LOGINLangit sudah gelap ketika Mariana akhirnya keluar dari gedung kampus. Angin malam berhembus pelan, membawa suasana yang lebih tenang setelah seharian penuh pikiran. Ia baru saja melangkah ke halaman parkir saat sebuah mobil berhenti pelan di depannya. Kaca jendela turun. “Naik, Kak Mariana.” Mariana menghela napas. “Kamu lagi…” Alan tersenyum santai dari balik kemudi. “Aku lewat. Kebetulan ketemu kakak lagi disini.” Mariana menyipitkan mata. “Kampus ke rumahku itu nggak searah sama tempat tinggal kamu.” Alan langsung menjawab cepat, “Hari ini searah.” Mariana menatapnya beberapa detik… lalu tanpa banyak protes, membuka pintu dan masuk. “Makasih,” gumamnya singkat. Mobil melaju pelan meninggalkan kampus. --- Di dalam mobil, suasana tidak benar-benar sunyi. Ada sesuatu yang menggantung—aneh, canggung, tapi juga hangat. Alan sesekali melirik Mariana. “Kakak capek?” tanyanya. Mariana bersandar di kursi. “Lumayan.” Beberapa detik hening. Lalu tiba-tiba M
Perpustakaan mulai sedikit lebih ramai saat sore menjelang malam. Beberapa mahasiswa berdatangan, mencari tempat duduk sambil membawa buku dan laptop. Suara kursi yang digeser pelan dan bisikan-bisikan kecil memenuhi ruangan. Mariana masih duduk di tempat yang sama. Laptopnya sudah terbuka lagi, tapi layar yang menyala itu lebih lama menampilkan halaman kosong daripada tulisan. Pikirannya tidak di situ. Tatapannya kosong, jemarinya diam di atas keyboard. “Kalau Edgar itu pakai topeng… aku nggak,aku masih ori” Kalimat Alan terus terngiang. Mariana menghela napas panjang, lalu mengetik asal-asalan—beberapa angka, lalu dihapus lagi. “Fokus, Mariana… fokus,” gumamnya pelan. “Fokus apa kak?” Suara itu datang tiba-tiba dari sampingnya. Mariana langsung menoleh—dan hampir kaget setengah mati. “Aurora?!” Seorang perempuan berdiri di samping meja dengan tangan bersedekap, alis terangkat tinggi. Penampilannya rapi, tegas, dengan aura percaya diri yang khas. Aurora—adik Mariana. “
Keesok harinya, perpustakaan kampus terasa lebih sepi dari biasanya. Hanya suara halus pendingin ruangan dan sesekali lembaran buku yang dibalik terdengar samar. Di salah satu meja dekat jendela, Mariana duduk sambil menyusun laporan bahan baku di laptopnya. Alisnya sedikit berkerut, fokus, tapi sesekali ia menghela napas kecil. Alan datang seperti biasa—tanpa suara berisik, tapi kehadirannya selalu terasa. Ia membawa buku catatan tebal, rambut gondrongnya diikat setengah, kaos putihnya sedikit kusut, namun tetap saja… entah kenapa terlihat menarik. Ia berhenti di samping meja Mariana. “Boleh duduk sini Kak?” tanyanya pelan, menjaga volume suaranya agar tidak mengganggu suasana perpustakaan. Mariana bahkan tidak langsung menoleh. “Duduk aja, Lan. Emang siapa yang larang?” Alan tersenyum tipis lalu duduk di sebelahnya. Ia membuka buku catatan, berpura-pura membaca. Namun beberapa detik kemudian, matanya mulai melirik ke arah Mariana—diam-diam, tapi cukup sering untuk ketahuan. M
Alan memandangi layar ponselnya terlalu lama. Foto itu sebenarnya sederhana. Tidak ada pose khusus. Hanya seorang perempuan yang sedang berdiri dikasir rambutnya sedikit tertiup angin,dengan senyum yang tidak sepenuhnya ia sadari. Tapi entah kenapa, Alan tidak bisa berhenti menatapnya. Sudah hampir lima menit. “Buset…” Suara dari belakang membuat Alan hampir menjatuhkan ponselnya. “Lu ngapain bengong kayak orang kesambet?” Raka menyenggol bahunya sambil menjatuhkan diri di kursi sebelah. Alan langsung mematikan layar ponselnya. Terlambat. Raka sudah keburu melihat sekilas. “Eh, eh, eh…” Raka menyipitkan mata. “Tadi itu cewek siapa?” “Bukan siapa-siapa,” jawab Alan cepat. Raka malah makin curiga. “Bukan siapa-siapa tapi fotonya lu zoom segitu dekat?” katanya sambil terkekeh. “Sini gue lihat.” “Apaan sih lu.” Tapi Raka sudah keburu merebut ponselnya. Layar menyala kembali. Foto perempuan itu muncul lagi. Raka yang tadinya santai langsung berhenti tertaw
Setelah bertemu Alan kemarin Malamnya entah kenapa, Mariana merencanakan pergi dari rumah. Malam itu Edgar ketiduran di sofa ruang tamu. Mariana masuk kamar pelan-pelan, buka lemari, lalu mulai packing. Bawa baju seperlunya, skincare, test pack dua garis (buat bukti kalau dia lagi hamil), sama sebungkus keripik rumput laut buat camilan dijalan. Dia sengaja nggak bawa koper, takut bunyinya berisik. Jadi dia pakai totebag gede, kayak ibu-ibu komplek yang mau arisan. Pas keluar kamar, Mariana nengok sebentar ke arah Edgar. Edgar ngorok sambil garuk-garuk ketek. Mariana langsung mual. Dia buru-buru nutup hidung, lalu kabur. --- Mariana pesan taxi online. Begitu mobil datang, dia langsung masuk ke kursi belakang. Driver sempat heran. > “Mbak, jam segini mau ke rumah keluarga? Aman nggak, apa gak takut dibegal?” Mariana menjawab singkat sambil menatap keluar jendela. > “Saya lebih takut sama bau ketek suami, Pak. Kalau begal masih bisa kabur… kalau ketek suami ikut teru
Beberapa hari kemudian Mariana setuju bertemu Alan Di Toko Donat. mereka janjian di sebuah toko donat kecil yang cukup ramai. Aroma gula dan cokelat memenuhi ruangan. Mariana berdiri di depan etalase, memperhatikan pilihan donat. “Yang mana enak?” tanya Alan di sampingnya. “Semua kelihatan enak,” jawab Mariana singkat. Alan menatap donat di etalase sebentar, lalu justru menatap Mariana. “Donatnya manis,” katanya pelan. Mariana mendengus kecil. “Ya iyalah. Isinya gula.” Alan menggeleng pelan. “Bukan cuma donatnya.” Mariana menoleh. “Kakak Mariana juga.” Refleks Mariana menepuk lengannya pelan. “Dasar bocah! Baru delapan belas udah jago gombal.” Alan hanya tertawa kecil. Tapi tatapannya tetap intens ke arah Mariana, membuat perempuan itu mendadak salah tingkah. Saat pesanan mereka dipanggil, Mariana mengambil kotak donat dari meja. Tanpa sengaja kotak kecil itu hampir terjatuh. Alan refleks menunduk cepat, menangkapnya lebih dulu. Di saat yang sama tangan
Malam itu, kamar hotel yang penuh bunga putih menjadi saksi awal kehidupan baru Michel dan Keira. Tirai tipis berayun lembut diterpa angin dari balkon. Di luar, bulan bundar menggantung, seolah ikut mengintip. Keira duduk di tepi ranjang, jemarinya saling menggenggam, wajahnya masih menyimpan gugup
--- Laura melangkah pelan ke dalam kafe yang sama, tempat ia sebelumnya berbicara dengan Farel. Kali ini, bukan Farel yang ditunggunya, melainkan Sukma. Ia sudah menyiapkan senyum manis, riasan yang tidak berlebihan tapi tetap memikat, serta sikap seolah-olah ia benar-benar peduli. Sukma datang
Sukma menatap Laura yang kini jadi asistennya. dengan pandangan penuh tanda tanya. Awalnya ia hanya menganggap perubahan tubuh Laura karena kelelahan kerja. Namun, semakin hari, ada yang berbeda. Perut Laura yang dulu ramping kini terlihat membulat pelan. Gerak-geriknya juga lebih lamban, napasnya
“Dok… saya ingin melepas IUD ini,” ucapnya pelan, hampir berbisik.Prosesnya berlangsung singkat, tapi bagi Sukma terasa seperti melepaskan belenggu masa lalu. Saat alat kecil itu diangkat, ada rasa lega sekaligus takut. Lega karena tubuhnya kini bebas. Takut karena ia sadar, setelah ini tidak ada







