LOGIN“Kamu masak sendiri, Sayang?” Laura mengangguk pelan. Dimas tersenyum lebar saat membuka kotak bekal berwarna pastel yang dibawakan oleh istrinya. Aroma nasi hangat dan lauk buatan Laura langsung memenuhi ruangan.“Wah, ini wangi banget, Sayang. Masakan kamu selalu yang terbaik,” puji Dimas tulus, mencoba mencairkan kecanggungan di antara mereka.Namun, Laura hanya duduk bergeming di kursi seberang meja kerja Dimas.Pandangannya kosong, menatap lurus ke arah wadah makanan tanpa benar-benar melihatnya.Pikirannya melayang jauh.Melihat istrinya yang terus melamun, Dimas meletakkan sendoknya. Ia meraih jemari Laura, menggenggamnya erat untuk memberikan keyakinan.Padahal, sejak koas muda itu keluar, Dimas sudah berulang kali menjelaskan dari sudut pandang medis bahwa ia tidak melakukan tindakan yang menyimpang sedikit pun. Ia adalah seorang dokter profesional.Mana mungkin ia berani melakukan hal senonoh di jam kerja, apalagi ada perawat senior yang mendampingi di dalam ruangan.“Sayan
“Lepasin, Moreno! Please, aku sudah punya kehidupan baru!” bentak Laura. Ia berusaha sekuat tenaga merenggut pergelangan tangannya yang dicengkram erat.Namun, alih-alih melepaskannya, tatapan Moreno justru semakin menggelap karena penolakan.Obsesi gila yang membakar otaknya membuat pria itu kehilangan kendali diri. Tanpa memperdulikan penolakan Laura, Moreno merangsek maju, mencengkram dagu wanita itu dengan kasar, lalu membungkam bibir Laura dengan sebuah ciuman yang rakus dan penuh pemaksaan. Ujung lidahnya memaksa masuk dan memburu di dalam sana. Plak!!!Suara tamparan yang teramat keras bergema di dalam kabin mobil yang sempit.Laura mengerahkan seluruh tenaga yang ia miliki untuk mendaratkan telapak tangannya di pipi kanan Moreno.Napasnya memburu, matanya berkaca-kaca karena kombinasi rasa takut dan amarah yang luar biasa.“Aku ini istri orang! Dan aku gak pernah ada niat sedikitpun untuk selingkuh dari suamiku! Jadi, tolong! Jangan pernah dekati aku lagi!” jerit Laura dengan
“Sempurna!”Pagi yang cerah di rumah sakit tidak membuat suasana hati semua orang ikut terang.Di salah satu sudut koridor eksekutif, Moreno berdiri di ambang pintu sebuah ruangan baru.Di daun pintu itu, papan nama berkilap sudah terpasang rapi, menandakan posisinya sebagai salah satu pemilik saham utama.Moreno tersenyum puas, melipat kedua tangan di dada. Berada di dalam gedung ini memberikan keuntungan besar baginya.Dari sini, ia bisa mengawasi gerak-gerik Dokter Dimas dengan leluasa. Dan yang paling penting, ia memiliki peluang besar untuk sering bertemu dengan Laura.Berdasarkan informasi yang ia kumpulkan, Laura memiliki kebiasaan rutin datang setiap siang hari hanya untuk mengantarkan bekal makan siang untuk suaminya.Namun, kesenangan Moreno terusik oleh satu hal. Ia segera meraba saku jasnya, mengambil ponsel, dan menghubungi sebuah nomor dengan panggilan suara yang tersambung cepat.“Luna, apa koas yang kau kirim itu amatiran?” tanya Moreno.Suaranya ditekan rendah namun p
“Setelah itu, ada proses ovum pick-up atau pengambilan sel telur langsung dari indung telur menggunakan jarum khusus lewat panduan USG transvaginal. Baru kemudian sel telur itu dipertemukan dengan sperma Bapak di laboratorium untuk menjadi embrio, sebelum akhirnya disuntikkan kembali ke dalam rahim.”Arlan kemudian menjabarkan resikonya dengan jujur.“Resikonya tentu ada, Pak. Calon ibu bisa mengalami Ovarian Hyperstimulation Syndrome (OHSS) atau pembengkakan indung telur kalau respons hormonnya berlebihan. Rasanya bisa sangat nyeri di perut, mual, bahkan sesak napas. Belum lagi tekanan psikologis dan fisik selama proses suntik berkali-kali itu.”Mendengar penjelasan detail dari Arlan, Aldi di seberang sana tampak semakin mantap dan yakin untuk tetap membawa program ini ke klinik terbaik di Singapura demi kenyamanan dan fasilitas yang lebih privat.Arlan sengaja memancing dengan nada santai, berpura-pura tidak tahu apa-apa.“Memangnya, siapa yang mau menjalani program bayi tabung ini,
“Kenapa sama Silvi, Sayang?” tanya Arlan lembut. Ia yang sedang berbaring nyaman di ranjang sambil memeluk Karin langsung menyadari perubahan raut wajah istrinya setelah menerima telepon.Karin menoleh, menatap suaminya dengan tatapan serius.“Pak Aldi mau program bayi tabung, Sayang. Dia ada nanya-nanya sama kamu gak hari ini?”Sebagai seorang Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Kandungan) Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi (Sp.OG, KFER), Arlan adalah pakar utama di rumah sakit dalam menangani masalah kesuburan, hormon reproduksi, dan program bayi tabung (In Vitro Fertilization/IVF).Mendengar pertanyaan Karin, Arlan langsung mengangguk paham.“Memang ada pagi ini dia nanya ke aku di rumah sakit,” jawab Arlan jujur.“Dan aku bahkan sempat tawarkan, kalau dia mau ambil program bayi tabung denganku, aku gak akan minta bayaran sepeserpun alias gratis. Aku pikir ... program itu buat istrinya, si Briella.”Karin menghela napas panjang lalu menggelengkan kepalanya. Arlan m
Di dalam toilet yang terkunci rapat, Silvi duduk meringkuk dengan dada yang sesak.Sambil menyalakan keran air agar suaranya tersamar, ia menyalakan ponsel rahasianya dengan tangan bergetar dan langsung menghubungi Karin lewat panggilan suara.Saat ini, Aldi masih berada di ruang kerja rumah mewah itu. Silvi tidak tahu dan tidak peduli apa yang sedang pria itu lakukan di sana.Di mata Silvi, jika Aldi punya istri dan anak yang sah, seharusnya pria itu pergi saja dan hidup tenang bersama keluarga bahagianya, bukan malah terus-menerus mengurungnya di sini.“Rin, Aldi makin gila,” bisik Silvi begitu panggilan tersambung. Suaranya serak menahan tangis.“Dia minta aku program bayi tabung buat anak cowok. Cuma karena Briella mau anak cowok!”Dari seberang telepon, Karin yang sedang bersantai di rumahnya langsung terperanjat.“Apa sih maksudnya, Sil? Kalau Briella emang gak suka sama kamu, minta aja sekalian sama Pak Aldi buat putusin kamu sekarang juga. Beres, kan?”“Makanya, Rin! Aku kesel
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di







