Share

Bab 479 Rumahnya Sepi

last update publish date: 2026-09-23 17:16:37

Seperti janjinya pada Dimas, ia datang ke rumah Dimas dan Dimas sudah menunggunya dari tadi.

“Sepi banget rumahnya,” gumam Laura merasakan tubuhnya meremang, malam ini Laura sengaja menggunakan dress, supaya cepat nanti dalam pengobatan.

“Hai, padahal aku mau jemput tapi kamu mau datang sendiri,” ucap Dimas dengan senyumnya yang begitu manis.

“Kok aku malah nyuruh dokternya yang jemput, pasiennya dong yang harus datang,” jawab Laura dengan tawanya yang renyah.

“Ayo, masuk ke ruangan!” Dimas m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 486 Rasa Yang Sama

    Suasana di balik tirai pemeriksaan mendadak berubah begitu sunyi dan mencekam oleh ketegangan yang tak kasatmata.Laura berbaring dengan posisi litotomi, kedua tangannya meremas kuat sisi-sisi ranjang, matanya terpejam rapat dengan napas yang memburu menahan malu yang luar biasa.Di hadapannya, Dimas berusaha keras mempertahankan topeng profesionalismenya.Namun, demi Tuhan, itu bukanlah tugas yang mudah.Saat jemarinya yang terbungkus sarung tangan lateks mulai menyentuh kulit sensitif Laura untuk memeriksa posisi kateter word, Dimas berulang kali menelan salivanya dengan berat.Jakunnya naik-turun menahan gejolak yang perlahan membakar dadanya.“Rileks, Laura ... tarik napas dalam-dalam,” bisik Dimas, suaranya terdengar agak serak dari biasanya.Dimas memfokuskan pandangan, dengan teliti memperbaiki posisi kateter yang memang sedikit bergeser, memastikan balonnya terkunci kencang agar tidak lagi membuat Laura merasa mengganjal.Namun, sentuhan fisik yang begitu intim ini justru mema

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 485 Pertunangan?

    “Malu banget, padahal malam tadi sudah ke kliniknya,” gumam Laura lirih, meremas pelan ujung tas mahalnya di atas pangkuan.Pagi ini, aroma khas antiseptik Rumah Sakit kembali menyapa indra penciumannya.Langkah kakinya terasa agak canggung, bukan hanya karena sisa tidak nyaman dari operasi kista bartholin semalam, tetapi karena rasa cemas yang terus mengusik.Ada sensasi mengganjal di bawah sana. Ketakutan bahwa kateter word yang dipasang Dokter Dimas terlepas, memaksa Laura mengesampingkan harga dirinya untuk kembali datang menemui dokter muda itu.Laura menghembuskan napas panjang, menyandarkan punggungnya pada kursi tunggu koridor yang dingin.Untung saja!Untung saja bisikan gila di kepalanya semalam, tentang meminta Dimas menjadi kekasihnya, hanya tertahan di ujung lidah dan berakhir dalam benak.Ia tidak akan pernah seberani itu, seberapa besar pun ia mengagumi sosok Dimas.“Masih lengket.”Namun, kilasan memori tentang ciuman semalam mendadak berputar di kepalanya.Sentuhan ha

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 484 Urusan Ranjang?

    Satu hal yang tidak disadari oleh Karin dalam kepanikannya, dr. Diego memiliki mata sepejal elang dan kewaspadaannya sebagai seorang dokter kandungan tidak pernah benar-benar mati, bahkan dalam situasi seintim itu. Saat celah pintu terbuka dan seberkas cahaya koridor menerobos masuk, Diego sempat melirik ke arah ambang pintu. Di antara deru napas dan permainan ego bersama Silvi, ia menangkap siluet familier dengan jas putih koas. Diego tahu persis itu adalah Karin. Sebuah senyum miring yang penuh kepuasan sekaligus intrik terbit di sudut bibirnya tanpa sepengetahuan Silvi yang masih sibuk memejamkan mata di bawah kungkungannya. Sementara itu, di lorong seberang, Karin masih berusaha menata napasnya yang memburu. Tiba-tiba, sebuah langkah kaki tegap terdengar mendekat dari arah ruang utama bedah. Itu adalah dr. Danu, Konsulen bedah mereka yang terkenal killer dan disiplin. “Karin? Sedang apa kamu di lorong tangga darurat?” suara berat dr. Danu menggelegar, membuat Karin

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 483 Tidak Ingin Diganggu

    Langkah kaki Karin mendadak tertahan di koridor rumah sakit yang mulai sibuk.Tepat di depan pintu ruangan dr. Diego, dua orang perawat melintas sambil saling mendekatkan kepala, berbisik-bisik dengan ekspresi penuh spekulasi.“Eh, serius ... di dalam ada Silvi, 'kan?”“Iya, sahabatnya Karin itu dan mereka sedang musuhan. Katanya sih akhir-akhir ini lagi nempel banget sama dr. Diego.”Karin mengepalkan tangannya tersembunyi di balik saku jas putihnya.Dadanya bergemuruh.Jam dinding masih menunjukkan pukul delapan pagi. Di jam-jam krusial seperti ini, Silvi seharusnya berada di bangsal, menemani Konsulen bedah melakukan visite pasien.Apalagi mereka berada di stase yang sama. Sebentar lagi masa koas mereka di rumah sakit ini akan berakhir, sebuah momen kelulusan yang sudah bertahun-tahun dinantikan Karin dengan berdarah-darah.Tapi apa yang dilakukan Silvi di dalam sana?“Tapi tadi kamu dengar gak?” bisik perawat yang satunya lagi, suaranya mengecil namun terdengar jelas di telinga Ka

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 482 Kau Bohong!

    “Eugh.” Rasa nyeri di bekas operasi payudaranya sebenarnya sudah lama menguap, namun ketakutan itu masih membeku di dada Silvi. Ironisnya, ketakutan itu hanya berlaku untuk Rion, bukan untuk Dokter Diego, teman tapi mesranya di rumah sakit yang sudah menantinya dengan sebuah janji intim. Silvi tidak peduli lagi pada pengkhianatan ini. Toh, di belakangnya, Rion juga asyik bermain dengan wanita lain. Hubungan mereka hanya ikatan kontrak tanpa cinta, menyisakan ego dan gairah yang merusak. Silvi berdiri di tepi ranjang, menatap punggung polos Rion yang tertidur tengkurap. Begitu ia melangkah, rasa perih menyengat area sensitifnya, efek dari gempuran tanpa ampun yang dilepaskan Rion semalam. Namun, Silvi harus mengakui satu hal, Rion menepati janjinya. Pria itu tidak menyentuh dadanya sama sekali semalam, tahu betul bahwa area itu masih dalam masa pemulihan. Silvi menikmati sentuhan fisik yang ekstrim itu karena ia membutuhkannya, tetapi pagi ini, waktu tidak berpihak padan

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 481 Makanan Rion

    “Apalagi alasan untuk tidak melakukan itu, Rion pasti sudah kesal mendengar alasanku,” gumam Silvi saat sampai di apartemen. Malam ini ia tidak lembur, ia juga harus datang menemani Rion, karena sudah lama sekali Silvi tidak menemani Rion tidur sejak Karin menikah dengan Arlan.Pintu apartemen mewah itu tertutup dengan bunyi klik yang dingin. Silvi berdiri di ruang tengah, merapikan sedikit gaunnya yang terasa mencekik.Di sinilah ia berada, di tempat yang dibelikan Rion untuknya. Statusnya jelas, tertulis hitam di atas putih dalam selembar kontrak, ia harus selalu ada kapanpun Rion memanggil.Harga diri?Silvi sudah membuangnya jauh-jauh.Namun, yang paling kerap menusuk dadanya adalah kenyataan bahwa ia kini kehilangan Karin.Berulang kali Silvi dengan wajah tebal meminta maaf, mencoba mengetuk pintu hati Karin, namun benteng yang dibangun sahabatnya itu terlampau kokoh. Silvi telah menjadi orang asing bagi orang yang paling disayanginya.“Kau terlambat, Silvi.”Suara berat dan ser

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status