Share

Bab 2

Author: Muriaz
Aku berkata dengan nada bercanda, "Kalau begitu, kamu bakal ngasih aku perlakuan khusus?"

Juno sedikit mengernyit dengan ekspresi serius. Tak ada sedikit pun senyum di matanya.

Setelah terdiam sejenak, dia berkata, "Ini keputusan jajaran petinggi perusahaan. Proposal yang terpilih juga bukan aku seorang yang menentukan."

Maksudnya jelas, meskipun aku istrinya, dia tetap tidak bisa memberi perlakuan khusus.

Aku tidak bertanya lebih lanjut.

Juno memang selalu seperti ini, dingin dan acuh tak acuh. Dia memiliki prinsip dan logikanya sendiri dalam bertindak, serta tak pernah bersedia membuat pengecualian untukku. Sedangkan aku selalu mempermalukan diriku sendiri dengan berharap bisa menjadi pengecualian baginya.

Juno beranjak pergi dan masuk ke ruang kerja. Pintu ruang kerja tidak tertutup rapat.

Aku bisa mendengarnya sedang berbicara di telepon. Suara Shifa terdengar dari seberang telepon. Sesekali Juno tertawa pelan menanggapi Shifa.

Setelah menutup telepon, dia membuka pintu ruang kerja. Dia berjalan menuju pintu masuk, lalu mengambil mantel yang tergantung di rak. Dia mengenakan mantel dan mengganti sepatunya dengan sepatu kulit.

Setelah berdiri tegak, dia berkata kepadaku, "Malam ini ada acara bisnis. Aku keluar sebentar."

Aku mengangguk.

Juno sangat tampan. Wajahnya tegas dengan hidung mancung dan bibir tipis. Di balik mantel hitam pekatnya, dia mengenakan setelan jas yang pas di tubuh, membuat posturnya terlihat semakin tegap.

Sosoknya menghilang di balik pintu rumah.

Malam itu, dia baru pulang larut sekali. Semua pertanyaan yang tadinya ingin kuajukan langsung kutelan kembali setelah melihat unggahan Shifa di media sosial.

Shifa mengunggah sebuah foto bersama. Ada empat orang dalam foto itu. Shifa, Juno, dan dua orang lainnya yang merupakan teman kuliah mereka.

Begitu melihat foto tersebut, aku merasa tak perlu lagi menanyakan pertanyaan itu.

Aku tadinya ingin bertanya kepada Juno apakah dia akan memihak Shifa. Kurasa dia akan melakukannya. Dulu, setiap kali Juno menghadiri acara sampai larut malam, aku terbiasa membiarkan satu lampu tetap menyala untuk menunggunya pulang.

Kali ini, aku mematikan lampu dan tidur dengan nyenyak.

Saat terbangun keesokan harinya, aku dan Juno bahkan tidak sempat bertemu. Kami langsung berangkat ke kantor masing-masing. Semua orang di divisi desain kami menyanjung Shifa dan terus mengerumuninya.

Semua orang tahu betul bahwa kalau bukan karena Shifa, Juno tidak mungkin memilih perusahaan kami.

Aku dan Shifa tidak akur, itu urusanku sendiri. Rekan-rekan kerjaku hanya perlu memikirkan bonus akhir tahun dan apakah target kinerja mereka bisa tercapai tepat waktu.

Hari ini, Juno datang ke perusahaan sebagai investor.

Atasan memanggil Shifa untuk menemuinya. Saat Shifa kembali, semua mata langsung tertuju kepadanya.

"Kak Shifa, Pak Juno galak nggak?"

Sudut bibir Shifa sedikit terangkat. Jawabannya terdengar samar dan penuh makna, "Aku dan Pak Juno sudah saling kenal cukup lama. Dia nggak galak. Jadi, kalian semua tenang saja."

Beberapa orang saling bertukar pandang, lalu tersenyum penuh pengertian.

Aku sudah membuka tautan tentang kisah cinta Shifa dan Juno dan membacanya sampai selesai. Kalau aku bukan istri Juno, mungkin aku juga akan menghela napas kagum dan berkata bahwa cinta di masa muda memang begitu indah.

Sayangnya, saat membaca kisah cinta Juno dan Shifa yang dirangkum oleh teman-teman kuliah mereka, yang kurasakan hanya kepedihan.

Shifa masih memiliki akun blog yang digunakannya semasa kuliah dan belum dihapus. Isinya penuh dengan catatan keseharian mereka saat berpacaran. Seolah menyiksa diri sendiri, aku membaca semua unggahan di akun itu sampai selesai.

Semakin banyak yang kubaca, semakin kusadari bahwa Juno benar-benar sangat mencintainya.

Juno akan membaca setiap unggahan Shifa dengan sabar sampai selesai, kemudian memberikan komentar dan tanda suka. Bahkan Juno-lah yang lebih dulu mengejar Shifa.

Sedangkan aku membutuhkan waktu satu tahun penuh untuk mengejar Juno.

Saat pertama kali mengetahui bahwa mantan pacar Juno adalah Shifa, sempat muncul sedikit rasa puas dalam hatiku. Rasanya seperti akhirnya aku berhasil membalas Shifa.

Namun, tak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari bahwa aku kalah telak. Fakta bahwa mantan pacarnya masih ada di hati Juno adalah penghinaan besar bagiku. Itu membuat Shifa kembali berhasil mengungguliku.

Aku dan Shifa sudah menjadi rival sejak SMP.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Memilih Cinta Pertama, Perceraian Pilihanku   Bab 10

    "Kalian semua adalah milik Shifa."Juno menatapku, lalu perlahan menggeleng. "Irene, aku memihakmu.""Kamu ... bisa kembali padaku?" Nada bicaranya terdengar hati-hati, penuh permohonan.Aku menyodorkan surat perjanjian cerai ke hadapannya. "Tanda tangan."Setelah bercerai dengan Juno, aku mendapatkan setengah dari hartanya.Setelah semua ini selesai, aku pergi ke luar negeri. Aku pergi untuk mencari ibuku.Sesampainya di sana, setelah bersenang-senang selama beberapa waktu, aku mulai mengikuti orang-orang yang bekerja di bawah ibuku untuk belajar.Dia berkata, "Irene, Ibu cuma punya kamu. Semua yang Ibu miliki adalah milikmu. Dia juga hanya punya kamu sebagai anaknya. Semua hartanya juga akan menjadi milikmu.""Terluka dalam sebuah hubungan bukanlah masalah besar. Kamu hanya perlu memulai kembali dari awal.""Ibu tahu selama ini kamu tetap tinggal di tanah air demi membela Ibu, tapi kalau Ibu tahu kamu akan semenderita ini, Ibu pasti sudah membawamu kemari.""Ibu dan dia sudah sepakat

  • Suami Memilih Cinta Pertama, Perceraian Pilihanku   Bab 9

    "Waktu aku jatuh, kamu malah menolong dia. Setiap perkataan dan tindakanmu juga selalu berpihak padanya."Saat Juno dan Shifa bertemu di rumah Keluarga Jayadi, tatapan mereka bahkan seolah begitu mesra.....Aku menyelesaikan proses pengunduran diri terakhir. Atasanku meminta maaf kepadaku dengan penuh hormat."Bu Irene, ini adalah kesalahanku. Maaf. Aku termakan gosip dan mengira Pak Juno tergoda oleh kecantikan wanita, lalu mengira dia berinvestasi demi Shifa.""Jadi, aku berbohong ke semua orang kalau Pak Juno memilih desain Shifa. Aku menjadikan Shifa sebagai penanggung jawab proyek ini agar dia bisa lebih sering berhubungan dengan Pak Juno. Kupikir dengan begitu aku bisa menyenangkan Pak Juno."Dia membungkuk dalam-dalam dan meminta maaf kepadaku. Nada bicaranya terdengar penuh bujukan."Bisa ... tolong minta Pak Juno sedikit bermurah hati? Aku susah payah bisa sampai di posisi ini. Aku masih punya orang tua yang harus kuurus dan anak-anak yang harus kubesarkan."Aku menatapnya. "

  • Suami Memilih Cinta Pertama, Perceraian Pilihanku   Bab 8

    "Irene adalah istriku.""Karena Bu Shifa baik-baik saja, aku akan membawa istriku pergi lebih dulu."Melihat ekspresi Shifa yang tak percaya, sekaligus wajahnya yang tampak canggung, hatiku penuh rasa puas.Aku melewati lorong dengan cahaya yang redup. Aku keluar dari bar, lalu naik lift menuju tempat parkir bawah tanah.Di kaca spion, aku melihat sosok pria dengan wajah tampan dan bersih. Dia berjalan cepat ke arah mobilku.Aku langsung menginjak pedal gas dan melaju kencang meninggalkan tempat parkir. Wajahnya pun menjadi masam. Dia segera masuk ke mobilnya sendiri.Saat berikutnya, sebuah sedan hitam terus mengejarku dari belakang. Aku berusaha keras untuk melepaskan diri darinya.Akhirnya, kami tiba di garasi rumah dengan jarak tidak jauh dari satu sama lain.Dia langsung membuka pintu mobil dengan kasar. Wajahnya tampak dingin. "Kamu tahu betapa bahayanya mengemudi secepat itu?"Aku tidak menghiraukannya. Setelah masuk ke rumah, dia langsung mencengkeram lenganku dan merangkul pin

  • Suami Memilih Cinta Pertama, Perceraian Pilihanku   Bab 7

    Demi menikahi Linda, Harfi benar-benar bersedia menandatangani perjanjian itu. Setelah dia meninggal, semua hartanya akan menjadi milikku.Nantinya, kalau aku bercerai dengan Juno, aku juga akan mendapatkan setengah dari hartanya.Shifa mendapatkan cinta Harfi, juga hati Juno. Tidak masalah jika yang kudapatkan hanyalah uang.Setelah kembali ke kantor, aku langsung mulai melakukan serah terima pekerjaan. Chika memberitahuku bahwa Jumat ini akan diadakan pesta perayaan untuk Shifa.Aku tidak berniat datang.Semua orang melihatku berkemas dan menyerahkan pekerjaanku. Orang-orang yang bekerja di bawah Shifa menganggap aku tidak bisa menerima kekalahan.Aku bisa paham kenapa mereka memihak Shifa. Bagaimanapun, Shifa adalah atasan mereka.Semua orang hanya bekerja untuk mencari nafkah. Tentu saja, siapa yang punya kuasa, dialah yang akan mereka ikuti.Jadi, aku malas mempermasalahkannya.Chika menarik ujung bajuku. "Kak Irene, kamu benar-benar mau mengundurkan diri?"Aku menunduk dan memelu

  • Suami Memilih Cinta Pertama, Perceraian Pilihanku   Bab 6

    Saat Shifa tidak ada, rekan-rekan kerja bergurau sambil menggoda."Pak Juno benar-benar rela menghamburkan uang sebanyak itu cuma demi bikin si cantik tersenyum."Mata para rekan kerja muda yang belum menikah dipenuhi angan-angan tentang cinta."Memang benar ya. Pria baik ternyata belum tentu ada yang punya.""Pak Juno sudah bersama Bu Shifa sejak kuliah.""Bahkan Pak Juno yang lebih dulu mengejar Bu Shifa."Tiba-tiba, seseorang mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pada tempatnya."Sepertinya Pak Juno sudah menikah."Suasana langsung semakin heboh."Sialan, ternyata istri Pak Juno itu Bu Shifa!""Oh, jadi Pak Juno datang untuk membela istrinya."Di tengah semua itu, aku menerima telepon dari Juno. Nada deringnya terdengar mendesak.Aku memutuskan panggilannya, tetapi dia menelepon lagi. Aku langsung mengaktifkan mode "jangan ganggu". Akhirnya, telepon itu berhenti.Chika mendekat ke sampingku dan menatapku dengan sedikit khawatir. Dia memelankan suaranya. "Kak Irene, jangan sedih."

  • Suami Memilih Cinta Pertama, Perceraian Pilihanku   Bab 5

    "Memang sangat serasi."Kepanikan sekilas melintas di mata Juno yang biasanya acuh tak acuh. Bibir tipisnya sedikit terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu.....Begitu pintu lift terbuka, aku segera berjalan cepat keluar. Dari belakang, terdengar suara pria yang dalam dan tergesa-gesa memanggilku, "Irene."Tanpa ragu ataupun berhenti, aku terus melangkah pergi.Aku menjauh dari kerumunan.Air mataku akhirnya mengalir tak terkendali. Segala rasa sedih, sakit hati, dan kepedihan yang kupendam seketika membuncah.Saat berusia 14 tahun, aku mendapat kabar bahwa ibuku mencoba bunuh diri dan masuk ICU, sementara ayahku memiliki wanita simpanan.Saat itu aku begitu tak berdaya dan kehilangan arah.Ketika Juno menahan tamparan Harfi yang hendak mendarat di wajahku, aku menganggapnya sebagai penyelamatku. Namun, semua yang mati-matian ingin kupertahankan selalu gagal kupertahankan. Semuanya selalu jatuh ke tangan Shifa.Sepertinya keberuntunganku selalu kurang sedikit.Aku bersembunyi di area

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status