Share

Ketukan Palu Sidang

Author: Puteri Bulan
last update publish date: 2026-10-13 01:04:21

"Tutup pintu ruang rapat dan kunci akses lift luar sekarang juga!" perintah Tirta Elric seraya menggebrak meja jati panjang di lantai tujuh puluh.

Suasana ruang sidang dewan komisaris mendadak tegang saat dua petugas keamanan bersiap memutar slot kunci manual.

Namun, sebelum daun pintu perunggu itu merapat, sebuah sepatu pantofel hitam mengilap menahan dorongan tersebut dengan tenang.

Pintu terbuka lebar, memperlihatkan Reno yang melangkah masuk tanpa tergesa-gesa. Di sampingnya, Vanya Adija
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Pucat Pasi Dewan Pengawas

    "Ulangi sekali lagi perkataanmu, Notaris!" bentak Tirta seraya menggebrak meja dengan kedua telapak tangannya yang gemetar. Napas pria paruh baya itu memburu cepat, matanya melotot tajam ke arah layar komputer di hadapannya. "Saya tidak salah membaca data, Tuan Tirta," jawab sang notaris dengan suara tegas seraya memutar posisi komputernya ke tengah meja rapat. "Berdasarkan arsip resmi kementerian hukum, pemilik modal tunggal dari Helios Capital adalah R.E. Corporation yang terdaftar atas nama Reno Elric!" lanjut notaris itu tanpa ragu. Marwan menyandarkan punggungnya lemas ke kursi, kedua tangannya yang berkeringat dingin terkulai di atas paha. "Reno... anak ini benar-benar pemilik pembeli saham itu?" bisik Marwan dengan suara tercekat di tenggorokan. Vanya Adijaya tertawa kecil, menikmati wajah-wajah panik para komisaris tua di sekeliling meja. "Bukankah tadi kalian sangat bersemangat ingin menendang Reno keluar dari gedung ini?" celetuk Vanya santai seraya menopang dagunya d

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Kartu As R.E. Corporation

    "Masih bernilai katamu?!" semprot Tirta seraya mendengus sinis di hadapan Reno. Pria paruh baya itu menarik kembali lembaran saham bertinta emas itu, lalu melambai-lambaikan kertas tersebut dengan pongah. "Kertas ini bukan cuma bernilai, tapi menjadi kunci kematian posisimu di gedung ini!" seru Tirta dengan nada mengejek yang sangat kental. "Kamu pikir tanda tangan basah dan cap lilin notaris internasional ini bisa kamu anggap mainan anak-anak?" sambung Tirta seraya mencibir. Bramasta terkekeh serak dari atas kursi rodanya, membetulkan letak kacamatanya dengan ujung jari telunjuk. "Reno, jangan mempermalukan dirimu lebih jauh dengan menyangkal dokumen sah," ucap Bramasta dengan nada menggurui. "Lembaga pemodal asing yang memegang saham ini sudah mengikat perjanjian resmi dengan kami sejak dua tahun lalu," lanjut ketua komisaris itu. "Mereka menyerahkan hak suara penuh kepada Tuan Tirta untuk menggulingkan siapa pun yang merusak kestabilan perusahaan," tambah Bramasta penuh perc

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Tawa Sombong Sang Paman

    "Duduk dan simpan kertas konyolmu itu, Paman," tegur Reno pelan tanpa sedikit pun bergeser dari kursi pimpinan. Suaranya tidak keras, namun ketenangannya seketika memotong dengung pendingin udara di ruang sidang lantai tujuh puluh. Tirta Elric tidak menurunkan tangannya, justru mendongak seraya tertawa terbahak-bahak. Suara tawa pria paruh baya itu bergema nyaring, memantul di dinding kaca kedap suara. "Konyol katamu?!" seru Tirta seraya mengibaskan map bersampul merah itu tepat ke arah hidung Reno. "Dokumen ini ditandatangani langsung oleh Kakekmu sepuluh tahun yang lalu!" sambung Tirta dengan dada membusung bangga. Bramasta mengetukkan ujung tongkat berkepala elang peraknya ke ubin marmer, menyunggingkan senyum puas dari atas kursi roda. "Reno, kamu terlalu lama bermain di comberan sampai lupa aturan dasar keluarga ini," cibir Bramasta dengan suara serak. Vanya Adijaya menyandarkan tubuhnya santai pada sandaran kursi kulit empuk di sebelah Reno.Jemari lentiknya mengetuk-nget

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Ketukan Palu Sidang

    "Tutup pintu ruang rapat dan kunci akses lift luar sekarang juga!" perintah Tirta Elric seraya menggebrak meja jati panjang di lantai tujuh puluh. Suasana ruang sidang dewan komisaris mendadak tegang saat dua petugas keamanan bersiap memutar slot kunci manual. Namun, sebelum daun pintu perunggu itu merapat, sebuah sepatu pantofel hitam mengilap menahan dorongan tersebut dengan tenang. Pintu terbuka lebar, memperlihatkan Reno yang melangkah masuk tanpa tergesa-gesa. Di sampingnya, Vanya Adijaya melangkah anggun dalam balutan setelan formal berwarna abu-abu gelap. "Ruang sidang sebesar ini kenapa terasa begitu pengap, Reno?" celetuk Vanya santai seraya melirik deretan kursi komisaris. "Banyak sampah menumpuk di sini sejak tiga tahun lalu, makanya udaranya agak kotor," sahut Reno seraya menarik kursi utama di ujung meja. Reno duduk di kursi kepala meja rapat, tempat yang selama puluhan tahun menjadi simbol kekuasaan tertinggi Elric Group. Albert berdiri tegap tepat satu langkah di

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Siasat di Balik Pintu Baja

    "Siapa nama orang kepercayaan Kakek yang berani menjual kehormatan keluarga demi selembar kursi itu, Albert?" tanya Reno dengan suara rendah seraya melipat kedua tangannya di atas meja kerja. Albert membuka map kulit hitam itu lebih lebar, lalu menunjuk satu tanda tangan bertinta merah di halaman lampiran terakhir. "Tirta Elric, paman tiri Anda sendiri, Tuan Muda," jawab Albert dengan nada tegas. Vanya mengangkat satu alisnya, meletakkan gelas minumannya ke atas meja seraya menyandarkan tubuhnya dengan santai. "Paman tiri yang pura-pura sakit di luar negeri selama tiga tahun terakhir?" sahut Vanya dengan nada menyindir. "Tepat sekali, Nona Vanya," balas Albert cepat. "Beliau diam-diam mendarat di kota ini dua hari lalu dan menginap di vila mewah milik Bramasta," tambah Albert seraya menunjukkan rekaman kamera pengawas bandara pada gawainya. Reno mengamati potret pria paruh baya berjas abu-abu di layar gawai itu tanpa sedikit pun raut terkejut. "Tirta selalu mengincar posisi ke

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Berkas Rahasia Para Pembangkang

    "Berkas transaksi gelap ini baru saja berhasil disadap dari brankas pribadi Komisaris Bramasta, Tuan Reno," lapor Albert seraya meletakkan sebuah map kulit hitam tebal ke atas meja kaca. Reno meraih map tersebut, membukanya tanpa terburu-buru seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit. Vanya yang duduk santai di sampingnya ikut mencondongkan badan, menatap lembaran kertas berstempel rahasia itu dengan penuh rasa ingin tahu. "Kertas-kertas ini terlihat sangat kusam untuk ukuran dokumen penting," celetuk Vanya santai seraya mengambil selembar salinan laporan bank. "Kusam karena disimpan rapat selama tiga tahun penuh, Nona Vanya," sahut Albert seraya membetulkan letak kacamatanya. "Tepat sejak hari pertama Tuan Reno memulai masa penyamaran di jalanan." Reno membalik halaman pertama, membaca baris-baris angka yang tercetak rapi di atas kertas. "Bramasta dan kawan-kawannya ternyata sangat sibuk saat aku tidak berada di kantor ini," ucap Reno dengan nada datar. "Sibuk m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status