Share

Sasa2

last update Last Updated: 2025-11-10 12:27:42

Malam turun perlahan di rumah itu, tapi tak ada kehangatan yang menunggu di dalamnya.

Kamar pengantin yang dulu dihias bunga melati kini hanya menyisakan aroma sabun mandi dan kesepian yang pekat. Di atas meja rias, lilin yang dulu dibakar saat malam pertama kini tinggal sumbu gosong — simbol cinta yang tidak pernah benar-benar menyala.

Steve duduk di kursi dekat jendela, mengenakan kaus abu-abu dan celana panjang. Di tangannya, sebuah buku terbuka tapi tak pernah dibaca. Tatapannya kosong menembus kaca jendela, seolah mencari sesuatu di luar sana — mungkin ketenangan, mungkin bayangan Sukma yang tak pernah benar-benar hilang dari pikirannya.

Sasa berbaring di ranjang, memeluk bantal, punggungnya menghadap Steve. Ia tak berani menatap suaminya. Sejak hari pernikahan mereka, Steve tidak pernah menyentuhnya — bahkan sekadar menyapa pun hanya ketika benar-benar perlu.

> “Aku janji,” kata Steve pada malam pertama mereka, “aku tidak akan menyentuhmu. Bukan karena aku tak mampu, tap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Perkasa   Kentang

    Pagi Ini Edgar, muncul dari kamar mandi dengan rambut masih basah meneteskan air. Hanya handuk kecil melilit pinggangnya. “Ayo main dulu, Sayang,” katanya dengan nada menggoda. Mariana menoleh, mataku secara otomatis menatap ke bagian bawah Edgar . Refleks. “Serius pagi pagi?” Dia mengangguk sambil menyeringai bangga. “Tadi pas sarapan aku minum STMJ, campur tongkat ali, royal jelly, madu hutan Udah kayak jagoan siap tempur dari pedalaman aprica.” Mariana nyengir tak percaya. “Minuman kamu tuh campuran antara herbal dan harapan.” Edgar nyengir, matanya penuh tantangan. “Pokoknya. Aku udah siap tempur.” Lalu dia putar badan, terlalu semangat sampai handuknya nyaris melorot. Bokongnya sekilas nongol seperti bulan purnama yang glowing. Mariana memakai lingerie merah marun, renda halus, belahan dada vertikal, dan tidak ada satu pun kancing. Karena dia tahu, kancing hanya akan memperlambat takdir. "Let’s go, Edgar," bisik mariana pada diri sendiri. Edgar terpesona dengan

  • Suami Perkasa   Princess Snow

    Keputusan itu datang tanpa drama besar. Dinda sudah dimutasi.Edgar—dengan wajah setenang orang membicarakan cuaca—menyebutnya mutasi kerja. Ke luar kota. Katanya demi kebutuhan kantor. Masalahnya bukan Dinda. Masalahnya Mimi. Anak itu belum siap pindah sekolah. Belum siap berpisah dari teman, guru, dan rutinitas yang membuat hidupnya terasa aman. Jadi Dinda, dengan nada santai berkata, “Tolong Mimi sementara tinggal sama kalian ya. Cuma sebentar sampai sekolah mimi disini siap.” Sebentar, kata paling berbahaya di dunia orang dewasa. Mariana menatap Edgar. Edgar membalas dengan tatapan penuh harap, campur rasa bersalah. Mariana menghela napas. “Ya sudah gak apa apa kalo cuma sebentar,” katanya akhirnya. Dan sejak hari itu, rumah mereka resmi berubah fungsi: dari rumah tangga tenang menjadi arena uji kesabaran. --- Mimi tidak suka Mariana. Bukan tidak suka biasa. Tapi tidak suka tingkat nasional. Bagi Mimi, Mariana adalah simbol segalanya: perempuan yang tingga

  • Suami Perkasa   Maaf

    Mariana tidak menangis. Ia juga tidak marah. Yang ada hanyalah kekosongan—sejenis sunyi yang terasa seperti langit tanpa matahari. Masih biru, masih luas, tetapi dingin dan hampa.Ia duduk di hadapan Edgar, suaminya. Lelaki itu tampak pucat, seolah seluruh darahnya mengalir ke satu titik rasa bersalah. Tangannya gemetar di atas meja, jari-jarinya saling mengait, berusaha menahan sesuatu agar tidak runtuh sepenuhnya.“Aku… aku nggak tahu harus bilang apa,” kata Edgar akhirnya. Suaranya serak, nyaris tak terdengar.Mariana menatapnya lama. Bukan untuk menekan, bukan pula untuk menuntut. Ia sedang mencoba mencocokkan wajah di hadapannya dengan ingatan bertahun-tahun tentang lelaki yang ia cintai. Lelaki yang selama ini ia percaya.“Bilang apa?” tanyanya pelan. “Bahwa kamu punya anak dari mantanmu. Perempuan yang pergi, menikah dengan orang lain, tapi sempat kembali sebelum benar-benar menghilang?”Edgar menunduk. Bahunya jatuh, seperti beban itu akhirnya menemukan tempatnya. “Aku benar-

  • Suami Perkasa   Mimi

    Sebelumnya, Mariana sudah tahu ada yang tidak beres sejak pertama kali melihat foto anak Dinda di Nistagram.Anak itu bernama Mimi. Kecil, pipinya bulat, matanya besar dan hidup. Rambutnya hitam pekat, sedikit bergelombang. Tipe anak yang bikin orang refleks senyum saat melihatnya.Lucu. Terlalu lucu.Masalahnya bukan di kelucuannya.Masalahnya ada pada satu pikiran yang terus mengganggu kepala Mariana sejak scroll foto itu:“Kok nggak ada bule-bulenya sama sekali?”Padahal suami Dinda, Nick, bule Jerman tulen. Tinggi, putih, rambut terang, hidung tegas. Kombinasi yang secara genetika seharusnya muncul minimal satu ciri blasteran.Tapi Mimi?Kulit putih oriental. Rambut hitam lebat. Tatapan mata… sialnya mirip sekali dengan Edgar — suami Mariana.Bukan mirip sekilas.Mirip nggak sopan.Cara alisnya naik waktu tersenyum. Cara matanya menyipit sedikit kalau tertawa. Bahkan ekspresi bengalnya.Mariana berusaha menepis pikiran itu. Menuduh orang tanpa bukti itu gila. Tapi insting perempua

  • Suami Perkasa   DNA

    -- Edgar menatap amplop cokelat itu seperti menatap vonis. Tidak ada logo mencolok. Tidak ada tulisan dramatis. Hanya nama klinik dan satu kalimat kecil: Hasil Uji DNA – Rahasia Tangannya sempat gemetar ketika ia merobek tepinya. Bukan karena takut pada hasilnya—melainkan karena ia sudah tahu, jauh di dalam dirinya, apa yang akan tertulis. Ia membaca sekali. Lalu dua kali. Lalu duduk. Probabilitas hubungan biologis: 99,98%. Dunia tidak runtuh. Tidak ada petir. Tidak ada musik latar. Yang ada hanya dada Edgar yang terasa sesak, seolah udara tiba-tiba menjadi barang langka. Mimi. Anak itu… anaknya. Ia memejamkan mata. Wajah kecil itu muncul lagi—cara ia tersenyum malu-malu, cara ia memegang ujung baju ibunya. Cara ia memandang dunia tanpa tahu bahwa dunia orang dewasa terlalu sering berbohong. Edgar mengusap wajah. Napasnya berat. Ini bukan sekadar hasil tes. Ini adalah utang hidup karena kesalahan Edgar dimasa lalu. --- Mariana pulang lebih awal hari i

  • Suami Perkasa   Pemecatan

    Beberapa hari Kemudian. Dinda tidak berniat mengatakan apa pun hari itu. Ia datang ke kantor hanya untuk satu hal sederhana: menyerahkan kartu akses, laptop kantor, dan satu map tipis berisi dokumen yang selama ini ia rapikan dengan tangan sendiri. Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada air mata. Ia sudah terlalu sering kalah untuk masih berharap keajaiban. Edgar berdiri ketika Dinda masuk. Wajahnya tegang. Lebih lelah daripada marah. “Aku nggak akan lama,” kata Dinda lebih dulu. “Aku cuma mau beresin administrasi.” Edgar mengangguk. “Terima kasih.” Sunyi. Sunyi yang berat, seperti ada kalimat besar yang menggantung tapi tidak tahu harus dijatuhkan di mana. Dinda sudah hampir melangkah keluar ketika Edgar memanggil pelan, “Din.” Ia berhenti. “Aku minta maaf,” kata Edgar. “Aku tahu ini nggak adil.” Dinda tersenyum kecil. “Aku tahu. Dunia nggak pernah adil dari awal.” Edgar menatap punggungnya. Kata-kata itu menekan dadanya. “Kalau ada yang bisa aku bantu—” Dinda berbalik. Me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status