Gerakan santainya itu justru semakin menambah ketegangan. Para bandit menyadari bahwa lawan mereka begitu percaya diri hingga tidak menganggap mereka sebagai ancaman yang serius. Penghinaan yang halus namun menyakitkan itu membuat amarah mereka semakin membara.
Terdengar desahan malas dari mulut pemuda bertopeng itu. "Hei! Apakah kalian masih belum juga selesai? Lama-lama ubanku lebih dulu bertumbuh sebelum kalian selesai berunding. Membosankan!" Nada suaranya yang acuh tak acuh bagaikan angin dingin yang meniup bara api amarah para bandit. Mereka yang sudah terbiasa ditakuti dan disegani kini merasa harga diri mereka diinjak-injak oleh seorang pemuda yang bahkan tidak mau repot-repot bersikap serius dalam menghadapi mereka. "Diam kau, Bocah Tengik!" Si pria botak membentak dengan kemarahan yang masih di tahannya. "Apakah sudah sebegitu tidak sabarnya kau untuk mati?" Urat-urat di lehernya menonjol seperti akar pohon tua, sementara wajah botaknya memerah padam karena menahan amarah. Kedua tangannya mencengkeram tali kendali kuda dengan begitu erat hingga kulit tangannya memutih. "Akulah yang sudah tidak sabar untuk membuat kalian mati! Mau bertarung ya tinggal bertarung saja! Apa kalian pikir, medan tempur itu seperti kedai arak yang bisa kalian gunakan untuk bersantai seenaknya?" seru pria muda bertopeng yang kemudian bersiap menyerang keenam bandit bayaran dengan jurus-jurus mautnya. Energi spiritual dalam tubuhnya mulai bergerak dengan cepat, mengalir melalui meridian-meridian seperti sungai yang membengkak karena hujan deras. Udara di sekelilingnya bergetar, menimbulkan distorsi visual yang membuat sosoknya tampak bergetar bagaikan fatamorgana. Keenam bandit akhirnya turun dari kuda mereka, membentuk formasi setengah lingkaran untuk mengepung pemuda bertopeng. Mata mereka berkilat dengan tekad membunuh, sementara senjata-senjata mereka bergetar karena energi spiritual tingkat rendah yang mereka keluarkan. "Matilah kalian semua!" Pemuda bertopeng berteriak seraya melompat tinggi, menerjang kawanan bandit dengan kepalan tinjunya yang diselimuti aura hitam kemerahan yang pekat Kepalan tangannya bergerak dengan kecepatan yang mencengangkan, menciptakan bayangan-bayangan tinju yang tak terhitung jumlahnya. Setiap pukulan membawa kekuatan yang setara dengan terjangan empat kaki gajah dewasa, mampu menghancurkan batu granit menjadi debu dalam sekejap mata. Angin berputar mengelilingi tinjunya, membentuk spiral hitam yang mengerikan. Suara siulan angin yang ditimbulkan oleh gerakan tinjunya bagaikan jeritan roh-roh yang terkurung dalam neraka, menciptakan simfoni kematian yang membuat bulu kuduk berdiri. Bandit pertama yang mencoba menangkis dengan pedangnya langsung merasakan getaran dahsyat yang merambat dari bilah pedang hingga ke tulang-tulangnya. Pedang berkualitas rendah itu retak dan hancur berkeping-keping, sementara lengannya patah dengan suara yang menyeramkan. "Argh!" Teriakan kesakitan memecah keheningan malam. Keenam bandit bayaran merasa sangat terkejut menghadapi gerakan-gerakan lincah pria muda bertopeng yang ternyata terlalu jauh dari bayangan mereka. Semula mereka mengira, jika ilmu pemuda bertopeng ini pastilah jauh di bawah mereka. Tetapi, semua sungguh terbalik dari dugaan. Pemuda ini ternyata terlalu tangguh untuk dihadapi. Dia bahkan sangat tenang, meskipun harus menghadapi enam orang sekaligus. Pemuda bertopeng melompat ke udara, tubuhnya berputar seperti bor raksasa. Kedua tinjunya yang menyala dengan cahaya merah darah menghantam ke bawah dengan kekuatan yang mengguncang tanah dalam radius puluhan meter. Tanah di sekitar titik hantaman retak dan ambles, menciptakan kawah kecil. Dua bandit yang berada dalam jangkauan serangan langsung terpental sejauh belasan meter, tulang-tulang mereka remuk dan darah segar menyembur dari mulut mereka. Pemuda bertopeng masih terlihat sangat santai dalam menangkis setiap serangan mematikan dari keenam bandit bayaran yang tersisa. Gerakannya mengalir bagaikan air terjun, indah namun mematikan. "Heh, Bocah Tengik! Katakan siapa namamu? Agar kami bisa menorehkan namamu di papan nisan kematianmu nantinya!" Pria berkumis membentak sambil melancarkan serangan pedang yang berapi-api. Ini adalah jurus andalannya, serangan pedang yang dikombinasikan dengan teriakan yang dapat melumpuhkan lawan. Namun ketika bertemu dengan teknik tingkat tinggi milik Kelompok Topeng Iblis, jurus kelas rendah itu bagaikan kunang-kunang yang mencoba menyaingi terangnya matahari. Bisa dikatakan, hari ini adalah hari yang teramat sial bagi kawanan bandit karena sudah bertemu secara langsung dengan seorang pendekar muda berilmu tinggi seperti pemuda bertopeng yang menjadi penghambat rencana mereka. Ibarat sekawanan anjing liar berhadapan dengan raja serigala. Yang ditanya justru tertawa terbahak-bahak sambil terus berkelitan dengan lincahnya. "Untuk apa kalian mengetahui nama orang yang akan mengubur kalian semua nantinya?" Pria berkepala plontos marah. "Sombong!"Setiap kata yang keluar dari bibirnya bagaikan puisi yang menceritakan kehidupan keras dunia jianghu. Chu Rong Xi terpesona mendengarkannya, merasakan kekuatan dan kelembutan yang berpadu dalam setiap intonasi. "Ini adalah jianghu, Nona. Di mana yang kuat akan memimpin, sedangkan yang lemah akan ditindas ... seperti dirimu itu." Tiba-tiba, dengan gerakan yang tidak terduga, sang pendekar menggeser tubuhnya mendekat. Wajah bertopengnya kini sangat dekat dengan wajah Chu Rong Xi, hingga gadis itu dapat merasakan hembusan napas hangat yang keluar dari balik topeng. Detik itu juga, waktu seolah berhenti. Putri Chu Rong Xi terpaku dengan mata terbelalak, jantungnya berdetak seperti kuda yang berlari kencang. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memperhatikan sepasang mata di balik topeng itu, mata yang begitu indah dan dalam, dengan pupil hitam legam bagaikan giok hitam yang paling murni. Ada kehangatan, kekuatan, dan misteri yang terpancar dari tatapan itu. Putri Chu Rong Xi tak bi
Angin musim gugur bertiup lembut membawa aroma daun-daun kering yang berguguran, sementara sinar matahari siang yang hangat menyusup di antara rimbun dedaunan hutan.Bagaikan sepasang burung bangau yang menari di angkasa, mereka terus meluncur dengan kecepatan tinggi di antara pepohonan raksasa yang menjulang, memanfaatkan teknik qinggong yang sempurna. Setiap gerakan sang pendekar bertopeng begitu elegan dan penuh perhitungan, seolah ia telah menguasai rahasia alam untuk bersatu dengan angin.Akhirnya, perjalanan panjang mereka berakhir di sebuah tempat yang bagaikan surga tersembunyi, tepi sungai jernih yang dikelilingi oleh deretan pohon loquat yang sedang berbuah lebat. Buah-buah kuning keemasan itu bergelantungan seperti lentera kecil yang menerangi siang hari, menciptakan pemandangan yang memukau mata.Dengan keanggunan seorang master tingkat tinggi, pria muda bertopeng itu mendarat sempurna di atas hamparan batu-batu sungai yang licin. Setiap gerakannya mengalir seperti air y
Pemuda bertopeng sibuk membersihkan sisa darah di bilah pedangnya dengan menggunakan kain yang dikenakan oleh para korbannya. Pemuda itu dengan geram menendang kepala pria botak bercodet hingga kepala pelontos itu terpental sangat jauh. "Sampah!""Hanya sekelompok bandit hutan rendahan saja sudah berlagak sok jago di depanku," gerutu pemuda bertopeng sambil berjongkok di sisi mayat tanpa kepala untuk mencari sesuatu. Setelah memeriksa semua mayat para bandit, pemuda bertopeng hanya menemukan kantung-kantung yang dipenuhi uang perak. "Sepertinya mereka adalah para pembunuh bayaran. Hanya saja tidak ada petunjuk mengenai orang yang menyuruh mereka," gumamnya sambil menyimpan semua uang dalam kantung itu untuk dirinya sendiri. "Keluarlah! Mereka semua sudah mati!" seru pemuda bertopeng kepada gadis bercadar yang sekarang semakin ketakutan. Gadis itu melihat dengan mata kepalanya sendiri akan keganasan dan kesadisan pria yang telah menolongnya.Pemuda bertopeng merasa heran. "Nona, m
Gerakan tangannya menjadi begitu cepat hingga menciptakan ribuan bayangan tangan yang bergerak secara bersamaan. Setiap bayangan membawa kekuatan nyata, mampu menembus pertahanan dan menghancurkan tulang dengan mudah.Tiga bandit yang mencoba menyerang dari samping langsung kewalahan menghadapi hujan pukulan yang datang dari segala arah. Mereka tidak mampu menangkis semuanya, dan tulang rusuk mereka patah satu per satu dengan bunyi yang membuat merinding."Sombong sekali kamu! Kuharap, kamu nanti tidak lupa untuk menyebut nama kedua orang tuamu, saat dewa kematian menyambangimu!" bentak si pria berkumis yang merasa semakin geram dibuatnya.Matanya menatap tajam dan dingin ke arah anak muda yang telah mengganggu rencananya. Seakan ingin mengunyah mentah-mentah daging pemuda itu. Amarah dan frustrasi bercampur menjadi racun yang membakar hatinya.Pemuda bertopeng tersenyum mencibir penuh ejekan. Bahkan dalam situasi satu lawan enam, ia masih memiliki waktu untuk mengolok-olok musuh-musu
Gerakan santainya itu justru semakin menambah ketegangan. Para bandit menyadari bahwa lawan mereka begitu percaya diri hingga tidak menganggap mereka sebagai ancaman yang serius. Penghinaan yang halus namun menyakitkan itu membuat amarah mereka semakin membara. Terdengar desahan malas dari mulut pemuda bertopeng itu. "Hei! Apakah kalian masih belum juga selesai? Lama-lama ubanku lebih dulu bertumbuh sebelum kalian selesai berunding. Membosankan!" Nada suaranya yang acuh tak acuh bagaikan angin dingin yang meniup bara api amarah para bandit. Mereka yang sudah terbiasa ditakuti dan disegani kini merasa harga diri mereka diinjak-injak oleh seorang pemuda yang bahkan tidak mau repot-repot bersikap serius dalam menghadapi mereka. "Diam kau, Bocah Tengik!" Si pria botak membentak dengan kemarahan yang masih di tahannya. "Apakah sudah sebegitu tidak sabarnya kau untuk mati?" Urat-urat di lehernya menonjol seperti akar pohon tua, sementara wajah botaknya memerah padam karena menahan amara
Tubuh gemuknya bergetar ketakutan, keringat dingin mengalir deras dari pelipis-pelipis yang berlemak. Tangannya yang gemetar hampir tidak mampu menggenggam gagang pedang, sementara wajahnya memucat seperti mayat yang baru bangkit dari kubur.'Topeng Iblis?' Putri Chu Rong tak kalah kaget. Ia sering mendengar orang-orang membicarakan tentang kelompok ini, dan sekarang ia bertemu dengan salah satu dari mereka?Di balik cadarnya, wajah cantik sang putri menjadi pucat pasi. Kelompok Topeng Iblis adalah legenda hidup di dunia persilatan, sebuah organisasi misterius yang anggota-anggotanya adalah para pembunuh terhebat di bawah kolong langit. Nama mereka saja sudah cukup membuat para jagoan dunia hitam gemetar ketakutan.Baru saja lolos dari kejaran serigala dan sekarang ia bertemu dengan harimau ganas yang bisa melahapnya kapan saja. Putri Chu Rong Xi sekarang merasa nasibnya sungguh malang.Jantungnya berdegup kencang dalam dada, bagaikan kendang perang yang dipukul tanpa henti. Nafasnya