Beranda / Zaman Kuno / Suami untuk Sang Putri / 02. Ditolong Pemuda Bertopeng

Share

02. Ditolong Pemuda Bertopeng

Penulis: Serpihan Salju
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-15 01:38:02

Detak jantung Putri Chu Rong Xi berpacu tak beraturan. Keringat dingin membasahi telapak tangannya yang terikat kencang di belakang punggung. Aroma tanah basah bercampur keringat kuda menyeruak ke hidungnya, menambah rasa mual yang menggelayut di perutnya. Setiap guncangan kuda yang melaju kencang membuat tulang belakangnya terasa nyeri.

"Lepaskan aku sekarang juga! Apakah kalian tidak tahu siapa diriku?" suaranya bergetar, meski berusaha terdengar tegas. Matanya menyapu wajah-wajah keras para penculiknya yang berbalut cadar hitam.

Seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka melintang di pipi kiri terkekeh kasar. Giginya yang menguning terlihat jelas ketika ia menyeringai.

"Justru karena kami mengetahui identitasmu dengan pasti, maka kami menculikmu, Tuan Putri!" Suara seraknya memantul di antara pepohonan hutan yang rimbun.

Sementara itu, pemuda di atas pohon masih tak juga beranjak dari tempatnya. Ia mengawasi keadaan sambil berpikir, 'Seorang gadis berpakaian seperti putri kerajaan dan orang-orang itu menyebutnya Chu Rong Xi?'

Pemuda itu terkejut dengan nama yang sudah tak asing bagi rakyat Negeri Chu Agung. 'Putri Chu Rong Xi! Jadi dia adalah putri kaisar yang sekarang?'

Pemuda di atas pohon memerhatikan sekali lagi kelompok orang berpakaian serba hitam yang melintas di hadapannya. 'Orang-orang yang membawanya tidak mirip dengan para prajurit kekaisaran dan mereka memakai cadar."

'Para prajurit kekaisaran tak akan memakai cadar seperti itu." Pemuda itu menggelengkan kepala. 'Cara mereka mengikat dan membawa sang putri juga sangat kasar!'

Mata pemuda itu kembali mengamati gerombolan berkuda yang berpakaian serba hitam dengan kain cadar di wajah masing-masing.

"Tampaknya itu tidak seperti orang-orang yang sedang mengawal seorang tuan putri. Mereka lebih mirip seperti ...."

"Penculikan!'

'Ini tidak bisa dibiarkan!' Pemuda itu lalu meraba topeng wajah iblis yang tergantung di pinggang kanannya dan ia langsung memasang benda itu di wajah tampan nan cantiknya. 'Sepertinya, aku memang harus segera melakukan sesuatu.'

Sementara itu, derap kuda terus menggemuruh menapaki jalan setapak yang berliku. Jalanan tanah yang biasa dilalui pencari kayu bakar dan pemetik buah hutan itu kini dipenuhi jejak sepatu kuda yang dalam. Debu beterbangan mengikuti langkah mereka yang tergesa.

Pemuda bertopeng bergerak gesit bagaikan bayangan anak panah yang melesat. Kakinya melompat ringan dari dahan ke dahan, mengikuti pergerakan para penculik dengan tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Napasnya teratur meski bergerak dengan kecepatan tinggi.

Dengan kelincahan seorang pendekar ulung, ia memetik beberapa helai daun bambu yang masih segar. Ujung jemarinya memancarkan tenaga dalam yang bergelora, mengalirkannya ke setiap helai daun hingga berubah menjadi senjata mematikan.

"Hyaaaa!" serunya dalam hati sambil melepaskan serangan bertubi-tubi.

SYUUUT! SYUUUT! SYUUUT!

Daun-daun bambu itu melesat bagaikan anak panah, membelah udara dengan desis tajam sebelum menghantam sasaran dengan presisi sempurna.

"Argh!"

"Ugh!"

"Aakh!"

Para penculik merintih kesakitan saat leher mereka tersayat daun bambu yang tajam. Darah segar menetes membasahi kerah baju hitam mereka.

Serangan mendadak itu berhasil membuat kuda-kuda mereka terkejut dan memperlambat laju. Para penculik saling bertukar pandang waspada, mata mereka menyapu sekeliling hutan dengan gelisah.

"Bedebah! Pengecut mana yang hanya berani menyerang kami secara sembunyi-sembunyi?" raung pemimpin kelompok dengan suara serak penuh amarah. Matanya yang memerah menyala-nyala mencari sosok penyerang.

Pemuda bertopeng hanya tersenyum sinis di balik topengnya. Dengan gerakan lincah, ia menerkam tali kekang kuda yang ditunggangi Putri Chu Rong Xi, menariknya dengan kekuatan penuh.

Kuda malang itu mendengking keras sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi, terkejut oleh hentakan tiba-tiba pada tali kekangnya.

"Kyaaaaa!" Putri Chu Rong Xi menjerit ketika tubuhnya terlempar dari pelana, terjatuh tak terkendali menuju tanah keras di bawahnya. Matanya terpejam erat, bersiap menerima benturan yang menyakitkan.

Namun tubuhnya tak pernah menyentuh tanah. Alih-alih merasakan keras batuan, ia merasakan kehangatan pelukan yang kuat melingkari pinggangnya. Matanya terbuka perlahan, mendapati sepasang mata tajam di balik topeng wajah iblis yang menatapnya intens.

Mereka melayang bersama di udara, berputar dalam tarian penyelamatan yang memukau sebelum mendarat lembut di tanah lapang.

'Siapa dia?' Putri terkejut, tetapi ia tak bisa bergerak apalagi untuk bertanya lebih lanjut.

"Kamu segera menyingkirlah ke tempat yang aman! Aku akan menghadapi mereka semua!" perintah pemuda bertopeng dengan suara dalam yang menenangkan sambil memotong ikatan di pergelangan tangan sang putri menggunakan ujung pedangnya yang berkilau.

Putri Chu Rong masih tertegun, takut kalau-kalau orang ini juga memiliki niat jahat terhadap dirinya.

"Tunggu apa lagi?"

"Oh!" Putri Chu Rong Xi kaget dan tergagap. "Ba ... baik, Tuan!"

Putri Chu Rong Xi segera berlari tergopoh menuju semak belukar, jantungnya masih berdebar kencang.

Pemuda bertopeng tersenyum tipis saat melihat gadis itu berlari ketakutan sebelum akhirnya kembali fokus menanti kedatangan para pria berpakaian serba hitam yang mengejarnya.

"Heeehh!" Gumamnya, sambil memutar lehernya yang terasa kaku dan pegal.

"Baru saja terbangun dari mimpi tapi sudah harus berhadapan dengan sekawanan anjing liar." Pemuda bertopeng meraba dua gagang pedang yang terpasang di punggungnya.

"Da Jian, Xiao Jian, bersiaplah untuk bersenang-senang," bisik pemuda itu kepada sepasang senjatanya.

Dari balik rimbun dedaunan, ia mengintip pemuda penolongnya yang kini berdiri tegak menghadapi keenam penculiknya.

'Semoga saja Dewa melindungi orang itu!' Putri Chu Rong Xi berdoa dalam hati. Hatinya harus menahan harap-harap cemas dan tekanan ketakutan dan yang teramat sangat.

"Tangkap dia! Jangan sampai Putri Chu terlepas dari genggaman kita!" teriak para penculik sambil memacu kuda mereka, berusaha mengejar pemuda bertopeng yang telah menggagalkan rencana mereka.

"Tangkaaaap!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (5)
goodnovel comment avatar
Dark Villain
seru seru seruuuuu
goodnovel comment avatar
Shen Sha
Sprti biasa selalu keren
goodnovel comment avatar
Serpihan Salju
Hahahaha, iya, Kak
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Suami untuk Sang Putri   99. Tubuh Yin dan Tubuh Yang

    Setelah itu, Tetua Yang Chao bergegas menemui Qing Yuan yang sudah dibaringkan di atas pembaringan oleh Yang Lin. Wajah pemuda itu tampak pucat dengan bibir yang membiru. Tetua Yang Chao mengambil bantal kecil, menempatkan pergelangan tangan Qing Yuan di atas benda empuk tersebut. Jari-jari tuanya menekan beberapa titik nadi. Ia melakukannya dengan hati-hati dan teliti. Setelah beberapa saat memeriksa dengan ekspresi serius, Tetua Yang Chao berkata, "Sepertinya racun darahnya memang kumat lagi. Dan kali ini sedikit lebih parah dari sebelumnya." "Lalu bagaimana cara mengatasinya?" tanya Yang Lin, cemas. "Kita lakukan pengobatan seperti biasa. Hanya saja kali ini dia harus direndam dalam ramuan khusus guna menekan penjalaran racun aneh yang sepertinya terbilang masih baru," jawab Tetua Yang Chao, ekspresinya tampak serius. "Racun baru?" Yang Lin terkejut. Tetua Yang Chao menjawab, "Kita akan segera mengetahuinya nanti." 'Racun baru?' Qing Yuan sedikit kaget. 'Jangan-jangan

  • Suami untuk Sang Putri   98. Membicarakan Bocah Beban

    Yang Lin baru saja tiba di depan gerbang Balai Qi Sheng sambil menggendong tubuh Qing Yuan yang dalam keadaan setengah tak sadar. Kepanikan di hatinya membuat langkah pemuda itu menjadi begitu cepat. Keringat membasahi pelipisnya, napasnya tersengal-sengal menahan beban tubuh Qing Yuan yang semakin lemas."Buka pintunya!" Demi mendengar teriakan tersebut, para penjaga jadi waspada, takut kalau itu adalah suara musuh yang datang ingin mengacaukan tempat itu. Mereka saling bertatapan dengan ekspresi was-was, tangan masing-masing sudah memegang senjata.Sambil setengah berlari, pemuda itu kembali berteriak dengan suara yang lebih keras, "Cepat buka pintunya! Ini aku, Yang Lin!""Itu Tuan Muda Yang Lin!" seru salah seorang penjaga yang ada di menara pengintai. Matanya menyipit memastikan sosok yang datang. "Cepat buka pintunya!" Para penjaga yang merupakan murid-murid Balai Qi Sheng langsung membuka pintu gerbang dengan ekspresi heran. Mereka tidak pernah melihat Yang Lin dalam kondisi

  • Suami untuk Sang Putri   97. Meminta Lima Bayi Kembar

    Malam harinya, Qing Yuan benar-benar dibuat gelisah akibat terus memikirkan bagaimana cara melarikan diri dari keikutsertaannya dalam sayembara tersebut. Hampir sepanjang malam ia menghabiskan waktu hanya untuk mencari jalan terbaik yang tidak menyakiti siapa pun, terutama Yang Hua dan Shen Ji. 'Kalau aku ikut Sayembara itu, maka kesempatanku untuk dapat menikahi Hua'er mungkin akan sangat sulit. Dia pernah berkata, kalau dia tidak mau jika suaminya kelak memiliki istri lain,' pikir Qing Yuan. 'Tapi kalau aku tidak ikut, laoshi pasti akan marah dan bisa-bisa menghukumku lagi.' "Ah Yuan, asalkan kamu bersedia mengikuti sayembara itu, aku bisa saja tidak membunuh Hua'er. Tapi kalau kamu menolak perintahku, maka kamu akan kehilangan muridmu itu," ucap Yang Hua, siang tadi seusai pertemuan. Ingatlah siapa itu Ji Mei Hua. "Bagaimanapun juga dia adalah anak dari Shen Ming, pembunuh kedua orang tua Ah Shui. Yang Ji adalah kakakku satu-satunya yang dibunuh oleh ayah dari muridmu, dan deng

  • Suami untuk Sang Putri   96. Dari Gelap Menuju Cahaya

    Para tetua memang tidak meragukan akan keahlian Tetua Yang Xueying dan muridnya. Namun masalahnya, sekarang orang yang dimaksud sedang tidak berada di tempat tersebut karena sedang bersama istri sang ketua sekte. Jika menariknya secara tiba-tiba, apakah nyonya akan mengijinkannya?"Tapi, Tetua Xueying, bukankah saat ini Yang Se sedang bersama dengan Bibi Fuyu?" tanya Yang Shui. "Jika kita memanggilnya, lalu bagaimana dengan bibi?"Yang Hua tentu saja mengetahui akan kekhawatiran keponakannya. "Untuk masalah ini kamu tidak perlu khawatir, Ah Shui. Bibimu baru saja mengirim pesan kalau kita akan bertemu di perjalanan nanti.""Oh, baguslah. Kalau begitu sepertinya sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi," ujar Yang Shui, hatinya merasa lega."Kalau begitu masalah penyamaran sepenuhnya akan menjadi tugas Tetua Yang Xueying," lanjut Yang Hua, ia menghadap ke arah orang yang dimaksud dan mengepalkan kedua tangannya. "Maka saya mohon bantuan Anda, Tetua Yang Xueying." Demi mendapat tu

  • Suami untuk Sang Putri   95. Si Pengubah Seribu Wajah

    Semua orang yang hadir seketika terdiam, hanya Tetua Yang Wuzhou saja yang tampak bersikap biasa saja dan masih sibuk dalam menikmati makanannya. Yang Hua menatap satu per satu wajah-wajah para tetua dengan tatapan tajam. "Kalian semua adalah para tetua yang aku hormati dan sengaja aku undang ke mari dengan segala rasa hormatku. Tetapi para Tetua sepertinya tidak lagi memandangku sebagai pemimpin kalian!" "Pemimpin Tertinggi, mohon jangan salah paham!" seru Tetua Yang Lei dengan perasaan sedikit takut. "Apa maksud Tetua Yang Lei dengan kata salah paham?" Yang Hua beralih menatap Tetua Yang Lei, seakan sedang berusaha menguliti pria itu untuk mengetahui isi hatinya. "Kalian meragukan apa yang dikatakan oleh Qing Yuan, bahkan beberapa dari kalian seperti sedang sengaja menyudutkannya. Bukankah itu sama saja dengan tidak menghormatiku?" Semua orang terdiam dengan berbagai macam perasaan mereka masing-masing. Ada yang tidak senang atas pembelaan Yang Hua terhadap anak tirinya.

  • Suami untuk Sang Putri   94. Menyudutkan Qing Yuan

    Semua orang tercengang. Wajah-wajah tua terlihat menegang. Namun, tentu saja Qing Yuan yang merasa lebih terkejut lagi.Mendengar kata 'hukuman mati', wajah Qing Yuan atau yang sengaja menggunakan nama Yang Yuan saat sedang beraksi bersama dengan kelompoknya, seketika memerah. Kesalahan yang tak ia lakukan, mengapa hukuman mati itu tertuju padanya? Bukankah ini sudah sangat keterlaluan?"Satu juta tahil emas? Bukankah ini hampir setara dengan setahun gaji seorang perdana menteri?" Yang Shui bertanya, seolah kepada dirinya sendiri. "Itu benar, Ah Shui. Bagi orang biasa, mungkin ini adalah sesuatu yang sangat menggiurkan!" Tetua Yang Lei berkata dengan sedikit antusias, seakan ini adalah suatu peluang besar untuk mengumpulkan kekayaan. 'Dengan imbalan yang luar biasa besar itu, siapa yang tidak merasa tertarik?' pikir Yang Shui disertai perasaan khawatir. Tentu saja, ia tak ingin Qing Yuan mengalami hal buruk yang seharusnya bukan menjadi tanggungannya. 'Ini harus segera diselidiki.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status