Share

Bab 32. Linea

Author: dwi23end
last update publish date: 2026-09-08 01:26:08

“Apa boleh aku tahu siapa yang menelponmu?” tanya Clarissa. Ia berharap Mahesa kali ini mau menceritakan tentang keluarganya, tidak lagi menjaga jarak dan menganggapnya sebagai privasi.

Mahesa meminum es kelapa mudanya, tampak sedang menimbang.

“Sejauh apa kamu sudah menyelidiki kehidupan pribadiku?” ucapnya hati-hati.

Clarissa menghembuskan napas pelan.

“Aku hanya tahu kamu adalah perantau dari pulau seberang, indekos di kota ini, berusia 30-an tahun, dan bekerja serabutan. Itu saja. Memang ka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 40.

    Clarissa membaca pesan Mahesa."Kemungkinan aku butuh tambahan waktu. Aku lanjut ke kota B. Ternyata tak sesimpel yang kukira. Ini ada kaitannya dengan cabang di kota B juga. Mungkin seminggu lagi aku akan pulang." Clarissa mendesah. Sekomplek itu rupanya. Ia harus lebih sabar menahan kerinduan yang tak ia pungkiri kian membuncah di rongga dadanya. Ragu sejenak sebelum akhirnya Clarissa membalas pesan Mahesa."Hati-hati di sana," tulisnya singkat. Pesan tidak langsung di balas. Ada jeda beberapa detik dan balasan Mahesa pun masuk. Clarissa segera membacanya."Kamu juga, Jaga dirimu baik-baik."Dada Clarissa tak urung langsung terasa menghangat. Ia pun membuka galerinya. Di sana ia menyimpan foto Mahesa bersama untuk surat nikah dulu. Sebentuk senyum kecil terbentuk di bibirnya.Ada semangat yang kembali menyala, membuatnya segera bangkit dan berangkat untuk menemui Pak Budiharjo. Tak sampai setengah jam kemudian Clarissa sudah duduk berhadapan dengan Pak Bidiharjo di sebuah meja le

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 39.

    Wajah Mahesa muncul dalam layar ponsel Clarissa. “Hai,” sapa pria itu sedikit canggung. “Mahesa, kamu mengejutkanku,” kata Clarissa melihat pria itu tampak lebih hitam dari awal berangkat. Wajahnya juga terlihat sedikit lelah. “Apa semua baik-baik saja?” tanya Mahesa dengan wajah ramah. Tatapanya dalam membuat dada Clarissa berdesir halus, Clarissa menjadi familiar dengan debar aneh ini. “Ya, semuanya lancar. Bagaimana keadaan di sana?” tanya Clarissa mengusap rambutnya menagatasi rasa canggung. “Aku akan menceritakan semuanya ketika pulag nanti. Baik-baik Clarissa. Jangan mabuk lagi alasan apapun itu. Kamu nggak kuat minum,” Sebentuk senyum kecil muncul di sudut bibir Mahesa. Wajah Clarissa langsung memanas. Ingatannya tentang kejadian itu berputar lagi di kepalanya. Spontan ia menundukkan kepalanya. Lama dalam hening sampai Mahesa memutuskan untuk memutuskan panggilan video call mereka. “Sudah dulu ya. Kamu pasti lelah baru pulang kerja. Jangan lupa minum susu jahe. Min

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 38.

    Mahesa membeku seketika. Untuk beberapa detik bibir mereka bertemu sampai Mahesa melihat bulir bening di sudut mata Clarissa. Ia pun menarik dirinya dan menghapus air mata Clarissa. “Ica sayang, kamu butuh istirahat,” ujarnya dengan suara serak. Ia pun memeluk gadis itu dan mengusap punggungnya perlahan. Clarissa memejamkan matanya tampak nyaman. Dengan hati-hati Mahesa membaringkan Clarissa di atas ranjangnya. Malam itu Mahesa tetap mendekap Clarissa sampai gadis itu benar-benar terlelap. ******* Keesokan harinya, Clarissa terbangaun dengan kepala pusing luar biasa. Matanya mengerjap ketika menangkap sinar matahari yang masuk melalui kaca jendela kamar. Ia menggeleng pelan, melihat jam di dinding menunjukkan pukul 9 pagi. Dia sudah kesiangan hari ini. Untungnya ini hari minggu. Samar-samar ia mulai mengingat semua yang terjadi tadi malam. Ia bangun dan duduk, saat ingatannya memutar ulang adegan dirinya mencium Mahesa, ia memukul guling di sampingnya berulang kali. Kenapa ia

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 37.

    “Menemani?” tanya Mahesa menggantung di udara. Clarissa mengangguk mantap. “Lusa ada acara gala dinner pameran untuk donasi. Kita keluarga Sudjana biasanya selalu datang. Aku ingin kali ini kamu menemaniku untuk menghadirinya,” terang Clarissa. “Ya, aku akan menemanimu,” jawab Mahesa sedikit ragu. Ia tidak pernah mengikuti acara para orang kaya. Clarissa tahu keraguan Mahesa. “Biasanya aku hadir mendampingi kakek,” ucap Clarissa tersendat. Raut wajahnya terlihat sedih. Mahesa mengangguk menyanggupi tanpa banyak kata. ******** Lampu kristal ballroom galeri seni malam itu berpijar megah, memantulkan kemewahan dari aneka karya lukis yang dipajang di seluruh dinding Galeri seni. Clarissa berdiri dengan setelan blazer gelapnya. Ekspresinya dingin, serius. Ia terlihat canggung bergandengan dengan Mahesa. Sesekali ia mengangguk memaksakan senyum kecil ketika para tamu lain menyapanya. Mahesa mencoba untuk tetap tenang dan santai menyesuaikan suasana yang baru ia rasakan.

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 36.

    Mahesa menarik napas panjang, lalu berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang, persis di hadapan Clarissa. Sorot matanya kini melunak, menggantikan keraguan yang sempat membeku di wajahnya. "Ica... aku tahu kamu capek banget hari ini. Dari pelantikan, saham turun, sampai makan malam yang penuh intrik tadi," ujar Mahesa pelan, suaranya terdengar begitu menenangkan. "Tapi kalau kamu benar-benar ingin tahu, aku akan cerita." Clarissa mengangguk mantap, menatap Mahesa tanpa ragu. "Aku butuh tahu, Mahesa. Jangan sembunyikan apa pun." "Sore tadi, sebelum kamu pulang, aku sempat mendengar obrolan Pak Jatmiko dan Paman Darko di ruang tengah," Mahesa memulai dengan tenang. "Mereka tidak cuma sekadar makan malam atau bicara soal golf. Pak Jatmiko sedang menggalang dukungan dari keluarga besar dan beberapa pemegang saham minoritas." Dada Clarissa berdesir. Rasa lelah yang sempat menggelayutinya mendadak sirna, berganti dengan kewaspadaan penuh. "Jadi... aksi lepas saham sejak semalam

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 35.

    Clarissa, Mahesa, dan Mandy berjalan beriringan menuju ruangan direktur utama. Mereka saling bergeming saat lift membawa mereka ke lantai teratas gedung. Beberapa menit kemudian, pintu lift terbuka. Mereka berpapasan dengan beberapa anggota komisaris dan dewan direksi. Orang-orang itu mengangguk hormat pada Clarissa, lalu kembali melangkah menuju ruangan lain sambil berbisik-bisik.Ketiganya tetap melanjutkan langkah menuju ruangan yang kini menjadi kantor baru Clarissa. Mahesa terlihat mengagumi gedung Sudjana Group. Gedung berlantai 20 itu merupakan kantor pusat dari gurita bisnis milik Sudjana Group, termasuk perusahaan manufaktur yang dipimpin Clarissa.Setibanya di dalam ruangan, Clarissa langsung duduk di sofa, disusul oleh Mahesa."Nah, katakan Mandy, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Clarissa sambil menyilangkan kaki, bersiap menghadapi kejutan yang ada. Sementara itu, Mahesa mengedarkan pandangannya, mengamati interior dan furnitur di ruangan tersebut."Saham Sudjana Manufa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status