Masuk“Makanannya buat kamu puas gak malam ini?” tanya Arlan.“Puas banget dong, malah mau datang lagi tapi aku tau kalau perjalanan honeymoon kita panjang, Sayang.” Karin bergelayut mesra di lengan kekar Arlan.Begitu mereka selesai dinner dan melangkah keluar dari kehangatan restoran, sebuah sedan mewah sewaan Arlan sudah menunggu untuk membawa mereka ke dermaga pribadi di tepi Sungai Seine.Karin mengira mereka hanya akan berjalan-jalan di sepanjang tepi sungai, namun matanya langsung membelalak ketika Arlan menuntunnya menuju sebuah private yacht berdesain klasik modern yang telah disewa khusus untuk mereka berdua.Tanpa perlu Karin meminta, Arlan sudah tahu semua yang Karin impikan sejak lama.Ia tahu persis bahwa menyusuri Sungai Seine di malam hari, melihat Paris dari atas air adalah impian masa remaja Karin yang sering ia ceritakan saat mereka masih sibuk mencuri waktu di sela-sela jam kerja rumah sakit.“Sayang, kita naik ini berdua saja, serius?" tanya Karin takjub saat kapten kap
“Sayang apa itu?Suara Karin bergetar, matanya langsung berkaca-kaca menatap troli perak yang baru saja didorong oleh pelayan restoran Le Cinq.Arlan memberikan kejutan lagi malam ini.Di atas troli itu, terdapat sebuah buket raksasa mawar merah merekah dan sebuah kotak beludru hitam kecil yang baru saja dibuka oleh Arlan.Di dalamnya, berkilau sebuah set perhiasan berlian murni, kalung dengan liontin soliter dan sepasang anting yang memantulkan kemilau lampu kristal hotel.Karin terharu, sampai menutup mulutnya dengan satu telapak tangan karena tidak percaya.Tidak hanya itu, sebagai pelengkap, tersaji Saint Honore, salah satu kue paling enak dan ikonis di Paris.Kue mahakarya pastry Prancis ini memiliki dasar puff pastry mentega yang super renyah, dikelilingi choux bun (sus kecil) berselimut karamel tipis yang berkilau seperti kaca.Bagian tengahnya dipenuhi creme chiboust vanilla Madagaskar yang sangat lembut, lalu dihias anggun dengan semprotan whipped cream berbentuk kelopak bung
“Kamu nyangka gak aku bawa kesini?” tanya Arlan sambil memandang ke sekeliling Restoran. Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit Le Cinq, restoran bintang tiga Michelin di dalam Four Seasons Hotel George V Paris, memantulkan cahaya keemasan yang begitu megah. Dindingnya dilapisi kain sutra brokat bernuansa neoklasik, lengkap dengan rangkaian bunga mawar putih segar yang tingginya hampir menyamai pelayan berbaju jubah rapi di sana. Tempat ini adalah definisi nyata dari kemewahan Paris, tipe restoran yang membuat seseorang otomatis memeriksa saldo rekeningnya setiap kali pelayan menuangkan air putih. Karin ikut mengedarkan pandangannya, matanya berbinar menatap arsitektur megah di sekeliling mereka, lalu beralih pada suaminya yang duduk di hadapannya dengan setelan jas hitam yang sangat pas di tubuh. “Hemm, makasih ya, Sayang,” bisik Karin setengah tertawa, mencondongkan badannya ke depan meja berbahan marmer putih. “Dua tahun koas, baru kali ini aku ngerasa marta
“Ah, akhirnya sampai!” Pinggang Karin rasanya kaku sekali.Karin mendesah lega begitu melangkah masuk ke dalam kamar hotel mewah di Paris yang sudah dipesan Arlan sejak jauh-jauh hari.Begitu pintu kamar tertutup rapat, Karin langsung menjatuhkan tas tangan dan kacamata hitamnya ke atas meja, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur berukuran king size yang tampak begitu empuk dan mengundang.“Nyaman banget, hmmm enak.”Perjalanan panjang melintasi benua dari Jakarta, transit di Doha, hingga akhirnya mendarat di Bandara Charles de Gaulle Paris benar-benar menguras tenaganya.Meskipun terbang dengan fasilitas kelas bisnis yang serba nyaman, tubuh Karin tidak bisa berbohong. Efek kurang tidur dari sisa-sisa ujian koas ditambah duduk belasan jam di pesawat membuat fisiknya protes.Karin berguling terlentang, menatap langit-langit kamar dengan posisi tangan merentang.“Aku capek Sayang, pinggangku seakan mau rontok. Sayang pijat ... rasanya tulang belakangku kayak habis digeser paksa,” k
“Aku gak mungkin bisa marah sama kamu, Sayang. Kamu tau itu.”Arlan tidak melepaskan genggaman tangan Karin, namun ia juga tidak langsung tersenyum.Ia menatap lurus ke dalam bola mata istrinya dengan tatapan yang begitu dalam, intens dan menuntut. Ada kilat ketegasan yang jarang ia tunjukkan sebelumnya.Selama berapa bulan ini, Arlan sudah cukup banyak mengalah. Ia mengalah pada jadwal jaga malam Karin yang tidak manusiawi.Ia mengalah saat makan malam romantis mereka batal karena ada pasien darurat. Ia mengalah menahan gairah dan ego sebagai suami demi kelulusan ujian istrinya.Bahkan, ia rela ikut pusing mendengar drama kehidupan orang-orang di sekitar Karin.Please! Kali ini saja….Namun untuk sebulan kedepan, batas kesabaran Arlan sudah mencapai puncaknya. Kali ini, ia tidak mau mengalah lagi pada apapun, termasuk pada bayang-bayang Laura.Arlan menarik tangan Karin sedikit lebih dekat, membuat posisi duduk mereka kini saling berhadapan di ruang kursi kelas bisnis yang luas dan p
“Ayo, Sayang!” Repot sekali Arlan menggandeng super modelnya. Barang bawaan mereka banyak sekali.“Emm sabar Sayang, ya ampun sepatu aku….” Teriak Karin histeris. Hampir saja sepatu modenya terlepas dari kaki cantiknya karena ditarik paksa oleh Arlan.Proses check-in di konter Bandara Internasional Soekarno Hatta berjalan sangat mulus.Sesuai janjinya, Arlan memesan tiket kelas bisnis menuju Paris. Fasilitas jalur cepat membuat mereka tidak perlu mengantri lama tapi tetap saja hampir terlambat.Namun, ketenangan yang baru saja mereka rengguk mendadak runtuh dalam hitungan detik tepat setelah mereka memegang boarding pass.“Kayak Laura,” gumam Karin dalam hati.Saat berjalan melewati pembatas kaca menuju eskalator atas, mata Karin tidak sengaja melirik ke arah bawah, tepat ke area pintu kedatangan internasional. Jantung Karin rasanya seperti berhenti berdetak.Di sana, di antara kerumunan orang yang baru mendarat, berdiri sosok wanita yang sangat familiar dengan wajah yang persis sama
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di







