Beranda / Romansa / Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan / Bab 427 Setitik Perhatian Kini Jadi Racun

Share

Bab 427 Setitik Perhatian Kini Jadi Racun

Penulis: Madamme Yellow
last update Tanggal publikasi: 2026-09-13 15:26:37

Karin menatap layar ponselnya yang menyala, menampilkan pesan dari Arlan.

“Kalau gak ada kerjaan lagi, istirahat saja di ruanganku.” Ia memilih abai.

Dadanya terasa sesak, dihantam badai kesedihan yang tak berkesudahan sejak Dimas memamerkan lembaran-lembaran foto laknat itu, bukti kemesraan masa lalu yang kini menjelma menjadi senjata pemeras.

Karin didera keputusasaan untuk menghancurkan lembaran sialan itu, meski ia tahu Dimas memegang ratusan salinan lainnya.

Ke mana perginya sosok Dimas ya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Ngesti Rahayu
Kira" Karin jd menikah ga ya sama Arlan? kq mslh'a dtg silih berganti gitu ...
goodnovel comment avatar
deviaprilia_rahayu
ya Ampun masalahnya tdk selesai selesai... kasian Karin dan Arlan... kapan mereka bisa bahagia dan merdeka
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 723 Dia Tidak Mau Melepaskanku!

    Napas Silvi tertahan sejenak. Ia melihat sosok Moreno sedang duduk santai di sudut luar kafe sembari memegang cangkir kopi, dengan sepasang mata yang mengunci fokusnya menatap tajam ke arah Laura dari sana.“Gilaaa!!!!” pekik Silvi dalam hati, merinding melihat tingkat kepedulian yang sudah melampaui batas kewarasan itu.“Itu mantan pacar kamu, kan?” tanya Silvi pelan, menunjuk tipis dengan dagunya ke arah seberang jalan.Laura mengangguk lemas, bahunya merosot turun.Wajah cantiknya langsung diliputi awan mendung. Laura sudah benar-benar kehabisan cara dan bingung bagaimana lagi cara mengusir pria keras kepala itu.Moreno bahkan sanggup membawa laptopnya dan bekerja seharian penuh di kafe seberang, hanya demi memantau setiap gerak-gerik Laura dari pagi hingga galeri tutup.Kehadiran konstan pria itulah yang selalu memicu salah paham dan membuat ia bersama Dokter Dimas bertengkar hebat akhir-akhir ini.“Kamu stres gak sih kalau dia mulai menggila gitu?” tanya Silvi lagi, ikut merasaka

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 722 Ngidamnya Karin

    “Rin, kamu gak ada di rumah, ya?” tanya Silvi melalui sambungan telepon saat kakinya melangkah di halaman rumah sahabatnya yang tampak sepi.Hari ini Silvi memutuskan datang ke rumah Karin setelah menghabiskan malam penuh paksaan dan keintiman yang menguras emosi bersama Aldi.Setidaknya, ada satu hal yang ia syukuri, Aldi tidak menawannya lagi setelah itu dan membiarkannya pergi pagi-pagi sekali.Silvi butuh tempat untuk bernapas, namun rumah pelariannya justru kosong.“Iya, aku lagi ngidam makan gudeg, tapi harus di Jogjanya langsung!” sahut Karin riang di seberang sana.Silvi hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban itu. Sifat manja Karin semenjak hamil tua memang makin menjadi-jadi.Setiap kali ngidam makanan khas daerah, Karin pasti menuntut untuk mencari ke kota asalnya langsung, sekalian menjadikannya alasan untuk jalan-jalan berdua dengan sang suami.“Hemm, aku juga mau ke Jogja. Kok gak ngajak sih?” gerutu Silvi, mencoba mengalihkan sesak di dadanya dengan obrolan bi

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 721 Ternoda Lagi!

    Silvi terkejut saat mendengar suara bunyi ceklek pada pintu apartemennya.Matanya melebar sempurna ketika sosok tinggi tegap Aldi melangkah masuk dengan santai setelah berhasil membuka password pintu rumahnya.Pikiran Silvi berputar hebat.Siapa yang memberitahu kode rahasia itu kepada Aldi?Apakah pria ini menyadap semua sistem keamanan tempat tinggalnya?“Kamu ngapain?” tanya Silvi dengan nada tinggi dan penuh kepanikan, mundur beberapa langkah saat Aldi menutup pintu itu dengan pelan namun pasti, menguncinya dari dalam.“Kita harus bicara, Sayang. Jangan kekanak-kanakan seperti ini. Aku tulus denganmu, Silvi,” ucap Aldi dengan suara yang menuntut, tatapannya mengunci pergerakan Silvi.Silvi tidak mau mendengar sepatah kata pun dari pria itu. Rasa trauma dan muak membuat otaknya berputar mencari cara untuk lolos.Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja kaca, berusaha keras menghubungi pihak security apartemen.Namun, Aldi jauh lebih cepat da

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 721 Beri Aku Satu Kesempatan Lagi!

    Hehh! “Aku gak takut sama kamu,” bisik Silvi dalam hati.Silvi melangkah dengan santai melewati mobil mewah itu, seolah benda mengkilap seharga miliaran rupiah itu hanyalah rongsokan tak berharga di pinggir jalan.Namun, Aldi yang sejak tadi mengawasi pergerakannya tidak tinggal diam. Pria itu langsung membuka pintu kemudi dan bergegas mendekat, memotong jalur jalan Silvi dengan langkah lebar.“Please, Sayang! Ini sudah tujuh bulan. Aku kangen kamu,” ucap Aldi dengan suara yang merendah, menatap Silvi dengan sorot mata memohon yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun di dunia ini.Selama tujuh bulan ini, Aldi sudah tidak terhitung lagi berapa kali memohon dan meminta maaf.Keangkuhannya sebagai konglomerat runtuh total di hadapan wanita ini.Namun, benteng pertahanan Silvi terlalu kokoh untuk ditembus. Ia sama sekali tidak berniat memberikan maaf sedikit pun.Silvi menghentikan langkahnya, menatap Aldi dengan pandangan sedingin es.“Kamu ngapain? Aku udah pernah bilang kalau aku

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 719 Cintaku Tidak Bisa Diukur

    “Ayang... hemm, apaan sih, aku malu,” ucap Karin dengan nada manjanya yang khas saat menghubungi Arlan via telepon.Ayang?Tingkahnya benar-benar persis seperti anak ABG yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta setengah mati karena mendapat kiriman hadiah spektakuler dari sang kekasih.“Kenapa malu?” tanya Arlan di seberang sana, ikut tersenyum-senyum tidak jelas di ruang kerjanya.Beban rapat direksi yang melelahkan tadi seketika menguap mendengar suara ceria istrinya.“Memangnya cinta kamu sampai mana dengan aku?” pancing Karin.Hihihihihi….Karin langsung cekikikan tidak jelas, menutup wajahnya yang merona merah dengan satu tangan.Tingkah ajaib ibu hamil ini seketika menjadi tontonan gratis bagi para perawat dan Silvi yang berada di ruangan yang sama.Kebetulan jam pelayanan Puskesmas sudah selesai dan mereka bersiap-siap untuk pulang kerja.“Cintaku dalam, Sayang. Tapi gak bisa diukur,” jawab Arlan terdengar begitu tulus.“Aaaah, masa sih?” goda Karin lagi, sengaja memperpanj

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 718 Mencintai Ugal-Ugalan

    “Hemm, Mbak Vera anaknya berapa?” tanya Karin pada salah satu perawat senior di Puskesmas ituSambil menyortir berkas pasien berikutnya, Karin mencoba membuka obrolan santai, berniat menyelidiki kehidupan rumah tangga orang lain.“Anak tiga, Dok,” jawab Perawat Vera dengan senyum ramah yang selalu menghiasi wajahnya.“Pasti rame banget ya rumah. Terus ... suami gimana, Mbak? Makin cinta setelah punya anak banyak, atau malah jadi cuek?” tanya Karin berpura-pura santai.Padahal, di dalam hatinya, ia sedang menanti validasi bahwa semua suami di dunia ini memang akan berubah cuek seiring berjalannya waktu.“Sialan!” batin Karin menjerit saat melihat binar bahagia di mata Perawat Vera.Sementara suaminya sendiri di rumah mendadak super cuek.Hiks!“Biasa aja, Mbak, masih kayak dulu pas awal nikah,” cerita Perawat Vera dengan wajah berseri-seri.“Tetap perhatian, sayang banget. Malah kerjaan rumah kebanyakan dia yang kerjain. Aku pulang kerja dari Puskesmas begini, sampai rumah tinggal maka

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status