共有

Bab 7

作者: Silver Swan
last update 公開日: 2026-07-02 15:31:51

Keheningan menyusul kalimat terakhirku. Di seberang telepon, aku bisa mendengar deru napas Shaka yang tidak beraturan. Ia tidak sedang menertawakanku, tidak juga sepenuhnya marah. Nada itu terlalu kacau untuk dikategorikan sebagai salah satunya.

“Merasa bersalah seumur hidup?” ulang Shaka pelan. Suaranya rendah dan berat—bukan mengejek, melainkan seperti seseorang yang sedang mencoba mencerna sesuatu yang mengusiknya. “Kamu selalu begitu, Sekar. Selalu bicara seolah semua ini bukan pilihanmu.”

Aku memejamkan mata, menyandarkan kepala ke sandaran ranjang.

“Aku memang nggak pernah punya banyak pilihan,” jawabku lirih. “Mas tahu itu.”

Ia terdiam. Aku bisa membayangkan ekspresinya saat ini: kening berkerut, rahang mengeras. Shaka selalu membenci rasa bersalahnya sendiri, dan entah bagaimana, kehadiranku selalu berhasil memperburuk perasaan itu.

“Jangan bicara seolah kamu korban,” katanya akhirnya, lebih karena lelah daripada marah. “Kamu tahu betul bagaimana keberadaanmu menggangguku."

Aku tersenyum tipis, meski suaraku tetap terdengar datar.

“Aku nggak pernah bermaksud mengganggu siapa pun. Kalau kehadiranku memang merepotkan, aku bisa menghilang.”

"Coba saja menghilang dariku, dan kamu akan tahu akibatnya!" Shaka membentak pelan. Suaranya kini terdengar lebih dekat, seolah dia sedang membisikkannya tepat di telingaku. “Besok malam. Jam delapan. Tempat biasa. Jangan sampai aku harus menjemputmu ke rumah itu dan membuat keributan di depan Papamu.”

Klik.

Sambungan diputus sepihak. Aku menurunkan ponsel dari telinga, menatap layarnya yang perlahan meredup hingga gelap total.

Tempat biasa. Apartemen lama Shaka yang tidak diketahui oleh Nadira, bahkan oleh Papa. Sebuah wilayah terlarang yang selalu berhasil membuatku merasa hidup sekaligus kotor di saat yang bersamaan.

Aku merebahkan tubuh ke ranjang yang terasa kaku. Mataku menatap langit-langit kamar yang catnya mulai mengelupas di sudut-sudutnya—kontras sekali dengan kamar Nadira yang berhiaskan wallpaper sutra impor.

"Kamu mau aku datang, Shaka?" bisikku pada kesunyian. "Atau kamu hanya takut aku benar-benar jatuh ke pelukan Mahesa Dinata?"

Pikiran tentang Mahesa tiba-tiba melintas. Pria itu berbeda. Jika Shaka adalah api yang membakar, Mahesa adalah samudera tenang yang mampu menenggelamkan tanpa peringatan. Mahesa menatapku seolah dia bisa melihat menembus seluruh lapisan kebohonganku.

Tiba-tiba, sebuah notifikasi pesan masuk. Bukan dari Shaka.

[Mahesa Dinata]: Saya rasa ada sesuatu yang tertinggal di mobil saya. Anting perak berbentuk bulan sabit. Milikmu?

Aku menyentuh daun telingaku. Kosong. Anting itu pasti terjatuh saat aku terburu-buru melepaskan sabuk pengaman tadi. Senyumku kali ini benar-benar melebar. Sebuah keberuntungan yang tidak terduga; anting itu adalah umpan yang jauh lebih baik daripada sekadar ucapan terima kasih.

[Sekar]:Ah, iya. Itu anting kesayanganku. Maaf merepotkanmu, Mahesa.

[Mahesa Dinata]: Tidak repot. Besok sore saya ada pertemuan di dekat rumahmu. Saya akan mampir untuk mengembalikannya.

Aku sengaja tidak membalas lagi. Biarkan dia menunggu.

Besok sore dengan Mahesa, dan malamnya dengan Shaka. Dua pria di dua sisi yang berbeda. Papa menginginkan Mahesa, dan aku menginginkan kehancuran yang rapi bagi mereka yang sudah membuatku merasa tak berharga selama bertahun-tahun di rumah ini.

Aku menarik selimut tipis, menutup mata dengan perasaan puas yang aneh. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan diriku menjadi pion yang bisa mereka gerakkan sesuka hati.

***

Pagi harinya, suasana meja makan sedingin makam. Papa sudah berangkat lebih awal tanpa menyapaku—tanda bahwa kemarahannya semalam belum surut. Tinggal aku dan Rena yang duduk berhadapan.

“Kenapa nggak dimakan?” suara Rena memecah kesunyian. Ia mengoleskan selai ke rotinya dengan gerakan yang sangat elegan, sangat kontras dengan ketajaman kata-katanya. “Takut berat badanmu naik? Percuma, Sekar. Mahesa Dinata nggak akan tertarik padamu hanya karena tubuhmu bagus. Pria seperti dia mencari wanita berkelas, bukan sekadar pajangan.”

Aku menyesap kopi pahitku, mengabaikan roti di piring. “Lalu, apa yang membuat Nadira begitu beruntung sampai mendapatkan Shaka? Apa karena dia memang berkelas? Atau sekadar keberuntungan?”

Gerakan tangan Rena terhenti. Ia menatapku tajam, matanya menyipit. “Nadira memiliki apa yang nggak kamu punya: harga diri dan restu. Jangan coba-coba membandingkan dirimu dengannya.”

Aku tersenyum tipis—jenis senyum yang paling dibenci Rena. “Tentu saja. Restu adalah segalanya, kan? Tapi Anda tahu sendiri, Papa yang menginginkan Mahesa. Dan Anda juga yang paling tahu jika Papa menginginkan sesuatu, ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya.”

Aku bangkit berdiri. "Termasuk menghilangkan segala hal yang menghalanginya."

Tatapan Rena menajam, jemarinya yang lentur kini mencengkeram pisau roti hingga urat-uratnya menonjol. Kalimatku barusan bukan sekadar gertakan; itu adalah belati kecil yang kuarahkan tepat ke luka lama yang ia tutupi dengan keangkuhan.

Aku sedikit menunduk, mendekatkan wajah ke arahnya hingga kami hanya terpaut jarak beberapa inci. Bau parfum mawar miliknya yang menyengat terasa memuakkan.

"Termasuk cara Papa menghilangkan hambatan besar sepuluh tahun lalu agar Tante bisa duduk di kursi ini, kan?" bisikku tajam. "Restu itu mahal harganya, Tante Rena. Kadang, bayarannya adalah nyawa seseorang yang seharusnya masih ada di sini."

Wajah Rena memucat sesaat sebelum berubah menjadi merah padam. Ia tahu persis siapa yang kumaksud: Bundaku. Wanita yang keberadaannya dihapus dari sejarah rumah ini seolah ia hanya noda tinta di atas kertas putih.

Aku tidak menunggu reaksinya. Aku melangkah keluar dengan kepala tegak, meninggalkan Rena yang terpaku dengan roti yang hancur di genggamannya.

***

Langkahku terasa ringan saat memasuki toko bunga kecil warisan Bunda di sudut jalan. Ini adalah satu-satunya tempat di mana aku tidak perlu menjadi putri yang terbuang. Aroma eucalyptus dan lili menyambutku, memberikan ketenangan sebelum badai yang kuprediksi akan datang sore ini.

Tepat pukul empat sore, sebuah sedan hitam mewah berhenti di depan toko. Sosok pria dengan perawakan tegap keluar dari sana. Mahesa Dinata. Ia tidak mengenakan setelan formal seperti kemarin; hanya kemeja navy dengan lengan yang digulung hingga siku, namun auranya tetap mendominasi.

Lonceng pintu berdenting.

"Selamat sore, Sekar," sapanya dengan suara bariton yang menenangkan. Tidak ada nada menghakimi saat ia melihatku sedang memangkas duri mawar dengan celemek yang sedikit kotor.

"Selamat sore, Mahesa. Maaf, aku sedang sedikit berantakan," jawabku sambil meletakkan gunting bunga dan mengelap tangan.

Mahesa tersenyum tipis—bukan senyum sinis seperti Shaka, melainkan senyum yang terasa tulus. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku kemejanya dan meletakkannya di atas konter. Di dalamnya, anting perak bulan sabitku berkilau tertimpa cahaya lampu toko.

"Ini milikmu. Benda ini sepertinya sangat berharga bagimu sampai kamu menyebutnya kesayangan," katanya.

"Terima kasih. Ini memang bukan barang mahal, tapi punya banyak kenangan," balasku. Aku sudah bersiap jika ia akan berkomentar tentang betapa kontrasnya perhiasan perak murah ini dengan status keluargaku.

Namun, Mahesa justru mengeluarkan sebuah kotak lain, sedikit lebih besar dan berlapis beludru hitam. Ia membukanya, memperlihatkan sepasang anting berlian berbentuk tetesan air yang membiaskan cahaya dengan sempurna.

"Tadi saya melewati toko perhiasan dan melihat ini. Bentuknya mengingatkan saya padamu," ucapnya tenang.

Aku terpaku. "Mahesa, ini... saya tidak bisa menerimanya. Ini terlalu berlebihan. Lagipula, saya hanya terbiasa memakai perak, bukan berlian seperti Nadira."

Mahesa menggeleng perlahan. Ia mengambil satu anting berlian itu, menimangnya sejenak. "Perhiasan bukan tentang seberapa mahal harganya, Sekar. Perak itu indah karena ia murni, dan berlian ini hanya alat untuk mempertegas apa yang sudah ada padamu."

Ia menatapku dalam, seolah sedang membaca setiap luka yang kusembunyikan. "Banyak orang memakai berlian untuk menutupi kekosongan di dalam diri mereka. Tapi kamu? Kamu tetap terlihat bersinar bahkan dengan perak murah sekalipun. Saya memberikan ini bukan karena saya merasa kamu membutuhkannya untuk terlihat kaya, tapi karena saya ingin kamu tahu bahwa kamu layak mendapatkan hal-hal indah."

Kalimatnya menghantamku lebih keras daripada bentakan Shaka. Selama ini, semua orang di rumah itu membuatku merasa seperti barang rongsokan di tengah galeri seni. Tapi pria ini justru menghargaiku tanpa syarat.

"Kenapa Anda sebaik ini pada saya?" tanyaku lirih.

Mahesa melangkah lebih dekat, aromanya yang seperti kayu cendana menyelimutiku. "Karena saya tahu bagaimana rasanya harus bertahan di tempat yang tidak menganggap kita ada. Simpanlah, Sekar. Pakai jika kamu ingin, atau simpan jika kamu merasa belum siap. Saya tidak menuntut apa pun."

Ia berpamitan dengan sopan, meninggalkan kehangatan yang asing di dadaku. Namun, saat bayangan mobilnya menghilang, aku teringat janji pukul delapan malam nanti.

Apartemen Shaka. Tempat di mana kehormatanku sering kali dipertaruhkan demi rasa memiliki yang semu.

Aku menatap anting berlian pemberian Mahesa di satu tangan, dan anting perak lamaku di tangan lainnya. Dua pria. Dua dunia. Dan aku berada di tengah-tengahnya, siap membakar jembatan yang menghubungkan mereka semua.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 22

    "Kamu baru saja menyalakan api yang nggak bisa kamu padamkan sendiri, Sekar," bisik Shaka rendah. Suaranya serak, dalam, dan mengirimkan getaran aneh yang menjalar ke seluruh saraf pusatku.Tanpa menunggu jawabanku, Shaka menyusupkan lengannya di bawah lututku dan mengangkat tubuhku dalam satu gerakan mantap. Aku memekik pelan, refleks mengalungkan lengan ke lehernya. Kain sutra merah marun yang kukenakan tersingkap, memperlihatkan kakiku yang bersentuhan langsung dengan kemeja mahalnya yang kaku.Ia membawaku menaiki tangga marmer menuju lantai atas, melewati lorong sunyi yang hanya diisi oleh suara detak jantung kami yang kian berpacu. Kami tiba di depan pintu ganda yang megah, yang terbuka perlahan menyingkap kamar tidur utama yang luas dengan pencahayaan temaram yang dramatis.Shaka menurunkanku di sisi tempat tidur berukuran king-size yang dilapisi seprai sutra hitam. Ia tidak langsung menyentuhku. Ia berdiri di sana, menanggalkan kemeja dan jam tangannya dengan gerakan perlahan

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 21

    Setelah ketegangan yang menyesakkan di butik, aku akhirnya menyerah. Dengan sisa tenaga yang ada, kukenakan gaun merah marun itu. Kain sutranya terasa dingin dan licin, memeluk lekuk tubuhku dengan sempurna seolah-olah ia memang diciptakan hanya untukku. Shaka menatapku sesaat tanpa kata—sebuah tatapan tajam yang sanggup membuat bulu kudukku berdiri—sebelum ia menyelesaikan pembayaran dan membimbingku kembali ke mobil.Namun, kami tidak menuju pesta atau acara formal mana pun. Mobil terus melaju menjauhi kebisingan pusat kota, menembus kawasan perbukitan yang sunyi dan rimbun oleh pepohonan besar.Mobil akhirnya berhenti di depan gerbang besi hitam yang menjulang tinggi. Saat gerbang itu terbuka secara otomatis, sebuah hunian modern-kontemporer dengan dominasi kaca dan batu alam berdiri megah di balik keremangan malam."Turun," ucap Shaka singkat.Aku melangkah keluar, bunyi tumit sepatuku beradu dengan lantai marmer teras yang mengkilap. Pintu utama terbuka bahkan sebelum Shaka menye

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 20

    Keheningan di dalam toko bunga itu terasa mencekik saat Maya berdiri membeku. Shaka tidak segera melepaskanku, ia justru memutar tubuhnya perlahan, masih dengan satu tangan yang posesif melingkar di pinggangku. Ia menatap Maya dengan tatapan dingin yang seolah mampu menghentikan detak jantung siapa pun yang melihatnya."Keluar," perintah Shaka singkat. Suaranya tidak keras, namun mengandung otoritas mutlak yang tidak bisa dibantah.Maya tergagap, wajahnya memucat hebat. "Ma-maaf, Mbak Sekar. Saya... saya permisi." Ia meletakkan bungkusan makanan itu di atas kursi terdekat dan praktis berlari keluar. Denting lonceng pintu yang ditinggalkannya terdengar seperti lonceng kematian bagi reputasiku, namun aku tidak lagi peduli pada apa pun.Udara di dalam toko kini terasa lebih berat, dipenuhi aroma mawar yang tajam dan ketegangan yang kian memuncak meski Maya telah menghilang. Shaka tidak beranjak. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya, seolah ingin memastikan bahwa tidak ada satu celah pun

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 19

    Sentuhan sepatu Shaka di kakiku terasa seperti api yang merambat di bawah permukaan air. Aku berusaha keras agar tanganku tidak gemetar saat meletakkan cangkir teh kembali ke tatakannya. Di hadapanku, Nadira sedang sibuk bercerita tentang rencana bulan madu kedua mereka, sama sekali tidak menyadari bahwa suaminya sedang melakukan tindakan provokatif di bawah meja makan keluarga."Mahesa itu bibit unggul, Sekar," Papa melanjutkan, suaranya terdengar penuh otoritas di tengah denting sendok dan garpu. "Papa rasa kalau keluarga Dinata tahu kalian pernah menghabiskan malam bersama, mereka akan langsung meresmikan hubungan kalian."Ujung sepatu Shaka bergerak pelan, menekan batas kesabaranku dengan isyarat yang hanya kupahami seorang diri."Papa, aku rasa...""Apa?! Kak Sekar sudah tidur dengan Mahesa?" Nadira berseru, suaranya meninggi antara terkejut dan tidak percaya."Wajar saja bagi orang dewasa di zaman sekarang, Dira. Lagipula, Mahesa itu pemuda yang sangat bertanggung jawab. Dia sud

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 18

    Aku menyeret koper perak itu menyusuri koridor lantai dua. Beratnya seolah mewakili beban rahasia yang kupikul, namun langkahku tetap kupaksa tenang, nyaris tak bersuara di atas karpet tebal. Aku menghela napas panjang di depan pintu kamar Nadira, menatap koper di tanganku sejenak sebelum mengetuk pintu kayu mahoni yang berat.Tok. Tok. Tok."Masuk," suara Shaka terdengar dari dalam.Aku membuka pintu perlahan. Aroma pengharum ruangan yang terlalu manis memenuhi ruangan. Shaka berdiri membelakangiku di dekat jendela besar. Ia mengenakan bathrobe putih longgar yang memperlihatkan tengkuk kokohnya."Aku menaruh kopernya di sini, Mas," bisikku sembari meletakkan koper itu di dekat sofa.Mendengar derit roda koper, ia berbalik. Matanya yang tadi sedingin es kini menggelap, memancarkan rasa lapar yang selama ini ia tekan rapat di depan istrinya."Berani sekali kamu pergi dengan Mahesa saat aku nggak ada, Sekar," desisnya tepat di depan wajahku. Napasnya beraroma mint, berbaur dengan aura

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 17

    Setelah selesai makan, Mahesa tidak langsung mengajakku pulang. Ia menarik tanganku, menuntunku melewati riuh rendah kerumunan menuju deretan stan permainan pasar malam.Ia berhenti di depan stan Lempar Gelang. Hadiah utamanya adalah sebuah boneka beruang besar yang warnanya sudah agak kusam oleh debu jalanan. Namun, Mahesa menatapnya seolah boneka itu adalah trofi paling bergengsi di dunia."Aku akan memenangkan beruang itu untukmu," katanya penuh tekad."Esa, jangan konyol. Kamu bisa beli seribu boneka yang jauh lebih mewah di mal," bisikku, mencoba menarik lengannya agar kami segera pergi."Ssst," potongnya jenaka sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada penjual. "Lihat dan pelajari, Sekar."Namun, realita ternyata tidak semanis film romantis. Mahesa, dengan segala kecerdasannya di dunia bisnis, ternyata sangat payah dalam urusan membidik botol kaca dengan gelang plastik. Sepuluh lemparan pertama meleset jauh. Lima lemparan berikutnya memantul liar ke segala arah.Aku tertawa

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status