ログイン“A-apa?!”Bahkan pertempuran keringat antara Arion bersama wanita itu masih terekam jelas di ingatan. Bisa-bisanya dia meminta untuk menjalin hubungan denganku.“Maaf, aku bukan perebut pacar orang. Urus pacarmu, bertanggung jawablah atas apa yang telah kalian lakukan,” tolakku.Kuayunkan kedua kaki ini hendak menjauh dari Arion. Namun, lelaki itu cukup membuatku kesal.Langkahku terhenti, ketika Arion menghalangiku.“Apa lagi? Aku mau masuk!” desisku.“Jadi … itu yang menjadi dasar penolakanmu? Baiklah!” sahutnya.Arion mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Apakah dia akan menuruti ucapanku, akan bertanggung jawab pada wanita itu? Namun, ada perasaan tak nyaman ketika aku membayangkannya.Cepat-cepat aku membuang jauh. Aku wanita, dia juga wanita, mana mungkin aku menyakiti wanita lain. Wanita itu telah rugi besar atas perbuatan Arion.“Halo! Kita putus, jangan pernah menghubungiku lagi!”Aku membeliak, tidak kusangka Arion akan berucap seperti itu pada wanita itu.Arion mem
“Yah! Sudah kubuka. Tapi … tunggu-tunggu, ini cuma link video kok, Bu.”Aku lantas mengetuk play pada video tersebut. Awalnya aku tidak berantusias untuk melihatnya. Namun, ketika aku hendak menutup video tersebut, seketika aku urung melakukannya.Aku membeliak, mulutku sampai terbuka saking terkejut.“Kenapa, Elia?” tanya Ayah.Aku menunjuk ke layar ponselku.“Mawar meninggal, Yah, Bu! Rumahnya terbakar,” jawabku.Ibu tampak terkejut, dia lantas melihat layar ponselku.“Tristan!” ucap Ibu lirih. Ibu lantas menatap dalam ke arah Ayah.“Tidak usah dipikirkan, Sayang. Kematian itu takdir. Tuhan lebih sayang padanya, jadi Dia mengambil Mawar dengan sangat cepat melalui kebakaran itu. Kamu fokus saja sama kesehatanmu!” kata Ayah.Aku mengangguk pelan. Hanya saja aku tidak kenal siapa yang mengirim kabar ini padaku.Kembali, pesan datang dari nomor yang sama.(Kamu sudah aman, Elia. Mungkin kabar ini membuatmu terkejut. Tapi Tuhan memiliki rencananya sendiri untuk membuat orang jahat mener
“Kamu sudah menyelamatkan putriku. Saya berhutang budi padamu!” “Tidak apa-apa, Om. Sudah kewajiban saya menolong sesama.”Samar kudengar suara obrolan yang tak jauh dariku. Perlahan kubuka mataku, saat sadar, ternyata aku berada di tempat yang berbeda. Setelah kuamati, ternyata aku telah berada di dalam kamar rumah sakit.“Bu!” panggilku. Kepalaku masih merasakan pusing, untuk sekedar duduk pun aku masih belum kuat.“Elia! Sayang! Ibu sangat bersyukur kamu selamat, Nak. Maafkan Ibu tidak bisa menolong kamu. Seandainya Ibu tahu kamu dalam bahaya, Ibu pasti akan datang untukmu, Sayang!”Ibu menangis, tangannya melingkar pada tubuhku. Kulihat kekhawatiran dari wanita ini. Bidadariku menangis ketika aku hampir meregang nyawa. Bidadari yang dulu pernah aku sakiti, lebih parahnya aku pernah menghadirkan wanita lain untuk menggantikannya.Kini aku bisa merasakan betapa hancurnya hati Ibu. Dia terluka saat aku nyaris meninggalkan dunia ini.“Jangan nangis, Bu, aku nggak apa-apa!”Aku meraih
Kepalaku sedikit merasakan pusing, serta kucium bau aneh seperti obat bius. Namun, aku tidak tahu berasal dari mana. Aku meraih tasku, lantas melihat jam di ponsel. Namun, sialnya, ponselku mati. Aku menengadah, melihat jam dinding yang menggantung di tembok. “Jam sepuluh!” gumamku.Aku pun menoleh ke arah jendela, tidak ada cahaya matahari. Aku membeliak, jantungku semakin berdegup kencang. Ternyata ini sudah jam sepuluh malam. Aku tidur selama itu? Kok bisa?Aku hanya bisa bertanya-tanya tanpa tahu jawabannya. Aneh, ini aneh sekali. Tidak seperti biasanya aku tidur lama seperti ini, bahkan ini terlalu lama.Aku beranjak dari tempat duduk ini. Suasana di dalam perpustakaan ini begitu berbeda dari siang hari. Menakutkan.Aku berlari menuju pintu, dikunci.Aku semakin ketakutan. Merutuki diri sendiri, kenapa bisa aku sampai seperti ini? Bagaimana aku pulang? Aku tidak mungkin berdiam semalaman di tempat ini, menunggu pagi menjelang.Blug!Lagi! Aku mendengar suara benda jatuh di ruan
Malam ini aku tengah berdiam diri di dalam kamar. Sementara Ibu tengah duduk berdua bersama Ayah di ruang keluarga. Mereka tengah asyik mengobrol tentang calon adikku.Aku beranjak dari tempat tidur. Kuraih laptop yang aku simpan di atas meja.Aku menyalakan laptop tersebut untuk menyelesaikan tugas yang masih tersisa. Namun, ada yang aneh.“Loh, kok, sudah selesai saja. Perasaan tugasnya belum aku selesaikan, deh!” gumamku. Aku menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal.Tugasku telah rampung tanpa aku merasa telah menyelesaikannya. Tugas ini begitu sistematik, rapi, aku yakin dosen akan puas dengan hasil tugasku ini. Namun, yang jadi pertanyaan, kok bisa tugas ini bisa selesai dengan sendirinya?Ting!Terdengar sebuah pesan masuk ke nomorku. Dengan enggan, aku meraih ponselku, lantas membaca isi pesan tersebut.(Bagaimana, Elia? Kamu suka dengan hasil tugasnya?).Ah … ya Tuhan! Ternyata ini ulah Arion. Dia yang mengerjakan tugasku. Antara kesal bercampur bahagia. Aku bahagia ka
“Flashdisk-ku!”Aku membeliak tajam, ternyata ada seseorang yang mengambilnya. Namun, siapa yang mengambil Flashdisk itu, dan … kenapa dia tahu nomorku?Kubalas pesan tersebut.(Siapa kamu? Kenapa flashdisk itu bisa ada sama kamu?).Ceklis satu, pesanku tidak terkirim. Aku bingung, aku berjalan mondar-mandir sambil menggigit ujung kukuku.“Apa yang harus aku lakukan, ya Tuhan? Di dalam flashdisk itu terdapat banyak data-data penting!” batinku.Aku mencoba menghubungi Ayah. Mungkin aku akan meminta bantuan padanya. Namun, nomor Ayah tidak aktif. Apa yang harus aku lakukan?Aku kembali ke kamar Ibu. Aku berjalan menunduk sambil kuhampiri dia.“Kenapa? Kok murung? Apa … ada masalah?” tanya Ibu.Aku mengangkat wajahku.“Flashdisk-ku hilang, Bu. Tapi barusan ada yang kasih tahu bahwa flashdisk itu ada pada dia. Dia nyuruh aku ngambil di alamat yang dia kirim. Em … bagaimana ya, Bu? Apa boleh aku pergi dulu buat ngambil flashdisk itu? Ibu … tidak apa-apa aku tinggal sebentar?” sahutku.“Ya







