidak terpengaruh oleh protes mereka. Beliau hanya melempar senyum tipis yang sarat akan otoritas mutlak, lalu merapikan berkas-berkasnya.

"Penunjukan ini bukan sebuah permintaan yang bisa kalian negosiasikan, Bu Cassandra, Pak Mario. Ini perintah kerja langsung dari jajaran direksi," ucap sang Direktur formal, lalu berdiri dari kursinya. "Rapat selesai. Saya tunggu laporan perkembangan pertama kalian di meja saya hari Jumat ini."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sssttt! Orang Kantor Nggak Perlu Tau!   Bab 71 - Bersama Kembali

    Evaluasi kinerja di akhir pekan menunjukkan pencapaian yang sangat luar biasa. Berkat restrukturisasi manajerial dan efisiensi kerja yang dipimpin secara kolaboratif oleh Cassie dan Mario, keterlambatan jadwal proyek akibat krisis kemarin berhasil dipangkas penuh.Di sisi lain, tim legal perusahaan membawa kabar bahwa Bima—yang kini berada di ujung tanduk secara finansial, ditinggalkan oleh koalisi partainya, dan menghadapi kehancuran karier politik secara total—akhirnya menyerah dan berlutut memohon perdamaian.Untuk merayakan keberhasilan pemulihan proyek sekaligus menandai selesainya babak kelam skandal tersebut, Mario mengajak Cassie untuk menikmati makan malam privat di sebuah restoran eksklusif yang bertengger di puncak gedung pencakar langit kota.Suasana restoran begitu tenang dan

  • Sssttt! Orang Kantor Nggak Perlu Tau!   Bab 70 - Normal Kembali

    Suntikan dana penjamin dari Mario serta gugatan hukum yang bertubi-tubi terbukti berhasil melumpuhkan total pergerakan politik Bima. Di luar sana, karier politik Bima yang semula meroket kini hancur berkeping-keping hingga ke dasarnya.Berbagai media berita utama beralih menyoroti secara tajam bagaimana seorang pejabat dan politisi muda yang terlihat santun ternyata tega memanfaatkan posisinya, menyewa buzzer kotor, dan mengorbankan nama baik seorang wanita profesional murni demi menutupi motif pribadi serta melarikan diri dari komitmen perjodohan bisnis keluarganya sendiri.Sementara itu, di area konstruksi utama Integrated Smart District, Cassandra dan Mario kini harus bekerja berdampingan secara jauh lebih intens di lapangan demi mengejar keterlambatan jadwal konstruksi akibat

  • Sssttt! Orang Kantor Nggak Perlu Tau!   Bab 69 - Pertahanan Mario

    Dampak dari gugatan hukum yang dilayangkan oleh tim pengacara perusahaan Cassandra terhadap Bima tidak hanya berhenti pada kehancuran reputasi pribadinya di hadapan keluarga Prameswari.Sebagai seorang politisi muda yang sedang naik daun dan digadang-gadang akan maju dalam bursa pemilihan daerah mendatang, badai skandal ini menghantam tepat di jantung karier politik yang telah dibangunnya dengan penuh kepura-puraan.Berita fitnah yang berbalik menjadi bumerang secara brutal, dipadu dengan gugatan pidana atas perbuatan melawan hukum serta manipulasi publik, langsung menyulut gelombang kecaman hebat dari konstituen dan desakan penonaktifan Bima dari jajaran kepengurusan partai pengusungnya.Namun, di tingkat operasional Integrated Smart District—sebuah megaproyek bernilai triliunan rupiah—tindakan

  • Sssttt! Orang Kantor Nggak Perlu Tau!   Bab 68 - Kemenangan

    Kemenangan mutlak berada di tangan Cassandra dan perusahaannya. Dengan tuntutan hukum bernilai fantastis yang dilayangkan perusahaan Cassie kepada Bima, serta ancaman kebocoran bukti manipulasi tersebut, pihak keluarga Ibu Sukma dan Prameswari akhirnya terpaksa membatalkan tuduhan mereka dan merilis permohonan maaf terbuka demi menyelamatkan nama baik keluarga dari ancaman persidangan publik.Malam harinya, hujan deras kembali mengguyur ibu kota dengan sangat lebat. Mario mengantarkan Cassie kembali ke rumah singgah di pinggiran kota untuk mengambil barang-barang pribadinya sebelum Cassie kembali ke apartemennya sendiri besok.Suasana di dalam rumah kayu itu begitu sunyi, hanya dihiasi oleh irama gemericik air hujan yang memukul-mukul kaca jendela luar. Uap dingin menyeruak, membuat atmosfer di antara mereka terasa teramat intim dan emosional.Cassie duduk

  • Sssttt! Orang Kantor Nggak Perlu Tau!   Bab 67 - Kehancuran, atau Kebangkitan Kembali?

    Setelah siaran konferensi pers gila itu berakhir, nama Cassandra berada di puncak kehancuran opini publik. Warganet, media massa, dan bahkan pihak internal perusahaan pengelola proyek menyerukan agar Cassandra segera dipecat dan dimintai pertanggungjawaban demi menyelamatkan citra korporasi.Namun, yang tidak diketahui oleh siapa pun—bahkan oleh Cassie sendiri—keangkuhan Bima tidak pernah lolos dari pengawasan Mario.Mario memboyong Cassie kembali ke kantor pusat siang itu juga. Pria tegap itu mengawal Cassie menerobos barisan wartawan di luar gedung dengan penjagaan ketat dari tim keamanan khusus yang ia sewa secara pribadi. Mario menggandeng erat tangan Cassie, melangkah penuh intimidasi menuju lantai paling atas—ruang rapat Direksi.Di dalam ruang rapat yang tegang, telah berkumpul seluruh jajaran Direktur Operasional, tim

  • Sssttt! Orang Kantor Nggak Perlu Tau!   Bab 66 - Konferensi Pers

    Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden kayu di ruang tengah perlahan membangunkan Cassandra dari tidur nyenyaknya. Rasa aman yang melingkupi rumah singgah itu sempat membuat tubuhnya merasa bugar. Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa saat sebelum suara dering ponsel pribadi Cassie yang mendadak bernada nyaring di atas meja rias memecah kesunyian.Panggilan itu datang dari Marga, rekan kerja sekaligus sahabat dekat Cassie di divisi perencanaan.Dengan dahi berkerut cemas, Cassie mengusap layar ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut. "Halo, Marga?""Cassie! Kamu ada di mana sekarang?! Kamu aman, kan?" suara Marga terdengar sangat panik dari seberang telepon, napasnya memburu cepat. "Cass, tolong kamu cari televisi sekarang! Nyalakan siaran berita nasional atau saluran infotain

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status