Share

Bab 23

Author: Silver Swan
last update publish date: 2026-07-20 20:59:35

Siang itu, matahari Jakarta tengah mencapai puncaknya. Namun, hawa dingin yang berembus dari sistem pendingin sentral di Dinata Global resources-perusahaan raksasa di bidang eksplorasi pertambangan dan energi terbarukan-sanggup membekukan sisa-sisa kegelisahanku.

Gedung ini adalah manifestasi kekuasaan. Lantai marmernya yang mengilat memantulkan bayangan langkah kakiku yang berderap pelan menuju lantai teratas. Di sinilah Pak Bramantyo, sang patriark keluarga Dinata, mengendalikan imperium bisn
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 27

    Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden sutra tebal, menyentuh kelopak mataku hingga kesadaranku pulih sepenuhnya. Hal pertama yang kurasakan bukan lagi dinginnya pintu jati semalam, melainkan kehangatan dari lengan kokoh yang melingkar posesif di pinggangku.Shaka masih terlelap. Wajahnya yang biasa kaku dan penuh perhitungan kini tampak begitu tenang— terlihat muda tanpa kerutan di dahi yang biasanya muncul saat ia memikirkan strategi bisnis. Aku baru saja akan menyentuh garis rahangnya ketika ia mengerang rendah, lalu menarikku lebih rapat ke dadanya tanpa membuka mata."Jangan bergerak," bisiknya serak, suara khas bangun tidur yang begitu dalam. "Lima menit lagi.""Mas, matahari sudah tinggi," aku terkekeh pelan, merasakan gesekan kulit kami di balik selimut. "Perutku sudah mulai protes."Shaka akhirnya membuka mata, menatapku dengan binar hangat yang jauh berbeda dari singa yang semalam membawa kabur tunangan seorang Mahesa Dinata. Ia mengecup keningku lama

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 26

    Pintu ballroom yang berat itu tertutup di belakang kami dengan dentuman solid, seolah mengakhiri satu babak drama dalam hidupku. Udara malam Jakarta yang lembap dan bising langsung menyergap, namun Shaka tak memberiku waktu untuk sekadar menghirupnya. Ia menuntunku masuk ke dalam SUV hitam yang sudah menunggu dengan mesin menderu halus.Begitu pintu tertutup, supir Shaka langsung memacu kendaraan, meninggalkan kerumunan wartawan yang mulai mencium aroma skandal dari pesta pertunangan dua keluarga konglomerat ini. Mobil melesat membelah jalan tol, membawaku dan Shaka menuju kediaman di perbukitan yang tersembunyi—sebuah rumah yang kini dijaga ketat oleh belasan personel keamanan profesional."Mas, kenapa dijaga seketat ini?" tanyaku heran saat menyambut uluran tangan Shaka untuk turun dari mobil. "Rumah ini bukannya sudah cukup tersembunyi?"Shaka tidak langsung menjawab. Ia justru mempererat genggamannya pada jemariku, seolah sedang memastikan bahwa aku benar-benar ada di sana, di sam

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 25

    Lampu kristal di Grand Ballroom Hotel Mulia berpijar begitu menyengat hingga membuat mataku perih. Sore ini, udara terasa menyesakkan-bukan hanya karena keharuman lili putih yang memenuhi setiap sudut, melainkan karena beban kepalsuan yang harus kupikul.Hatiku tak tenang memikirkan Mahesa yang benar-benar menyukaiku terseret dalam drama ini.Aku berdiri di depan cermin besar ruang rias VIP. Gaun sutra warna champagne yang melekat di tubuhku ini berkilau lembut setiap kali aku bergerak. Harganya setara satu unit apartemen mewah, persis seperti yang dibanggakan tim stylist tempo hari. Kulitku yang tergores dahan kamboja semalam telah disamarkan sempurna oleh lapisan foundation mahal. Tidak ada lagi jejak pemberontakan, yang tersisa hanyalah Nona Sekar Djayadi yang sempurna."Tersenyumlah, Sekar. Jangan biarkan orang mengira aku menjual putriku karena utang," suara Papa menginterupsi dari ambang pintu. Ia tampil gagah dengan tuksedo hitam, meski matanya terus melirik jam tangan, cemas m

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 24

    Satu minggu ini bukan lagi tentang hidupku, melainkan tentang bagaimana aku dibentuk ulang menjadi komoditas yang layak dipamerkan. Keluarga Dinata tidak hanya membeli perusahaan Papa, mereka membeli setiap detik waktuku, privasiku, bahkan hakku untuk sekadar menarik napas lega.Setiap pagi dimulai dengan ketukan pintu dari tim stylist kiriman Pak Bramantyo. Ruang tamu rumahku berubah menjadi bengkel transformasi. Aku berdiri berjam-jam di atas podium kecil, dikelilingi oleh desainer ternama yang menyematkan jarum pentul pada gaun sutra seharga satu unit apartemen yang melekat di tubuhku."Jangan terlalu banyak makan karbohidrat minggu ini, Nona Sekar. Garis pinggang ini harus tetap presisi," ucap mereka tanpa dosa. Mereka tidak melihatku sebagai manusia, melainkan manekin hidup yang harus tampil sempurna di depan kamera.Aku dipaksa menjalani berbagai prosedur estetika. Aroma bahan kimia dan masker emas memenuhi indra penciumanku. Kulitku dipoles hingga mengilap, seolah-olah lapisan

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 23

    Siang itu, matahari Jakarta tengah mencapai puncaknya. Namun, hawa dingin yang berembus dari sistem pendingin sentral di Dinata Global resources-perusahaan raksasa di bidang eksplorasi pertambangan dan energi terbarukan-sanggup membekukan sisa-sisa kegelisahanku.Gedung ini adalah manifestasi kekuasaan. Lantai marmernya yang mengilat memantulkan bayangan langkah kakiku yang berderap pelan menuju lantai teratas. Di sinilah Pak Bramantyo, sang patriark keluarga Dinata, mengendalikan imperium bisnisnya dengan tangan besi."Nona Sekar? Silakan masuk, Bapak sudah menunggu," ucap sekretaris pribadinya. Nadanya formal, namun terselip rasa hormat yang kaku.Aku mengembuskan napas panjang sembari merapikan blazer, lalu melangkah masuk. Ruangan kerja Pak Bramantyo begitu luas dengan jendela kaca setinggi langit-langit yang membingkai lanskap hutan beton Jakarta. Di balik meja jati yang kokoh, seorang pria paruh baya berambut perak duduk dengan aura otoritas yang pekat, tampak khusyuk membaca se

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 22

    "Kamu baru saja menyalakan api yang nggak bisa kamu padamkan sendiri, Sekar," bisik Shaka rendah. Suaranya serak, dalam, dan mengirimkan getaran aneh yang menjalar ke seluruh saraf pusatku.Tanpa menunggu jawabanku, Shaka menyusupkan lengannya di bawah lututku dan mengangkat tubuhku dalam satu gerakan mantap. Aku memekik pelan, refleks mengalungkan lengan ke lehernya. Kain sutra merah marun yang kukenakan tersingkap, memperlihatkan kakiku yang bersentuhan langsung dengan kemeja mahalnya yang kaku.Ia membawaku menaiki tangga marmer menuju lantai atas, melewati lorong sunyi yang hanya diisi oleh suara detak jantung kami yang kian berpacu. Kami tiba di depan pintu ganda yang megah, yang terbuka perlahan menyingkap kamar tidur utama yang luas dengan pencahayaan temaram yang dramatis.Shaka menurunkanku di sisi tempat tidur berukuran king-size yang dilapisi seprai sutra hitam. Ia tidak langsung menyentuhku. Ia berdiri di sana, menanggalkan kemeja dan jam tangannya dengan gerakan perlahan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status