Share

Suami dan Anakku Lebih memilih Adikku
Suami dan Anakku Lebih memilih Adikku
Author: Yesi

Bab 1

Author: Yesi
Melihatku memesan tiket, kerutan di dahi Kian Mahendra pun mengendur.

Dia mengusap kepala Wina Prameswari, lalu menggenggam tanganku.

"Kalau begitu, ayo beli baju renang."

"Wina dan Gavin baru-baru ini belajar berselancar secara intensif, jadi begitu sampai di Balia, mereka bisa langsung mempraktikkannya."

Gavin memeluk erat paha Wina sambil bermanja-manja.

"Bibi pasti akan menjadi pemandangan yang paling indah nanti."

Anakku jarang sekali bersikap manis.

Dia selalu menjaga jarak denganku tanpa alasan yang jelas, di sorot matanya tersimpan penghinaan yang sulit dijelaskan

Untuk mendekatkan hubungan ibu dan anak, aku mencari kreator konten kuliner yang diikuti Gavin, lalu mempelajari masakan yang pernah dia sukai.

Namun, setiap kali aku bertanya kepada Gavin dengan penuh harap apakah masakanku enak, jawabannya selalu mengecewakan.

Dia selalu mengernyit, memuntahkan makanan ke tempat sampah, lalu sampai merasa mual beberapa kali.

"Masakan Ibu benar-benar nggak enak."

Padahal, rasa masakanku cukup enak. Jadi, aku pikir itu hanya karena tidak sesuai dengan selera Gavin.

Tetapi sekarang aku mengerti, dia tidak menyukaiku sehingga segala sesuatu yang kubuat pun akan dia benci.

Aku duduk di kursi penumpang depan dan melihat Gavin berbaring dengan tenang dalam pelukan Wina melalui kaca spion.

Begitu menyadari aku sedang melihatnya, dia menjulurkan lidah dan membuat wajah mengejek ke arahku.

Wina menutup mulutnya sambil tertawa, tak kuasa menahan diri untuk berkomentar.

"Kak, kau dan Gavin pasti bermusuhan di kehidupan sebelumnya."

"Padahal, dia anak paling penurut yang pernah kutemui, tapi entah kenapa nggak pernah bisa akur denganmu."

Sambil memutar kemudi, Kian ikut menimpali.

"Gavin memang lebih menyukaimu. Setiap ulang tahun, keinginannya selalu sama, dia berharap agar bibinya yang ceria dan periang bisa menjadi ibunya."

Begitu kata-kata itu terucapkan, wajah Wina memerah.

Dia melirik Kian dengan malu-malu, lalu menggelitik pinggang Gavin.

"Omong kosong, ibumu nanti bisa sedih."

Tawa dan canda memenuhi mobil, tetapi setiap suara itu terasa seperti jarum yang menusuk hatiku.

Aku memandangi anak yang telah kulahirkan dengan mempertaruhkan nyawa. Sejak Wina pindah ke rumah kami, dia tak pernah lagi dekat denganku.

Rasa pahit menjalar di mulutku, Kian membungkuk untuk membantuku melepaskan sabuk pengaman.

Seolah menyadari suasana hatiku yang sedih, dia mengecup keningku untuk menghibur.

"Itu cuma candaan anak-anak, jangan dipikirkan."

Setelah masuk ke toko pakaian renang, Kian yang semula berjalan berdampingan denganku perlahan mendekati Wina.

Wina menggandeng tangan Gavin, sementara Gavin menggandeng Kian.

Pramuniaga menyapa dengan ramah.

"Keluarga kecil Anda terlihat begitu bahagia."

Tidak ada yang memperhatikan aku yang tertinggal di belakang, tak ada juga yang meluruskan bahwa akulah yang seharusnya menjadi bagian dari keluarga kecil itu.

Mataku terasa perih, aku menatap Gavin yang sedang memilih baju renang untuk Wina.

Tiba-tiba dia menghampiriku sambil membawa sebuah baju renang berwarna kuning muda, matanya penuh harapan.

"Ibu, kau pasti akan terlihat cantik kalau memakai ini."

Kian ikut menimpali sambil mendorongku menuju ruang ganti.

"Cepat dicoba dan lihat selera anakmu."

Kehangatan mengalir di hatiku. Setelah berganti baju renang, aku masih merapikan beberapa bagian yang berkerut di depan cermin.

Aku mengira akan menerima pujian begitu membuka pintu. Namun, tak kusangka, tepat saat pintu terbuka, kilatan lampu kamera langsung menyala.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami dan Anakku Lebih memilih Adikku   Bab 10

    Kian masih saja tidak mau pergi. Dia tetap berjaga di depan pintu kamarku tanpa bergeming sedikit pun.Aku mengunduh foto-fotoku dan mengirimkan karya untuk kompetisi.Selama setengah bulan menunggu hasil kompetisi, Gavin mengirimkan sebuket bunga setiap hari.Sedangkan Kian, dia menghabiskan banyak uang untuk menyalakan kembang api selama setengah bulan.Kembang api yang gemerlap menerangi separuh langit, namun tak lagi mampu menerangi masa depan aku dan Kian.Setiap kali pertunjukan kembang api berakhir, ada kata yang akan muncul di langit."Maafkan aku."Pemilik penginapan itu menyesap minumannya sambil mendorong sepiring kacang ke arahku."Aksi sebesar ini bahkan lebih meriah daripada saat dia mengejarmu dulu. Apa kau benar-benar nggak tergerak sedikit pun?"Aku melirik pria di luar jendela yang terus menanti dengan penuh harap, lalu mengambil kamera di sampingku."Nggak sama sekali. Sekarang, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.""Aku nggak mau lagi terjebak di dapur, terjebak

  • Suami dan Anakku Lebih memilih Adikku   Bab 9

    Penata rias itu sangat terampil, dia mengoleskan riasan dengan lembut di wajahku.Sambil menatap wajahku yang perlahan tampak semakin cantik di cermin, tanpa sadar aku teringat pada diriku sepuluh tahun lalu, ketika masih polos tanpa riasan dan meringkuk dalam pelukan Kian.Dia mencium bibirku dan berjanji akan tetap mencintaiku apa pun perubahan yang terjadi pada diriku.Namun, seiring berjalannya waktu, Kian mulai mencela penampilanku yang berantakan. Sebaliknya, dia memuji Wina yang pandai berdandan, masih muda, dan cantik.Demi pemotretan gaun pengantin di Danau Erana, setiap minggu aku menyempatkan diri pergi ke klinik kecantikan dan mengikuti sesi privat Pilates, berharap bisa menjadi sedikit lebih cantik demi mempertahankan hati Kian.Aku mengambil kamera dan memotret momen ketika penata rias mengenakan kerudung pengantin di kepalaku.Entah dari mana mereka mendapat kabar, Kian dan Gavin menyusulku sampai ke butik pengantin.Saat mereka masuk, aku sedang berdiri di bawah sorotan

  • Suami dan Anakku Lebih memilih Adikku   Bab 8

    Dengan mata memerah, Kian berjalan menghampiriku, lalu memelukku erat-erat.Beberapa tetes air mata dingin mengalir ke lekukan leherku. Dia menggesekkan wajahnya ke leherku dengan menyedihkan."Sayang, kita jangan bercerai, ya?"Gavin mendekat dan menggenggam tanganku. Dengan mata berkaca-kaca, dia memohon kepadaku."Ibu, jangan tinggalkan aku dan Ayah."Selama penerbangan menuju Erana, aku sempat membayangkan bagaimana reaksi Kian dan Gavin setelah menyadari kepergianku.Mereka pasti mengira aku hanya sedang merajuk, berusaha menarik perhatian mereka.Aku benci sikap acuh tak acuh mereka, membenci ketidakpahaman mereka terhadap diriku, dan membenci keberpihakan mereka kepada Wina.Awalnya aku mengira, saat bertemu kembali dengan Kian dan Gavin, aku akan memaki mereka habis-habisan dan menyuruh mereka keluar dari kehidupanku.Tetapi sekarang, hatiku tak bergelora sama sekali, seolah-olah mereka hanyalah orang asing bagiku.Air mata Kian membasahi kerah bajuku. Dengan kesal, aku mendoro

  • Suami dan Anakku Lebih memilih Adikku   Bab 7

    Setibanya di Danau Erana, aku langsung menuju penginapan yang sudah dipesan sebelumnya.Pemiliknya adalah penggemar beratku, dia bahkan sudah datang ke bandara untuk menjemputku.Dia melirik ke arah belakangku, lalu bertanya dengan heran."Kenapa suami dan anakmu nggak ikut datang?""Bukannya kalian sudah berjanji untuk pemotretan foto pernikahan di Danau Erana untuk merayakan ulang tahun pernikahan yang kesepuluh?"Aku tersenyum tipis sambil menjelaskan dengan suara pelan."Kami berencana bercerai."Pemilik penginapan itu berseru, "Hah!" dengan tidak percaya, lalu kembali bertanya."Dulu, Kian rela menghamburkan banyak uang untuk mengejarmu. Pada bulan ketika kau menerima pernyataan cintanya, setiap malam ada pertunjukan dron di Danau Erana yang menaburkan kelopak mawar.""Dia bahkan pernah berlutut di depan gunung bersalju dan bersumpah nggak akan pernah mengecewakanmu seumur hidupnya. Bagaimana bisa kalian sampai di titik perceraian seperti ini?"Cinta kami dulu memang begitu mengge

  • Suami dan Anakku Lebih memilih Adikku   Bab 6

    Punggung Kian perlahan membungkuk saat dia membuka surat perjanjian cerai itu.Di bagian tanda tangan, nama Wulan tertulis dengan rapi.Hatinya seolah terjatuh ke dalam lubang es, dan seketika menyadari betapa seriusnya pertengkaran kali ini.Wina terbangun dalam keadaan lapar, lalu membuka pintu kamar dan keluar."Apakah kakakku sudah membereskan barang-barang kita? Suruh dia memasak mi saja. Kita makan dulu sebelum berangkat."Biasanya, setelah dia berkata begitu, Kian akan langsung menyuruh Wulan melakukannya, dan Gavin juga akan mendesak Wulan dengan nada tidak sabaran.Namun hari ini, ayah dan anak itu sama sekali tidak menanggapinya.Wina mengernyitkan dahi dan tanpa sadar mulai mengeluh."Kak Kian, kau dengar nggak? Aku lapar."Di benak Kian terlintas bayangan Wulan yang setiap pagi berusaha keras untuk menyiapkan sarapan.Wina sangat pemilih soal makanan, mi harus yang dibuat dengan tangan, dan pangsit dengan kulit yang baru digiling.Wulan selalu mengalami insomnia. Baru tidur

  • Suami dan Anakku Lebih memilih Adikku   Bab 5

    Saat sinar matahari yang menyilaukan menerpa mata, Kian tanpa sadar mendorong orang yang berada di sampingnya."Wulan, tolong tutup tirainya."Aroma asing merangsang indranya hingga dia seketika tersadar sepenuhnya.Kian menoleh ke arah Wina yang terbaring di sampingnya, lalu dengan panik menyingkap selimut.Dia masih mengenakan pakaian, sedangkan Wina juga masih memakai piyama. Dia tidak melakukan sesuatu yang mengkhianati Wulan.Gavin terbangun karena keributan itu, tetapi masih enggan bangun dan meringkuk kembali ke dalam pelukan Wina."Ibu, aku masih mau tidur sebentar lagi."Namun, seketika itu juga, matanya membelalak saat melihat Wina di hadapannya, lalu tiba-tiba menangis keras."Kenapa Bibi yang ada di sini?"Wina merasa terganggu oleh kebisingan itu, lalu menendang Gavin hingga terjatuh dari tempat tidur.Kian terlambat mengulurkan tangannya, sehingga hanya bisa menyaksikan Gavin terjatuh ke lantai, hingga dahinya langsung membengkak dan memerah.Dengan perasaan iba, dia meng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status