เข้าสู่ระบบ“dr. Arlan main padel juga?” tanya Silvi saat Arlan mendekati mereka. Arlan membawa satu orang temannya yang juga seorang Konsulen di rumah sakit tempat mereka koas, poli penyakit dalam. “Ya, kalian sering main di sini?” tanya Arlan dengan senyum mengejeknya melihat Karin yang sedang main dengan Xavier. Ternyata wanitanya sangat seksi hari ini demi pria lain. “Hemm, dok. Gimana kalau kita main pasangan aja dok?” tanya Silvi menawarkan diri. Kakak Sepupunya sudah mendekat karena tahu target sudah datang. Begitu centil dan seksi sekali. Pria mana yang tidak tergoda dengan kecantikan Kakak Sepupunya apalagi ia seorang model hot di Jakarta. “Boleh juga,” jawab Arlan. Arlan main di lapangan sebelah Karin. Ia biarkan saja Karin bersenang-senang dengan pria lain nanti juga mereka akan bersama. “Halo dokter, Amanda Manamungkhin.” Itu nama sebenarnya. Arlan dengan cool menerima uluran tangannya. Entah wanita mana itu, yang penting saat ini mereka adalah couple. Ya, pasangan
Karin mengenakan dress mini tanpa lengan terintegrasi celana pendek di bagian dalam yang menonjolkan bentuk kaki. Sepatu sport yang baru saja dibelinya beberapa Minggu yang lalu.Rambutnya yang panjang dikuncir kuda dan tidak lupa Karin menorehkan lip gloss di bibirnya yang seksi. “Oke finish!” Karin sudah siap berangkat ke tempat padel. Karin tidak dijemput, ia hanya janjian ketemu dengan Xavier di tempat itu. Sebelumnya Karin mengambil foto sebelum pergi padel di dalam mobilnya. “Olahraga malam sama kamu.” Karin tertawa setelah itu, tapi story media sosialnya tidak bisa dilihat oleh Dimas karena malam ini Karin tidak ingin kekasihnya menyusul ke tempat padel. Baru berapa menit update, Arlan sudah melihat story nya. “Yes!” Sudah pasti Arlan akan menyusul ke tempat yang Karin maksud. Karin ingin lihat, malam ini Kakak Sepupu Silvi, berhasil atau tidak menggoda pria dingin yang mesum ini. Semua orang memang tidak tahu aslinya tapi Karin paling tahu kalau Arlan itu otak mesum.
“Sorry, Xavier. Aku gak bisa ikut.” Walaupun ia free tapi Karin tidak bisa liburan jauh, pikiran Karin masih teringat pada laporannya meskipun Karin terlihat cuek dan enggan mengetiknya. “Tapi, malam ini aku mau main padel, kamu mau ikut?” tanya Karin. Karin ingin mengajak Dimas tapi tangan Dimas sakit dan kekasihnya juga sedang istirahat di rumahnya, Karin tidak mau mengganggu Dimas yang sedang pemulihan. “Oke, gak masalah. Malam nanti aku jemput di rumahmu.” “Hemm,” jawab Karin dengan senyumnya. Setelah sarapan pagi, Karin pulang. Banyak sekali pesan dari Dimas bahkan ada beberapa panggilan tidak terjawab juga.“Honey, sore kamu mau ke mana?” Karin melihat pesan itu dari profilnya, kalau Karin jujur, tempat padel malam ini akan jadi tempat reuni dan Karin tidak mau ada pertengkaran. “Tidur aja dok, aku mau istirahat sampai besok pagi,” jawab Karin. Tadinya, mau Karin biarkan saja pesan Dimas tapi tidak tega. Dimas itu kekasihnya wajar saja kalau mereka sayang-sayangan. “Aku
Karin sakit perut mendengarnya, Arlan memang suka warna merah tapi kalau ia yang gunakan. “Pernah, dr. Arlan sendiri yang ngomong kalau cewek pakai warna merah itu seksi.” “Oh, iya sudah dipakainya, ia siap Karin, kata Kakak Sepupuku saat aku tunjukkan foto dr. Arlan, bergetar rahimnya, langsung anget minta dibasahi, hahahaha.” Ya Tuhan, Karin tidak tahu kalau Kakak Sepupu Silvi seagresif itu. Cocok sekali dengan Arlan yang hyper. “Takutnya dr. Arlan jijik gak kalau Kakak kamu begitu banget, nanti walaupun dia datang, biasa aja bilangin, jangan heboh banget, jangan langsung goyang gergaji. Sabar!” Silvi terkekeh, Karin pun ikut tertawa. Sepertinya sulit biasa saja kalau orang lain pertama kali melihat Arlan. Ketampanan Arlan dan sikapnya yang dingin dengan wanita membuat wanita penasaran. “Oke deh, nanti aku omongin pokoknya hari ini usahakan jadi.” “Siip!” Karin menutup teleponnya, ia mengemudikan mobilnya ke arah rumah dan saat dalam perjalanan, ponselnya berdering.“Xavier?
“Kenapa seperti anak kecil?” tanya Arlan ketika Karin keluar dari mobilnya. “Maksudnya? Aku cuma kasih kesempatan dokter supaya bisa kenal dengan Mbak Winda lebih dekat lagi, itu yang dokter mau, kan?” Cih! Padahal ada bekas lipstik di pipi Arlan bahkan di dekat bibirnya, sekarang Arlan sok mencintai Karin. “Dia mabuk, orang mabuk gak ada yang sadar apa yang dia lakukan Sayang,” jawab Arlan jujur. Arlan juga tidak mau menjemput Winda tapi bartender di club itu yang menghubungi Arlan. Mau tidak mau, Arlan datang. “Aku antar dia ke hotel, staf hotel saksinya, aku gak sendirian. Ngapain Karin aku bohong sama kamu.” Sepertinya Arlan memang tidak mau ada salah paham dengan Karin tapi pikiran Karin berbeda, ini kesempatan untuk lepas dari Arlan. “Aku gak percaya dok, kamu jelasin apapun ke aku, aku gak akan percaya. Memangnya bercinta perlu berapa lama apalagi sampai kamu antar check in ke hotel. Omong kosong kalau gak ngapa-ngapain. Bibir kamu aja ada bekas lipstik, leher, pipi juga
“Hihihihi.” Karin dari keluar apartemen Arlan sampai di dalam taxi, ia tertawa tidak berhenti padahal ia dan Arlan sedang bertengkar hebat dengan alasan cemburu buta. Tidak, Karin tidak cemburu. Itu hanya alasan saja supaya bisa lepas dari Paman mesumnya. Sekarang Karin bebas, ia tidak perlu lagi jadi budak ranjang Arlan.Karin masih lucu melihat wajah cemas Arlan, ia sampai bersumpah dan memohon untuk tidak meninggalkannya dan Karin tetap pergi dengan air mata buaya. “Ya ampun, aku kalau ikut casting jadi artis pasti lulus deh,” ucap Karin sambil melihat cermin dari cushion miliknya. Cantik tapi gila! Karin menuju cafe semalam tempat Arlan menjemputnya karena Karin meninggalkan mobilnya di sana. Tapi, malam ini ia tetap harus berhasil membawa Arlan untuk bermain padel karena Silvi ingin mengenalkan Kakak Sepupunya yang cantik dengan Arlan, semakin banyak pilihan wanita akan semakin bagus. Supaya mata Arlan terbuka, wanita di dunia ini banyak dan sadarlah. Jangan berharap pada
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a







