Share

Penolakan Tanpa Melirik

Author: Puteri Bulan
last update publish date: 2026-10-22 22:56:56

"Sepuluh miliar rupiah dari Meja Dua!" seru Tuan Baskoro seraya mengarahkan telapak tangannya ke meja Julian.

Suara dengung kaget seketika menjalar di antara kursi-kursi balkon dan barisan para taipan. Lompatan harga hampir empat miliar rupiah di atas tawaran terakhir membuat para kolektor senior di barisan belakang memilih menurunkan papan mereka. Tidak ada yang berniat membuang uang sebesar itu hanya untuk sebilah belati pembuka yang nilainya sudah terkatrol jauh di atas harga pasar.

"Sepuluh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Jebakan Enam Puluh Miliar

    Angka enam puluh miliar rupiah terpampang menyala di layar digital panggung utama, menggantikan tawaran Julian yang baru bertahan kurang dari satu menit. Suara ketukan pelan jemari para kolektor di meja-meja belakang mendadak berhenti, digantikan dengungan bisik-bisik yang menjalar cepat hingga ke barisan balkon lantai tiga.Tuan Baskoro di atas podium menarik napas panjang seraya menyeka keningnya dengan saputangan putih. Juru lelang kawakan itu memeriksa kembali monitor verifikasi perbankan di depannya, memastikan lampu hijau dari rekening Meja Satu tidak mengalami kesalahan sistem."Enam puluh miliar rupiah dari nomor peserta nol satu," ulang Tuan Baskoro dengan nada lebih tertata, mengarahkan telapak tangannya ke arah meja Reno. "Penawaran sah telah terverifikasi secara langsung oleh konsorsium perbankan pusat."Julian mencengkeram tepi meja marmernya dengan kedua tangan hingga buku-buku jarinya memutih tegang. Matanya menatap angka di layar panggung, lalu beralih menatap Reno yan

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Pancingan Pertama Reno

    Seruan empat puluh miliar rupiah dari mulut Julian membuat aula utama Balai Lelang Megah hening seketika. Angka di layar proyeksi digital panggung berkedip cepat sebelum berganti menampilkan nominal baru yang melonjak drastis.Beberapa konglomerat di barisan balkon lantai dua saling melempar pandang seraya meletakkan papan nomor mereka ke atas meja. Lompatan sembilan miliar rupiah dalam satu tarikan napas adalah langkah agresif yang tidak masuk akal untuk guci era Dinasti Ming, sekalipun kondisinya tergolong prima.Tuan Baskoro memegang gagang palunya dengan kedua tangan, lalu mencondongkan badan ke arah Meja Dua. "Empat puluh miliar rupiah ditawarkan oleh Tuan Muda Julian Mahendra dengan nomor peserta nol delapan!"Julian menurunkan papannya perlahan, lalu menatap meja Reno dengan dagu terangkat penuh kemenangan. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi beludru, melipat kaki kirinya dengan gerakan santai yang kentara dibuat-buat."Bagaimana, Reno?" buka Julian seraya mengetuk permu

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Umpan Guci Naga Langka

    Tawa kecil Reno menyambut bisikan Vanya, membiarkan suaranya terdengar cukup jelas hingga mencapai telinga Julian yang berdiri terpaku. Reno kembali menyesap tehnya tanpa menatap pria itu, memperlakukan penolakan barusan layaknya obrolan santai di ruang tamu.Julian menarik tangannya dari sandaran kursi Meja Satu dengan gerak kaku, lalu berbalik menuju kursinya sendiri. Napasnya memburu pendek, sementara Danu buru-buru menggeser kotak kaca berisi keris sepuluh miliar itu ke sudut meja mereka agar tidak menghalangi pandangan majikannya."Kamu pikir kamu bisa terus bersikap tenang di depanku, Reno?" desis Julian seraya menjatuhkan tubuhnya ke kursi empuk Meja Dua. "Penolakan ini tidak membuktikan apa pun selain betapa sempitnya wawasan kalian terhadap barang berharga."Vanya melirik sekilas ke arah Danu yang sedang sibuk merapikan berkas di meja sebelah. "Orang yang membeli barang cacat dengan harga dua kali lipat memang biasanya membutuhkan banyak alasan untuk menghibur diri."Julian m

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Penolakan Tanpa Melirik

    "Sepuluh miliar rupiah dari Meja Dua!" seru Tuan Baskoro seraya mengarahkan telapak tangannya ke meja Julian.Suara dengung kaget seketika menjalar di antara kursi-kursi balkon dan barisan para taipan. Lompatan harga hampir empat miliar rupiah di atas tawaran terakhir membuat para kolektor senior di barisan belakang memilih menurunkan papan mereka. Tidak ada yang berniat membuang uang sebesar itu hanya untuk sebilah belati pembuka yang nilainya sudah terkatrol jauh di atas harga pasar."Sepuluh miliar satu kali!" pekik juru lelang seraya mengangkat palu kayunya. "Sepuluh miliar dua kali!"Julian membetulkan posisi duduknya, menyandarkan siku kirinya ke lengan kursi dengan dagu terangkat. Ia melirik meja bundar di sampingnya, menunggu reaksi panik atau rasa rendah diri yang ia harapkan muncul dari wajah Reno.TOK!Ketukan palu kayu berbalut kuningan menghantam bantalan meja panggung dengan bunyi mantap."Terjual di angka sepuluh miliar rupiah kepada Tuan Muda Julian Mahendra!" umum Tua

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Kilau Belati Pertama

    Papan nomor lelang berlapis emas itu berkilau terpapar lampu sorot aula saat Julian mengacungkannya ke udara. Angka delapan berukir timbul di permukaannya dipamerkan tepat di depan meja bundar Reno dan Vanya.Danu yang berdiri di belakang kursi Julian melipat kedua tangannya seraya melayangkan tatapan merendahkan. Beberapa asisten konglomerat di meja sekitar melirik ke arah Meja Dua, menyadari bahwa putra mahkota klan Mahendra sedang bersiap unjuk gigi."Hermawan mungkin berbaik hati memberimu kursi empuk di barisan depan, Reno," buka Julian seraya mengetuk-ngetukkan gagang papan lelangnya ke tepi meja marmer. "Tapi di ruangan ini, orang yang tidak memegang papan penawar resmi hanyalah penonton yang menunggu belas kasihan."Vanya meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi denting halus di atas tatakan keramik. Ia menatap Julian dengan pandangan santai, sama sekali tidak terganggu oleh gestur pamer tersebut."Julian, papan itu cuma sepotong kayu berlapis cat emas," celetuk Vanya seraya mer

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Ruang Lelang Para Taipan

    "Silakan lewat sini, Tuan Reno, Nona Vanya," ucap Hermawan seraya membuka salah satu daun pintu kayu mahoni berukir di ujung lorong VIP.Pintu ganda itu mengayun terbuka, memperlihatkan kemegahan aula utama Balai Lelang Megah yang berbentuk melingkar layaknya teater klasik Eropa. Tiga tingkat balkon berpagar kuningan dipenuhi ratusan kursi beludru merah tua yang kini telah terisi penuh oleh para pemilik modal, kurator seni, dan jajaran direksi korporasi papan atas.Lampu gantung kristal di kubah langit-langit memancarkan pendaran cahaya kuning temaram, menyorot panggung utama yang beralaskan karpet beludru hitam. Di atas meja pamer bundar, beberapa peti kaca antipeluru telah berdiri siaga di bawah penjagaan ketat personel berjas rapi.Hermawan memandu langkah mereka menuruni tangga karpet menuju barisan terdepan, tempat meja bundar berbalut taplak sutra putih khusus tamu utama berada."Paviliun Meja Satu adalah posisi terbaik untuk meninjau seluruh barang lelang malam ini tanpa halang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status