LOGIN“Saya dengar dari kolega, Anda memimpin salah satu jaringan rumah sakit swasta terbesar di Jakarta sekarang, Dokter Arlan? Posisi Direktur Utama di usia semuda ini tentu pencapaian yang luar biasa,” puji Aldi, sambil menyandarkan tubuhnya dengan santai di sofa kulit, melirik jam tangan Richard Mille di pergelangan tangannya.
Arlan tersenyum formal, mengangguk menghormati pujian tersebut.“Terima kasih, Pak Aldi. Hanya berusaha menjalankan amanah dengan baik. Kebetulan hari i“Aamiin.”Setelah doa penutup pernikahan siri selesai dilantunkan, Dimas membawa Laura mendekat ke arah Karin dan kakak iparnya.“Aku gak tau kalau Dokter Arlan tidak ada malam ini, mungkin kami … mungkin sudah tertangkap, terima kasih, Dokter, Karin. Aku pasti akan mengingat yang kalian lakukan untukku,” ucap Dimas dengan tulus. “Santai, Dokter Dimas! Laura saudara Karin, kita sudah jadi keluarga sekarang. Dan tanggung jawabku untuk melindungi kalian.”Mereka musuh sebenarnya dan hari ini bisa jadi keluarga. Dengan ketulusan yang mendalam, Dimas dan Laura berterima kasih pada Arlan dan Karin atas pengorbanan serta perlindungan yang mereka berikan sepanjang malam yang melelahkan ini.Mendengar ucapan terima kasih itu, Arlan tersenyum kaku. Sebagai pria yang selalu berpikir logis dan terstruktur, ia mendadak bingung harus berbuat apa.Di satu sisi, status mereka kini sudah sah di mata agama.Apakah ia harus memberikan ucapan selamat?Namun di sisi lain, nurani rasionalnya berontak. I
“Kamu yakin disini, Dokter Dimas dan Laura melangsungkan pernikahannya?” tanya Arlan setelah sampai di tempat lokasi yang Dimas kirim pada mereka.Aroma wangi kayu gaharu dan lantunan ayat suci yang pelan-pelan terdengar menyambut kedatangan mereka di area pesantren pedalaman Surabaya.“Iya benar kok, sesuai banget tempatnya,” jawab Karin sedikit ragu.Bermodalkan pakaian sederhana, Arlan dan Karin melangkah masuk ke dalam ruangan semi terbuka tempat pernikahan siri itu akan dilangsungkan.Karin hanya mengenakan gamis instan seadanya yang ia sambar dari lemari sebelum kabur, namun keanggunan alaminya tetap terpancar, begitu pula Arlan yang melipat kemeja kerjanya hingga siku, tetap terlihat berwibawa dan tampan meski gurat lelah membayangi wajahnya.“Itu mereka, Sayang!” Acara sudah dimulai saat Karin dan Arlan masuk, Dimas menghampiri Arlan karena Arlan saksi pernikahan mereka.“Terima kasih, Dokter Arlan sudah datang.”“Sama-sama, sudah dimulai acaranya?” tanya Arlan sambil mengeda
“Apa maksudnya? Mengancamku! Dia pikir aku tidak punya kuasa untuk menghancurkannya!”Ketegangan di dalam mobil itu mendadak bergeser.Rasa takut yang semula mendominasi kini berganti menjadi aura dingin yang mengintimidasi.Arlan mengepalkan tangannya kuat-kuat, hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras menahan amarah yang menyala di balik sorot matanya yang tajam.Selama ini, orang-orang, termasuk Moreno, mungkin hanya melihatnya sebagai seorang Direktur Rumah Sakit yang sibuk dengan urusan birokrasi, manajemen dan pengadaan alat medis.Mereka lupa bahwa posisi itu tidak didapatkannya hanya dengan modal ijazah, melainkan dengan jaringan, pengaruh dan kekuasaan yang tertanam jauh di akar terdalam kota ini.Arlan bukannya tidak bisa bertindak. Ia hanya memilih untuk tetap berada di bayang-bayang.Namun malam ini, Moreno sudah melewati batas dengan mengancam keselamatan Karin dan eksistensi rumah sakit miliknya.Arlan melonggarkan pelukannya pada Karin, lalu merogoh saku jas
“Sayang, ponsel kamu bunyi dari tadi, angkat dulu!” seru Arlan yang merasa terganggu dengan suara ponsel Karin yang terus berdering. Tengah malam itu, kamar tidur Karin dan Arlan yang semula tenang mendadak diselimuti ketegangan.“Siapa sih yang telpon tengah malam gini, pasti Silvi nih!”Ponsel Karin bergetar di atas nakas, menampilkan tiga panggilan tidak terjawab dan sebaris pesan singkat dari Laura yang memintanya datang ke Surabaya malam ini juga untuk menjadi saksi nikah sirinya dengan Dimas.Pesan itu juga membawa peringatan, jangan sampai ada satu orang pun yang tahu.“Apa ini maksudnya? Laura kenapa?” tanya Karin bingung Bagi Karin, pesan itu rasanya seperti mimpi buruk yang menjadi nyata.Dengan tangan gemetar, ia langsung membangunkan Arlan yang baru saja terlelap.Pria itu baru saja pulang dari rumah sakit, kelelahan setengah mati setelah seharian penuh disibukkan oleh tanggung jawabnya sebagai Direktur Rumah Sakit yang sedang mengurus pengadaan alat medis baru.“Sayang
Drrt… Drrt…“Angkat Laura, Please!”Dimas ternyata masih berusaha menghubungi Laura.Ponsel di genggaman Dimas terasa panas.Sudah puluhan kali ia mengetik dan menghapus pesan, hingga akhirnya dengan sisa keberanian yang ada, ia menekan tombol panggil.Namun, tak kunjung dia angkat.Di seberang sana, setelah dering ketiga belas, suara yang begitu dirindukannya terdengar, sangat lirih, hampir berupa bisikan yang tercekik.“Dimas, sudah kubilang jangan hubungi aku lagi,” bisik Laura di ujung telepon.Suaranya bergetar, sesekali matanya melirik ke arah pintu kamar yang tertutup rapat, takut Moreno tiba-tiba masuk.“Undangan itu ... itu akhir dari segalanya. Tolong menjauhlah!”“Aku gak bisa, Laura! Bagaimana bisa aku tenang setelah tau bajingan itu mengurungmu?” suara Dimas meninggi, dipenuhi rasa frustasi yang membakar dada.Namun ia segera menurunkan nadanya, memohon.“Kumohon, sekali saja! Pertemuan terakhir. Bukan sebagai dokter dan pasien, tapi sebagai aku yang ingin bicara jujur pa
“Ya ampun tega banget dia ngomong gitu.”Karin tak mampu lagi membendung air matanya. Isak tangisnya pecah di dada Arlan.Rasa sedih, sesak dan cemas bercampur menjadi satu, membuatnya mencengkram kemeja suaminya dengan erat.“Sayang, aku takut banget....” ucap Karin dengan suara serak dan bergetar.“Silvi, hari ini dia bertemu langsung dengan istri sah Pak Aldi di restoran. Kamu bisa bayangkan betapa takutnya dia? Dan sekarang, lihat di televisi... wartawan malah memburu mereka seperti itu.”Karin mendongak, menatap Arlan dengan mata yang sembab dan dipenuhi ketidakpercayaan.“Pak Aldi, dia bisa-bisanya bicara sedingin itu di depan kamera? Dia bersikap seolah-olah memang gak ada hubungan apapun antara dia dan Silvi. Seolah Silvi hanya orang asing yang kebetulan bekerja dengannya. Aku benar-benar penasaran dan cemas, apa yang sebenarnya terjadi di restoran itu sampai Pak Aldi tega membuang harga diri Silvi di depan publik?”Arlan hanya bisa mempererat pelukannya, ikut terdiam menatap
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di







