Share

Bab 143 Kalah Taruhan

last update publish date: 2026-07-28 12:42:32

“Yang kalah traktir,” ucap Karin dengan senyumnya. Padahal ia tidak jago bermain padel dan sudah yakin kalah tapi kalau taruhannya cuma traktir makan di restoran mewah, Karin masih bisa menanggungnya.

“Gak mau,” jawab Arlan sambil melipat tangannya di dada. Uangnya banyak, kalau sekedar makan di restoran itu kecil sekali. Arlan sama sekali tidak tertarik, Arlan bisa membayar mereka makan setelah main padel ini. Berapa kalipun Arlan sanggup.

“Terus mau kamu apa, dok?” tanya Karin kesal.

Xavie
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 277 Godaan Janda Penuh Gairah

    “Ngapain Kakek Billy ke rumah sakit?” Silvi melihat Kakek Billy terburu-buru naik ke lift, sepertinya menuju ruangan dr. Arlan. Silvi tidak tahu ada masalah apa yang penting ia menghubungi Karin saja. Siapa tahu ini masalah pertunangan dr. Arlan dan dr. Renata yang akan disegerakan. Supaya Karin sadar dan tidak lagi memikirkan Pamannya. “Halo, Rin. Udah sehat?” tanya Silvi setelah telepon tersambung. “Udah lumayan, kenapa? Tumben banget nelpon, biasa juga nunggu aku mati dulu,” sindir Karin dengan menarik sudut bibirnya. “Gak ada kayak gitu Rin, aku ini sahabat yang selalu ada suka dan duka.” Karin memang tidak pernah serius. Padahal Silvi tidak ingin bercanda saat ini. “Ada gosip, aku lihat Kakek Billy naik ke ruangan dr. Arlan, dia terburu-buru banget, kayak mau nikahin anak gitu,” lanjut Silvi. Memang kompor! Padahal Karin sudah tidak sedih dan bisa tertawa, Silvi malah mengingatkan pernikahan Arlan dan juga dr. Renata. “Ngapain Kakek? Berobat?” “Sehat gitu, tapi gak tau j

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 276 Tukang Gombal

    “Pagi, princess.” Xavier selalu menghubungi Karin di waktu yang tepat, saat ia memang membutuhkan orang untuk diajaknya bicara. “Pagi,” jawab Karin dengan suara serak karena ia baru selesai menangis. “Ada apa? Sepertinya kamu habis menangis?” tebak Xavier. Suara Karin berbeda, biasanya ceria atau cuek tapi pagi ini seperti ada suara yang tertahan. “Gak ada, semalam aku jatuh dari tangga.”“Jatuh dari tangga?” tanya Xavier panik. Baru saja Xavier tiba di kantornya, belum sempat duduk, ia melepaskan jasnya di kursi. “Hemm, tapi gak apa. Aku gak masuk hari ini,” lanjut Karin sambil memijat kakinya. Padahal pagi tadi Arlan sudah memijatnya dan sudah mulai nyaman. “Aku akan ke apartemenmu sekarang! Aku mau melihat keadaanmu,” ucap Xavier menarik jasnya dan berlari secepat mungkin ke parkiran, ia sendiri yang mengendarai mobilnya menuju apartemen Karin yang baru. Padahal Karin belum setuju tapi Xavier cepat sekali. Karin melanjutkan merebahkan dirinya di ranjang dan melamun lagi.“K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 275 Susu Kesukaanmu

    “Bohong!” Karin mendorong tubuh Arlan dengan kuat, tidak mungkin semua ini terjadi, pasti Arlan sedang memanipulasinya dan Arlan bisa melakukan semua itu dengan kekuasaan yang sekarang. Padahal Karin sudah terharu, Arlan bingung. Kenapa sikap Karin menjadi seperti ini lagi. “Aku akan tanya Kakek langsung, aku gak percaya denganmu, dok.” Karin begitu sigap menekan nomor Kakek Billy, sedangkan Arlan langsung panik dan berusaha menarik ponsel Karin. Namun, terlambat! Kakek Billy sudah mengangkat telepon dari cucu kesayangannya itu. “Kek, Karin mau tanya sesuatu, boleh?” tanya Karin dengan hati-hati. Arlan menggeleng, meminta Karin untuk menutup telponnya sekarang. “Matikan Sayang!” Arlan berbisik dengan suaranya yang pelan. Karin tidak mau mendengarkan, ia tetap saja ingin bicara dan langsung bertanya. Kakek Billy tidak mungkin berbohong. “Ada yang mengirimkan pesan padaku, Kek. Apa benar dr. Arlan itu bukan anak kandung Kakek?” tanya Karin ragu sambil melipat bibirnya. Karin m

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 274 Aku Sangat Mencintaimu

    “Karena kau tidak masuk, ada pelajaran tambahan dariku,” bisik Arlan saat ada berdua saja di kamar dengan Karin. Karin sudah berpikir kalau Arlan akan mengajaknya bercinta. Ternyata Karin salah, Arlan malah memijat kakinya dengan lembut. “Masih sakit?” tanya Arlan dengan senyum manisnya. “Gak lagi, dokter gak ke rumah sakit?” tanya Karin sekali lagi. Padahal tidak ada yang peduli dengannya. Kenapa Arlan selalu ada untuknya? Tapi, kalau ingat Arlan tunangan dengan Renata, rasanya kesal sekali. Ditambah dr. Renata yang selalu membanggakan kisah cintanya yang penuh gairah di masa muda. “Boleh aku tau sejak kapan kau jatuh cinta padaku, dok?” tanya Karin. Tidak mungkin kalau sejak mereka pertama kali bertemu, pasti ada pertemuan jauh sebelum itu yang Karin tidak ketahui. Arlan menatap Karin dengan lembut dan mengusap pipi Karin setelahnya. “Sejak melihat kau berenang di rumah Kakek Billy, kau tidak pernah melihatku tapi saat itu, aku mulai bergairah.” “Kau

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 273 Morning Sickness

    Pagi ini kembali canggung. Mereka berdua diam sambil menatap ponsel. “Gak usah masuk aja Rin, pasti diizinkan kok kalau kamu sedang sakit,” ucap Silvi. Karin memang dari tadi berpikir seperti itu juga. Kakinya belum kuat dan kalau ia masuk, hanya merepotkan saja. Tapi, izinnya masih dengan dr. Arlan. “Ya sudahlah aku izin dulu,” jawab Karin ragu-ragu. Akhirnya ia mengetik pesan singkat untuk dikirimkan ke Arlan. “Pagi dok, maaf saya tidak bisa masuk hari ini karena kaki saya masih sakit, kemarin jatuh dari tangga, mohon izinnya, terima kasih.” Ia kirim serta dengan foto kakinya yang dibalut perban elastis. “Oke.”Arlan membalasnya dengan cepat. Karin tersenyum, baguslah kalau ia tidak perlu datang ke rumah sakit. Setidaknya ia memulihkan dirinya sehari di apartemen baru sambil tiduran. “Sil, aku duluan aja ke rumah sakit, aku pesan ojek aja supaya cepat,” ucap Silvi. Mobil Silvi tergadai karena hutangnya dengan Diego. Makanya sekarang sudah tidak punya mobil lagi, apartemen ju

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 272 Batasan Yang Mulai Terkikis

    “Karin ngapain sih?” Silvi mendekatkan telinganya dan ada suara desahan. “Ouh dokter ya Sayang, eummph lebih dalam ouuuh yess.” Silvi mengutuk kelakuan Karin, bisa-bisanya ia kembali jatuh dalam pesona Konsulennya padahal sudah terang-terangan dikhianati. “Aku gak mau dengar suara itu,” ucap Silvi mencari earphone miliknya sambil mendengarkan music dengan volume paling tinggi. Merinding Silvi mendengar suara temannya yang sedang VCS. Saat santai sambil mendengarkan music, ponsel Silvi berdering. “Om Rion?” Ngapain lagi Papi Karin menghubunginya malam seperti ini, tadi mereka baru saja bertemu dan rasanya saja masih membekas. Silvi ingin memanggil ‘Papi’ tapi ingat ia dan Rion begitu intim, Silvi tidak ingin lagi memanggil seperti itu, lebih baik ‘Om’ saja. “Halo, Om?” Silvi menggeser tombol hijau, menunggu suara Rion. “Lagi apa Sayang?” tanya Rion tanpa basa-basi. Suara Rion sepertinya sedang mabuk. “Baru mau tidur,” jawab Silvi. “Ehmm, mikirin Om gak?” tanya Rion. Rion h

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status