Share

Jebakan Angka Bodoh

Penulis: Puteri Bulan
last update Tanggal publikasi: 2026-10-24 22:44:14

Gema ketukan palu ketiga mematikan seluruh harapan Julian untuk menarik kembali kata-katanya. Layar proyeksi panggung seketika mengunci angka delapan puluh miliar rupiah lengkap dengan nomor peserta nol delapan.

"Disahkan! Guci Keramik Naga Biru resmi terjual kepada Tuan Muda Julian Mahendra di angka delapan puluh miliar rupiah!" umum Tuan Baskoro dengan nada suara formal yang mengisi setiap sudut aula.

Dua orang staf administrasi berpakaian hitam bergegas turun dari panggung membawa map kulit
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Jebakan Angka Bodoh

    Gema ketukan palu ketiga mematikan seluruh harapan Julian untuk menarik kembali kata-katanya. Layar proyeksi panggung seketika mengunci angka delapan puluh miliar rupiah lengkap dengan nomor peserta nol delapan."Disahkan! Guci Keramik Naga Biru resmi terjual kepada Tuan Muda Julian Mahendra di angka delapan puluh miliar rupiah!" umum Tuan Baskoro dengan nada suara formal yang mengisi setiap sudut aula.Dua orang staf administrasi berpakaian hitam bergegas turun dari panggung membawa map kulit tebal berisi surat pengesahan lelang. Mereka melangkah cepat menuju Meja Dua, meminta tanda tangan pengikatan pembayaran sebelum barang dipindahkan ke ruang penyimpanan sementara.Julian menghempaskan tubuhnya ke kursi dengan gerakan kaku, berusaha menata napasnya yang masih terdengar memburu. Ia menarik napas panjang, lalu menyunggingkan senyuman tipis ke arah para tamu di sekitarnya untuk menutupi gejolak di dalam dadanya."Bukan masalah besar," ucap Julian seraya meraih pulpen dari tangan sta

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Menarik Uluran Tangan

    Gema teriakan delapan puluh miliar rupiah meluncur bebas, memantul di dinding marmer dan kubah kaca Balai Lelang Megah. Seluruh perbincangan di lantai dasar terhenti seketika, menyisakan keheningan berat yang menyelimuti ratusan pasang mata para konglomerat.Julian masih berdiri tegak di samping kursinya dengan dada naik turun memburu. Tangan kirinya memegang papan nomor lelang tinggi-tinggi, sementara sudut bibirnya tertarik ke atas, menatap Reno dengan binar kepuasan yang menyala."Delapan puluh miliar!" seru Julian mengulang nominalnya seraya mencondongkan badannya ke arah Meja Satu. "Bagaimana sekarang, Reno? Masih punya nyali untuk menaikkan tawaran di atasku?!"Tuan Baskoro di atas panggung utama tampak menelan ludah sebelum menyentuh mikrofonnya. Angka delapan puluh miliar untuk sebuah guci Dinasti Ming adalah anomali langka yang memecahkan rekor transaksi balai lelang tahun ini."Delapan puluh miliar rupiah diajukan oleh nomor peserta nol delapan!" suara juru lelang memecah ke

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Jebakan Enam Puluh Miliar

    Angka enam puluh miliar rupiah terpampang menyala di layar digital panggung utama, menggantikan tawaran Julian yang baru bertahan kurang dari satu menit. Suara ketukan pelan jemari para kolektor di meja-meja belakang mendadak berhenti, digantikan dengungan bisik-bisik yang menjalar cepat hingga ke barisan balkon lantai tiga.Tuan Baskoro di atas podium menarik napas panjang seraya menyeka keningnya dengan saputangan putih. Juru lelang kawakan itu memeriksa kembali monitor verifikasi perbankan di depannya, memastikan lampu hijau dari rekening Meja Satu tidak mengalami kesalahan sistem."Enam puluh miliar rupiah dari nomor peserta nol satu," ulang Tuan Baskoro dengan nada lebih tertata, mengarahkan telapak tangannya ke arah meja Reno. "Penawaran sah telah terverifikasi secara langsung oleh konsorsium perbankan pusat."Julian mencengkeram tepi meja marmernya dengan kedua tangan hingga buku-buku jarinya memutih tegang. Matanya menatap angka di layar panggung, lalu beralih menatap Reno yan

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Pancingan Pertama Reno

    Seruan empat puluh miliar rupiah dari mulut Julian membuat aula utama Balai Lelang Megah hening seketika. Angka di layar proyeksi digital panggung berkedip cepat sebelum berganti menampilkan nominal baru yang melonjak drastis.Beberapa konglomerat di barisan balkon lantai dua saling melempar pandang seraya meletakkan papan nomor mereka ke atas meja. Lompatan sembilan miliar rupiah dalam satu tarikan napas adalah langkah agresif yang tidak masuk akal untuk guci era Dinasti Ming, sekalipun kondisinya tergolong prima.Tuan Baskoro memegang gagang palunya dengan kedua tangan, lalu mencondongkan badan ke arah Meja Dua. "Empat puluh miliar rupiah ditawarkan oleh Tuan Muda Julian Mahendra dengan nomor peserta nol delapan!"Julian menurunkan papannya perlahan, lalu menatap meja Reno dengan dagu terangkat penuh kemenangan. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi beludru, melipat kaki kirinya dengan gerakan santai yang kentara dibuat-buat."Bagaimana, Reno?" buka Julian seraya mengetuk permu

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Umpan Guci Naga Langka

    Tawa kecil Reno menyambut bisikan Vanya, membiarkan suaranya terdengar cukup jelas hingga mencapai telinga Julian yang berdiri terpaku. Reno kembali menyesap tehnya tanpa menatap pria itu, memperlakukan penolakan barusan layaknya obrolan santai di ruang tamu.Julian menarik tangannya dari sandaran kursi Meja Satu dengan gerak kaku, lalu berbalik menuju kursinya sendiri. Napasnya memburu pendek, sementara Danu buru-buru menggeser kotak kaca berisi keris sepuluh miliar itu ke sudut meja mereka agar tidak menghalangi pandangan majikannya."Kamu pikir kamu bisa terus bersikap tenang di depanku, Reno?" desis Julian seraya menjatuhkan tubuhnya ke kursi empuk Meja Dua. "Penolakan ini tidak membuktikan apa pun selain betapa sempitnya wawasan kalian terhadap barang berharga."Vanya melirik sekilas ke arah Danu yang sedang sibuk merapikan berkas di meja sebelah. "Orang yang membeli barang cacat dengan harga dua kali lipat memang biasanya membutuhkan banyak alasan untuk menghibur diri."Julian m

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Penolakan Tanpa Melirik

    "Sepuluh miliar rupiah dari Meja Dua!" seru Tuan Baskoro seraya mengarahkan telapak tangannya ke meja Julian.Suara dengung kaget seketika menjalar di antara kursi-kursi balkon dan barisan para taipan. Lompatan harga hampir empat miliar rupiah di atas tawaran terakhir membuat para kolektor senior di barisan belakang memilih menurunkan papan mereka. Tidak ada yang berniat membuang uang sebesar itu hanya untuk sebilah belati pembuka yang nilainya sudah terkatrol jauh di atas harga pasar."Sepuluh miliar satu kali!" pekik juru lelang seraya mengangkat palu kayunya. "Sepuluh miliar dua kali!"Julian membetulkan posisi duduknya, menyandarkan siku kirinya ke lengan kursi dengan dagu terangkat. Ia melirik meja bundar di sampingnya, menunggu reaksi panik atau rasa rendah diri yang ia harapkan muncul dari wajah Reno.TOK!Ketukan palu kayu berbalut kuningan menghantam bantalan meja panggung dengan bunyi mantap."Terjual di angka sepuluh miliar rupiah kepada Tuan Muda Julian Mahendra!" umum Tua

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status