Share

Bab 84 Keguguran

last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-13 13:24:26

“Benci? Tapi kau sampai basah sekali siang ini Sayang,” ucap Arlan membersihkan tangannya dengan tisu setelah cuci tangan.

Anggap saja cek kondisi pasien seperti yang biasa ia lakukan tapi kali ini pengecekan dilakukan sangat spesial.

Arlan tidak pernah bergairah dengan pasiennya tetapi menghadapi Karin, tubuhnya selalu merespon dengan cepat.

“Ponsel Karin,” ucap Arlan melihat ponsel di atas Sofanya karena terburu-buru Karin sampai lupa membawa ponselnya. Ia kembali lagi ke ruangan Arlan kare
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 148 Di Hotel Saja

    “Gak ah, dia kan yang blokir aku duluan.” Karin juga tidak mau mengangkat telepon Arlan, pria itu yang duluan benci dengannya padahal Karin tidak punya salah apapun. Masalah ia tidur di rumah dr. Dimas, Dimas memang pacarnya, wajar saja kalau Dimas perhatian, yang tidak wajar itu kalau Karin tidur di rumah Arlan. Arlan, itu Pamannya. Lebih baik mereka memang seperti ini, sudah dua hari juga tidak ngobrol. Lama-lama juga Karin akan terbiasa. Tapi, Karin rindu. Ia ingin tahu apa maksud Arlan menghubunginya? “Angkat gak, ya?” Karin diam sambil memandang ponselnya yang berdering dan ada nama Arlan. “Ya udahlah angkat aja.”Akhirnya setelah lama berpikir, Karin mengangkat telepon itu. Tapi, Karin tidak mau duluan yang menanyakan kabar Arlan. Bukannya Arlan juga tertangkap basah jalan dengan seorang dokter dari Bandung. “Halo?”Suara bariton Arlan, hemm Karin tersenyum tapi belum dijawabnya. Rindu saja dengan suara mesum pria ini. “Aku bawa oleh-oleh,” ucap Arlan dengan cuek. Seolah-

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 147 Cemburu Juga

    “Bohong!” Arlan marah, ia tahu kalau Karin menginap di apartemen Dimas dan menyangka Karin bercinta dengan pria itu. Padahal Karin tidak melakukan apapun tapi Arlan tidak mau percaya. Arlan memblokir nomor ponsel Karin! Baru kali ini Karin merasa ditinggalkan, ia juga tidak menyangka kalau Arlan yang sebucin itu dengannya bisa tega melakukan hal itu. “Dia marah banget kayaknya,” gumam Karin sambil melihat pesannya yang sekarang centang satu dan ia sudah tidak bisa lagi melihat foto profil Arlan. “Ya sudah marahlah, aku gak peduli.” Karin duduk di sofa Dimas sambil memeluk bantal tapi masih berusaha menghubungi Arlan dengan aplikasi lain yang Arlan milikku. Terkirim tapi tidak dibaca, tidak lama ia juga diblokir lagi. “Udahlah Karin, bagus kalau dia gak peduli lagi. Dia itu Om kamu, ingat!” Karin meyakinkan dirinya untuk tidak lagi mengganggu Arlan. Memang mereka lebih baik seperti ini. Karin tidak bisa tidur, ia ingin cepat menunggu pagi. Ingin pulang dan ganti pakaian, Karin

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 146 Lebih Menantang

    Darah Karin berdesir hebat, saat tangan Dimas membawanya ke bawah, Karin tahu Dimas memaksanya untuk menyentuh miliknya. Karin menelan salivanya dan menatap wajah tampan Dimas yang masih lembab, rambutnya juga masih meneteskan air ke dadanya. “Kamu sudah lihat yang aku kirim tadi?” bisik Dimas dengan suaranya yang menggoda. “A-apa? Gak dok, aku langsung hapus.” Karin langsung mengerti, ia lupa kalau Dimas mengirimkan foto itunya yang bangun.“Kamu gak suka, Karin?” “dok, bukan aku gak suka tapi. Ahhhh ….” Karin terkejut sekali saat merasakan sesuatu yang sangat keras dibawah sana. Dimas tidak menggunakan handuknya, ia malah sengaja melakukan semua ini agar Karin melihat. “Kok malu, kayak baru aja lihat yang begini. Anggap aja aku pasien kamu Honey,” bisik Dimas sambil mengecup telinga Karin. Merinding tubuh Karin tapi jantungnya benar-benar berdegup kencang. Karin penasaran ingin melihatnya tapi takut mereka akan melakukan hubungan intim kalau sampai berlebihan.“Ayo, lihat saj

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 145 Jangan Takut

    “Tadi dr. Dimas nanya, aku gak tau tiba-tiba dia kirim pesan ke aku, nanya kamu di mana,” bisik Silvi setelah selesai makan malam. Ya ampun, jantung Karin berdegup kencang. Karin yakin kalau Silvi pasti akan menjawab pertanyaan Dimas dengan jujur. “Terus?” tanya Karin penasaran. “Aku kasih tau aja kalau kita sedang makan di sini, aku gak enak kalau bohong dengan dr. Dimas, ia Konsulen kita juga Rin.” Begitu polosnya Silvi menjawab. Kalau begitu sebentar lagi pasti Dimas sudah datang ke restoran ini padahal Karin tahan sedari tadi untuk tidak membalas pesan Dimas. Silvi malah memberitahu keberadaannya. Ya ampun capek sekali hidup Karin. Ternyata susah jadi cewek cantik yang diidolakan banyak dokter. “dok, aku duluan aja, gak usah dianter aku bawa mobil sendiri, Mami minta aku pulang sekarang, ia baru sampai Jakarta,” ucap Karin bohong dan bergegas pulang sebelum Dimas datang. Semua akan kacau kalau Dimas sampai melihat ia dan temannya sedang makan di Restoran. “Karin, tunggu! A

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 144 Manjanya Karin

    Arlan tidak pernah membenci dr. Dimas. Karin salah! Mereka yang tidak pernah senang dengan pencapaian Arlan karena Arlan mendapatkan gelar spesialisnya paling cepat, Arlan juga bisa menjadi Direktur Rumah sakit dalam usia yang sangat muda. Jadi, banyak yang ingin menjatuhkannya. “Sudahlah, aku malas membahas pacar playboymu. Kau tidak pintar memilih pacar,” ejek Arlan sambil mengemudikan mobilnya. “Stop! Jangan ngomong sembarangan, ya dok.” Karin menutup telepon Arlan karena tidak ada yang menarik dari isi obrolan mereka. Arlan hanya ingin mengejeknya. Setelah telepon mati, Dimas menghubungi Karin. Sudah dari tadi dan baru bisa masuk sekarang teleponnya. “Halo Honey? Kamu main padel?” tanya Dimas dengan suaranya yang sedih. Dimas bisa tahu Karin ada di luar. Padahal Karin cerita ia di rumah sedang istirahat. Karin tidak nyaman ketahuan berbohong. “Iya, dok. Bentar aja. Ini mau makan malam dulu. Sorry aku bohong tadi, aku diajak dadakan main padel dr. Arlan.” Karin menggigit bib

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 143 Kalah Taruhan

    “Yang kalah traktir,” ucap Karin dengan senyumnya. Padahal ia tidak jago bermain padel dan sudah yakin kalah tapi kalau taruhannya cuma traktir makan di restoran mewah, Karin masih bisa menanggungnya. “Gak mau,” jawab Arlan sambil melipat tangannya di dada. Uangnya banyak, kalau sekedar makan di restoran itu kecil sekali. Arlan sama sekali tidak tertarik, Arlan bisa membayar mereka makan setelah main padel ini. Berapa kalipun Arlan sanggup. “Terus mau kamu apa, dok?” tanya Karin kesal. Xavier dan Silvi sudah menunggu, mereka akan main berpasangan. Karin dengan Xavier dan Arlan dengan Silvi. Mau tidak mau, Arlan cuma bisa berpasangan dengan temannya karena dokter yang dibawa Arlan main tadi sudah pulang lebih dulu. “Sudah sedekat ini, masa kamu masih gak paham apa mau ku Sayang,” bisik Arlan dengan nakal. Bercinta! Arlan hanya suka itu, ia tidak tertarik melakukan hal lain. Malah sekarang ia sudah tidak tahan untuk menculik Karin dan membawanya ke apartemen, melakukan hubungan in

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status