Share

Kecelakaan

Author: Nooraya
last update Huling Na-update: 2024-08-27 20:43:10

Aku memasuki rumah sakit dengan sedikit berlari. Dan aku yang tengah terburu-buru pada akhirnya tidak sengaja menabrak seseorang.

“Maaf!” ucapku reflek. Aku hanya menatap sekilas orang yang bertabrakan denganku.

“Iya, tidak ap—”

“Maaf, saya buru-buru! Sekali lagi, saya minta maaf!” ucapku dengan sedikit membungkukkan badan. Setelahnya, aku kembali berlari ke UGD.

Sesampainya di UGD ....

“Ibun!” panggil Rico.

Hatiku yang sejak tadi tidak karuan seketika jadi lebih tenang setelah mendengar suara putraku. Terlihat Rico dan Mas Arya berada di tempat tidur yang sama dengan tangan yang masih sama-sama diinfus. Kata perawat, Rico tadi menangis dan meminta satu tempat tidur dengan ayahnya.

Aku menghampiri mereka. “Rico! Mas Arya!”

“Ibun~” Rico langsung bangkit duduk dan memelukku.

Sebisa mungkin kuberikan pelukanku yang paling hangat untuk anak semata wayangku itu. Aku berharap hal tersebut bisa memberinya rasa nyaman.

Sementara Mas Arya, dia menatapku dengan senyuman di wajahnya. Aku tahu dia sedang berusaha menenangkanku dengan senyuman itu.

Lega rasanya melihat kedua laki-laki yang kucintai masih membuka mata mereka untukku. Namun, sedih rasanya saat melihat kaki Mas Arya yang harus disanggah oleh alat.

“Kalian baik-baik saja? ... Mas?” tanyaku yang menuntut jawab.

Mas Arya menjawab, “Mas gak apa-apa, Sayang, ini buktinya Mas masih hidup.”

“Ish! Gak lucu!” protesku. “Aku serius, Mas. Bagaimana kata dokter?”

Mas Arya menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku dengan serius. "Tulang kaki mas patah dan harus dioperasi. Harus dipasang pen."

Hatiku seolah meluruh mendengarnya. “Cobaan apa lagi ini?” pikirku.

“Kamu tenang aja, ya!” kata Mas Arya, “operasiku bakal dicover kantor. Lalu, untuk kebutuhan hidup kita beberapa waktu ke depan ... gak apa, ‘kan, kalau kita pakai uang tabungan dulu?”

“Astaga, Mas, kamu masih aja pikirin biaya. Kamu gak usah pikirin itu. Sekarang, yang paling penting itu kamu operasi terus sembuh. Masalah uang nanti kita bisa cari lagi.”

Mas Arya kembali tersenyum. “Iya, terima kasih, ya, Sayang!”

Aku kesal mendengar kalimat itu. “Terima kasih buat apa, sih, Mas?”

“Terima kasih karena sudah jadi istriku yang baik dan manis.”

“Dih, masih saja!” sahutku, yang mana hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Mas Arya.

Aku tidak tahu, tapi sepertinya pipiku saat ini sedang merona. Mungkin, jika ada orang yang melihat kami seperti ini, mereka akan berpikir bahwa kami berlebihan. Sebab, di usia yang sudah 'berkepala’ tiga, tingkah kami kadang masih seperti remaja baru pacaran.

Malam harinya ....

Aku melihat lampu di atas pintu ruang operasi masih menyala merah. Tandanya, Mas Arya masih belum selesai dioperasi.

“Maaf, permisi!”

Seorang laki-laki menghampiriku lalu menyapa. Aku tidak mengenalnya, akan tetapi wajahnya seperti pernah kulihat sebelumnya.

“Iya, siapa ya?” tanyaku.

“Oh, perkenalkan,”—pria itu mengulurkan tangannya—“saya Rama, orang yang pagi tadi membawa Mas Arya ke sini. Saya tahu dari receptionis kalau Mas Arya saat ini sedang operasi, jadi saya ke sini.”

“Oh,”—aku menjabat tangan laki-laki bernama Rama itu—“Rani,” sebutku.

Setelah perkenalan itu, pada akhirnya kami berdua mulai berbincang. Ternyata, Rama adalah orang yang tadi pagi bertabrakan badan denganku di depan pintu masuk UGD. Tidak hanya itu, dia juga merupakan orang yang menolong Mas Arya dan membantu membawanya ke rumah sakit.

Kecelakaan Mas Arya tadi pagi adalah kecelakaan tunggal. Rama hanya orang yang tidak sengaja ada di mobil di belakang Mas Arya.

“Maaf kalau tadi saya tinggal pergi, tadi saya sudah ditunggu untuk rapat di kantor,” terang Rama.

“Oh, iya, tidak apa-apa. Saya yang seharusnya berterima kasih karena Mas Rama sudah membawa suami saya ke rumah sakit.”

“Ehm ... bagaimana dengan anak Mbak?”

“Dia masih sedikit syok, tapi untungnya kata dokter dia baik-baik saja. Sudah dipindah ke ruang rawat inap juga dan sekarang sedang tidur ditemani ibu saya.”

“Ah, syukurlah, kalau begitu!” ucap Rama.

“Jadi, Mas Rama yang pagi tadi telepon saya?”

“Bukan, itu bukan saya. Itu tadi orang setempat yang ikut bantu, saya minta beliau menelepon Mbak pakai HP Mas Arya.”

“Oh~ begitu!”

“Iya.”

Percakapanku dan Rama pun berlanjut tidak lama. Sebab, setelah itu lampu ruang operasi sudah berubah warna.

“Sepertinya operasinya sudah selesai,” kata Rama.

“Iya.”

“Ehm ... Mbak Rani, kalau begitu saya pamit dulu, saya masih ada acara,” lanjut Rama.

“Eh, iya. Terima kasih banyak sudah mau mengunjungi Mas Arya! Nanti saya sampaikan ke suami saya kalau Mas Rama berkunjung.”

Rama tidak mengatakan apapun. Dia hanya mengangguk dan tersenyum. Namun, tidak lama setelah itu, sebelum pergi dia lebih dulu menyodoriku selembar kartu kecil.

“Ini kartu nama saya, jika ada sesuatu jangan sungkan untuk menghubungiku!” jelas Rama.

Aku menerima kartu tersebut dan sekilas melihat nama yang tertera di sana sambil mengangguk. Setelahnya, kami pun berpisah.

Aku mengikuti Mas Arya yang dibawa ke ruang inap. Sedangkan Rama, dia berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.

Aku berani berkata bahwa Rama adalah orang yang baik. Jarang di zaman sekarang bisa bertemu dengan orang yang mau menolong orang lain seperti dia. Aku bersyukur Mas Arya dipertemukan dengan orang baik seperti Rama.

Ku simpan kartu nama tadi lalu kembali fokus pada pengobatan dan pemulihan Mas Arya serta Rico. Setelah tiga hari di rumah sakit, pada akhirnya Mas Rama diizinkan pulang, sehari setelah Rico pulang lebih dulu.

Kami pulang dengan menngunakan becak motor. Aku tidak bisa membawa pulang Mas Arya dengan motor kami karena sekarang motor itu sudah rusak parah.

“Hati-hati, Mas!”

Aku bantu Mas Arya turun dari becak, lalu kutuntun dia masuk ke dalam rumah. Baru kaki ini melangkah melewati pintu, gendang telingaku sudah dengan cepat disapa oleh kata-kata tidak mengenakkan dari ibu.

“Berangkat kerja bukannya balik bawa uang, eh, malah ngabisin uang.”

Aku menghela napas jengah. “Biarlah, uang-uang Mas Arya sendiri ini,” sahutku lirih.

“Hush!” tegur Mas Arya kepadaku. “Maaf, Bu, Arya kena musibah, memang harusnya Arya lebih hati-hati.”

“Sudah tahu miskin, gegayaan gak hati-hati di jalan. Kalau lukamu parah, mau bayar biaya rumah sakit pakai apa kamu? Daun?”

Mas Arya menjawab pertanyaan ibu sambil tersenyum. “Arya dapat asuransi dari perusahaan, kok, Bu.”

“Halah! Asuransi gak bisa buat makan aja dibanggain,” ucap ibu sebelum akhirnya kembali masuk ke kamar.

Aku sudah ingin berkata-kata kasar. Jika saja aku tidak ingat di rumah ada Rico dan tidak ingat yang bicara tadi adalah ibuku, mungkin sekarang rumah kami sudah ramai dengan pertengkaran.

“Sudah, Sayang, kita ke kamar saja!”

Mas Arya mengusap lembut tanganku sambil tersenyum hangat. Aku tidak bisa tidak luluh jika sudah diperlakukan seperti itu. Hingga akhirnya, aku pun melupakan perlakuan ibu tadi dan membawa Mas Arya ke kamar.

“Baringan aja, Mas!” pintaku sembari membantu Mas Arya naik ke tempat tidur.

“Ran, bisa minta tolong ambilkan HP mas? sudah dua hari ini mas tidak tahu kabar di tempat kerja. Mas tidak tenang.”

“Iya, Mas, sebentar.”

Aku ambilkan HP Mas Arya dan memberikannya ke sang pemilik. Kutinggalkan dia sebentar untuk mengeluarkan beberapa barang dari tas dan meletakkan pakaian-pakaian kotor ke belakang. Namun, saat kembali ke kamar, aku melihat raut wajah Mas Arya sudah berbeda.

Aku khawatir—“Ada apa, Mas?”

Mas Arya yang sebelumnya menatap lurus ke depan, kini menoleh menatapku. “Mas dipecat.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Suamiku Anak Buangan Kaya Raya   Saat Kebenaran Mulai Mengancam

    (POV Rani)Setelah Rama pergi, rumah kembali sunyi. Sunyi yang tidak menenangkan, justru membuat pikiranku berisik.Aku duduk di ujung sofa, menatap lantai tanpa benar-benar melihat apa pun. Di kepalaku, potongan-potongan percakapan dengan Rama terus berulang. Tentang data, tentang kebohongan, tentang orang-orang yang tega menjatuhkan demi ambisi.Mas Arya datang dan duduk di sampingku. Tidak langsung bicara. Ia selalu tahu kapan aku butuh waktu.“Ada apa, Ran?” suaranya lembut, hati-hati.Aku menelan ludah.Kali ini aku tidak ingin menyaring apa pun. Aku menceritakan semuanya. Dari awal sampai akhir. Tentang Rama, tentang kecurangan di divisi penjualan tempatku bekerja, dan tentang bagaimana keluarganya sendiri memanipulasi agar divisi Rama terlihat gagal.“Semua itu disengaja,” kataku dengan suara pelan. “Mereka ingin Rama jatuh.”Mas Arya terdiam. Tatapannya lurus ke depan, seolah sedang mencerna semuanya. Aku takut ia salah paham. Takut ia melihatku sebagai istri yang terlalu jauh

  • Suamiku Anak Buangan Kaya Raya   Menang yang Singkat

    (POV Arya)Akhir pekan selalu punya cara sendiri untuk membuat hidup terasa lebih pelan.Sejak Rani kembali bekerja, ritme rumah kami berubah. Pagi yang dulu diisi tawa kecil dan obrolan santai kini sering tergantikan dengan kesibukan.Oleh karena itu, hari ini ketika akhir pekan dan Rani akhirnya libur bekerja, aku merasa seperti sedang merayakan sesuatu.Tidak ada hal besar, hanya memutuskan untuk jalan-jalan ke taman dekat perkampungan dan bermain bersama Rico.Hanya taman kecil dengan ayunan, perosotan, dan beberapa bangku kayu yang catnya mulai mengelupas. Aku mendorong kursi rodaku pelan, sementara Rani menggandeng tangan Rico yang tampak tidak sabar ingin segera bermain.“Yah, Rico mau ayunan!” Rico berlari meninggalkan kami.“Pelan-pelan!” teriak Rani sambil tertawa. “Ayah belum sampai.”Aku tersenyum. Tidak ada iri, tidak ada perasaan kurang. Setidaknya, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri seperti itu.Sampainya kami di sana, Aku duduk di kursi roda dan menghadap ke area

  • Suamiku Anak Buangan Kaya Raya   Pulang dengan Tenang

    Aku sudah bersiap dengan segala kemungkinan saat Mas Arya melihatku berdiri bersama Rama sore itu.Namun, yang terjadi justru di luar dugaanku.Mas Arya tidak menunjukkan raut marah. Tidak ada nada tinggi. Tidak ada tatapan menyelidik yang membuatku ingin menghindar. Ia hanya tersenyum tipis, lalu bertanya dengan nada yang sangat biasa—terlalu biasa, bahkan.“Proyek yang kamu bantu itu ... sudah sampai mana?” tanyanya.Aku terdiam beberapa detik.Pertanyaan itu bukan tuduhan. Bukan juga sindiran. Itu murni pertanyaan profesional tentang pekerjaan Rama, bukan tentang kedekatan kami.Aku menarik napas pelan. “Sudah lumayan berjalan. Tapi ... Mas, aku mau tanya sesuatu.”Mas Arya menatapku, penuh perhatian. “Tanya apa?”Aku menggenggam ujung bajuku. Perasaan bersalah yang sejak tadi kupendam akhirnya keluar juga.“Apa Mas benar-benar nggak keberatan aku sibuk dengan proyek Rama? Aku tahu akhir-akhir ini aku sering pulang agak malam, kadang nggak sempat cerita detail. Kalau Mas sebenarnya

  • Suamiku Anak Buangan Kaya Raya   Benih Gosip

    Wajah kami semakin dekat.Untuk sepersekian detik, aku bisa merasakan napas Rama yang hangat menyentuh kulitku. Ruangan itu seolah menyempit, hanya menyisakan jarak tipis di antara kami. Jantungku berdetak keras, bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang lebih berbahaya dari itu.Nyaman.Namun, tepat ketika jarak itu hampir lenyap, sebuah bayangan lain menyusup ke benakku.Mas Arya.Wajahnya yang selalu lembut ketika menyambutku pulang. Tangannya yang tanpa diminta memijat kakiku saat aku lelah. Suaranya yang tidak pernah meninggi, bahkan ketika Ibu meremehkannya.Bayangan itu menghantam kesadaranku.Aku tersentak, refleks menarik tanganku dari genggaman Rama dan berdiri terlalu cepat hingga lututku hampir menyentuh meja.“Maaf, Pak ... saya—” suaraku terdengar serak. “Saya harus ke toilet sebentar.”Tanpa menunggu jawaban, aku melangkah pergi.Di dalam toilet kantor yang sunyi, aku menatap pantulan wajahku di cermin. Pipiku memerah. Dadaku naik turun tidak teratur.Apa yang h

  • Suamiku Anak Buangan Kaya Raya   Ketegangan yang Tidak Terucap

    Hari-hari di Glow-H terasa berubah ritmenya.Sejak pembicaraan makan siang di kafe Ashle tentang cabang baru, Rama seperti menemukan sekutu. Dan sekutu itu adalah aku.“Ran, mulai minggu ini kamu ikut semua meeting strategis cabang,” ucapnya suatu pagi tanpa banyak basa-basi. “Aku butuh sudut pandang kamu.”Aku sempat terdiam. “Bukannya itu biasanya hanya level manajer ke atas?”“Benar,” jawabnya ringan. “Makanya aku mau kamu di sana.”Kalimat itu sederhana, tetapi entah kenapa membuat dadaku menghangat. Dibutuhkan, dipercaya, dan dianggap mampu, rasanya sangat istimewa.Sejak hari itu, aku tidak lagi hanya mengatur jadwal dan menyusun laporan. Aku duduk di ruang rapat besar bersama tim inti, mendengar proyeksi angka, membahas strategi pemasaran agresif untuk cabang baru, dan menganalisis celah distribusi yang selama ini jadi titik lemah.Tidak hanya itu, Rama bahkan sering memintaku untuk berbicara, mengungkapkan pendapat dari sudut pandangku.“Kalau kamu jadi konsumen kelas menengah

  • Suamiku Anak Buangan Kaya Raya   Kiriman Terus Datang

    Setelah mendapat pesan dari Mas Arya, kini pikiranku tidak bisa lagi fokus pada rapat. Ketika melihat foto perabotan-perabotan renovasi kamar Rico yang dikirim oleh Mas Arya, aku sadar akan sesuatu.Aku tidak bisa menjelaskan banyak hal ke Mas Arya. Hanya bisa menghindarinya untuk sementara waktu dan menjadikan rapat sebagai alasan. Setelah rapat selesai, aku menyanding Rama, mengikuti langkahnya dan berjalan disampingnya. Aku tunjukkan foto dari Mas Arya kepada Rama. “Pak, Bapak yang kirim ini ke rumah saya?”Rama melihat foto itu. “Oh, sudah datang?”Aku sontak menatap Rama. Aku tidak mengerti. “Pak ... untuk apa?”“Bukannya kamu bilang Rico menyukai itu?”“I-iya, tapi ... tapi kenapa Bapak membelikannya?” “Tentu saja sebagai hadiah dari saya untuk Rico.” Rama lantas menghentikan langkahnya dan berbalik menghhadapku. “Saya harap kamu ataupun Mas Arya gak menolaknya. Saya tulus mau kasih hadiah ke Rico. Saya mau Rico senang.”Kami saling menatap mata satu sama lain cukup lama dan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status