ログインAku duduk bersimpuh di depan Ayah. Kuraih jari tangan kirinya, hanya ada empat?Aku sampai tergugup ketika bertanya. Bahkan kedua mataku tiba-tiba berembun.Kutatap wajah tua milik Ayah. Sendu, seolah banyak sekali kekhawatiran yang ia simpan di dalam kepalanya.“Tangan ayahmu tidak sengaja terkena benda tajam saat memotong kayu. Ayah banyak melamun setelah mengalami mimpi buruk tentang kamu, Sophia. Padahal mimpi itu hanya bunga tidur. Tapi Ayah masih saja kepikiran,” jelas Ibu.Aku mencium tangan Ayah.“Apakah sakit?” tanyaku. Ayah menggeleng.“Sakit di tangan ini lebih mudah diobati, dibanding rasa khawatir Ayah. Entah kenapa, Ayah merasa mimpi itu seperti sebuah firasat. Nak, bisakah kamu tinggal dulu di sini, jangan kembali dulu ke rumah suamimu?” pintanya.Aku menatap sendu, prihatin melihat kondisi cinta pertamaku. Kembali kulayangkan kecupan singkat di punggung tangannya.“Aku minta izin dulu, ya, sama Tristan!” ucapku. Ayah mengangguk.Kini kami semua telah berada di ruang ke
“Ada apa?” tanya Tristan.Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Mengamati sandal yang sangat mirip dengan milik Tristan.“Katakan, apakah sandal ini milikmu?” tanyaku.Sebelah alis Tristan terangkat. Menatap sandal yang ada di teras kontrakan Stella.“Bukan! Sandalku yang asli yang kamu pegang. Memang sepintas sangat mirip. Tapi lihatlah dengan teliti, ada perbedaannya,” jelasnya.Aku mengamati sandal tersebut. Dan … ya, tepat sekali. Merknya sedikit berbeda. Aku telah berburuk sangka pada suamiku sendiri.“Ja-jadi ….”“Heem! Yang itu imitasi. Jadi … kamu marah padaku gara-gara sandal ini?” tanyanya.Aku berdiri, kepala menunduk. Wajahku terasa panas ketika situasi berbalik. Aku yang jahat, bukan Tristan.Aku menarik tangan Tristan, menjauh dari kontrakan Stella. Tidak kulihat wanita itu muncul ketika kami tengah meneliti sandal yang menjadi objek alasan kemarahanku.Sesampainya di teras samping, kami berhenti. Kutatap kembali lelaki ini.“Maafkan aku!” Aku berhambur ke dalam pelukan
Aku sudah tidak mampu lagi berpikir jernih. Aku telah terbakar api cemburu. Emosi ini sudah tidak bisa kukontrol.Mungkin jika sebelumnya aku masih bisa bersabar, wanita ini selalu menggoda Tristan. Namun, kali ini aku tidak bisa diam lagi.Sebagai seorang istri, tidak mungkin aku membiarkan kegilaan ini.Kudekati wanita itu, kutarik rambutnya dengan kasar.“Aw!” Stella memekik, aku belum puas.“Apa yang kamu lakukan dengan suamiku? Apa urat malumu sudah putus, sampai berani bermain gila dengan suamiku?!” bentakku.“Lepas!”Stella menepis tanganku, dia berhasil. Wajahnya memerah, penampilannya semakin kacau.“Kenapa, Sop? Sudah pernah kubilang, kan, jauhi Tristan! Kamu tidak pantas bersanding dengannya dan kamu tidak boleh tinggal di rumahnya!” seru Stella.Aku yang emosi, bertambah lagi rasa emosiku dengan ucapan memancing dari mulut Stella. Lancang sekali wanita itu.“Apa hakmu mengaturku? Siapa kamu, yang hanya orang lain?”Stella terkekeh, seolah senang dan merasa menjadi pemenang
Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut ruangan. Suara itu tiba-tiba menghilang. Aku tidak lagi mendengarnya. Namun, aku yakin, aku memang mendengarnya.“Aku tidak mungkin salah dengar. Kenapa di sini ada suara jeritan wanita?” gumamku.Bahkan ketika aku melongok ke arah jendela yang sengaja kubuka pun, aku tidak melihat siapa pun di luar.Selama ini orang yang datang ke rumah ini hanya terbatas. Bahkan tetangga pun sangat jarang datang ke rumah ini, kecuali saat ada yang meninggal di rumah ini. Aneh, lalu suara siapa yang kudengar barusan?Aku menggelengkan kepalaku. Apa mungkin aku berhalusinasi? Kembali kubaringkan tubuh ini. Namun, mata ini sulit untuk kembali kupejamkan.Berusaha membuang jauh pikiran aneh. Namun, tetap saja suara itu terngiang di telingaku.Tubuhku berguling ke sana kemari. Mencari posisi nyaman untuk kembali terlelap. Gerakan ini cukup lama aku lakukan, hingga jam hampir menunjukkan waktu subuh, akhirnya rasa kantuk perlahan menyapa.Aku tertidur, begitu p
Sontak aku membeliak mendengar ucapan Stella yang setengah berbisik itu. Apa maksudnya? Apa haknya memintaku menjauhi suamiku sendiri?“Kamu sudah terlalu jauh mencampuri urusan rumah tangga kami, Stella. Sebaiknya kamu pergi dari sini, sebelum aku benar-benar marah padamu!” usirku.Stella tersenyum miring, dia seolah bebal. Bahkan tak beranjak sedikit pun dari tempatnya duduk.“Bukan aku yang harus pergi, tapi kamu yang harus pergi, Sophia. Lelaki itu, dan tempat ini tidak pantas buatmu. Kamu tidak tahu apa-apa, kan? Bodoh!” bisiknya lagi. Wajahnya yang menyebalkan semakin mendekat ke arahku.Sialan! Wanita ini menyebutku bodoh?“Jadi … permintaan maafmu hanya basa basi, dan semua itu hanya palsu, demi bisa berbicara seperti ini padaku? Tristan suamiku, dan aku berhak ada di sini bersamanya. Siapa kamu berani mengaturku?” sergahku.Tanpa kuduga dan tanpa bisa kutebak, Stella mencengkeram kerah bajuku. Tatapannya lurus menembus mataku. Dalam, intens, aku benar-benar muak dan benci pad
Seperti suara desahan seorang wanita.Aku memukul-mukul kepalaku, kembali kutajamkan pendengaran ini. Namun, aku tidak lagi mendengar suara tersebut.“Sepertinya aku mimpi!” Aku menggelengkan kepalaku.Aku menoleh ke arah sampingku. Tidak ada Tristan, tempat tidurnya kosong, hanya ada aku sendiri.“Ke mana Tristan?” gumamku.Karena sudah tidak tahan lagi, bergegas aku turun dari ranjang. Aku berlari ke kamar mandi, menuntaskan buang air kecil yang terasa berat ini.Aku kembali ke dalam kamar. Di saat yang bersamaan, pintu kamar terbuka, menampakkan wajah tampan dari suamiku.“Loh! Kamu habis dari mana?” tanyaku.“Aku habis dari luar sebentar. Ada teman lamaku ngajak ngopi. Maaf, aku tidak mengajakmu. Kamu tidur sangat pulas, aku takut mengganggu kamu,” ucapnya.“Oh, iya tidak apa-apa. Ayo istirahat!” ajakku. Kutepuk bantal di sebelahku.Aku pun melanjutkan tidur, kali ini Tristan pun tertidur di sebelahku.Kurasakan hembusan napas panjang dari Tristan. Seolah merasakan kelegaan dalam







