Share

Bab 121

Penulis: Vhiena Vhie
last update Tanggal publikasi: 2026-06-15 14:55:12

Althan Swargantara berdiri tenang dengan kedua tangan menyusup ke dalam saku celana. Tubuhnya tinggi. Posturnya tegap. Wajahnya tenang tanpa riak emosi.

Tetapi entah kenapa, ketenangan itu justru membuat kehadirannya terasa semakin sulit diabaikan. Seakan seluruh koridor ini tanpa sadar berubah menjadi wilayah yang dikuasainya.

Harsya membeku. Untuk sesaat, suara-suara di koridor rumah sakit seolah menjauh. Yang terdengar di telinganya hanyalah beberapa kalimat yang diucapkan oleh pria di dep
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 121

    Althan Swargantara berdiri tenang dengan kedua tangan menyusup ke dalam saku celana. Tubuhnya tinggi. Posturnya tegap. Wajahnya tenang tanpa riak emosi.Tetapi entah kenapa, ketenangan itu justru membuat kehadirannya terasa semakin sulit diabaikan. Seakan seluruh koridor ini tanpa sadar berubah menjadi wilayah yang dikuasainya.Harsya membeku. Untuk sesaat, suara-suara di koridor rumah sakit seolah menjauh. Yang terdengar di telinganya hanyalah beberapa kalimat yang diucapkan oleh pria di depannya.Di ambang pintu ruang rawat, Kanina juga terpaku. Jari-jarinya yang semula menggenggam gagang pintu perlahan mengendur.Kedua netranya menatap lurus ke arah Althan dengan campuran perasaan yang sulit dijelaskan—terkejut, bingung dan tak percaya.Dia sama sekali tidak menyangka Althan akan muncul tiba-tiba seperti ini, berdiri menghalangi Harsya dan berbicara seolah mewakili dirinya.Di sisi lain, Harsya juga tidak pernah menyangka dirinya akan dihalangi oleh seorang Althan Swargantara

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 120

    Keesokan harinya, langit di luar jendela rumah sakit tampak mendung. Awan-awan kelabu menggantung rendah, membuat suasana terasa sedikit suram meskipun hari masih siang. Kanina duduk sendirian di kursi yang berjajar di depan ruang rawat Artanti. Tatapannya jatuh pada layar ponsel yang menyala, menatap nomor yang dia simpan dengan nama Althan. Jemarinya bergerak di atas layar, berhenti sebentar di atas tombol panggil, lalu mundur lagi. Dia menghela napas pelan sambil menyandarkan kepala ke tembok di belakang. Sejak kemarin dia terus memikirkan tagihan rumah sakit. Dan semakin dipikirkan, semakin dia yakin bahwa yang membayar tagihan itu kemungkinan besar memang Althan. Ciri-ciri yang disebut petugas terlalu cocok. Selain Althan, Kanina tidak bisa memikirkan orang lain yang mungkin melakukan hal semacam itu. Tetapi justru karena itulah dia semakin bingung. Haruskah dia menelepon? Haruskah dia bertanya secara langsung? Bagaimana kalau ternyata bukan Althan? Dan kalau mem

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 119

    Saat mendengar bagaimana petugas itu menggambarkan sosok pria yang membayar tagihan rumah sakit ibunya, Kanina tidak bisa membayangkan orang lain selain Althan.Dia langsung teringat kejadian hari itu. Saat Althan membantu membawa ibunya ke rumah sakit. Pria itu tidak langsung pergi, tapi ikut menunggu di depan ruang UGD.Tanpa banyak bicara, tanpa berusaha keras menghiburnya, hanya menyodorkan sebotol air minum, lalu duduk agak jauh di sebelahnya dan mengucapkan beberapa patah kata sederhana. Saat dokter keluar dan mengajaknya bicara di ruangan lain tentang kondisi ibunya, Althan dengan tenang dan sopan menawarkan diri untuk menemaninya.Memikirkan semua itu, jemari Kanina yang memegang lembar tagihan rumah sakit perlahan mengencang. Dadanya dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan.“Apa benar dia?” gumamnya bingung.Sampai sekarang, Althan masih terasa asing baginya. Walaupun sudah sering bertemu, tetapi setiap kali berhadapan dengan pria itu, Kanina selalu merasakan kecanggun

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 118

    Beberapa hari setelah dirawat di ICU, Artanti akhirnya dipindahkan ke ruangan lain. Bukan karena kondisinya sudah membaik sepenuhnya. Bukan pula karena sudah sadar.Artanti masih terbaring tanpa membuka mata. Masih belum memberikan respons. Masih berada dalam kondisi yang membuat hati Kanina terasa seperti digantung setiap saat.Namun, dokter menjelaskan bahwa kondisi vitalnya sudah jauh lebih stabil dibandingkan sebelumnya. Tekanan darahnya berhasil dikendalikan.Perdarahan di otaknya tidak menunjukkan tanda-tanda bertambah luas berdasarkan pemantauan yang dilakukan selama beberapa hari terakhir.Meski kesadarannya belum kembali, tetapi Artanti sudah tidak perlu dirawat di ICU dan sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan intensif lanjutan. Ruangan itu memang masih dipenuhi aroma obat dan suara monitor yang berdetak pelan, tetapi terasa lebih baik bagi Kanina yang akhirnya bisa menemani ibunya setiap saat.Pagi itu, Kanina berdiri di samping ranjang sambil memperhatikan para p

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 117

    Hari-hari berikutnya berlalu dengan lambat. Terlalu lambat. Seolah waktu sengaja berjalan lebih pelan ketika seseorang sedang menunggu sebuah keajaiban.Setelah menjalani observasi ketat di ruang resusitasi, Artanti akhirnya dipindahkan ke ICU. Namun kepindahan itu tidak membawa kabar yang lebih baik.Wanita tua itu masih belum sadar. Masih terbaring diam di atas ranjang rumah sakit dengan berbagai alat pemantau yang terus bekerja tanpa henti.Setiap hari, dokter datang memeriksa kondisinya. Setiap hari pula Kanina menunggu dengan harapan yang sama.Berharap mendengar kalimat yang berbeda. Berharap seseorang mengatakan bahwa ibunya sudah membuka mata. Atau setidaknya menunjukkan sedikit respons.Namun harapan itu belum juga menjadi kenyataan. Kanina terus menunggu, meski tak bisa selalu berada di samping Artanti.Ruang ICU bukan tempat yang memungkinkannya untuk menemani sang ibu sepanjang waktu. Ada aturan. Ada jadwal kunjungan. Ada batasan yang harus dipatuhi.Jadi, Kanina ti

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 116

    Udara dingin langsung menyambut Kanina begitu dia melangkah masuk ke dalam ruang resusitasi. Aroma antiseptik yang khas memenuhi indera penciumannya.Ruangan itu terang. Terlalu terang. Lampu putih di langit-langit memantulkan cahaya yang membuat segala sesuatu di dalamnya terlihat pucat dan dingin.Suara monitor terdengar bersahutan dari berbagai arah, membentuk irama mekanis yang membuat suasana terasa semakin menekan.Beberapa pasien lain berada di ranjang yang terpisah oleh tirai-tirai pembatas. Namun perhatian Kanina hanya tertuju pada satu orang—ibunya.Artanti terbaring diam di atas ranjang. Infus terpasang di punggung tangannya. Kabel monitor terhubung ke tubuhnya, sementara alat pemantau di samping ranjang menampilkan garis-garis dan angka yang terus bergerak.Pemandangan itu membuat dada Kanina terasa semakin sesak. Perlahan, dia berjalan mendekat. Kakinya terasa berat. Seolah setiap langkah yang diambil membuat kenyataan semakin jelas.Sampai akhirnya dia berdiri tepa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status