Masuk“Hai, pagi ini gak masuk?” Suara dr. Diego di seberang telepon terdengar begitu santai, namun sanggup memicu denyut halus di pelipis Silvi.Pria itu jelas sudah mengulik jadwalnya.Silvi menghela napas berat, merebahkan tubuhnya yang remuk di atas kasur apartemen kecilnya.Semalam ia terjebak lembur yang menguras habis energinya. Ia bahkan tak sempat bertegur sapa dengan Karin.Sahabatnya itu juga sama-sama sekarat oleh tumpukan kasus pasien demi bisa lulus dari stase ini, Karin sengaja mengambil lembur berturut-turut demi mengganti hari-hari bolosnya kemarin.Silvi menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut.Ngapain dr. Diego telepon?Oh, tentu saja karena pesan singkatnya semalam diabaikan.Sebenarnya, Silvi hanya ingin tenggelam dalam tidur seharian ini.Toh, Papi Karin, pria yang kini mengikatnya dalam kontrak rahasia, sedang sangat sibuk. Pria seksi itu terlalu pening mengurus pekerjaan dan drama pelarian Karin dari rumah.Sebagai wanita simpanan, Silvi tahu diri. Di saat seper
Karin menatap layar ponselnya yang menyala, menampilkan pesan dari Arlan.“Kalau gak ada kerjaan lagi, istirahat saja di ruanganku.” Ia memilih abai.Dadanya terasa sesak, dihantam badai kesedihan yang tak berkesudahan sejak Dimas memamerkan lembaran-lembaran foto laknat itu, bukti kemesraan masa lalu yang kini menjelma menjadi senjata pemeras.Karin didera keputusasaan untuk menghancurkan lembaran sialan itu, meski ia tahu Dimas memegang ratusan salinan lainnya.Ke mana perginya sosok Dimas yang dulu begitu lembut dan penuh kasih?Kini, topeng itu telah luruh, menyisakan seringai beracun dari seorang pria manipulatif yang siap menghancurkannya kapan saja.Sementara itu, Arlan dirundung gelisah. Ia tahu Karin sedang online, ia juga tahu kekasihnya itu baru saja menyelesaikan operasi panjang bersama dr. Revan dan dr. Dimas.Namun, kenapa pesannya diabaikan?Didorong rasa khawatir yang membuncah, sang Direktur Rumah Sakit itu melangkah lebar menuruni koridor, menyisir bangsal bedah, hin
“Kamu tidak merindukan aku, Karin?” bisik Dimas, sementara jari-jarinya yang lancang mulai membelai pipi Karin dengan kelembutan yang terasa manipulatif.Karin menepis tangan itu dengan sentakan kasar, lalu mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk mendorong dada Dimas.“Dok, dokter jangan menantangku. Dokter gak akan suka kalau aku teriak sekencang mungkin di ruangan ini, kan? Lepaskan!"Dimas justru terkekeh sinis, wajahnya mendekat ke telinga Karin.“Teriak saja, Karin. Aku sama sekali tidak peduli. Jika kamu berteriak, aku akan menelanjangimu di sini, lalu aku tinggal bilang ke orang-orang bahwa kamulah yang datang menggodaku ke ruangan ini.”Gila!Pria di hadapannya ini sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya.“Kamu mau apa sebenarnya dari aku?” tanya Karin dengan nada frustasi yang memuncak.“Hanya mengobrol,” jawab Dimas santai, matanya menelusuri setiap inci wajah cantik Karin yang kini memerah padam karena amarah dan ketakutan.“Ngobrol gak perlu sedekat ini, dok! Lepas! In
“Kenapa juga malam ini ada dia sih,” gumam Karin kesal sebelum masuk ke ruangan operasi.Jaga malam kali ini terasa jauh lebih mencekam dan menguras emosi bagi Karin. Ia terpaksa terlibat dalam operasi besar kasus kanker ovarium stadium lanjut yang telah bermetastasis dan menginvasi sebagian dinding usus pasien.Kasus sekompleks ini membutuhkan kolaborasi lintas divisi yang rumit, melibatkan dr. Dimas sebagai dokter subspesialis onkologi ginekologi untuk mengangkat massa tumor pada organ reproduksi, serta dr. Revan sebagai dokter umum dari tim bedah yang membantu mendampingi prosedur serta memantau stabilitas klinis jaringan di luar area ginekologi.Sebagai seorang koas di tengah meja operasi yang menegangkan itu, tugas Karin sangat menguras fisik dan mental.Ia bertanggung jawab untuk memegang retractor (alat penarik dinding perut) berjam-jam tanpa boleh goyah sedikitpun agar lapangan pandang operasi para dokter tetap jelas, melakukan suction untuk menyedot darah yang menggenang, ser
Rion yang gelap mata langsung merangsek maju, mencengkram kerah kemeja Arlan dengan kasar.Tangannya mengepal, siap melayangkan tinjuan mentah ke wajah dokter muda itu.Namun dengan sigap, Arlan menangkis pukulan tersebut dan mendorong tubuh Rion hingga terhuyung menjauh.“Pak! Pak! Saya mohon, jangan membuat keributan di lingkungan rumah sakit!” Kedua security berbadan gagah itu dengan cepat menyela di antara keduanya, menggunakan tubuh tegap mereka sebagai benteng pemisah dan menahan pergerakan Rion.“Suruh mereka keluar,” perintah Arlan kepada security, matanya tetap menghujam netra Rion.“Jika mereka menolak, langsung laporkan ke polisi atas dugaan pasal berlapis. Atau ... hubungi sekalian rekan-rekan wartawan. Katakan pada mereka. Pengacara Kondang Rion Wijaya mengamuk dan menerobos masuk ke Ruangan Direktur Rumah Sakit.”Ancaman Arlan tepat sasaran. Rion membeku, matanya menyiratkan kemurkaan yang tertahan.Dengan kasar, ia menyentak tangan security yang menyentuhnya, lalu merap
“Rin, kayaknya kamu sembunyi dulu deh! Aku tadi pas telponan sama pacarku, lihat Papi Rion di bawah. Buruan!”Suara Silvi bergetar hebat di seberang telepon. Ketakutan yang teramat sangat mencengkram dadanya, ia sangat takut Papi Rion akan menemukan Karin dan menyeretnya pulang secara paksa."Serius?” Jantung Karin serasa lolos dari tempatnya.Kepanikan yang luar biasa membuat pikirannya lumpuh seketika, sampai-sampai ia meninggalkan seluruh barang bawaannya berserakan di atas meja.“Sil, tolong nanti bawa barang-barang aku ke apartemen, ya? Aku mau lari ke ruangan dr. Arlan!”“Iya, Rin. Hati-hati!” jawab Silvi yang ikut didera panik. Dalam hati, ia berdoa setengah mati agar sahabatnya itu tidak berpapasan dengan sang ayah.Karin berlari dengan napas memburu membelah koridor menuju ruangan Direktur, ruangan milik dr. Arlan.Namun, langkahnya mendadak terkunci saat sudut matanya menangkap siluet yang sangat ia kenal.Papi Rion sudah berdiri di depan pintu ruangan itu. Wajahnya masam, me
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a







