INICIAR SESIÓN“Sayang, kita sudah sampai,” bisik Aldi membangunkan Silvi yang tertidur dalam pelukannya tanpa sehelai benangpun, Silvi hanya tertutup jubah mandi karena pakaiannya dirobek oleh pria gila ini. Pesawat jet pribadi milik keluarga Aldi akhirnya mendarat dengan mulus di landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.Namun bagi Silvi, kedatangan ini bukanlah sebuah kepulangan, melainkan perpindahan menuju sangkar emas yang lebih besar.Silvi bahkan tidak memiliki kesempatan untuk berganti pakaian. Selama belasan jam penerbangan dari Paris menuju Jakarta, Aldi terus-menerus menggagahinya tanpa henti hingga hasratnya benar-benar puas.“Kamu masih ngantuk?” tanya Aldi dengan senyum manisnya. Sebenarnya suami orang ini tampan tapi Silvi tidak tertarik, ia sekarang benar-benar muak dengan hidupnya.Tubuh dokter muda itu kini tertutup oleh jubah mandi sutra putih dari penthouse Paris yang sudah kusut dan berantakan, menjadi saksi bisu dari kekejaman yang ia terima di atas awan.“Hemm, ak
“Nona Silvi, semua ini hadiah dari Pak Aldi.”Keesokan harinya, di dalam kabin mewah jet pribadi yang sedang membelah awan menuju Jakarta, ketenangan yang diharapkan Aldi kembali hancur berantakan.Silvi tidak bisa lagi menahan kemarahan yang membakar dadanya sejak terbangun dari tidur.Brakk! Prang! Sreth!Beberapa kotak perhiasan beludru dari jenama ternama Paris, tas kulit edisi terbatas dan gaun-gaun adibusana bernilai ratusan juta rupiah yang dipajang rapi di sudut kabin dilempar Silvi dengan brutal hingga berserakan di lantai.Silvi tidak sudi menyentuh, apalagi memiliki barang-barang mewah tersebut.“Ambil semua barang busuk ini! Aku gak tertarik sedikitpun dengan harta harammu, Pak Aldi!” Silvi mengumpat habis-habisan dengan suara yang melengking tinggi, memecah keheningan kabin jet pribadi.Napasnya memburu, matanya merah menyala menatap Aldi yang duduk tenang di sofa kulit seberangnya.Silvi sengaja memancing emosi Aldi.“Kembalikan aku seperti dulu! Kembalikan hidupku yang
Amarah Silvi kembali mencapai puncaknya. Rasa frustasi karena terjebak dalam situasi mengerikan ini membuat akal sehatnya seolah menguap.Dengan napas memburu, ia mulai berontak dan melampiaskan seluruh kemurkaannya pada seisi ruangan.Brakk! Pranggg!Sebuah vas bunga porselen antik hancur berkeping-keping setelah dihantamkan Silvi ke lantai marmer.Aldi hanya menggaruk keningnya melihat wanita itu mengamuk.Tidak berhenti disitu, tangan Silvi yang bergetar meraih pajangan kristal di atas meja konsol dan melemparnya ke arah dinding kaca hingga pecah berantakan.Kamar mewah itu mendadak ramai oleh suara hantaman dan pecahan barang berharga yang hancur dalam sekejap.“Aaaaa, Aku benci kamu! Aku benci semua ini!” teriak Silvi histeris, menyapu bersih pajangan-pajangan mahal di atas rak dengan tangannya.Di tengah kekacauan itu, Aldi hanya berdiri bergeming di sudut ruangan. Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada sambil menyunggingkan senyum meremehkan.“Pecahkan saja, aku tidak m
Silvi tidak menikmati satu detik pun sentuhan-sentuhan mewah tersebut. “Ini terakhir, Nona.” Baginya, wewangian mahal dan kulit yang mendadak menjadi sangat halus ini justru mempertegas status barunya, ia telah resmi dicuci bersih untuk menjadi peliharaan eksklusif seorang Aldi. Mungkin ia akan dijadikan piala bergilir setelah ini. Dari balik pintu kaca besar, Aldi berdiri memperhatikan proses itu sambil tersenyum puas. Ia baru saja kembali dari meeting penting. Melihat Silvi yang kini tampak begitu segar, cantik dan wangi, hasrat posesif di dalam dadanya semakin meradang. Setelah seluruh rangkaian perawatan mewah itu selesai, para terapis pamit undur diri dari dalam kamar utama. Silvi duduk di tepi ranjang dengan jubah mandi sutra putih yang membungkus tubuhnya yang kini harum semerbak. Wajahnya bersinar, kuku-kukunya berkilau, namun matanya tetap kosong, menatap dingin ke arah lantai marmer. Ceklek! Pintu kamar terbuka perlahan. Aldi melangkah masuk dengan kemeja hitam y
“Lepasin! Lepasin aku, bajingan!” teriak Silvi, sisa-sisa tenaganya meledak menjadi amarah yang tak terbendung. Kedua tangannya mengepal kuat, memukul dada bidang Aldi berulang kali dengan brutal. Silvi mencakar, mendorong dan berusaha sekuat tenaga untuk menjauhkan pria itu dari tubuhnya. Air matanya kembali tumpah, bukan karena sedih, melainkan karena rasa murka yang membakar seluruh jiwanya. “Silvi, tenanglah!” Namun, Aldi sama sekali tidak bergerak mundur. Pria itu berdiri kokoh bagai dinding batu, membiarkan setiap pukulan Silvi mendarat di tubuhnya tanpa rasa sakit sedikitpun. Tidak ada kilat kemarahan di matanya, ekspresi wajah Aldi justru tampak begitu tenang, seolah serangan Silvi hanyalah candaan kecil yang menggemaskan. “Hei, Sayang! Tanganmu akan sakit kalau terus seperti itu.” Dengan satu gerakan cepat dan tak terduga, Aldi menarik tubuh Silvi ke dalam pelukannya. Kedua lengan kekarnya mengunci pinggang dan punggung Silvi, meredam seluruh pemberontakan wanita itu
“Aku diperkosa….”Hiks!Karin terdiam di seberang telepon. Keheningan yang mencekam menyelimuti panggilan antarbenua itu, sebelum akhirnya suara napas Karin terdengar memburu, bercampur antara syok dan kemarahan yang tertahan.“Papi? Aku dari dulu udah ngomong sama kamu, Sil. Dia itu brengsek! Dia gak pernah betah dengan satu wanita, kamu gak pernah percaya padahal kamu tau.”Suara Karin yang semula ketus kini bergetar hebat.Kebencian lama pada Papinya sendiri mendadak meluap, bercampur dengan rasa ngeri membayangkan penderitaan Silvi.Ya Tuhan!“Jadi, kamu dimana sekarang, Sil? Kamu ditempat yang aman?” tanya Karin dengan sedih.“Aku di kamar hotel, Rin … tapi aku gak tau harus kemana lagi,” tangis Silvi makin pecah, tubuhnya masih meringkuk di atas lantai karpet yang dingin.Ceklek!Belum sempat Silvi menjelaskan lebih lanjut, pintu kamar hotel tiba-tiba terbuka dengan bunyi yang nyaring.Silvi terkejut!Jantungnya mencelos saat melihat beberapa petugas hotel masuk ke dalam kamarny
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a







