Home / Romansa / Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan / Bab 94 Sampai Gemetaran

Share

Bab 94 Sampai Gemetaran

last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-16 13:48:21

Bel apartemen Karin berbunyi bersamaan dengan suara ketukan pintu, Karin baru saja ingin mandi dan melilitkan handuk di dadanya.

“Aduh, ngapain sih dr. Dimas?” Karin berjalan ke arah pintu dengan senyumnya yang nakal.

Dimas pasti malu-malu kalau melihatnya seksi seperti ini. Begitu Karin membuka pintu apartemennya, yang datang ternyata Arlan.

Arlan langsung mendorong Karin ke dalam dan mengunci pintu apartemen dengan cepat.

“Shhhtttttt!” Arlan meminta Karin untuk diam.

Karin menelan saliva
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 286 Tidak Akan Pernah Lolos

    Bibir Karin bergetar, ia akhirnya beranikan diri menghubungi Papi Rion. Telepon tersambung. “Halo Sayang. Kenapa menghubungi Papi? Ingin uang jajan?” Hanya itu saja, Karin tidak butuh uang. “Pi, ada yang menerorku, mereka bilang dr. Arlan itu bukan Om ku. Apa benar?” tanya Karin ragu-ragu sambil menatap Arlan yang menunggu dalam diam. “Hahahah, siapa yang bergosip itu Sayang. Arlan itu Paman mu, aku dan Arlan hanya beda ibu saja tapi anak Kakekmu semua.” Karin menutup matanya dan tangannya mengepal. Apalagi? Arlan mau seperti apalagi. Keluarganya semua mengatakan kalau Arlan adalah Pamannya. Pria brengsek ini demi bisa menikah dengannya, melakukan semua cara bahkan membuat test DNA palsu. “Makasih Papi.” “Sayang, kenapa? Kau memikirkan Om kamu sendiri? Kau suka dengannya? Tentu tidak boleh Sayang, dia Om kamu. Oke!” “Hahahah, mana mungkin Papi. Jangan aneh-aneh.” Karin menelan salivanya dan matanya tajam ke arah Arlan. Arlan mengusap wajahnya dan menggeleng. Sialan! Tidak

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 285 Pernikahan Yang Rumit

    Ponsel Arlan rasanya ingin meledak, baru saja ia mau melanjutkan permainannya dengan Karin, Papanya selalu menghubungi tidak berhenti, seperti takut sekali Karin dibawa kabur olehnya. Kalau bukan karena penyakit jantung Papanya, Arlan pasti akan melawan. Ia mencintai Karin dan Karin pun mencintainya. Meskipun dunia tidak ingin mereka bersama kalau mereka berdua keras ingin bersatu. Apa ada yang bisa melarang mereka berdua? “Halo, Pa?” Arlan menjauh dari tubuh Karin yang penuh keringat saat ini. Ia mencari tempat yang sepi agar nyaman bicara dengan Papanya. Oh, ayolah.Seharusnya setelah tahu ia bercinta dengan Karin, seharusnya Papanya merestui hubungan mereka, bukan malah membuat ia dan Karin semakin menjauh.“Kau bawa Karin kemana Arlan?” tanya Billy dengan tegas. Jantungnya sakit sekali saat ini, Arlan keras kepala dan tidak menurut. Diam-diam mereka masih bersama. “Aku gak ngerti Pa, aku di rumah, aku gak tau Karin di mana, aku sudah pulangkan dia ke apartemen, dia tinggal de

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 284 Basahi Milikku

    “Kau bersama Karin, Arlan?” Sudah Arlan duga, setelah Renata menghubungi Papa nya, sudah pasti Papanya akan marah karena Arlan bersama dengan Karin, berduaan saja dan ini sudah malam. “Ya,” jawab Arlan. Arlan meminta Karin untuk diam dan tidak bersuara. “Pulangkan Karin!” Arlan tidak mau, ia sudah berjanji dengan Karin malam ini mereka ingin bersama. Tidak ada yang salah dengan hubungan mereka, mereka bahkan tidak sedarah.“Halo Kek, Karin di jalan dengan dr. Arlan, ini sudah mau pulang. Kakek kenapa marah-marah? Om Arlan jagain Karin kok,” jawab Karin dengan begitu santai padahal Kakek Billy sudah tahu kelakuan mereka berdua. “Pulanglah Sayang atau kau ingin Kakek menghubungi Xavier untuk menjemputmu?” Karin melihat wajah Arlan yang kesal. Kenapa harus panggil pria itu? Karin sakit saat ini dan yang diperlukan Karin itu seorang dokter yang mengerti tubuhnya.“Oke Karin pulang sekarang,” jawab Karin bohong. Karin hanya tidak ingin masalah ini panjang. Toh, Kakek Billy juga tida

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 283 Tenggelam Lebih Dalam

    Tidak ada CCTV di dalam rumah Renata, Renata hanya menggunakan CCTV untuk bagian luar rumahnya. Pembantunya juga sudah keluar untuk izin pulang tadi, sedangkan di rumah ini Renata tinggal bersama anaknya. Arlan tidak melihat pengasuh anaknya dan bayi itu. “Ahhh, dokter!” Karin panik, ia melihat ke arah kamar Renata, Karin takut Renata melihat kalau Arlan membawanya duduk di pangkuannya sekarang. “Wanita itu sengaja mandi lama supaya aku menginap, aku sudah tidak tahan melihat tubuhmu Sayang,” bisik Arlan sambil mengusap pinggul Karin dan mencengkramnya dengan kuat. “Ahhh sakit, kau mau apa, dok?” tanya Karin panik. Arlan menyingkap dress mini Karin ke atas, menutup paha Karin dengan jas dokternya dan mendorong dalaman renda hitam itu sampai ke lantai. “Dia mandi, dia tidak akan melihat apa yang kita lakukan.” Karin merasa ada benda yang begitu keras menahan bagian bawahnya, menggesek pelan menyentuh area sensitifnya yang sudah basah. Arlan memposisikan miliknya yang sudah mengera

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 282 Tidak Tahan Lagi

    Land Rover Range Rover 3.0 LWB SV terparkir bebas di cafe tempat Karin nongkrong, katanya tadi sudah dekat, ternyata Karin yang lebih dulu sampai, ia juga sudah menghabiskan secangkir kopi pahit tapi Arlan dan Renata belum juga sampai. Wajah Karin mendadak masam saat melihat kedua orang itu berjalan ke arahnya dan yang membuat Karin muak adalah tangan Renata yang tidak henti bergelayut di lengan kekar Arlan. “Sorry, Karin. Tadi aku minta temenin Arlan untuk membeli kue, anakku suka sekali kue strawberry itu,” ucap Renata dengan senyumnya yang begitu lebar. Seakan puas sekali membuat Karin menunggu lama. “Gak apa dok,” jawab Karin berusaha sesantai mungkin tetapi tidak bisa karena wajahnya tidak bisa menipu, ia benar-benar kesal. “Kita langsung saja?” tanya Arlan sambil melepaskan tangan Renata. Arlan tidak suka melihat tatapan Karin yang jengah. “Hemm.” Karin berjalan di belakang sedangkan Renata terus mengekori Arlan. Sampai di mobil, Arlan membukakan pintu untuk Karin di belaka

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 281 Kunjungan Dadakan

    “Buat apa aku nanya itu? Apa Mami gak curiga?” tanya Karin sambil melirik ke Silvi, Silvi yang membawa mobilnya dan mengantarnya pulang ke rumah. “Makanya, aku juga lagi mikir itu,” jawab Silvi. Karin berpikir keras, ia juga bingung memberikan alasan yang tepat. Apa ia samakan saja seperti saat ia bertanya pada Kakek Billy.Namun, semua itu seharusnya sudah jelas untuk Karin. “Udahlah tanya biasa aja, jangan kelihatan banget kalau kamu pulang cuma mau menanyakan itu saja,” jawab Silvi. Karin mengangguk. Setelah sampai ke rumahnya, Karin langsung turun tapi Silvi tidak, ia tidak mau mampir, takut ketemu dengan Papi Rion, lebih takut lagi kalau Papi Rion memanfaatkan tubuhnya. Silvi tidak mau dijadikan budak ranjang oleh Papi Rion. Seperti biasa, rumah sepi. Tidak ada penghuni, mungkin Mami Kaina juga belum pulang. Saat Karin menuju kamar Maminya, tidak ada tanda-tanda ada orang tuanya. “Bik, Mami ada atau Papi?” tanya Karin saat melihat ada pembantunya di dapur. “Nyonya pergi de

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status