LOGIN
Clarissa Sudjana turun dari sebuah mobil di antara iring-iringan mobil lainnya. Ia menatap sendu rumah keluarga besarnya seraya menarik napas berat. Semua tidak akan sama lagi setelah kepergian kakeknya, Pak Sudjana.
Dengan enggan, ia pun melangkah masuk ke dalam rumah. Saat ia masuk, semua kerabat dekatnya tengah berkumpul dengan pakaian berkabung mereka. “Clarissa, ayo cepat masuk. Semua sedang menunggumu. Mari kita dengarkan notaris membacakan wasiat dari kakekmu,” seru seorang pria paruh baya yang tidak bisa menyembunyikan antusiasmenya. Dia adalah Jatmiko Sudjana, ayahnya. Di sebelahnya tampak Larasati, ibu tirinya yang tersenyum samar di balik matanya yang sembab. Wajah-wajah yang tadinya terlihat mendung dan penuh isak tangis kini berganti dengan wajah bersemangat. Pandangan mereka fokus pada seorang notaris yang duduk di tengah ruangan, siap membacakan isi wasiat terakhir. Hampir tidak ada jeda. Upacara pemakaman baru saja selesai dan mereka langsung membahas masalah warisan. Clarissa tertegun sejenak, kemudian memaksakan langkahnya untuk duduk. Entah kenapa, suara notaris itu begitu samar masuk ke dalam indra pendengarannya. Beberapa menit kemudian, suara ayahnya kembali terdengar. Kini lebih berat dan nyaring. “Ulangi lagi. Baca dengan benar!” Suara notaris itu pun kembali berkumandang. "Seluruh saham pengendali dan jabatan Direktur Utama Sudjana Group diserahterimakan penuh kepada Nona Clarissa Sudjana... dengan syarat, posisi tersebut baru sah setelah Nona Clarissa menikah secara resmi." Kali ini lebih keras dan lebih tegas. Clarissa terpaku, tangannya menghentikan aktivitas melepas sarung tangan yang tengah dipakainya. Direktur Utama? Bagaimana mungkin kakek menyerahkan takhta Sudjana Group kepadanya—seorang wanita yang enam tahun belakangan hanya berkutat dengan tumpukan berkas absensi dan rekap slip gaji karyawan? Suara-suara protes menggema. Bisikan kekecewaan mengudara. Semua mata kini menatapnya tanpa ampun, seakan ia telah melakukan kesalahan terbesar. Matanya bertabrakan dengan tatapan ayahnya yang begitu tajam dan menusuk. Tak pernah ia melihat wajah ayahnya setegang itu. Tangan Larasati menyentuh pundak suaminya, membuat Pak Jatmiko yang tadinya berdiri tegak kembali duduk di sofa. Kedua tangannya menyugar rambutnya frustrasi. “Mari kita menikmati teh hangat dan camilan di ruang tengah dulu, sambil mencerna semuanya dengan hati dingin. Ini memang mengejutkan,” kata Larasati, menenangkan kegaduhan yang sempat terjadi. Suasana kembali tenang. Satu per satu anggota keluarga Sudjana meninggalkan ruang tamu menuju ruang tengah. Clarissa masih terduduk di tempatnya dengan mulut seakan terkunci. Pak Sutejo, notaris keluarga Sudjana, berdiri dari duduknya. Matanya memandang Clarissa dan Pak Jatmiko secara bergantian. Ia pun mengeluarkan dua lembar amplop putih dari mapnya. “Pak Sudjana ingin kalian berdua membaca pesannya ini saat wasiatnya selesai dibacakan,” ujarnya seraya menyerahkannya pada Clarissa dan Pak Jatmiko. Karena dirasa urusannya sudah selesai, Pak Sutejo pun pamit undur diri. Clarissa menerima dan menatap amplop putih itu dengan tatapan kosong. Apakah bisa kakeknya mengatasi masalah akibat wasiatnya hanya lewat sebuah pesan? Ia menarik napas lelah. “Lelucon apa ini? Bahkan setelah pergi pun Ayah masih tidak rela,” seru Pak Jatmiko sinis seraya mengibaskan amplop putih tersebut. “Papi belum membacanya. Jadi kita jangan berasumsi buruk dulu. Ayo kita ke ruang tengah. Semuanya sudah menunggu,” ajak Larasati seraya membimbing suaminya untuk segera beranjak dari ruang tamu. “Clarissa, bagaimana perasaanmu, Sayang? Kau baik-baik saja? Apa kamu mau bergabung?” tanya Larasati ketika melihat Clarissa bangkit berdiri. “Aku mau istirahat. Berikan aku waktu,” ujarnya pelan seraya melonggarkan syal yang entah kenapa terasa terlalu ketat melilit lehernya. Ia pun berjalan pergi menuju kamar pribadinya. Sesampainya di kamar, ia langsung merebahkan tubuhnya yang penat. Ia ingin melupakan semuanya sejenak. Ia masih berharap kakeknya masih ada saat ia terbangun nanti dan semua yang terjadi hanyalah sebuah mimpi. Sebuah ketukan pelan membangunkan Clarissa. Rasanya hanya sebentar ia terlelap. “Iya, siapa?” tanyanya, masih enggan bangkit dari pembaringannya. “Saya Bi Misa, Nona. Semua sudah menunggu Anda untuk makan malam,” kata sebuah suara dari balik pintu. “Iya. Aku akan segera datang,” jawab Clarissa, tidak menyangka kalau ia sudah tertidur hampir dua jam lebih. Ia harus ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya. Ia tersenyum getir ketika menyadari dirinya masih mengenakan pakaian berkabung. Saat akan turun dari ranjang, pandangannya terhenti pada amplop putih yang tergeletak di meja nakas bersama sarung tangannya. Semuanya ternyata bukan mimpi. Ia harus mencoba menerima semuanya. Perlahan ia pun meraih amplop itu dan mengeluarkan isinya. Ia menarik napas, berusaha menguatkan hatinya. Jari-jarinya gemetar meraba tulisan tangan tegas dan familiar—tak salah lagi, ini benar tulisan kakek.Clarissa membaca dengan hati-hati isi pesan itu. Pesannya singkat dan jelas.
"Penyelewengan di cabang B dan C itu bukan sekadar mark up biasa," ujar Mahesa pelan, merendahkan suaranya begitu mereka melangkah menuju halaman samping rumah. "Laporan keuangan tahunan yang selalu tipis itu ternyata hasil dari rekayasa sistematis. Mereka memotong anggaran perawatan, memelihara karyawan fiktif, sampai bekerja sama dengan vendor abal-abal."Clarissa mengangguk memberi kesempatan Mahesa untuk melanjutkan."Sistemnya sudah mengakar cukup lama. Kalau tidak dipotong dari atas, mereka akan terus merasa aman karena menganggap kantor pusat tidak akan memeriksa sampai ke detail operasional bawah."Clarissa memandang lurus ke depan, matanya memancarkan tekad. "Justru karena itu aku butuh bukti yang kamu dapatkan. Kita tidak bisa cuma berdasar dugaan kalau mau memecat—""Nona Clarissa! Pak Mahesa!"Suara sapaan yang ramah memotong pembicaraan mereka. Pak Khamad, tukang kebun berdiri dari posisinya di balik deretan rak kayu. Wajahnya yang berkerut langsung berseri begitu melihat
Pagi itu kamar mereka terasa berbeda.Clarissa bangun lebih awal hampir berbarengan dengan Mahesa. "Biar aku yag kerjakan semuanya," ujarnya ketika Mahesa turun dari sofabednya."Lantas aku ngapain?" tanya Mahesa sedikit bingung."Duduk saja di sofa. Terserah mau ngapain. Nanti jam 7 dr. Cipta akan datang memeriksa tanganmu. Apakah tadi malam masih terasa sakit?"Mahesa menggeleng."Aku tidur nyenyak semalam. Mungkin akibat obat yang kamu berikan.""Syukurlah kalau begitu," kata Clarissa. Dengan rambut diikat seadanya, ia menyibak tirai, melipat selimut di atas ranjangnya, sofa bed Mahesa, dan mulai merapikan meja yang semalam berantakan oleh kotak P3K dan sisa makan malam.Mahesa duduk tenang sambil menyibukkan dirinya dengan ponselnya. Sesekali ia memperhatikan kesibukan Clarissa. Hatinya menghangat membayangkan bila wanita itu benar-benar seperti perempuan lain. Menjadi istri yang sebenarnya untuknya. Lamunan Mahesa buyar ketika sebuah ketukan terdengar dari pintu. Ia melihat ke
Clarissa menatap Mahesa dengan sorot mata haru. “Terima kasih.” Mahesa mengamati pipi Clarissa yang tampak memerah. "Pasti tamparan tadi sakit sekali. Perlu dikompres?" “Tidak apa-apa. Tanganmu sendiri kenapa?” tanyanya menatap perban yang membalut pergelangan tangan Mahesa. “Hanya cedera kecil,” sahut Mahesa seraya mengusap pergelangan tangannya. Ia mencoba mengangkat tangan ke atas meja, tetapi kernyitan kesakitan di wajahnya tak bisa disembunyikan—jelas akibat menahan tangan ibu tiri Clarissa tadi. “Pasti sakit sekali, kan? Sudah kamu periksakan ke dokter?" tanya Clarissa ikut berjengit. Ia segera mengambil kotak P3K. “Tidak usah, Clarissa,” cegah Mahesa. Namun, Clarissa sudah lebih dulu menyentuh perban itu dan mengamatinya dengan saksama. "Aku periksa sebentar. Besok pagi aku panggilkan Dokter Cipta ke mari," kata Clarissa seraya membuka balutan perban di tangan Mahesa dengan pelan dan hati-hati. "Katakan kalau sakit." Mahesa hanya berdehem pasrah. Benar saja, tindakan
Pak Jatmiko menyerahkan lembaran kertas berisi rekam jejak para karyawan yang baru saja di-PHK oleh Clarissa. Garis-garis tegas di wajah pria paruh baya itu memperlihatkan kekecewaan yang tak lagi bisa disembunyikan. Setelah memeriksa setiap detail pelanggaran dan kinerja mereka, Pak Jatmiko akhirnya menghela napas berat. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kali ini ia tidak bisa lagi membela mereka. Mereka memang layak untuk dikeluarkan."Lain kali, kalau kamu mau memecat orang, bilang dulu sama Papa," ujar Pak Jatmiko dengan suara berat namun tenang. "Bukan untuk menghalangi keputusanmu, tapi sebagai bentuk rasa hormatmu pada Papa sebagai seorang ayah. Itu saja."Mendengar penuturan itu, dada Larasati justru makin bergemuruh oleh rasa kesal. Tanpa menyahut sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah pergi menyusuri koridor bersama Pak Jatmiko, membiarkan keheningan yang dingin membungkus langkah mereka.Clarissa akhirnya bernapas lega karena tak harus menghadapi konfrontasi panjang dengan
Clarissa melihat perbincangan di meja makan mendadak terhenti begitu ia melangkah masuk. Semua mata menatapnya dingin. Ia sudah terbiasa dengan atmosfer seperti ini, tetapi kali ini tekanannya terasa lebih membakar.Hanya suara denting alat makan yang beradu dengan piring mengisi keheningan. Semua orang sudah berkumpul. Satu per satu dari mereka mulai mengosongkan piring, kecuali Clarissa yang hanya mengambil sedikit salad. Tadi siang ia sudah makan banyak bersama Pak Budiharjo."Clarissa, kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Pak Jatmiko dengan tatapan tajam.Larasati menyipitkan mata, sementara yang lain menunggu kelanjutan kalimat dari kepala keluarga tersebut."Aku tahu. Tentang mutasi yang aku lakukan, kan? Apa ada yang salah?" tanya Clarissa balik, melirik ibu tirinya dengan senyum tipis.Larasati tersentak. Mirella tampak penasaran sejak mengalami morning sickness beberapa minggu terakhir, ia memang lebih banyak beristirahat di kamar. Sementara itu, Bertrand dan Kevin s
Clarissa membaca pesan Mahesa."Kemungkinan aku butuh tambahan waktu. Aku lanjut ke kota B. Ternyata tak sesimpel yang kukira. Ini ada kaitannya dengan cabang di kota B juga. Mungkin seminggu lagi aku akan pulang." Clarissa mendesah. Sekomplek itu rupanya. Ia harus lebih sabar menahan kerinduan yang tak ia pungkiri kian membuncah di rongga dadanya. Ragu sejenak sebelum akhirnya Clarissa membalas pesan Mahesa."Hati-hati di sana," tulisnya singkat. Pesan tidak langsung di balas. Ada jeda beberapa detik dan balasan Mahesa pun masuk. Clarissa segera membacanya."Kamu juga, Jaga dirimu baik-baik."Dada Clarissa tak urung langsung terasa menghangat. Ia pun membuka galerinya. Di sana ia menyimpan foto Mahesa bersama untuk surat nikah dulu. Sebentuk senyum kecil terbentuk di bibirnya.Ada semangat yang kembali menyala, membuatnya segera bangkit dan berangkat untuk menemui Pak Budiharjo. Tak sampai setengah jam kemudian Clarissa sudah duduk berhadapan dengan Pak Bidiharjo di sebuah meja le







