Share

2. Kenapa datang?

Author: Damaya
last update Last Updated: 2023-08-05 01:41:42

"Mau apalagi kau datang?!" Tika berucap dingin begitu pintu pagar dibuka, dan mengetahui siapa yang berdiri di hadapannya. "Jika kedatanganmu berhubungan dengan pekerjaan, kita bicarakan besok di kantor. Tentunya pada jam kerja." 

"Kenapa kau tidak pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskan yang sebenarnya, Tika. Apa yang terjadi tidak seperti yang terlihat semua orang," terangnya dengan nafas terengah. "Percayalah padaku."

Tika segera menyembunyikan tangan ke belakang punggung, mengetahui Roland berniat akan meraihnya. 

"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Kau telah berbohong. Itu faktanya."

"Itu tidak benar. Semua hanya kamuflase. Kami tetap menjalani hidup masing-masing, baik dulu maupun sekarang."

Alih-alih percaya, lewat desakan nafas panjang yang baru saja lolos, Tika sama sekali tidak peduli dengan apa yang Roland jelaskan. Wajah malasnya seakan meminta lelaki itu segera pergi. Bahkan bila perlu sejauh mungkin dari hidupnya.

"Aku sudah memutuskan apa yang menurutku benar. Hubungan kita tidak layak diperjuangkan lagi. Kedepannya kita hanya partner. Bukan lagi dua orang dewasa yang pernah menjalin hubungan terlarang," tegas Tika memberi ultimatum.

Roland berubah gusar dengan meremas rambut atas. "Tapi aku masih ingin kita seperti dulu, Tika. Kau bahkan tahu seberapa dalam perasaanku terhadapmu.

Tatapan Tika masih sedingin Antartika, dan itu sesuatu yang baru pertama kali Roland temui.  

Kegusaran Roland tidak akan menyurutkan tekad Tika untuk tetap pada keputusannya. Semua harus segera dihentikan, sebelum pandangan luar semakin menguliti dirinya hingga tak tersisa.

"Sudah berulang kali aku katakan padamu. Pernikahan kami hanya kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, ataupun komitmen di dalamnya. Kami juga sudah sepakat untuk berpisah setelah aku berhasil menyakinkan Mr. Logan."

Mendengar penjelasan Roland, Tika mendesak alis tinggi, berusaha menghalau rasa sesak yang tiba-tiba menyusup hati. Ternyata Roland tidak pernah peduli dengan apa yang ia rasakan. Lelaki itu tetap memaksakan kehendaknya. Lantas, apakah itu yang disebut CINTA? 

Bukankah cinta lebih mementingkan perasaan orang yang dicintai, daripada kepentingan pribadi?

Dan, memilih melepaskan setelah sadar cintanya menyakiti?

"Ada apa ini? Sayang… kau baik-baik saja? Hei.. lihat aku, kenapa menangis, hm?" 

Setelah muncul dengan penuh percaya diri, Dewa langsung memeluk Tika erat di hadapan Roland yang seketika menajamkan mata. Terlihat jelas lelaki itu tengah menahan kesal. Tapi Dewa mengabaikannya dengan semakin posesif merangkul Tika. Sesuatu yang sebenarnya sangat ingin ia lakukan sejak tadi.

"Apa terjadi sesuatu? Kenapa tamumu tidak dipersilahkan masuk?"

Dewa benar-benar totalitas, menunjukkan sikap manisnya di depan Roland, sesuai keinginan Tika.

"Aku akan baik-baik saja jika kau tetap bersamaku."

"Oh ya Tuhan... aku bahkan ragu bisa jauh darimu meski itu hanya sedetik, Sayang." Sambil meninggalkan kecupan singkat di puncak kepala Tika, Dewa mengulas senyum licik mengetahui wajah Roland sudah merah padam. Ia tahu semarah apa lelaki itu sekarang.

"Siapa dia?!" Muak dengan kemesraan yang sengaja dipamerkan di depan mata, Roland bertanya dengan lantang----tidak sabaran. "Jawab Tika! Siapa dia dan kenapa ada di rumahmu sepagi ini? Apa yang sudah kalian lakukan, hah!" 

Kemarahan Roland memuncak begitu paham rambut panjang Dewa dalam keadaan setengah basah, pun dengan pakaian santai yang pemuda itu kenakan. Hanya lelaki bodoh yang tidak bisa mengartikan situasi apa yang sudah terjadi di rumah Tika sebelum dirinya datang.

"Jadi seperti ini hubungan yang kau inginkan? Tinggal bersama agar bisa melakukan banyak hal, iya?!"

Plakkk!!!

Sontak, Roland mengeraskan rahang dengan kepala masih menoleh ke samping. Ia juga sampai mematung sepersekian detik.  Meyakinkan diri bahwa Tika benar-benar telah menamparnya.

"Pergi!" ucap Tika dingin dengan cairan bening sudah membanjiri pipi. 

Ternyata Tika sendiri cukup terkejut bisa sampai meninggalkan bekas merah di pipi Roland. Tamparan itu sangat keras. Naasnya, menyakiti lelaki yang dicintai, seakan ia juga merasakan sakit yang sama.

"Apa salahnya jika aku tinggal bersama suamiku? Apa hakmu menghakimi kami." Tika mengusap kasar pipinya yang basah. "Sekarang kau sudah tahu alasan kita tidak mungkin lagi bersama, bukan? Lantas, untuk apa kau masih di sini!"

"Cih! Suami?" Roland dengan cepat menyangkal. Di sertai tatapan remeh ia beralih pada Dewa. "Hei anak muda, berapa dia membayarmu? Apakah itu seharga rumah mewah? Atau mobil keluaran terbaru?"

Dewa yang sebelumnya hanya diam menyaksikan, seketika terhenyak. Lebih lagi dengan tuduhan yang Roland lontarkan.

"Aku akan memberimu dua kali lipat, asal kau tinggalkan Tika saat ini juga." 

Kendati mulutnya masih tertutup rapat, tetapi kepalan tangan Dewa sudah terangkat hendak menghantam wajah Roland, sampai tiba-tiba Tika menahannya.

"Tidak ada gunanya kita meladeni mulut kotornya, Sayang. Biarkan saja dia berspekulasi seperti apa yang diinginakn. Kita hanya perlu menunjukan pada dunia jika rumah tangga kita bukanlah rekayasa."

Namun, bukannya tenang yang ada bola mata Dewa seakan keluar dari cangkangnya. Kali ini tidak hanya marah, Dewa juga merasa sangat bodoh sudah mau menuruti permintaan Tika. Perempuan itu sudah melampaui batas kesepakatan. Tidak hanya berani menyebut dirinya suami, Tika juga mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. 

'Sialan. Jadi ini rencananya. Licik!'  

Detik berikutnya Roland pergi tanpa meninggalkan sepatah kata. Tidak lama disusul Tika yang juga langsung masuk ke dalam rumah. Menyisakan Dewa yang lagi-lagi hanya bisa menahan kemarahan atas apa yang terjadi. Cerdik. Rupanya Tika sudah mengatur semuanya sejak awal saat tahu Roland akan datang, dan menjerat Dewa agar masuk ke dalam permasalahannya yang pelik.

"Cih! Tika sialan. Tak kusangka dia bisa selicik itu. Dan sekarang, mustahil Roland tidak mengejarku setelah apa yang terjadi hari ini. Pes, apes. Tau begini jadinya, aku ambil saja uangnya tadi. Biar sekalian bisa menutup mulut Clara."

****

Dewa masih celingukan berusaha mencari keberadaan Tika. Sayangnya, sejauh mata mengitari setiap sudut ruang tengah, tetap tidak menemukan keberadaan perempuan itu. "Dimana dia? Mungkinkah rumah ini ada pintu rahasia menuju dimensi lain?"    

Merasa masih ada yang perlu diluruskan, Dewa memilih menunggu Tika. Tapi naasnya, sudah hampir satu jam menunggu, Tika tak juga muncul. Kemana sebenarnya perempuan itu bersembunyi?

Tidak sabar hanya menunggu seperti orang bodoh, Dewa menyakinkan diri untuk memastikan beberapa tempat di lantai satu, termasuk dapur. Entah kemana perginya bibi yang tadi sempat menyuguhkan minuman untuknya. Karena ketika ia berkeliling, rumah dalam keadaan benar-benar sepi, seperti tak berpenghuni.

"Seharusnya aku yang marah dengan dia menyebutku suami. Bukan malah dia yang melakukan ini padaku," ujarnya bermonolog ketika tidak menemukan Tika dimanapun.

Namun, tiba-tiba saja langkah Dewa terhenti saat melewati pintu kaca yang terbuka lebar, dan ternyata mengarah ke halaman samping. Kendati tidak menjamin apakah Tika ada di sana, setidaknya Dewa tetap harus memastikan. Ia sudah tidak sabar ingin membuat perhitungan dengan perempuan licik itu.

"Rupanya di sini juga tidak ada. Ck. Dimana dia sebenarnya?" Dewa semakin jauh meninggalkan pintu kaca. "Astaga! Kenapa tiba-tiba aku jadi khawatir begini?" 

Dewa masih melihat-lihat sekitar. Karena tidak berhati-hati, ia beberapa kali nyaris terjatuh. Terlalu banyak menahan kekesalan atas kelicikan Tika. Terlebih mulai muncul kecemasan setelah tidak juga menemukan perempuan itu, Dewa kurang memperhatikan jalan yang akan dipijak. Alhasil, ia sering tergelincir lantai setapak yang membelah rerumputan taman. Sampai akhirnya ia yang terkejut, seketika menoleh ke samping.

"Oh shit! Ini tidak mungkin!" 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Muda Nona Konglomerat   106. Karena bahagiaku bersamamu

    Sedangkan di rumah Adiraksa, Tika masih mematung di tempat, menimang apakah akan bergabung atau memilih putar badan dan kembali ke kamar begitu tahu siapa yang sedang berbicara dengan suaminya di ruang tamu. Namun, ketika sudah memutuskan tidak akan menemui tamunya, Dewa justru melihatnya lebih dulu, dan meminta mendekat lewat anggukan samar. Masih ragu, tapi tatapan hangat Dewa seakan menyakinkan semua akan baik-baik saja. Akhirnya dengan langkah pelan ia pun berjalan mendekat. “Arkhan sudah tidur?” Dewa berdiri menyambut. “Sudah,” balas Tika disertai senyum singkat. Ia masih belum tahu apa tujuan pasangan itu datang ke rumahnya malam-malam. “Duduklah.” Dewa mempersilahkan sang istri duduk bersisian dengannya. “Mereka mengundang kita besok malam. Selain merayakan ulang tahun putri mereka, mereka juga memutuskan untuk kembali bersama.” Cukup terkejut, tapi Tika belum berkomentar. Sampai akhirnya suara Floren menarik perhatiannya. “Maafkan aku, Tika. Aku sudah sangat egois s

  • Suami Muda Nona Konglomerat   105. Mereka siapa

    “Apa kau sudah gila!” teriak Alan lantang sambil menarik pisau dapur dari tangan Clara yang ujungnya nyaris menembus perut wanita itu. “Dia anakku! Berani kau menyakitinya! Maka semua keluargamu akan menanggung akibatnya!” Ia tidak main-main, lantaran sudah sangat muak dengan sikap Clara yang dianggap bukan hanya serakah, tapi juga tidak punya hati sebagai wanita dan calon ibu. “Sudah aku katakan! Aku tidak mau mengandung anakmu!” balas Clara ikut berteriak. Suaranya bahkan sampai melengking hingga menembus ruang tengah yang hening. “Untuk apa dia lahir! Aku tidak mau anakku merasakan apa yang aku rasakan sekarang. Tidak bisa hidup layak padahal memiliki suami kaya!” “Tidak bisa hidup layak katamu!” Dipuncak amarah, Alan menekan kalimatnya. Suaranya berdesis di celah gigi yang merapat. “Kau anggap apa semua yang sudah kuberikan padamu selama ini!” Kemarahan nyaris membuat Alan menggila, kalau saja tidak ingat di perut Clara telah hidup satu nyawa calon penerus keluarganya. Tapi p

  • Suami Muda Nona Konglomerat   104. Akhir sebuah kisah

    Jagat media tengah dihebohkan dengan berita kematian Firman. Pemuda dua puluh delapan tahun itu ditemukan meringkuk tak bernyawa di dalam kamar sel. Diduga luka say*tan melintang di leher, hingga put*snya urat nadi yang menjadi penyebab nyawa pemuda blasteran itu tidak bisa diselamatkan. Dugaan sementara, Firman nekat mengakhiri hidup lantaran depresi. Pernyataan tersebut diperkuat oleh keterangan tahanan lain, yang mengatakan jika sejak kedatangan teman-temannya Firman berubah murung, dan tidak banyak bicara. Sampai akhirnya selang beberapa hari petugas datang mengantarkan sarapan, sudah berulang kali memanggil tidak juga ada jawaban—Firman tetap meringkuk di atas karpet usang. Begitu dipastikan ternyata ada genangan d*rah di dekat leher yang mulai mengering. Diperkirakan Firman melancarkan aksinya saat malam hari. Naasnya, keadaan tidak jauh berbeda juga telah terjadi di kediaman Liem. Tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya dan siapa yang telah melakukannya, sekarang yang tersisa h

  • Suami Muda Nona Konglomerat   103. Waspada

    “Kenapa ada disini?” Tika terkejut mendapati Inez bisa ada di rumah sakit yang sama dengannya. “Apa ada yang serius denganmu?” lanjutannya khawatir. “Tidak, Kak. Jangan cemas. Aku hanya sudah membuat janji dengan Dokter Rara,” balas Inez. “Kamu hamil lagi?” Tika langsung bisa menembak. Dengan wajah tersipu, Inez mengangguk. Meski menunjukkan senyum, tapi dalam hati Tika tetap mencemaskan kondisi adiknya. Pasalnya trauma itu belum sepenuhnya sembuh, dan sekarang Inez sudah kembali Gusti buat hamil. Keduanya lantas berjalan bersama menyusuri koridor rumah sakit yang tidak terlalu banyak orang berlalu lalang. Sampai saat ada persimpangan, mereka terpisahan. Tika sudah berdiri di depan ruang poli umum, menatap sebentar Inez yang masih berjalan tenang di koridor seberang Mengetahui sang adik sudah sampai di depan ruang obgyn dan tidak lama masuk, Tika juga langsung mengetuk pintu. “Masuk!” Mendengar suara dari dalam, Tika segera memutar handle. Pintu pun terbuka perlahan. Seo

  • Suami Muda Nona Konglomerat   102. Kembalilah padaku

    "Aku hanya ingin kalian tetap hidup. Sekalipun aku harus membayar mahal untuk itu.” Nafas Floren tersengal mendengarnya, antara menahan kesal, dan muak. Menganggap apa yang Roland katakan hanya omong kosong. Tapi sebelum ia sempat membuka mulut, Roland sudah lebih dulu kembali bicara. “Dan salah satunya tidak bisa lagi bersamamu, aku terima. Setidaknya bisa melihatmu tetap bernafas sudah lebih dari cukup." Mata Floren seketika melebar. Menganggap apa yang Roland katakan sekarang tidak pantas diucapkan pecundang sepertinya. "Aku memang tidak pernah tahu perjanjian apa yang kau sepakati dengan Tuan Liem, " lirih Floren. "Tapi tidak bisakah kau memberiku penjelasan saat itu? Atau setidaknya memintaku pergi menggunakan bahasa manusia?” Mendenguskan senyum. “Membuat statement rendahan hanya karena ingin menikahi perempuan lain. Itu sangat menjijikan!" Roland hanya bisa menghela nafas panjang. Wajar Floren salah paham dan berpikir buruk terhadap dirinya. Sudah waktunya meluruskan. “

  • Suami Muda Nona Konglomerat   101. Pemikiran cerdas

    “Aku ingin bertemu Dewa!” Kembali datang, sikap Clara masih sama seperti kemarin, tidak sabaran dan penuh percaya diri. Tanpa menjawab, Resepsionis wanita itu langsung melakukan panggilan. “Apa kau tuli! Aku mau ketemu Dewa!” sentak Clara disertai gebrakan di meja resepsionis. Tidak lama dua petugas keamanan datang. “Bawa wanita ini!” perintah sang Resepsionis. “Hei! Beraninya kau mengusir menantu Wijaya!” Clara meradang, terlebih saat dua penjaga keamanan berani memiting tangganya. “Bawa dia!” perintah Resepsionis lagi. “Kau! Aku pastikan hari ini terakhir kau ada disini!” Sayangnya, ancaman Clara tak dihiraukan. Dia tetap diseret keluar seperti perusuh. “Lepas!” Sesampainya di depan pintu lobby dua pria berbadan tegap itu baru dilepasnya. “Pergi! Jangan buat keributan lagi disini!” bentak salah satu petugas. “Aku pastikan hidup kalian akan susah,” hardik Clara tidak terima sambil mengusap jijik kedua lengannya. “Dasar rendahan!” Melati yang baru turun dari mo

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status