Beranda / Romansa / Suami Perkasa / Aku Menunggumu

Share

Aku Menunggumu

Penulis: Meri Nakashima
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-29 14:33:34

Sukma duduk di apartemennya, menatap ke luar jendela. Kota yang gemerlap di bawahnya terasa asing, meski sudah lama ia tinggal di sini. Ponselnya bergetar—nama Steve muncul di layar, namun ia menolak mengangkat. Hatinya campur aduk; ia tahu satu pesan dari Steve bisa membuatnya kembali hancur atau bahagia, dan ia belum siap menghadapi itu.

Steve berdiri di lorong apartemen, tangannya menekan gagang pintu. Ia tahu Sukma di dalam. Nafasnya tersengal, hatinya berdebar. Ia harus bicara, meski takut mendapat penolakan. Akhirnya ia mengetuk pintu, suara ketukan terdengar tegas tapi cemas.

“Su… Sukma… aku bisa masuk?” suaranya nyaris serak.

Sukma menunduk, menahan napas. Ia menatap pintu sejenak sebelum membuka setengah. “Steve… apa yang kau lakukan di sini?” suaranya dingin, tapi tak bisa sepenuhnya menutupi rasa cemas.

Steve melangkah masuk perlahan, menutup pintu di belakangnya. “Aku… aku harus bicara. Aku tidak bisa menunggu lagi. Aku tahu kau ingin menjaga jarak, dan aku menghargainya…
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Suami Perkasa   Keluarga Yang Kaya

    Kepergian Mariana diumumkan seperti pengumuman cuaca. Tenang, profesional, tanpa drama. “Gar,Aku ke luar kota tiga hari,” katanya sambil melipat blazer. “Ada launching perhiasan baru.” Edgar mengangguk. Ia sudah hafal nada itu—nada perempuan yang bukan sekadar pergi, tapi punya dunia bisnis sendiri Mariana bukan cuma istri. Ia direktur sekaligus desainer perhiasan emas. Ia otak di balik koleksi baru yang sebentar lagi akan dipamerkan ke orang-orang berjas mahal. Koleksinya diberi nama Lova—emas dengan potongan tajam tapi elegan. Persis seperti pembuatnya. Mimi duduk di sofa, menggoyang kaki. “Tante mau pergi ?” “Iya,” jawab Mariana sambil tersenyum. “Tante Kerja.” “Lama?” “Sebentar.” Mimi mengangguk. Edgar mengantar sampai pintu. “Jangan lupa makan,” katanya. Mariana mendengus. “Kamu yang jangan lupa makan.” Ia mencium pipi Edgar cepat, lalu menunduk ke Mimi. “Dengerin nasehat Papa ya.” Mimi mengangguk. Mariana tertawa. Pintu tertutup. Mobil pergi. Rumah teras

  • Suami Perkasa   Kentang

    Pagi Ini Edgar, muncul dari kamar mandi dengan rambut masih basah meneteskan air. Hanya handuk kecil melilit pinggangnya. “Ayo main dulu, Sayang,” katanya dengan nada menggoda. Mariana menoleh, mataku secara otomatis menatap ke bagian bawah Edgar . Refleks. “Serius pagi pagi?” Dia mengangguk sambil menyeringai bangga. “Tadi pas sarapan aku minum STMJ, campur tongkat ali, royal jelly, madu hutan Udah kayak jagoan siap tempur dari pedalaman aprica.” Mariana nyengir tak percaya. “Minuman kamu tuh campuran antara herbal dan harapan.” Edgar nyengir, matanya penuh tantangan. “Pokoknya. Aku udah siap tempur.” Lalu dia putar badan, terlalu semangat sampai handuknya nyaris melorot. Bokongnya sekilas nongol seperti bulan purnama yang glowing. Mariana memakai lingerie merah marun, renda halus, belahan dada vertikal, dan tidak ada satu pun kancing. Karena dia tahu, kancing hanya akan memperlambat takdir. "Let’s go, Edgar," bisik mariana pada diri sendiri. Edgar terpesona dengan

  • Suami Perkasa   Princess Snow

    Keputusan itu datang tanpa drama besar. Dinda sudah dimutasi.Edgar—dengan wajah setenang orang membicarakan cuaca—menyebutnya mutasi kerja. Ke luar kota. Katanya demi kebutuhan kantor. Masalahnya bukan Dinda. Masalahnya Mimi. Anak itu belum siap pindah sekolah. Belum siap berpisah dari teman, guru, dan rutinitas yang membuat hidupnya terasa aman. Jadi Dinda, dengan nada santai berkata, “Tolong Mimi sementara tinggal sama kalian ya. Cuma sebentar sampai sekolah mimi disini siap.” Sebentar, kata paling berbahaya di dunia orang dewasa. Mariana menatap Edgar. Edgar membalas dengan tatapan penuh harap, campur rasa bersalah. Mariana menghela napas. “Ya sudah gak apa apa kalo cuma sebentar,” katanya akhirnya. Dan sejak hari itu, rumah mereka resmi berubah fungsi: dari rumah tangga tenang menjadi arena uji kesabaran. --- Mimi tidak suka Mariana. Bukan tidak suka biasa. Tapi tidak suka tingkat nasional. Bagi Mimi, Mariana adalah simbol segalanya: perempuan yang tingga

  • Suami Perkasa   Maaf

    Mariana tidak menangis. Ia juga tidak marah. Yang ada hanyalah kekosongan—sejenis sunyi yang terasa seperti langit tanpa matahari. Masih biru, masih luas, tetapi dingin dan hampa.Ia duduk di hadapan Edgar, suaminya. Lelaki itu tampak pucat, seolah seluruh darahnya mengalir ke satu titik rasa bersalah. Tangannya gemetar di atas meja, jari-jarinya saling mengait, berusaha menahan sesuatu agar tidak runtuh sepenuhnya.“Aku… aku nggak tahu harus bilang apa,” kata Edgar akhirnya. Suaranya serak, nyaris tak terdengar.Mariana menatapnya lama. Bukan untuk menekan, bukan pula untuk menuntut. Ia sedang mencoba mencocokkan wajah di hadapannya dengan ingatan bertahun-tahun tentang lelaki yang ia cintai. Lelaki yang selama ini ia percaya.“Bilang apa?” tanyanya pelan. “Bahwa kamu punya anak dari mantanmu. Perempuan yang pergi, menikah dengan orang lain, tapi sempat kembali sebelum benar-benar menghilang?”Edgar menunduk. Bahunya jatuh, seperti beban itu akhirnya menemukan tempatnya. “Aku benar-

  • Suami Perkasa   Mimi

    Sebelumnya, Mariana sudah tahu ada yang tidak beres sejak pertama kali melihat foto anak Dinda di Nistagram.Anak itu bernama Mimi. Kecil, pipinya bulat, matanya besar dan hidup. Rambutnya hitam pekat, sedikit bergelombang. Tipe anak yang bikin orang refleks senyum saat melihatnya.Lucu. Terlalu lucu.Masalahnya bukan di kelucuannya.Masalahnya ada pada satu pikiran yang terus mengganggu kepala Mariana sejak scroll foto itu:“Kok nggak ada bule-bulenya sama sekali?”Padahal suami Dinda, Nick, bule Jerman tulen. Tinggi, putih, rambut terang, hidung tegas. Kombinasi yang secara genetika seharusnya muncul minimal satu ciri blasteran.Tapi Mimi?Kulit putih oriental. Rambut hitam lebat. Tatapan mata… sialnya mirip sekali dengan Edgar — suami Mariana.Bukan mirip sekilas.Mirip nggak sopan.Cara alisnya naik waktu tersenyum. Cara matanya menyipit sedikit kalau tertawa. Bahkan ekspresi bengalnya.Mariana berusaha menepis pikiran itu. Menuduh orang tanpa bukti itu gila. Tapi insting perempua

  • Suami Perkasa   DNA

    -- Edgar menatap amplop cokelat itu seperti menatap vonis. Tidak ada logo mencolok. Tidak ada tulisan dramatis. Hanya nama klinik dan satu kalimat kecil: Hasil Uji DNA – Rahasia Tangannya sempat gemetar ketika ia merobek tepinya. Bukan karena takut pada hasilnya—melainkan karena ia sudah tahu, jauh di dalam dirinya, apa yang akan tertulis. Ia membaca sekali. Lalu dua kali. Lalu duduk. Probabilitas hubungan biologis: 99,98%. Dunia tidak runtuh. Tidak ada petir. Tidak ada musik latar. Yang ada hanya dada Edgar yang terasa sesak, seolah udara tiba-tiba menjadi barang langka. Mimi. Anak itu… anaknya. Ia memejamkan mata. Wajah kecil itu muncul lagi—cara ia tersenyum malu-malu, cara ia memegang ujung baju ibunya. Cara ia memandang dunia tanpa tahu bahwa dunia orang dewasa terlalu sering berbohong. Edgar mengusap wajah. Napasnya berat. Ini bukan sekadar hasil tes. Ini adalah utang hidup karena kesalahan Edgar dimasa lalu. --- Mariana pulang lebih awal hari i

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status