แชร์

Bab 142 Perjodohan Pertama

ผู้เขียน: Madamme Yellow
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-27 23:36:24
“dr. Arlan main padel juga?” tanya Silvi saat Arlan mendekati mereka. Arlan membawa satu orang temannya yang juga seorang Konsulen di rumah sakit tempat mereka koas, poli penyakit dalam.

“Ya, kalian sering main di sini?” tanya Arlan dengan senyum mengejeknya melihat Karin yang sedang main dengan Xavier.

Ternyata wanitanya sangat seksi hari ini demi pria lain.

“Hemm, dok. Gimana kalau kita main pasangan aja dok?” tanya Silvi menawarkan diri. Kakak Sepupunya sudah mendekat karena tahu tar
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 142 Perjodohan Pertama

    “dr. Arlan main padel juga?” tanya Silvi saat Arlan mendekati mereka. Arlan membawa satu orang temannya yang juga seorang Konsulen di rumah sakit tempat mereka koas, poli penyakit dalam. “Ya, kalian sering main di sini?” tanya Arlan dengan senyum mengejeknya melihat Karin yang sedang main dengan Xavier. Ternyata wanitanya sangat seksi hari ini demi pria lain. “Hemm, dok. Gimana kalau kita main pasangan aja dok?” tanya Silvi menawarkan diri. Kakak Sepupunya sudah mendekat karena tahu target sudah datang. Begitu centil dan seksi sekali. Pria mana yang tidak tergoda dengan kecantikan Kakak Sepupunya apalagi ia seorang model hot di Jakarta. “Boleh juga,” jawab Arlan. Arlan main di lapangan sebelah Karin. Ia biarkan saja Karin bersenang-senang dengan pria lain nanti juga mereka akan bersama. “Halo dokter, Amanda Manamungkhin.” Itu nama sebenarnya. Arlan dengan cool menerima uluran tangannya. Entah wanita mana itu, yang penting saat ini mereka adalah couple. Ya, pasangan

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 141 Pangeran Datang

    Karin mengenakan dress mini tanpa lengan terintegrasi celana pendek di bagian dalam yang menonjolkan bentuk kaki. Sepatu sport yang baru saja dibelinya beberapa Minggu yang lalu.Rambutnya yang panjang dikuncir kuda dan tidak lupa Karin menorehkan lip gloss di bibirnya yang seksi. “Oke finish!” Karin sudah siap berangkat ke tempat padel. Karin tidak dijemput, ia hanya janjian ketemu dengan Xavier di tempat itu. Sebelumnya Karin mengambil foto sebelum pergi padel di dalam mobilnya. “Olahraga malam sama kamu.” Karin tertawa setelah itu, tapi story media sosialnya tidak bisa dilihat oleh Dimas karena malam ini Karin tidak ingin kekasihnya menyusul ke tempat padel. Baru berapa menit update, Arlan sudah melihat story nya. “Yes!” Sudah pasti Arlan akan menyusul ke tempat yang Karin maksud. Karin ingin lihat, malam ini Kakak Sepupu Silvi, berhasil atau tidak menggoda pria dingin yang mesum ini. Semua orang memang tidak tahu aslinya tapi Karin paling tahu kalau Arlan itu otak mesum.

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 140 Sok Sibuk!

    “Sorry, Xavier. Aku gak bisa ikut.” Walaupun ia free tapi Karin tidak bisa liburan jauh, pikiran Karin masih teringat pada laporannya meskipun Karin terlihat cuek dan enggan mengetiknya. “Tapi, malam ini aku mau main padel, kamu mau ikut?” tanya Karin. Karin ingin mengajak Dimas tapi tangan Dimas sakit dan kekasihnya juga sedang istirahat di rumahnya, Karin tidak mau mengganggu Dimas yang sedang pemulihan. “Oke, gak masalah. Malam nanti aku jemput di rumahmu.” “Hemm,” jawab Karin dengan senyumnya. Setelah sarapan pagi, Karin pulang. Banyak sekali pesan dari Dimas bahkan ada beberapa panggilan tidak terjawab juga.“Honey, sore kamu mau ke mana?” Karin melihat pesan itu dari profilnya, kalau Karin jujur, tempat padel malam ini akan jadi tempat reuni dan Karin tidak mau ada pertengkaran. “Tidur aja dok, aku mau istirahat sampai besok pagi,” jawab Karin. Tadinya, mau Karin biarkan saja pesan Dimas tapi tidak tega. Dimas itu kekasihnya wajar saja kalau mereka sayang-sayangan. “Aku

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 139 Liburan Ke Paris

    Karin sakit perut mendengarnya, Arlan memang suka warna merah tapi kalau ia yang gunakan. “Pernah, dr. Arlan sendiri yang ngomong kalau cewek pakai warna merah itu seksi.” “Oh, iya sudah dipakainya, ia siap Karin, kata Kakak Sepupuku saat aku tunjukkan foto dr. Arlan, bergetar rahimnya, langsung anget minta dibasahi, hahahaha.” Ya Tuhan, Karin tidak tahu kalau Kakak Sepupu Silvi seagresif itu. Cocok sekali dengan Arlan yang hyper. “Takutnya dr. Arlan jijik gak kalau Kakak kamu begitu banget, nanti walaupun dia datang, biasa aja bilangin, jangan heboh banget, jangan langsung goyang gergaji. Sabar!” Silvi terkekeh, Karin pun ikut tertawa. Sepertinya sulit biasa saja kalau orang lain pertama kali melihat Arlan. Ketampanan Arlan dan sikapnya yang dingin dengan wanita membuat wanita penasaran. “Oke deh, nanti aku omongin pokoknya hari ini usahakan jadi.” “Siip!” Karin menutup teleponnya, ia mengemudikan mobilnya ke arah rumah dan saat dalam perjalanan, ponselnya berdering.“Xavier?

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 138 Bisa Juga Marah

    “Kenapa seperti anak kecil?” tanya Arlan ketika Karin keluar dari mobilnya. “Maksudnya? Aku cuma kasih kesempatan dokter supaya bisa kenal dengan Mbak Winda lebih dekat lagi, itu yang dokter mau, kan?” Cih! Padahal ada bekas lipstik di pipi Arlan bahkan di dekat bibirnya, sekarang Arlan sok mencintai Karin. “Dia mabuk, orang mabuk gak ada yang sadar apa yang dia lakukan Sayang,” jawab Arlan jujur. Arlan juga tidak mau menjemput Winda tapi bartender di club itu yang menghubungi Arlan. Mau tidak mau, Arlan datang. “Aku antar dia ke hotel, staf hotel saksinya, aku gak sendirian. Ngapain Karin aku bohong sama kamu.” Sepertinya Arlan memang tidak mau ada salah paham dengan Karin tapi pikiran Karin berbeda, ini kesempatan untuk lepas dari Arlan. “Aku gak percaya dok, kamu jelasin apapun ke aku, aku gak akan percaya. Memangnya bercinta perlu berapa lama apalagi sampai kamu antar check in ke hotel. Omong kosong kalau gak ngapa-ngapain. Bibir kamu aja ada bekas lipstik, leher, pipi juga

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 137 Dasar Aneh

    “Hihihihi.” Karin dari keluar apartemen Arlan sampai di dalam taxi, ia tertawa tidak berhenti padahal ia dan Arlan sedang bertengkar hebat dengan alasan cemburu buta. Tidak, Karin tidak cemburu. Itu hanya alasan saja supaya bisa lepas dari Paman mesumnya. Sekarang Karin bebas, ia tidak perlu lagi jadi budak ranjang Arlan.Karin masih lucu melihat wajah cemas Arlan, ia sampai bersumpah dan memohon untuk tidak meninggalkannya dan Karin tetap pergi dengan air mata buaya. “Ya ampun, aku kalau ikut casting jadi artis pasti lulus deh,” ucap Karin sambil melihat cermin dari cushion miliknya. Cantik tapi gila! Karin menuju cafe semalam tempat Arlan menjemputnya karena Karin meninggalkan mobilnya di sana. Tapi, malam ini ia tetap harus berhasil membawa Arlan untuk bermain padel karena Silvi ingin mengenalkan Kakak Sepupunya yang cantik dengan Arlan, semakin banyak pilihan wanita akan semakin bagus. Supaya mata Arlan terbuka, wanita di dunia ini banyak dan sadarlah. Jangan berharap pada

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status