Home / Romansa / Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan / Bab 167 Kabarnya Dia Tidak Normal

Share

Bab 167 Kabarnya Dia Tidak Normal

last update publish date: 2026-08-01 13:08:45

“Udah enakan perutnya?” tanya Silvi, hari ini seperti biasa Karin sudah masuk ke rumah sakit, ikut visit pasien dan mulai mengerjakan laporannya yang tertunda karena berapa Minggu ini terus masuk rumah sakit.

“Hemm udah, gak deras lagi.”

Karin panik saja, biasanya darah haidnya tidak sebanyak itu tetapi bulan ini volumenya lebih banyak. Sepertinya ia memang tidak cocok dengan KB, sebagai mahasiswi kedokteran Karin malah meragukan KB suntik, selain suntik, ia juga minum pil KB. Ya, mungkin saj
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 520 Aku Tidak Bisa Menahan

    “Sialan! Aku sudah terlambat.”Lampu lorong rumah sakit berpendar pucat, memantulkan bayangan dua pria yang berdiri di depan ruang sterilisasi sebelum operasi besar dimulai.Jam dinding digital di atas pintu menunjukkan pukul 14.10 WIB.Diego terlambat tepat sepuluh menit.Napasnya masih agak memburu. Bukan karena ia berlari menyusuri koridor, melainkan karena sisa keletihan yang menyenangkan setelah percintaan intens siang ini bersama Silvi di sebuah hotel dekat rumah sakit.Diego berusaha mengumpulkan kembali energinya yang sempat terkuras habis.Namun, penampilannya tidak bisa berbohong. Jas dokternya tersampir miring, kancing kemejanya berselisih lubang dan rambut yang biasanya klimis kini tampak acak-acakan.Arlan, bersandar di dinding sambil melipat tangan.Tatapannya tajam, menelisik penampilan Diego dari ujung kepala hingga ujung kaki. Meski begitu, ada kilat geli yang tertahan di sudut matanya.“Sepuluh menit, Diego,” Arlan mengetuk jam tangannya sendiri.Suaranya tertahan na

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 509 Ah, Capeknya!

    “Dia udah sampai duluan,” gumam Silvi sambil melihat jam di tangannya.Sepertinya Diego sudah tidak tahan bercinta dengan Silvi.Silvi melangkah terburu-buru menyusuri koridor hotel berkarpet tebal, mengabaikan detak jantungnya yang berkejaran liar.Tit!Begitu pintu kamar mewah di depan ujung koridor terbuka, sosok Diego langsung menyambutnya.“Aku udah nunggu lama, Beb.”Tidak menunggu waktu lama, Diego langsung meraup bibir Silvi sambil membuka pakaian Silvi hingga tandas, Silvi juga membuka kemeja hitam yang digunakan Diego.“Eumph, ahhhh sabar Sayang,” bisik Silvi dengan senyum nakalnya.Pertemuan yang penuh ketegangan itu memperlihatkan betapa kuatnya ikatan emosional di antara mereka, yang selama ini terhalang oleh kenyataan pahit.“Aku dari semalam memikirkanmu.” Suara Diego serak parau menahan gairah.Diego menatap Silvi dengan tatapan dalam, menggenggam tangannya erat seolah takut kehilangan wanita itu.“Aku juga masih kangen sama kamu, Sayang.” Diego menarik Silvi ke ranja

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 508 Egois!

    “Sayang!”Arlan bangkit dari kursi kerjanya, lalu berjalan mendekat dan menarik tangan Karin dengan lembut untuk mengajaknya duduk di sofa panjang yang ada di sudut ruangan.Pria itu berlutut di hadapan Karin, memandangi wajah lelah istrinya dengan tatapan yang mendadak berubah intens.Tatapan penuh kepemilikan yang selalu berhasil membuat Karin terpaku.Detik berikutnya, tanpa aba-aba, Arlan maju dan langsung meraup bibir Karin dengan rakus.“Eumph, apaan sih Sayang, nanti ada orang masuk.”Karin terkejut, namun ciuman menuntut itu segera mematikan seluruh protes di benaknya.“Bibir kamu lembut sih Sayang,” jawab Arlan disela-sela kecupannya. Tadinya, Arlan hanya berniat mengecap bibir ranum itu sebentar saja sebagai pelepas penat.Namun, sensasi manis dan kehangatan yang begitu nikmat dari Karin membuat Arlan kehilangan kendali.Pria itu memperdalam ciumannya, mengabaikan fakta bahwa mereka masih berada di lingkungan rumah sakit, terus melanjutkannya sampai ia merasa benar-benar pu

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 507 Punya Keluarga Yang Utuh

    “Siapa itu?”Karin menatap nanar dari ujung koridor lantai dua gedung rumah sakit. Di bawah sana, di area parkir yang terik oleh matahari siang, Silvi berjalan terburu-buru.Alih-alih menuju kantin untuk mencari makan di jam istirahat koas seperti yang lain, perempuan itu justru melangkah mantap menuju sebuah sedan hitam keluaran terbaru.Ya. Mobil baru!Karin tahu persis dari mana asal kendaraan mewah itu. Dari Papinya.“Mau kemana Silvi?” batin Karin, suaranya tercekat di tenggorokan.Karin hanya bisa memandang dari kejauhan dengan tatapan kosong.Di dalam hatinya, rasa peduli sudah lama mati. Hubungan mereka sudah terlanjur rusak dan tidak akan pernah bisa membaik.Sejak Maminya meninggal, Silvi dengan begitu mudahnya masuk, merebut posisi, dan menikmati seluruh fasilitas mewah sebagai simpanan Papinya.Memang bukan kemauan Silvi tapi Silvi pun tidak menolak.Karin membuang muka, lalu berjalan gontai menuju bangku taman rumah sakit yang sepi.Ia merogoh saku jas putih koasnya, meng

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 506 Besok Itu Jatahku

    “Kayaknya dia udah tidur.”Silvi perlahan menyibak selimut sutra yang menutupi tubuh polosnya, bergerak sehalus mungkin agar tidak terusik oleh pergerakan Rion.Ia memungut jubah tidur satinnya, memakainya dengan tergesa, lalu melangkah keluar dari kamar megah itu menuju balkon luar yang berudara dingin.Sambil memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar akibat angin malam, Silvi menatap layar ponselnya.Jari-jarinya bergerak ragu sebelum akhirnya menekan nomor yang sudah sangat ia hafal.Nomor Dokter Diego.Hanya dalam dua kali nada sambung, panggilan itu langsung diangkat.Seolah-olah pria di seberang sana memang sedang menggenggam ponselnya semalaman penuh.“Beb....” Suara Diego terdengar berat, serak dan dipenuhi oleh ketegangan yang tertahan.“Kamu baru bisa meneleponku jam tiga subuh? Dia baru melepaskanmu?”Silvi menghela napas pendek, merasa bersalah sekaligus terikat.“Rion baru aja tidur, Dok ... maaf.”Diego terkekeh sinis di seberang telepon.Di dalam rumahnya yang sepi, Diego m

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 505 Sama-Sama Hyper

    “Makasih Sayang, aku puas banget malam ini,” ucap Rion sambil mengecup kening Silvi cukup lama.“Sama-sama Sayang, yang penting kamu senang.” Ya, Silvi tidak bisa menolak, meskipun tulangnya seakan remuk.Setelah malam yang panjang dan melelahkan bagi Silvi di bawah dominasi Rion, kamar tidur yang megah itu kini hanya menyisakan hening.Napas Silvi masih sedikit memburu, kulitnya terasa dingin saat bersentuhan dengan seprai sutra.Silvi melihat tubuhnya penuh dengan keringat, ia pun sebenarnya sangat puas, hingga ingin tidur rasanya.Di tengah keheningan itu, Rion tiba-tiba bergeser mendekat, menumpu kepalanya dengan satu tangan sambil menatap Silvi yang masih berusaha mengumpulkan kembali energinya.“Koasmu sebentar lagi selesai, kan?” tanya Rion membuka percakapan, suaranya berat dan rendah, menggema di kamar yang sunyi. “Setelah semua ini selesai, apa rencanamu? Aku hanya ingin tahu. Dan kalau ada hal yang bisa kubantu dengan kuasaku, katakan saja.”Silvi menarik napas dalam-dala

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status