LOGINSetelah Maggie mengizinkan Nora tidur, Nora langsung tertidur dengan nyenyak. Nyonya Morton menggendong bayi Nora, menimangnya dengan sayang. Sedang Ronan masih berkutat dengan sakit kepalanya yang tidak kunjung menghilang."Kau terlihat tidak baik-baik saja," sedari tadi nyonya Morton melihat gerak-gerik Ronan yang aneh. Bulir-bulir keringat menetes di dahi pria itu, terkadang dia terlihat meringis memegang dada kirinya, keningnya berkerut dan pandangannya kosong."Hanya sakit kepala," jawab Ronan singkat."Pulang dan beristirahatlah," ucap nyonya Morton, nada cemas lolos dari bibir wanita paruh baya itu. Ronan menggeleng, dia tidak mau jauh dari Nora. Apalagi saat Nora sedang tertidur. "Tidak. Aku baik-baik saja Nyonya," ucap Ronan lirih. Dia menunduk menghidari tatapan nyonya Morton yang seakan tahu kalau dia berbohong."Kau ingin aku memanggilkan dokter Pedro atau nyonya Maggie?" tanya nyonya Morton lagi. Masih belum menyerah membujuk Ronan.Ronan menggeleng lagi sebagai jawaban
Ronan beruntung saat tiba dia langsung bertemu dengan nyonya Maggie. Baginya saat itu, nyonya Maggie adalah cahaya yang membawa kembali akal sehatnya. Dan disinilah dia, mengusap pelan punggung Nora yang sedang meringis kesakitan. Disisi lain ranjang, nyonya Morton menggenggam tangan Nora. Memberi Nora kekuatan dan rasa aman. Erangan keras terdengar dari Nora. Keringat mengucur di dahinya. "Nyonya Maggie..." Panggil Ronan lirih. Pria itu menatap nyonya Meggie dengan tatapan memohon. Maggie hanya bisa tersenyum. "Sebentar lagi, pembukaannya belum sempurna," jawab Maggie tenang. "Tapi dia terlihat kesakitan," bisik Ronan entah pada siapa. "Tentu saja. Semua wanita merasa kesakitan saat melahirkan," nyonya Morton sebenarnya mencoba menenangkan Ronan. Tapi melihat wajah pucat pasi Ronan, dia tahu bahwa usahanya tidak berhasil. "Kurasa... Bayinya sudah akan lahir," ucap Nora disela erangannya. Maggie membantu Nora untuk berbaring terlentang dan memeriksa jalan lahir. Dia tersenyum p
Dulu, Mei selalu merasa kasihan pada Nora. Bagaimana wanita itu setiap hari mendorong gerobak madu dengan tubuh yang terlihat kurang sehat. Awalnya Mei hanya memberikannya segelas air, lalu ada satu hari Mei memberi Nora sepotong kue tar. Dengan hati-hati Nora membungkusnya. Belakangan, Mei tahu dia selalu membawa pulang apa yang Mei berikan untuk dimakan dengan bayinya. Mei merasa dia harus membantu Nora dengan apapun yang dia punya. Nora hanya menolak uang. Maka Mei mencari alternatif lain, dia akan menunggu Nora untuk memberinya roti, dan susu atau beberapa telur. Dan Nora selalu mengucapkan terima kasih dengan wajah lesunya. Sejak saat itu Nora selalu menceritakan kebaikan Mei, dan semua orang desa memuji Mei. Pujian yang terus datang membuat kenyang egonya yang lapar.Tentu saja, Dewa menciptakan keberuntungan dan kesialan. Dan bagi Mei keberuntungan itu adalah dia, dan kesialan itu adalah Nora. Melihat Nora kesulitan membuat Mei merasa beruntung. Dan sudah semestinya, dia sela
Ronan tidak pergi ke tempat latihan berburu selama 2 hari, karena demam yang di derita Matt. Saat pagi datang, Ronan langsung membawa Matt ke rumah sakit. Dokter Pedro bilang Matt terkena demam musim panas. Di bulan Agustus, udara siang hari memang terasa lebih panas dari bulan-bulan yang lain. Ronan bersyukur Matt bisa dibawa pulang untuk dirawat di rumah. Setelah 2 hari berbaring di tempat tidur, di hari ke 3, Matt mulai berlari-lari lagi di dalam rumah. Diikuti teriakan cemas ibunya. "Matt, jangan melompat-lompat di sofa. Kau baru saja sembuh!" teriakan Nora terdengar dari dalam rumahnya saat Ronan sampai di depan pintu -baru pulang dari tempat latihan. "Aku pulang," kata Ronan keras. Berusaha mengalihkan perhatian Nora dari rasa kesalnya pada Matt. "Ayah!" Matt berteriak sambil berlari ke arah Ronan, yang dengan sigap menangkap putranya yang aktif itu. "Matt, jangan berlarian seperti itu," Ronan mengatakannya dengan nada lega, lega karena anaknya sudah kembali sehat. "Syukur
Jangan tanyakan perasaan Ronan saat ini. Dia tampak sedang diatas angin. Senandung terdengar selagi dia memanaskan susu untuk Nora. Berbanding terbalik dengan suaminya yang sibuk, Nora duduk diatas sofa, meluruskan kakinya yang terlihat bengkak. Menyandarkan punggungnya pada bantal yang dibawakan Ronan dari kamar. Membalik halaman demi halaman koran yang dia terima pagi ini. "Bagaimana kaki mu?" tanya Ronan saat memberikan susu panas pesanan istrinya tadi. "Terlihat lebih bengkak dari kemarin," jawab Nora sekenanya. "Sebentar lagi bayinya lahir, kan?" Ronan bertanya pada dirinya sendiri, tangannya mengelus perut besar Nora. "Hn, mungkin tiga Minggu lagi," Nora meletakan korannya dan mulai fokus pada usapan tangan Ronan di perutnya. "Matt belum bangun? Bukankah dia tidur terlalu lama?" Ronan menaikan sebelah alis. Sejak tadi dia merasa rumah terlalu sepi karena tidak ada celotehan Matt."Kau perlu membangunkannya, atau malam ini kita tidak akan bisa tidur karena energinya sangat
Ronan bersiap diatas pohon dengan senapannya. Disisi lain pohon yang sama Karl juga duduk dengan waspada. Jejak serigala akhirnya terlihat tak lama setelah mereka masuk ke dalam hutan. Jelas serigala itu selalu bergerak disana. Empat orang dari kelompok berburu membuat api unggun dibagian hutan yang lapang, empat lainnya naik ke atas pohon untuk berjaga. Karl tidak banyak mengoceh seperti biasanya. Ketegangan terlihat jelas dari wajah pria muda itu. Sedang Ronan anehnya merasa tenang. Peluru yang dia punya tidak banyak. Tapi entah kenapa dia yakin dia bisa berhasil berburu hewan buas itu. Di kejauhan, Ronan bisa melihat pergerakan hewan berbulu itu. Cara berjalan hewan itu terlihat sedang bersiap untuk berburu juga. Mengendap pelan tapi terlihat kuat. Dan sasaran hewan itu adalah kelompok pemburu yang menyalakan api. "Karl arah jam 2," ucap Ronan pelan. "Aku siap, sir," jawab Karl. Ronan membidikan senapannya ke arah target. Ronan mengintruksikan Karl menembak setelah dia menem
Banyak pekerjaan yang harus Ronan lakukan sejak dia terbangun dini hari. Yang pertama kali dia kerjakan adalah bagian dalam rumah. Dia mengeluarkan sofa lusuh dan karpet compang-camping dibawah sofa. Menanggalkan gorden lusuh. Membersihkan perapian, membersihkan dapur. Dan terakhir mengepel lantai.
Hari pertama berjalan dengan ketegangan yang merayap di setiap sudut rumah. Ronan, mencoba membantu sebisanya—mengambilkan air dari sumur luar atau sekadar memindahkan kotak kayu yang berat—meski kepalanya terkadang masih berdenyut hebat. Setiap kali pria itu bergerak mendekat, Nora dan Matt sec
Semua bermula dari kebohongan yang tidak sengaja Nora tebar di koridor rumah sakit semalam. Pria itu, Ronan, kini benar-benar percaya bahwa dirinya adalah Alex Wilmington—seorang suami abai dan ayah dari anak yang bahkan tidak mengenali wajahnya sendiri. Amnesia sialan itu telah menghapus ident
"Kamu... istriku?" Nora mematung di tempatnya berdiri, lidahnya mendadak kelu seperti terkunci. Pertanyaan itu lolos dari bibir pucat pria itu begitu saja, tanpa keraguan, meluncur bersama napasnya yang berat. Ruangan yang sedari tadi pengap oleh bau obat-obatan mendadak terasa makin menghimpit







