LOGINDrrt… Drrt…“Angkat Laura, Please!”Dimas ternyata masih berusaha menghubungi Laura.Ponsel di genggaman Dimas terasa panas.Sudah puluhan kali ia mengetik dan menghapus pesan, hingga akhirnya dengan sisa keberanian yang ada, ia menekan tombol panggil.Namun, tak kunjung dia angkat.Di seberang sana, setelah dering ketiga belas, suara yang begitu dirindukannya terdengar, sangat lirih, hampir berupa bisikan yang tercekik.“Dimas, sudah kubilang jangan hubungi aku lagi,” bisik Laura di ujung telepon.Suaranya bergetar, sesekali matanya melirik ke arah pintu kamar yang tertutup rapat, takut Moreno tiba-tiba masuk.“Undangan itu ... itu akhir dari segalanya. Tolong menjauhlah!”“Aku gak bisa, Laura! Bagaimana bisa aku tenang setelah tau bajingan itu mengurungmu?” suara Dimas meninggi, dipenuhi rasa frustasi yang membakar dada.Namun ia segera menurunkan nadanya, memohon.“Kumohon, sekali saja! Pertemuan terakhir. Bukan sebagai dokter dan pasien, tapi sebagai aku yang ingin bicara jujur pa
“Ya ampun tega banget dia ngomong gitu.”Karin tak mampu lagi membendung air matanya. Isak tangisnya pecah di dada Arlan.Rasa sedih, sesak dan cemas bercampur menjadi satu, membuatnya mencengkram kemeja suaminya dengan erat.“Sayang, aku takut banget....” ucap Karin dengan suara serak dan bergetar.“Silvi, hari ini dia bertemu langsung dengan istri sah Pak Aldi di restoran. Kamu bisa bayangkan betapa takutnya dia? Dan sekarang, lihat di televisi... wartawan malah memburu mereka seperti itu.”Karin mendongak, menatap Arlan dengan mata yang sembab dan dipenuhi ketidakpercayaan.“Pak Aldi, dia bisa-bisanya bicara sedingin itu di depan kamera? Dia bersikap seolah-olah memang gak ada hubungan apapun antara dia dan Silvi. Seolah Silvi hanya orang asing yang kebetulan bekerja dengannya. Aku benar-benar penasaran dan cemas, apa yang sebenarnya terjadi di restoran itu sampai Pak Aldi tega membuang harga diri Silvi di depan publik?”Arlan hanya bisa mempererat pelukannya, ikut terdiam menatap
“Kok dari tadi gak nelpon sih, pesan aku gak dibalas lagi.”Karin baru saja menginjakkan kaki di rumahnya. Suasana sunyi langsung menyambutnya. Ia berjalan gontai ke dalam kamar, lalu terduduk sendirian di bibir ranjang dengan tatapan kosong.Jam dinding terus berdetak, namun Arlan, suaminya, belum juga pulang.Arlan masih terjebak di rumah sakit, sibuk mengurus proyek pengadaan alat medis baru yang didanai penuh oleh Aldi.Aldi!Pria yang kini menjadi donatur utama dalam hidup Silvi. Ya, setidaknya anggap saja istilahnya begitu agar terdengar lebih halus.Karin meremas jemarinya yang mendadak dingin. Rasa takut yang hebat perlahan menggerogoti pikirannya.Bayangan tentang Silvi di restoran tadi terus menghantui.Bagaimana kabar sahabatnya itu setelah berhadapan langsung dengan Briella?Apakah Silvi disakiti oleh sang istri sah? Pikiran Karin mulai berkelana liar ke arah yang mengerikan.Apakah Silvi dijambak di depan umum?Diteriaki sebagai wanita murahan?Atau yang lebih ekstrim, ap
“Kamu gak seharusnya melakukan ini,” ucap Silvi dengan pelam.Bukankah ini begitu kejam untuk mereka!Sepeninggal Briella, keheningan di sudut privat restoran itu terasa begitu pekat dan menindas.Silvi masih membeku di kursinya, menatap meja marmer mewah di hadapannya yang mendadak tampak buram.Pertahanan yang sejak tadi ia bangun sekuat tenaga akhirnya runtuh.Setitik air mata lolos, membelah riasan wajahnya yang mahal, disusul tetesan-tetesan berikutnya yang mengalir tanpa suara.Ia mendongak lambat, menatap pria yang selama ini mengisi hari-harinya dengan ilusi kenyamanan.Dengan suara yang teramat pelan, nyaris seperti bisikan yang pecah, Silvi kembali bersuara.“Kenapa ... kenapa kamu gak meninggalkanku saja, Aldi?”Aldi tidak suka dipanggil Pak! Silvi harus mulai memahami hubungan mereka.Aldi tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Silvi datar.Silvi menyeka pipinya dengan jemari yang gemetar, menelan rasa sesak yang menyumbat tenggorokannya.“Biasanya, di luar sana, kalau
"Halo, Sayang," jawab Silvi pelan begitu menggeser tombol hijau di layar ponselnya.Suaranya bergetar, selaras dengan detak jantungnya yang mendadak berpacu liar.Silvi tahu arah pembicaraan ini. Ia sangat tahu. Skandal perselingkuhan mereka yang sempat memanas di media sosial memang telah lenyap dalam semalam, berkat kekuatan dan kekuasaan keluarga besar Aldi.Namun, hilangnya rumor itu justru menjadi pertanda buruk. Silvi sadar, ia sedang berada di ujung tanduk.Ketakutannya terbukti saat suara Aldi terdengar di seberang telpon. Pria itu tidak sendiri, ia sedang bersama Briella, sang istri sah.“Istriku ingin bertemu. Hanya kita bertiga,” ucap Aldi tenang, seolah sedang mengajak makan siang biasa.Aneh!Rasa dingin langsung menjalar ke sekujur tubuh Silvi. Menakutkan!Sangat menakutkan hingga rasanya ia ingin lari.“Baik.”Namun, seolah tak punya pilihan lain, Silvi akhirnya mengiyakan.“Kamu serius mau ketemu dengan istri Pak Aldi, Sil?” tanya Karin, mereka sedang di dalam mobil Ka
“Simpan di sini, Sil. Matikan! Sekarang,” bisik Karin setengah mendesak, menyodorkan laci meja kayu di sudut ruang koas yang sepi.Silvi menatap benda pipih di tangannya dengan jemari gemetar. Ponsel pintar itu terasa seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.“Kamu yakin ini aman, Rin?” tanya Silvi, suaranya nyaris tenggelam oleh deru napasnya sendiri.“Aldi itu gila, Sil. Dia posesif,” Karin meyakinkan sembari merebut ponsel itu, menekan tombol power hingga layarnya menggelap sempurna, lalu menguncinya di dalam laci.“Pria itu punya seribu cara buat menyadap kamu. Kalau ponsel ini aktif, dia pasti sedang mendengarkan gosip kita sekarang. Ayo, kita cari tempat yang jauh dari sini!”Setelah menyelesaikan tumpukan berkas administrasi untuk program internsip mereka, Karin menarik Silvi keluar dari rumah sakit. Mereka berakhir di sebuah kafe kecil di sudut rumah sakit, tempat yang mereka pikir cukup asing untuk bersembunyi.Karin menyesap es kopinya, menatap Silvi lekat-lekat.“Jadi
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







