LOGINLampu lorong apartemen itu berkedip pelan, memantulkan bayanganku yang tampak asing pada dinding marmer yang dingin. Aku tidak memakai anting berlian pemberian Mahesa malam ini. Perhiasan itu adalah rahasia—sebuah bukti pengkhianatan yang tak boleh tercium oleh Shaka.
Aku menekan digit kode akses pintu yang sudah kuhafal di luar kepala. Suara klik pelan diikuti desis udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyergap kulitku. Apartemen ini masih mengembuskan aroma yang sama dengan enam bulan lalu, saat pertama kali aku menginjakkan kaki di sini. Perpaduan antara tembakau mahal, wiski, dan parfum oud cendana Shaka yang tajam kini terasa begitu akrab di penciumanku. Shaka berdiri di balkon, membelakangiku. Ia menatap hiruk-pikuk lampu Jakarta dari lantai dua puluh. "Kamu terlambat tujuh menit," ucapnya dingin tanpa menoleh. "Jalanan macet," jawabku datar sembari meletakkan tas di sofa kulit gelap. Shaka berbalik. Ia meletakkan gelas kristalnya ke pagar balkon sebelum melangkah masuk. Kemeja hitamnya dibiarkan terbuka pada bagian atas, memamerkan tanda kemerahan yang masih segar di lehernya. Ah, dia baru saja menghabiskan waktu dengan Nadira. Aku memalingkan wajah, sebuah reaksi spontan yang justru memancing Shaka untuk mendekat. Langkahnya terhenti tepat di hadapanku. Ia mencengkeram daguku dengan jemari yang kasar, memaksaku menatap langsung ke dalam matanya yang kelam. "Kenapa berpaling? Kamu cemburu?" Aku menelan ludah, berusaha meredam debar jantung yang mendadak liar saat ia menatapku dalam-dalam . "Bukan cemburu," bisikku pelan. "Hanya terkejut melihat itu." Shaka mencondongkan tubuh, wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahku. "Terkejut atau sakit hati?" Suaranya rendah, nyaris menyerupai geraman. Cengkeramannya berpindah ke lenganku, menarikku mendekat hingga aku bisa merasakan hawa panas dari tubuhnya. "Aku dengar Mahesa mampir ke tokomu sore tadi. Apa yang dia berikan padamu, Sekar? Janji manis? Atau dia sudah mulai berani menyentuhmu?" Aku bungkam, membalas tatapannya dengan pandangan menantang. Selama ini, kecemburuan Shaka adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa berkuasa atas dirinya. Namun malam ini, intensitas itu terasa memuakkan. "Mahesa hanya mengembalikan barangku," desisku. "Mengembalikan?" Shaka tertawa sinis, tawa yang tak sedikit pun mencapai matanya. "Pria seperti dia nggak akan membuang waktu hanya untuk mengembalikan barang jika nggak punya niat lain. Kehidupan seperti apa yang dia janjikan padamu?" Tiba-tiba, Shaka menarikku hingga tubuh kami berbenturan. Napasnya terasa panas di ceruk leherku. "Ingat satu hal, Sekar. Kamu milikku! Kamu adalah kehancuran yang kupilih, dan aku nggak suka berbagi milikku dengan siapa pun." Aku melepaskan tawa hambar, sebuah seringai tipis yang sengaja kupasang untuk memantik emosinya. Jemariku merambat pelan di dada bidangnya, tepat di atas kancing kemeja yang terbuka. Lalu bergerak ke tanda kemerahan di lehernya. "Kamu bicara soal kepemilikan, Mas," bisikku lembut, hampir seperti belaian. "Tapi lihat dirimu. Kamu baru saja datang dari pelukan Nadira, kan? Adik tiriku yang malang itu pasti sangat berusaha keras menyenangkanmu sampai meninggalkan bekas sehebat ini." Rahang Shaka mengeras. Nama Nadira yang meluncur dari bibirku seolah menyulut api dalam dirinya—bukan amarah, melainkan rasa jengkel karena ingat perempuan yang terpaksa ia nikahi. "Jangan sebut nama orang lain saat kamu bersamaku, Sekar," geramnya. Ia menunduk, membenamkan wajah di ceruk leherku, menghirup aromaku seolah itu adalah oksigen yang ia butuhkan untuk bertahan hidup. "Kamu tahu dia nggak ada artinya. Kamu juga yang memaksaku menikahinya saat perasaanku untuknya sudah mati." Aku mendongak, memberi akses lebih luas bagi Shaka untuk menyesap aroma di leherku. Sudut bibirku terangkat membentuk senyum kemenangan. Ya. Shaka hampir membatalkan pernikahannya dengan Nadira beberapa bulan yang lalu. Namun, aku berhasil membujuknya. Nadira, Papa dan Rena tidak tahu alasan mereka masih bisa memiliki koneksi dengan keluarga Adhitama adalah karena aku. Aku yang selalu mereka anggap remeh ini bisa mengendalikan pewaris keluarga Adhitama. Bahkan mereka tidak tahu bahwa Shaka lebih senang melihatku tanpa sehelai benang dibandingkan bersama Nadira. "Aku memaksamu? Nggak, Mas," bisikku dengan nada paling tulus yang bisa kupalsukan. "Aku hanya ingin yang terbaik untuk Nadira. Bukankah kamu sendiri yang dulu bilang sangat mencintainya?" "Cukup, Sekar," pintanya lirih, nyaris memohon. "Itu dulu. Sekarang hanya kamu yang benar-benar aku inginkan." Tanpa menunggu jawaban, Shaka bergerak dominan. Ia menyusupkan lengannya di bawah lipatan lututku dan mengangkat tubuhku semudah mengangkat sehelai bulu. Aku refleks merangkul lehernya, merasakan otot lengannya yang mengeras di balik kain kemeja tipis. Ia membawaku menjauh dari ruang tamu yang dingin menuju kamar utama. Di sana, cahaya kota masuk samar melalui celah gorden, menciptakan siluet dramatis di atas seprai sutra. Begitu tubuhku menyentuh kasur, Shaka langsung mengurungku, tak memberi ruang sedikit pun untuk bernapas, apalagi berpikir. Di bawah cahaya remang, ia menyatukan bibir kami dalam ciuman yang menuntut—seolah ingin menghapus setiap jejak pria lain, termasuk Mahesa. Sentuhannya terasa kontradiktif; kasar karena api cemburu, namun ada getaran halus yang menunjukkan ketakutan akan kehilangan. Tangannya yang besar menangkup wajahku, ibu jarinya mengusap bibirku yang mulai membengkak. Aku membalasnya, membiarkan diriku hanyut dalam arus yang ia ciptakan, meski di balik mata yang terpejam, aku tahu aku masih memegang kendali penuh atas pria ini. "Jangan pernah bermain-main dengan emosiku lagi, Sekar," bisiknya parau, napasnya yang beraroma wiski menyapu bibirku. Aku tidak menjawab. Aku menarik tengkuknya, menyambut sentuhannya dengan keberanian yang sama besarnya. Jemariku merambat masuk ke balik kemejanya, menyentuh kulitnya yang panas. Shaka mengerang rendah, suaranya bergetar jauh di dalam dada, sebelum ia menanggalkan kemeja hitamnya dengan gerakan kasar hingga kancing-kancingnya terlepas. "Katakan padaku," bisiknya di sela ciuman yang beralih ke rahangku, "bahwa kamu nggak akan membiarkan Mahesa menyentuhmu seperti ini." "Kamu terlalu banyak bicara, Mas," balasku dengan napas yang mulai memburu. Shaka menarik napas tajam. Ia menanggalkan sisa penghalang di antara kami dengan efisiensi yang menakutkan. Saat kulit kami bertemu sepenuhnya, ada sengatan listrik yang membuat bulu kudukku berdiri. Ia mencumbu setiap inci kulitku, seolah ingin mengklaim kembali wilayahnya. Gerakannya tidak lembut, namun penuh presisi yang meruntuhkan pertahananku. Di atas seprai sutra yang dingin, gairah kami menyala layaknya api yang melahap oksigen. Setiap sentuhan adalah klaim dan setiap kecupan adalah segel kepemilikan yang lebih permanen daripada bekas merah di lehernya sendiri. Aku mencengkeram bahunya, kuku-kukuku menancap saat ia membawaku menuju puncak yang menyesakkan. Di tengah pergulatan napas yang tersenggal, Shaka menatap langsung ke mataku—mencari pengakuan bahwa aku adalah miliknya. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam gelombang kenikmatan yang perih ini. Di kamar yang sunyi itu, hanya terdengar suara napas yang bersahutan dan detak jantung yang berpacu liar. Untuk sejenak, aku lupa tentang Mahesa, lupa tentang anting berlian yang kusembunyikan, dan lupa tentang balas dendamku. Di dalam pelukannya, aku adalah milik Shaka—setidaknya sampai fajar menyingsing dan topeng kami kembali terpasang.Satu minggu ini bukan lagi tentang hidupku, melainkan tentang bagaimana aku dibentuk ulang menjadi komoditas yang layak dipamerkan. Keluarga Dinata tidak hanya membeli perusahaan Papa, mereka membeli setiap detik waktuku, privasiku, bahkan hakku untuk sekadar menarik napas lega.Setiap pagi dimulai dengan ketukan pintu dari tim stylist kiriman Pak Bramantyo. Ruang tamu rumahku berubah menjadi bengkel transformasi. Aku berdiri berjam-jam di atas podium kecil, dikelilingi oleh desainer ternama yang menyematkan jarum pentul pada gaun sutra seharga satu unit apartemen yang melekat di tubuhku."Jangan terlalu banyak makan karbohidrat minggu ini, Nona Sekar. Garis pinggang ini harus tetap presisi," ucap mereka tanpa dosa. Mereka tidak melihatku sebagai manusia, melainkan manekin hidup yang harus tampil sempurna di depan kamera.Aku dipaksa menjalani berbagai prosedur estetika. Aroma bahan kimia dan masker emas memenuhi indra penciumanku. Kulitku dipoles hingga mengilap, seolah-olah lapisan
Siang itu, matahari Jakarta tengah mencapai puncaknya. Namun, hawa dingin yang berembus dari sistem pendingin sentral di Dinata Global resources-perusahaan raksasa di bidang eksplorasi pertambangan dan energi terbarukan-sanggup membekukan sisa-sisa kegelisahanku.Gedung ini adalah manifestasi kekuasaan. Lantai marmernya yang mengilat memantulkan bayangan langkah kakiku yang berderap pelan menuju lantai teratas. Di sinilah Pak Bramantyo, sang patriark keluarga Dinata, mengendalikan imperium bisnisnya dengan tangan besi."Nona Sekar? Silakan masuk, Bapak sudah menunggu," ucap sekretaris pribadinya. Nadanya formal, namun terselip rasa hormat yang kaku.Aku mengembuskan napas panjang sembari merapikan blazer, lalu melangkah masuk. Ruangan kerja Pak Bramantyo begitu luas dengan jendela kaca setinggi langit-langit yang membingkai lanskap hutan beton Jakarta. Di balik meja jati yang kokoh, seorang pria paruh baya berambut perak duduk dengan aura otoritas yang pekat, tampak khusyuk membaca se
"Kamu baru saja menyalakan api yang nggak bisa kamu padamkan sendiri, Sekar," bisik Shaka rendah. Suaranya serak, dalam, dan mengirimkan getaran aneh yang menjalar ke seluruh saraf pusatku.Tanpa menunggu jawabanku, Shaka menyusupkan lengannya di bawah lututku dan mengangkat tubuhku dalam satu gerakan mantap. Aku memekik pelan, refleks mengalungkan lengan ke lehernya. Kain sutra merah marun yang kukenakan tersingkap, memperlihatkan kakiku yang bersentuhan langsung dengan kemeja mahalnya yang kaku.Ia membawaku menaiki tangga marmer menuju lantai atas, melewati lorong sunyi yang hanya diisi oleh suara detak jantung kami yang kian berpacu. Kami tiba di depan pintu ganda yang megah, yang terbuka perlahan menyingkap kamar tidur utama yang luas dengan pencahayaan temaram yang dramatis.Shaka menurunkanku di sisi tempat tidur berukuran king-size yang dilapisi seprai sutra hitam. Ia tidak langsung menyentuhku. Ia berdiri di sana, menanggalkan kemeja dan jam tangannya dengan gerakan perlahan
Setelah ketegangan yang menyesakkan di butik, aku akhirnya menyerah. Dengan sisa tenaga yang ada, kukenakan gaun merah marun itu. Kain sutranya terasa dingin dan licin, memeluk lekuk tubuhku dengan sempurna seolah-olah ia memang diciptakan hanya untukku. Shaka menatapku sesaat tanpa kata—sebuah tatapan tajam yang sanggup membuat bulu kudukku berdiri—sebelum ia menyelesaikan pembayaran dan membimbingku kembali ke mobil.Namun, kami tidak menuju pesta atau acara formal mana pun. Mobil terus melaju menjauhi kebisingan pusat kota, menembus kawasan perbukitan yang sunyi dan rimbun oleh pepohonan besar.Mobil akhirnya berhenti di depan gerbang besi hitam yang menjulang tinggi. Saat gerbang itu terbuka secara otomatis, sebuah hunian modern-kontemporer dengan dominasi kaca dan batu alam berdiri megah di balik keremangan malam."Turun," ucap Shaka singkat.Aku melangkah keluar, bunyi tumit sepatuku beradu dengan lantai marmer teras yang mengkilap. Pintu utama terbuka bahkan sebelum Shaka menye
Keheningan di dalam toko bunga itu terasa mencekik saat Maya berdiri membeku. Shaka tidak segera melepaskanku, ia justru memutar tubuhnya perlahan, masih dengan satu tangan yang posesif melingkar di pinggangku. Ia menatap Maya dengan tatapan dingin yang seolah mampu menghentikan detak jantung siapa pun yang melihatnya."Keluar," perintah Shaka singkat. Suaranya tidak keras, namun mengandung otoritas mutlak yang tidak bisa dibantah.Maya tergagap, wajahnya memucat hebat. "Ma-maaf, Mbak Sekar. Saya... saya permisi." Ia meletakkan bungkusan makanan itu di atas kursi terdekat dan praktis berlari keluar. Denting lonceng pintu yang ditinggalkannya terdengar seperti lonceng kematian bagi reputasiku, namun aku tidak lagi peduli pada apa pun.Udara di dalam toko kini terasa lebih berat, dipenuhi aroma mawar yang tajam dan ketegangan yang kian memuncak meski Maya telah menghilang. Shaka tidak beranjak. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya, seolah ingin memastikan bahwa tidak ada satu celah pun
Sentuhan sepatu Shaka di kakiku terasa seperti api yang merambat di bawah permukaan air. Aku berusaha keras agar tanganku tidak gemetar saat meletakkan cangkir teh kembali ke tatakannya. Di hadapanku, Nadira sedang sibuk bercerita tentang rencana bulan madu kedua mereka, sama sekali tidak menyadari bahwa suaminya sedang melakukan tindakan provokatif di bawah meja makan keluarga."Mahesa itu bibit unggul, Sekar," Papa melanjutkan, suaranya terdengar penuh otoritas di tengah denting sendok dan garpu. "Papa rasa kalau keluarga Dinata tahu kalian pernah menghabiskan malam bersama, mereka akan langsung meresmikan hubungan kalian."Ujung sepatu Shaka bergerak pelan, menekan batas kesabaranku dengan isyarat yang hanya kupahami seorang diri."Papa, aku rasa...""Apa?! Kak Sekar sudah tidur dengan Mahesa?" Nadira berseru, suaranya meninggi antara terkejut dan tidak percaya."Wajar saja bagi orang dewasa di zaman sekarang, Dira. Lagipula, Mahesa itu pemuda yang sangat bertanggung jawab. Dia sud







