LOGIN“Ibu!”Dalam satu kali tarikan napas, aku berteriak sekeras-kerasnya. Tindakanku ini mengundang rasa penasaran Ayah, dia datang ke kamarku.“Kenapa kamu teriak? Kenapa dengan ibumu?” tanya Ayah.Aku menggeleng pelan, kulihat Ibu tidak bergerak sama sekali. Wajahnya pun memucat.“Aku tidak tahu, Yah. Ibu nggak bangun-bangun!” jawabku.Ayah meraih tubuh Ibu, lantas membawanya keluar dari rumah ini.“Kunci pintunya, kita harus bawa ibumu ke rumah sakit!” titah Ayah.Aku menurut, setelah aku mengunci pintu, aku lantas menyusul Ayah memasuki mobil.Ayah mulai melajukan mobil ini.Aku sedih, hatiku sakit, di saat aku membuka kembali hatiku untuk Ibu, aku malah melihat Ibu seperti ini. Rasa sakit ini kian bertambah.“Ibu bangun, Bu!” Suaraku nyaris tidak terdengar.“Sabar, ya! Ibumu pasti akan baik-baik saja!” ucap Ayah.Kami telah sampai di rumah sakit, dan dokter segera menangani Ibu.“Ayah! Apakah aku termasuk orang yang jahat?” tanyaku. Aku mendongak menatap wajah ayah.Ayah mengusap bah
“Kenapa kamu lihatin Ayah seperti itu?” tanya Ayah.Cepat-cepat aku menggeleng, aku tidak mungkin langsung menyemprot Ayah dengan pertanyaan yang menohok. Aku akan mencari tahu sendiri tentang siapa Ayah sebenarnya.“Tidak apa-apa, hanya saja Ayah terlihat kusut. Aku habis main sebentar. Maaf, nggak izin dulu!” ucapku.“Kebetulan kamu datang, Tristan. Pokoknya malam ini kamu tidak boleh melarangku untuk memasak. Suka atau tidak, kamu mau marah atau tidak, malam ini aku akan tetap memasak untuk Elia, untuk kita bertiga,” ucap Ibu.Sebelah alis Ayah terangkat, mungkin Ayah heran dengan sikap Ibu.“Ayah pasti bingung, kan, kenapa Ibu mau masak malam ini?” Aku merangkul bahu Ibu.“Aku yang minta, aku rindu masakan Ibu!” imbuhku.Ayah membulatkan matanya sempurna. Kedua matanya berbinar.“Tunggu-tunggu, ini ada apa, ya? Kok tiba-tiba sekali kamu mau masakan Ibu kamu. Apakah kalian berdua sudah akur gitu?” tanyanya.Aku menghela napas dalam. Kuanggukan kepala ini.“Aku sudah minta maaf sama
“Kamu menikmatinya?” bisiknya. Suaranya halus, nyaris tidak terdengar.Hembusan napasnya menerpa kulit wajahku, membuat tubuhku meremang. Seketika aku kembali teringat adegan yang baru saja aku saksikan.“Tidak! Aku tidak menikmatinya. Apa-apaan? Aku tidak suka, sumpah, aku hanya ingin pulang. Aku hanya terjebak dalam situasi sulit. Mana mungkin aku menikmati pertunjukan kalian, di saat aku sedang berdiam ketakutan,” sanggahku.Arion tersenyum miring, membuang muka sejenak.“Mau mencoba mengelabuiku? Mulutmu mungkin bisa berkata bohong, tapi matamu tidak bisa menipuku, Elia!” ucapnya.Aku ketakutan, aku tidak bisa terus menerus berada di sini. Ternyata Arion tidak sepolos yang aku bayangkan.Aku mendorong tubuhnya hingga berhasil menjauh. Aku terbebas dari himpitannya.“Maaf, aku harus pergi!”Cepat-cepat aku keluar dan berlari dari kamar ini. Setelah berada di teras, terlebih dulu aku memastikan keadaan sekitar.Aman, tidak kulihat lagi orang jahat itu di sekitar sini. Aku menggunaka
Sekecil apa pun, aku berusaha tidak menimbulkan suara, yang bisa mengganggu mereka.Untuk saat ini, aku berada di posisi yang sangat sulit. Tindakanku lancang, sehingga tak sengaja aku menyaksikan kegiatan privasi orang lain. Aku … aku menyaksikan adegan ranjang secara live.Aku berniat keluar. Namun, nyawaku dalam bahaya. Mungkin aku harus berdiam sebentar di sini, menunggu situasi di luar aman.Aku bersembunyi di samping lemari. Aku rasa ini tempat yang aman untukku.Suara lenguhan, suara keintiman itu begitu terdengar memenuhi udara di dalam kamar ini. Jujur aku risih, hal semacam ini adalah pengalaman pertama bagiku. Melihat pertempuran dua manusia berbeda jenis di atas ranjang yang sama.Aku berusaha menutupi mataku dengan kedua tangan.“Jangan dilihat!” batinku. Jantungku tidak bisa kukontrol.Namun, jari tangan sialan ini berkali-kali merenggang, memberi celah untuk kedua mataku supaya bisa melihat pertunjukan panas ini.“Sayang, aku rasa sudah waktunya kamu membawaku bertemu d
“Jangan-jangan dia orang jahat yang lagi pura-pura pingsan!” batinku menerka-nerka.Aku menoleh ke sana kemari, tidak ada orang lain selain aku dan orang itu.Tidak, aku tidak sepolos itu. Fix! Dia pasti pura-pura pingsan demi menjarah barang-barang orang yang lewat, lebih parahnya membahayakan nyawa. Nahas sekali, kenapa aku harus melewati jalur ini?Dering telepon pun akhirnya mati, aku tidak sempat mengangkatnya. Aku juga tidak bisa menghubungi Neni balik untuk saat ini. Perlahan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara, aku berjalan menjauh dari orang itu. Beberapa kali kepalaku tak bisa diam, kaki terus berjalan, sedangkan kepalaku pun terus menoleh ke belakang, memastikan apakah orang itu bangun dan mengejar?Tidak, orang itu tetap dalam posisi yang sama, tidak sadar.“Aku bukan orang bodoh, aku tidak akan tertipu!” gumamku.Sampai kaki ini menginjak sekitar dua puluh meter aku menjauh, orang itu sama sekali tidak kunjung bangun apalagi mengejar. Aku menghentikan langkah ini, pe
“Maksud Tante apa?” tanyaku.Ucapan Tante Ella berhasil membuatku bertanya-tanya. Yang aku tangkap, Tante Ella tahu banyak tentang ayahku.“Waktu Tante tidak banyak, kami harus pergi!” jawabnya.Aku berlari ke arah pintu, aku mengunci akses keluar rumah ini. Aku pun berdiri menghalangi kunci yang masih menggantung pada lubangnya.“Apa-apaan kamu, Elia? Kamu jangan coba menghalangi kami, ya! Cukup! Jangan buat Tante kehabisan kesabaran karena sikapmu,” sergahnya.Aku menggelengkan kepala pelan. Sikap Tante Ella padaku telah berubah.“Aku hanya butuh penjelasan, Tan. Aku hanya ingin tahu, kenapa Tante bersikap seperti itu. Sepertinya Tante tahu betul siapa ayahku. Jelaskan, Tan, kenapa dengan ayahku? Kenapa Tante bisa bicara seperti itu?” tanyaku.Tidak ada sedikit pun niatku untuk menyingkir dari sini, sebelum Tante Ella menjelaskan apa yang dia tahu.“Kamu bisa cari tahu sendiri, Elia. Tante tidak ingin mengambil resiko. Salah-salah, kami bisa berada dalam bahaya!” jawabnya.Justru ha







