Share

Bab 690 Bayi Besarku!

last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-31 11:22:44

“Kalau sudah begini, mana mungkin lagi Karin menolakku.”

Malam ini, Arlan merasa sangat percaya diri. Ia yakin seratus persen bahwa dinding beton yang memisahkan kamar mereka sejak kemarin akan runtuh.

Dengan modal parfum baru yang aromanya sama persis dengan milik Moreno, Arlan bersiap merebut kembali tahtanya di hati sang istri.

“Sayang....”panggil Arlan lembut.

Ia berdiri di ambang pintu kamar Karin dengan pose menggoda.

Satu lengannya ditahan di daun pintu, memamerkan tubuhnya yang bertelan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 700 Dipuasin Pak Guru

    “Gimana jawabnya, Rin? Aku jadi bingung sendiri,” keluh Silvi panik.Wajahnya yang tadi kebingungan kini berubah cemas melihat deretan kata-kata serius dari Pak Guru Revan.Karin mendengus pelan sambil berkacak pinggang.“Makanya, jangan suka main api! Sini ponselnya!”Tanpa menunggu persetujuan, Karin langsung merebut ponsel rahasia dari tangan Silvi.Jemarinya dengan lincah mengetikkan baris kalimat di kolom balasan, berniat memberikan jawaban yang diplomatis sekaligus sedikit puitis untuk meredam keseriusan pria polos itu.“Pak Revan, kita bina dulu hubungan kita. Kita pupuk lalu sirami sampai tumbuh.”Silvi yang ikut mengintip dari balik bahu Karin langsung membelalakkan mata dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bukannya menenangkan, jawaban yang diketik Karin justru malah membuat Silvi tambah stres.“Apaan sih, Rin! Alay banget jawabannya!” protes Silvi histeris, berusaha merebut kembali ponselnya.Namun, bunyi ting pelan sudah terdengar. Karin tersenyum tanpa dosa sambil menye

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 699 Minta Mahar

    “Gimana?” tanya Karin.Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pemeriksaan di rumah sakit, Silvi dan Karin akhirnya melangkah pulang.Sesuai kewajiban, mereka berdua harus segera kembali ke Puskesmas untuk melanjutkan sisa jam dinas internship.Di dalam mobil, suasana terasa sangat kontras. Karin memilih untuk tidak terlalu banyak mencecar, memberikan ruang bagi sahabatnya untuk menenangkan diri.Apalagi pertanyaannya dari rumah sakit belum dijawab.Silvi lebih banyak terdiam, menatap kosong ke arah jalanan dari balik jendela kaca.Wajahnya yang biasa ceria dan penuh gairah kini tampak kuyu dan lelah.Setelah keheningan yang cukup lama, Silvi akhirnya membuka suara.“Kayaknya aku udah dapat karma deh, Rin,” bisik Silvi lirih.Kali ini Silvi benar-benar terlihat sedih dan rapuh. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat menyadari masa lalunya yang kelam.Dulu ia adalah seorang playgirl yang kerap bergonta-ganti pasangan dan suka melakukan hubungan intim secara bebas dengan sembarang pria.

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 698 USG Bayi Karin

    “Mami gak sabar ketemu kamu, Sayang.”Karin belum menentukan panggilannya nanti untuk anaknya, bisa saja Mami, Mama, Ibu atau bisa saja Bunda.Hari pemeriksaan kandungan yang dinantikan pun tiba.Karena Silvi harus melakukan konsultasi awal terkait program bayi tabung yang dipaksakan oleh Aldi, Karin memanfaatkan momen ini untuk ikut ke rumah sakit.Karin ingin memeriksakan kondisi kandungannya secara mendalam dan pemeriksaan itu ditangani langsung oleh suaminya sendiri, Arlan!Sementara itu, sesuai dengan siasat mengulur waktu yang direncanakan kemarin, Silvi diarahkan menuju ruangan dokter spesialis kandungan wanita yang telah direkomendasikan oleh Arlan.“Sayang, lihat deh. Bayi kita tumbuh dengan baik,” ucap Arlan dengan binar mata yang memancarkan kebahagiaan luar biasa.Arlan menatap layar monitor di samping ranjang periksa. Hatinya membuncah, ia tidak pernah menyangka akhirnya bisa melihat benih cintanya tumbuh di dalam rahim wanita yang sangat ia cintai.Karin tersenyum manis,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 697 Hapus, Aku Mohon!

    “Kamu masak sendiri, Sayang?” Laura mengangguk pelan. Dimas tersenyum lebar saat membuka kotak bekal berwarna pastel yang dibawakan oleh istrinya. Aroma nasi hangat dan lauk buatan Laura langsung memenuhi ruangan.“Wah, ini wangi banget, Sayang. Masakan kamu selalu yang terbaik,” puji Dimas tulus, mencoba mencairkan kecanggungan di antara mereka.Namun, Laura hanya duduk bergeming di kursi seberang meja kerja Dimas.Pandangannya kosong, menatap lurus ke arah wadah makanan tanpa benar-benar melihatnya.Pikirannya melayang jauh.Melihat istrinya yang terus melamun, Dimas meletakkan sendoknya. Ia meraih jemari Laura, menggenggamnya erat untuk memberikan keyakinan.Padahal, sejak koas muda itu keluar, Dimas sudah berulang kali menjelaskan dari sudut pandang medis bahwa ia tidak melakukan tindakan yang menyimpang sedikit pun. Ia adalah seorang dokter profesional.Mana mungkin ia berani melakukan hal senonoh di jam kerja, apalagi ada perawat senior yang mendampingi di dalam ruangan.“Sayan

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 696 Gangguan Gairah

    “Lepasin, Moreno! Please, aku sudah punya kehidupan baru!” bentak Laura. Ia berusaha sekuat tenaga merenggut pergelangan tangannya yang dicengkram erat.Namun, alih-alih melepaskannya, tatapan Moreno justru semakin menggelap karena penolakan.Obsesi gila yang membakar otaknya membuat pria itu kehilangan kendali diri. Tanpa memperdulikan penolakan Laura, Moreno merangsek maju, mencengkram dagu wanita itu dengan kasar, lalu membungkam bibir Laura dengan sebuah ciuman yang rakus dan penuh pemaksaan. Ujung lidahnya memaksa masuk dan memburu di dalam sana. Plak!!!Suara tamparan yang teramat keras bergema di dalam kabin mobil yang sempit.Laura mengerahkan seluruh tenaga yang ia miliki untuk mendaratkan telapak tangannya di pipi kanan Moreno.Napasnya memburu, matanya berkaca-kaca karena kombinasi rasa takut dan amarah yang luar biasa.“Aku ini istri orang! Dan aku gak pernah ada niat sedikitpun untuk selingkuh dari suamiku! Jadi, tolong! Jangan pernah dekati aku lagi!” jerit Laura dengan

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 695 Aneh!

    “Sempurna!”Pagi yang cerah di rumah sakit tidak membuat suasana hati semua orang ikut terang.Di salah satu sudut koridor eksekutif, Moreno berdiri di ambang pintu sebuah ruangan baru.Di daun pintu itu, papan nama berkilap sudah terpasang rapi, menandakan posisinya sebagai salah satu pemilik saham utama.Moreno tersenyum puas, melipat kedua tangan di dada. Berada di dalam gedung ini memberikan keuntungan besar baginya.Dari sini, ia bisa mengawasi gerak-gerik Dokter Dimas dengan leluasa. Dan yang paling penting, ia memiliki peluang besar untuk sering bertemu dengan Laura.Berdasarkan informasi yang ia kumpulkan, Laura memiliki kebiasaan rutin datang setiap siang hari hanya untuk mengantarkan bekal makan siang untuk suaminya.Namun, kesenangan Moreno terusik oleh satu hal. Ia segera meraba saku jasnya, mengambil ponsel, dan menghubungi sebuah nomor dengan panggilan suara yang tersambung cepat.“Luna, apa koas yang kau kirim itu amatiran?” tanya Moreno.Suaranya ditekan rendah namun p

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status