LOGIN“Akhirnya rumah sepi lagi, Sayang.” Dimas lelah sekali hari ini. Setelah kepulangan Karin, Arlan, dan sang Mommy, malam beranjak semakin larut. Dimas kemudian menuntun Laura masuk ke kamar tidur utama untuk beristirahat.Sayangnya, jendela kaca besar di kamar mereka menghadap lurus ke arah rumah mewah berlantai tiga milik Moreno di seberang jalan.Di seberang sana, dari balik kaca balkonnya, Moreno berdiri dengan rahang mengeras.“Sialan!” umpatnya lirih.Entah mengapa, Moreno tidak akan pernah siap dan selalu kepanasan setiap kali melihat kemesraan Dimas dan Laura, meskipun ia tahu betul bahwa mereka adalah sepasang suami istri yang sah.Di dalam kamar yang temaram, Dimas menarik selimut dan merapatkan tubuhnya.“Sayang, aku mau peluk kamu. Aku capek banget hari ini,” ucap Dimas lembut sambil membawa Laura masuk ke dalam dekapan hangatnya.Dimas mengecup kening istrinya lama, lalu berbisik cemas.“Soal kejadian tadi siang di ruangan klinis, kamu gak mikir aneh-aneh tentang aku, kan?
“Rin, aku mau cerita,” bisik Laura perlahan.Ia menyentuh lengan Karin, lalu memberi kode agar mereka bergeser duduk sedikit menjauh dari Arlan dan Dimas yang masih sibuk mengamati berkas hukum di meja sebelah.Karin yang melihat raut wajah kembarannya mendadak tegang langsung bisa menebak bahwa cerita ini pasti sangat penting. Ia punya firasat kuat kalau urusan ini menyangkut Moreno, mantan kekasih Laura yang posesif dan tampaknya sudah kehilangan akal sehat itu.“Kenapa, Laura?” tanya Karin begitu mereka sudah duduk terpisah di sudut ruangan.Tanpa banyak bicara, Laura meraba saku pakaiannya dan mengeluarkan ponsel. Jemarinya bergerak gemetar membuka file sampah di galeri ponselnya. Ia memulihkan sebuah gambar, lalu menyodorkan layar itu tepat di depan mata Karin.Mata Karin seketika membelalak sempurna melihat visual di layar.“Apa ini, Laura? Kamu bersama....”“Ssstt! Pelanin suara kamu, Rin!” potong Laura panik sambil menaruh jari telunjuk di depan bibirnya.Wajahnya memucat keta
“Karin, kalau kamu ada waktu, ke rumah sebentar, bisa? Ada Mommy,” ucap Laura di seberang telepon. Suaranya terdengar ragu dan agak berat.Karin terdiam sejenak.Hubungan Karin dengan ibu kandungnya memang tidak pernah dekat. Bahkan semenjak orang tua kandungnya kembali, Karin selalu malas untuk sekadar mengobrol, meluangkan waktu, atau berurusan dengan mereka dalam bentuk apa pun.Namun, entah mengapa, untuk hari ini saja hati Karin sedikit melunak.“Duh, malasnya,” pikir Karin dalam hati.Jika harus jujur, Karin jauh lebih membenci ibu kandungnya daripada Laura, kembarannya sendiri.Karin tahu Laura tidak bersalah dalam hal ini. Saat perpisahan orang tua mereka terjadi dulu, Laura juga baru saja dilahirkan. Laura tidak punya hak untuk memilih apakah ia ingin ditinggalkan bersama Rion atau ikut dibawa oleh Mommy ke luar negeri. Semua itu murni keputusan egois orang dewasa.“Oke, aku akan ke rumahmu,” jawab Karin singkat sebelum memutus panggilan.Malam itu, Karin tidak datang sendiri
“Gimana jawabnya, Rin? Aku jadi bingung sendiri,” keluh Silvi panik.Wajahnya yang tadi kebingungan kini berubah cemas melihat deretan kata-kata serius dari Pak Guru Revan.Karin mendengus pelan sambil berkacak pinggang.“Makanya, jangan suka main api! Sini ponselnya!”Tanpa menunggu persetujuan, Karin langsung merebut ponsel rahasia dari tangan Silvi.Jemarinya dengan lincah mengetikkan baris kalimat di kolom balasan, berniat memberikan jawaban yang diplomatis sekaligus sedikit puitis untuk meredam keseriusan pria polos itu.“Pak Revan, kita bina dulu hubungan kita. Kita pupuk lalu sirami sampai tumbuh.”Silvi yang ikut mengintip dari balik bahu Karin langsung membelalakkan mata dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bukannya menenangkan, jawaban yang diketik Karin justru malah membuat Silvi tambah stres.“Apaan sih, Rin! Alay banget jawabannya!” protes Silvi histeris, berusaha merebut kembali ponselnya.Namun, bunyi ting pelan sudah terdengar. Karin tersenyum tanpa dosa sambil menye
“Gimana?” tanya Karin.Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pemeriksaan di rumah sakit, Silvi dan Karin akhirnya melangkah pulang.Sesuai kewajiban, mereka berdua harus segera kembali ke Puskesmas untuk melanjutkan sisa jam dinas internship.Di dalam mobil, suasana terasa sangat kontras. Karin memilih untuk tidak terlalu banyak mencecar, memberikan ruang bagi sahabatnya untuk menenangkan diri.Apalagi pertanyaannya dari rumah sakit belum dijawab.Silvi lebih banyak terdiam, menatap kosong ke arah jalanan dari balik jendela kaca.Wajahnya yang biasa ceria dan penuh gairah kini tampak kuyu dan lelah.Setelah keheningan yang cukup lama, Silvi akhirnya membuka suara.“Kayaknya aku udah dapat karma deh, Rin,” bisik Silvi lirih.Kali ini Silvi benar-benar terlihat sedih dan rapuh. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat menyadari masa lalunya yang kelam.Dulu ia adalah seorang playgirl yang kerap bergonta-ganti pasangan dan suka melakukan hubungan intim secara bebas dengan sembarang pria.
“Mami gak sabar ketemu kamu, Sayang.”Karin belum menentukan panggilannya nanti untuk anaknya, bisa saja Mami, Mama, Ibu atau bisa saja Bunda.Hari pemeriksaan kandungan yang dinantikan pun tiba.Karena Silvi harus melakukan konsultasi awal terkait program bayi tabung yang dipaksakan oleh Aldi, Karin memanfaatkan momen ini untuk ikut ke rumah sakit.Karin ingin memeriksakan kondisi kandungannya secara mendalam dan pemeriksaan itu ditangani langsung oleh suaminya sendiri, Arlan!Sementara itu, sesuai dengan siasat mengulur waktu yang direncanakan kemarin, Silvi diarahkan menuju ruangan dokter spesialis kandungan wanita yang telah direkomendasikan oleh Arlan.“Sayang, lihat deh. Bayi kita tumbuh dengan baik,” ucap Arlan dengan binar mata yang memancarkan kebahagiaan luar biasa.Arlan menatap layar monitor di samping ranjang periksa. Hatinya membuncah, ia tidak pernah menyangka akhirnya bisa melihat benih cintanya tumbuh di dalam rahim wanita yang sangat ia cintai.Karin tersenyum manis,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







