Mag-log inLaura pergi ke toilet sebelum ia pulang, sementara Dimas sudah menunggunya di area parkiran galeri.Namun, saat melintasi lorong yang agak temaram, tiba-tiba ada sepasang tangan kekar yang menarik pergelangan tangannya dengan paksa, menyeretnya masuk ke dalam ruang tangga darurat.Tempat ini begitu sepi dan terisolasi. Jantung Laura berdegup kencang dengan irama horor saat netranya menatap lurus ke dalam manik mata Moreno yang berkilat penuh obsesi.“Kamu ngapain, Moreno?” bentak Laura, suaranya tertahan. Ia langsung mencoba berbalik untuk keluar dari tempat itu, namun kedua lengan Moreno dengan cepat mengurung pergerakannya di dinding.Begitu Laura membuka mulutnya dan ingin berteriak meminta pertolongan, Moreno malah bergerak nekat.Pria itu mencondongkan wajahnya dan membungkam mulut Laura dengan kecupannya yang rakus dan menuntut.Laura memberontak sekuat tenaga, memukul dada bidang Moreno sampai akhirnya pria itu melepaskan tautan bibir mereka dengan napas yang memburu.“Kapan ke
“Kau benar-benar tidak ada malu,” ucap Dimas dingin sambil melangkah maju mendekati Moreno yang tengah tersenyum puas sambil memandangi salah satu lukisan utama Laura.Moreno tidak mengalihkan pandangannya dari kanvas indah di depannya.Ingatannya langsung melesat ke masa lalu. Ia ingat betul momen saat ia membawa Laura ke Jardin du Luxembourg di Paris, sebuah taman megah yang saat itu tengah dipenuhi hamparan bunga dahlia dan kastuba (poinsettia) yang mekar dengan anggunnya di tengah udara musim dingin yang menggigit.Kini, kenangan manis di taman Paris itu telah diabadikan dengan sempurna lewat goresan kuas Laura.Mungkin Dimas tidak tahu sebuah rahasia kecil yang tersembunyi di sudut kanvas itu.Di sana, terdapat detail halus berupa siluet seorang pria yang berdiri di bawah pohon rindang dengan mantel tebal.Moreno tahu persis, pria itu adalah dirinya!Kenyataan itu membuat ego Moreno melambung tinggi. Ia sangat yakin, jauh di lubuk hatinya, Laura sebenarnya masih mencintainya.Mor
Moreno menyiapkan hadiah yang tidak main-main untuk pembukaan galeri Laura. Ia menyumbang banyak lukisan yang dipajang di sudut-sudut ruangan, yang awalnya membuat Laura takjub.Tadinya Laura tahu seluruh donasi dan karya itu masuk atas nama anonim, makanya Laura menerima semua itu dengan tangan terbuka tanpa rasa curiga sedikitpun.“Aku gak nyangka kalau kamu ternyata pandai melukis,” ucap Karin dengan mata berbinar kagum saat memandangi deretan kanvas indah di dinding.Padahal baru kemarin acara tujuh bulanannya yang melelahkan digelar, namun sekarang Karin sudah tampil segar dan menyempatkan diri datang ke acara pembukaan galeri milik Laura, saudara kembarannya itu.“Cuma hobby, dulu di luar negeri. Aku ikut kelas melukis tapi Daddy maksa aku masuk bisnis,” sahut Laura dengan senyum tipis yang menyimpan sedikit penyesalan.Mengingat masa lalunya, rasanya memang kasihan sekali nasib Laura. Ia terpaksa menghabiskan waktu bertahun-tahun kuliah di jurusan bisnis yang sangat ia benci, d
Sudah beberapa bulan menikah dengan Dokter Dimas, Laura masih belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Tentu saja Moreno merasa sangat senang mendengar kabar tersebut. Kesuburan pernikahan mantannya yang mandek menjadi secercah harapan baginya untuk kembali masuk ke dalam hidup Laura. Apalagi, laporan Dimas ke polisi tentang kejahatannya juga berakhir sia-sia karena kekurangan bukti. “Memangnya dia pikir mudah untuk menyingkirkanku?” gumam Moreno dengan seringai sinis. Besok adalah hari pembukaan galeri lukisan baru milik Laura. Wanita itu memang sangat menyukai seni lukis, meskipun dulu ia terpaksa mengambil kuliah bisnis demi tuntutan keluarga. Demi melihat senyuman di wajah Laura, Moreno diam-diam mendanai seluruh pembangunan galeri tersebut menggunakan nama anonim. Ia sengaja menyembunyikan identitasnya agar Laura bisa bahagia tanpa merasa terbebani atau menolaknya. “Sampai kapan kau akan terus mengejar Laura, Moreno?” tanya Bella, sekretaris pribadi Moreno y
Waktu terus bergulir, dan sudah enam bulan sejak kematian orang tua Silvi berlalu.Selama setengah tahun itu pula, Silvi benar-benar memutus rantai hubungannya dengan dunia lama. Ia tidak mau lagi bertemu, menyapa, apalagi peduli dengan keberadaan Aldi.Silvi mencoba menata kembali hidupnya yang sempat hancur lebur.Hari ini, suasana di kediaman Arlan dan Karin tampak begitu hangat dan ramai. Rumah itu di dekorasi cantik untuk merayakan acara syukuran tujuh bulanan kehamilan Karin.Kebahagiaan Karin berlipat ganda karena hasil pemeriksaan menyatakan bahwa ia tengah mengandung bayi kembar berjenis kelamin laki-laki.Di tengah hiruk-pikuk acara, Karin menghampiri Silvi yang sedang duduk termenung di sudut ruangan.Wajah sahabatnya itu tampak menyiratkan beban pikiran yang berat.“Kenapa, Sil?” tanya Karin lembut, ikut duduk di samping sahabatnya.“Gak ada,” jawab Silvi singkat, mencoba tersenyum tipis.Namun, tepat saat itu, layar ponsel Silvi yang tergeletak di atas meja menyala.Sebua
“Non, Pak Aldi kirim bunga-bunga ini untuk Nona Silvi,” ucap asisten rumah tangga Karin, sambil membawa satu buket besar mawar putih yang tampak segar dan mahal.Karin memijat pelipisnya perlahan, menatap bingung ke sekeliling ruangan. Ia benar-benar tidak tahu lagi dimana harus meletakkan “tanda cinta” dari Aldi itu.Sudut-sudut rumahnya, mulai dari ruang tamu hingga teras, sudah penuh sesak oleh berbagai macam karangan bunga kiriman sang konglomerat selama beberapa hari terakhir.“Bi, kalau ada lagi yang datang, tolak saja!” perintah Karin tegas pada asisten rumah tangganya.Sepertinya ini adalah cara Aldi untuk memohon maaf dan menunjukkan penyesalannya.Namun, semua usaha itu sia-sia karena Silvi sendiri sama sekali tidak pernah melangkah keluar kamar.Rumah Arlan kini beraroma semerbak bunga, tetapi di dalamnya tetap terasa sedingin es.Tok... Tok…Karin mengetuk pintu kamar tamu tempat Silvi mengurung diri dengan gerakan lembut.“Sil, sarapan dulu, yuk!” panggil Karin setengah b
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a







