Mag-log inCeklek.Suara kunci berputar memecah keheningan apartemen. Silvi mendorong pintu dengan sisa tenaga yang ia miliki, tangan kanannya erat mencengkram pegangan koper hitam, benda yang hanya berisi tumpukan pakaian kusut dan buku-buku tebal kedokteran yang menyita seluruh waktu tidurnya.Di ujung ruangan, di bawah pendar lampu gantung yang temaram, Rion sedang sibuk.“Akhirnya kamu datang juga, Sayang.”Pria itu berdiri di dekat meja makan, menata dua piring berisi steak premium dengan kepulan asap tipis yang menggoda selera.Aroma mentega, bawang putih dan daging panggang berkualitas tinggi langsung menyergap indra penciuman Silvi.Rion tidak memasaknya sendiri, kotak kemasan dari salah satu restoran bintang lima ternama di Jakarta masih tergeletak di konter dapur, menjadi bukti usaha instannya untuk menciptakan malam yang sempurna.Silvi memaksakan seulas senyum manis di wajahnya yang letih. Ia melangkah mendekat, membiarkan kopernya terlepas begitu saja di dekat sofa.“Malam, Sayang,
Karin tertawa renyah sembari membetulkan tali lingerie sutra merahnya yang sedikit longgar.Ia melangkah ringan menuju meja makan, menghirup aroma masakan yang langsung membuat perutnya berdemo.Di hadapannya, Arlan menggeleng-gelengkan kepala.Pria itu masih menatap istrinya dengan tatapan antara takjub dan heran luar biasa.Bagaimana bisa ada manusia yang bertransisi dari mode mandi menjadi mode hibernasi di dalam bathtub?“Hahahah, kok bisa aku tidur di bathtub. Aku pasti ngantuk banget, Sayang,” ucap Karin manja, langsung menarik kursi dan bersiap menyantap makanan yang sudah tersaji rapi.Arlan mendengus geli, meletakkan cangkir kopinya.“Ngantuk sih ngantuk, Sayang. Tapi tidur di bathtub itu bakat terpendam yang agak menyeramkan. Untung kamu gak tenggelam dan berubah jadi putri duyung.”Baru saja Karin hendak membalas dengan mengerucutkan bibirnya, ponsel di atas meja makan bergetar hebat.Layarnya menyala, menampilkan satu nama yang sejak tadi tidak berhenti memanggil. Laura!K
“Emm capek Sayang, mau pulang.” Rengek Karin saat mereka ada di supermarket.Tulang Karin rasanya mau rontok semua tapi Arlan tidak mengerti juga.Karin mengerucutkan bibirnya, menatap isi troli supermarket dengan dahi berkerut.Sebagai seorang putri yang jangankan memegang pisau, melirik pintu dapur saja tidak pernah, atmosfer bagian bahan makanan ini terasa begitu asing baginya.“Sabar Sayangku, masih ada bahan yang belum masuk.”Di dalam troli, Arlan sebenarnya sudah menata puas bahan-bahan berkualitas tinggi untuk pesta dadakan mereka malam ini.Sebagai menu utama, ia memilih beberapa pak daging sapi Shortplate premium yang memiliki jalinan lemak sempurna, siap melepaskan aroma gurih saat menyentuh wajan panggangan.Tidak ketinggalan, potongan Wagyu slice setipis kertas juga bernaung di dalam kemasan kedap udara, khusus disiapkan untuk memanjakan lidah istri kecilnya.Untuk menu suki yang hangat, troli mereka disesaki oleh aneka isian berwarna-warni.Mulai dari tahu sutra yang sup
“Kenapa malam itu kau tidak datang?” tanya Moreno setelah makan malam mereka berakhir.Mesin mobil mati, menyisakan keheningan yang mencekam di antara mereka.Malam ini berbeda. Laura tahu itu. Biasanya, Moreno akan membiarkannya pulang sendiri tanpa peduli.Namun, setelah siasat dinginnya berhasil meruntuhkan pertahanan Laura, ditambah jeratan investasi yang tak mungkin ditolak, Moreno sengaja memangkas jarak.Pria itu menuntut kedekatan yang memaksa.“Aku sakit kemarin.”Moreno memiringkan tubuh, tatapannya mengunci pergerakan Laura. Tanpa aba-aba, ia maju untuk mencium bibir Laura.“Moreno, kamu mau apa? Lepaskan aku!”Secara refleks, kedua telapak tangan Laura mendarat di dada Moreno, mendorongnya sekuat tenaga.Moreno tersentak!Gerakannya terhenti. Matanya menyipit, menatap Laura dengan kilatan tidak percaya.“Kenapa Laura? Kau jijik denganku?”Dulu, Laura tidak pernah sedingin ini.Dulu, wanita di hadapannya selalu bisa dikendalikan.Tapi Moreno adalah pria yang benci penolakan
“Kamu tu gak harus kayak gini, dok.”Silvi tidak nyaman sebenarnya di antar langsung oleh Diego untuk bertemu kekasihnya. Ironis rasanya!“Gak apa, masuklah!”Mobil sedan mewah milik Diego berhenti tepat di depan drop-off lobby apartemen megah bernuansa modern itu.Kilau marmer dan lampu gantung kristal yang terlihat dari dinding kaca seolah menegaskan status sosial orang-orang yang tinggal di sana.Termasuk Rion dan sekarang, Silvi!Diego mematikan mesin mobil, namun tangannya tetap mencengkram kemudi dengan erat.Cup!Sebelum turun, Silvi mengecup bibir Diego dengan begitu lembut.“Makasih ya, Sayang.” Diego tersenyum kecut.Matanya menatap lurus ke arah lobi, membaca papan penunjuk digital yang menampilkan nomor-nomor lantai eksklusif.Diego tidak perlu turun atau bertanya kepada resepsionis.Dari obrolan Silvi sebelumnya, ia sudah mencatat dengan baik di mana unit mereka berada, lantai berapa dan pemandangan apa yang mereka lihat dari atas sana.Silvi melepas sabuk pengamannya, la
“Jadi... aku yang kedua?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Diego.Ada jeda panjang yang mendadak terasa dingin di antara mereka, kontras dengan sisa kehangatan yang masih tertinggal di atas sprei yang kusut.Mereka baru saja menyelesaikan satu ronde permainan di ranjang yang begitu menggairahkan.Tanpa sehelai benangpun!Sebagai seorang dokter, Diego terbiasa mengendalikan situasi. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah membayangkan akan berdiri di posisi ini, menjadi orang ketiga, bayang-bayang di balik hubungan orang lain.Logikanya berteriak bahwa ini salah. Namun, saat tatapannya jatuh pada Silvi, ego dan rasa sepinya sebagai seorang duda justru membungkam semua suara kebenaran itu. Ia tidak peduli. Ia tidak ingin mundur.Silvi menatap Diego tanpa ada rasa bersalah di matanya. Perempuan itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak begitu bebas sekaligus mengikat.“Aku ak pernah minta kamu buat cuma nunggu aku, Dok,” ucap Silvi tenang, jemarinya merapikan rambut Dieg
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di







