Se connecter“Jangan pernah memberitahu Dimas kalau ada aku malam ini, mengerti?” Karin mengangguk, ia juga tidak seaneh itu. Hubungan ini cukup mereka berdua saja yang tahu. “Kenapa kembali Sayang? Kamu masih kangen aku?” tanya Karin sambil memeluk tubuh kekar Arlan.Kenapa gengsi? Biasanya juga blak-blakan dengannya. Arlan memandang wajah Karin dan menjawab dengan melumat bibir Karin. Sepertinya Karin mengerti jawabannya. Ia tidak akan memaksa kalau memang Arlan mencintai Renata, Karin akan mengalah. Tapi, ia tidak akan pernah mau meninggalkan Arlan. Karin akan terus menjadi bayang-bayang dalam keluarga itu. Salah Arlan sendiri. Ia yang membawa Karin dalam hidupnya dan sekarang, mereka sudah tidak bisa berhenti. “Sudah malam. Apa harus mengantar dokter genit itu?” tanya Karin dengan bibirnya yang mengerucut. Kenapa Renata harus kembali ke Jakarta? Seharusnya wanita tidak pernah pulang sehingga Arlan tetap menjadi miliknya.“Ya, aku yang membawanya, kau ingin menungguku di sini?” bisik Arla
“Mau kemana Arrr?” tanya Renata mengejar Arlan sampai ke kamarnya. “Aku ingin tidur sebentar, supir yang akan mengantarmu Renata, aku sungguh mengantuk sekali, aku tidak bisa membawa mobil dalam keadaan ngantuk seperti ini,” jawab Arlan bohong. Ia ingin masuk ke kamarnya karena Karin masih di dalam, dengan perilaku Arlan yang hyper, mana mungkin ia cukup hanya satu atau dua kali mencapai klimaks. Tubuhnya begitu cocok dengan Karin. “Arrrr, Kakek masih ingin bertanya tentang keseriusan kamu menikahi aku, Arrrr. Apa itu bohong?” tanya Renata dengan wajahnya memelas. Tangannya mulai sibuk menyentuh dada bidang Arlan. “Kita bahas besok saja Renata.” “Aku temani kamu tidur,” jawab Renata yang memaksa ingin masuk tapi Arlan menahannya. “Please! Kamu tau begitu sulit untuk kita istirahat Renata, kamu tau itu karena kamu juga seorang dokter, malam ini tidak ada panggilan dari rumah sakit.” “Oke, aku gak akan ganggu kamu lagi tapi cium aku dulu!” Arlan memutar bola matanya malas tapi te
“Ini kau yang menginginkannya Karin,” bisik Arlan membalik keadaan, Karin di bawah tubuhnya, Arlan menghentakkan keras miliknya sampai Karin mendesah hebat, Arlan menutup mulut Karin agar tidak ada yang mendengar kegiatan mereka di dalam kamar. “Eumphhh ahhhh ya Sayang, lebih dalam lagi Om,” bisik Karin meracau tidak jelas, Karin menyukai saat Arlan seperti ini, ia tidak ingin percintaan ini cepat selesai meskipun semua orang mencari keberadaan mereka. “Akhhh, sempit sekali Sayang.” Karin memang tidak pernah gagal membuatnya puas. “Ohhh yess baby, eumph!” Arlan menggendongnya sambil melumat bibirnya dengan rakus, Karin menyeringai dalam posisi ini, Dimas begitu sombong mengatakan kalau ia bisa memuaskan Karin, ia tidak tahu kalau Arlan dan dirinya sudah melakukan semua gaya bercinta. Arlan meletakkan kembali tubuh Karin, melebarkan kakinya dan menghisapnya dengan rakus sebelum akhirnya menekannya lagi. Tubuhnya berkeringat, rambutnya basah tapi mereka belum ingin berhenti sampai a
Menyesal! Sepertinya Karin menyesal mengatakan ia tidak perawan lagi pada Dimas. Kenapa ia bisa spontan sekali mengatakan semua itu, di antara mereka sudah tidak ada lagi rahasia. Bagaimana kalau Dimas menuntut ingin bercinta? “Sudah sampai Honey,” ucap Dimas. Tidak terasa mereka akhirnya sampai di rumah utama keluarganya dan ramai sekali. “Mau ikut masuk?” Karin hanya basa-basi saja, berharap Dimas pengertian dan pulang. Memangnya Dimas mau berkumpul dengan seluruh keluarga besarnya. “Nanti saja, aku mau ke rumah sakit tadi ada pasien IGD yang harus dioperasi malam ini juga.” Ya ampun, doa Karin akhirnya terjawab. Karin memang tidak ingin Dimas ada di rumah Kakeknya. Karin tidak ingin menjelaskan siapa Dimas dengan keluarga besarnya. “Hati-hati ya, Honey. Nanti telepon kalau sudah sampai rumah sakit.” “Oke, Honey.” Dimas mengecup kening Karin dan setelah itu bibir Karin. “Bye!” Karin melambaikan tangannya. Ia bergegas lari ke dalam rumah karena melihat ada mobil dr. Arlan.
Mereka berpisah, Silvi ikut Haikal sedangkan Karin masih dengan Dimas. “Kita mampir apartemenku sebentar ya, Honey. Kebetulan aku ada hadiah untuk Kakek, temani aku ambil hadiahnya.”Karin mengangguk saja, lagipula apartemen tidak jauh dari Restoran ini. “Turun dulu, Honey!” Padahal Karin ingin menunggu di mobil tapi Dimas malah memaksa ikut masuk. Untuk apa? Jangan-jangan Dimas ingin melepas rindu karena sudah lama mereka tidak bertemu. “Oke.”Karin ikut masuk ke apartemennya Dimas dan sampai apartemen yang Karin duga ternyata benar, Dimas mengajaknya duduk di sofa.“Aku kangen banget sama kamu Honey,” ucap Dimas memandangi wajah Karin dengan lekat dan mendaratkan kecupan panas di bibir Karin. Cukup lama Dimas melumat bibir Karin sampai Karin kepanasan dan bergairah. Karin sadar kalau ia merasakan sensasi yang berbeda saat berciuman dengan Dimas tapi pikirannya saat mencium Dimas, itu adalah bibir Arlan, makanya Karin sangat semangat. “Kamu ingin aku mengisimu?” tanya Dimas deng
Tunangan? Karin melamun di restoran Jepang, ia tidak fokus pada makanan mewah yang dipesan oleh Dimas, justru Karin sedang memikirkan Arlan. Mana mungkin secepat itu Arlan melupakannya. Apa sesuka itu Arlan dengan dr. Renata? Tidak ada juga obrolan keluarga untuk merayakan hari pertunangan dr. Arlan dan dr. Renata. Mana mungkin Karin tidak tahu kalau Pamannya sendiri akan menikah. Dimas pasti bohong, tapi untuk apa Dimas bohong dan membahas pertunangan Arlan dengan wanita lain? Seolah sengaja sekali supaya Karin tahu dan terluka. “Rencananya kapan ingin resmi bertunangan dengan Silvi, dok?” tanya Dimas pada Haikal, Haikal sudah datang lebih dulu membuat Silvi yang cerewet jadi diam. Meskipun sudah dilamar, Silvi bingung harus dekat seperti apa dengan Dosennya. “Kalau acara tunangannya kalau bisa bulan depan tapi kalau menikah, setelah Silvi selesai koas saja.” Hahh? Silvi terkejut bukan main. Memangnya Haikal semua yang mengatur tanpa bertanya dulu keinginan Silvi. “Ternyata d
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







