Share

HP yang Bersih

Author: Lana Smrti
last update publish date: 2026-10-15 23:22:52

Maya menyembunyikan ponselnya di dasar tas sebelum masuk rumah.

Maya tidak mau melihat foto itu lagi. Tidak malam ini. Mungkin tidak sampai besok, atau lusa. Ia bilang pada dirinya sendiri bahwa itu hanya pantulan cahaya, atau bayangan lemari, atau efek kamera murahan Pak Anwar. Ia seorang manajer. Ia terbiasa memecahkan masalah dengan logika. Ia tidak akan membiarkan satu foto membuatnya kehilangan akal sehat.

Dan malam ini, Maya punya masalah yang lebih nyata untuk diselesaikan.

Bima menyambut Maya di ruang tengah.

Ia berdiri dari sofa begitu mendengar pintu terbuka, dan wajahnya berubah seperti anak kecil yang menunggu hukuman. Kemejanya sudah berganti kaus rumah, rambutnya agak basah, dan di meja ada dua cangkir teh yang masih mengepul.

"Kamu pulang," katanya.

"Aku bilang akan pulang cepat."

"Iya. Aku cuma..." Ia menggaruk tengkuknya. "Aku takut kamu nggak jadi."

Maya ingin tetap kaku. Ia sudah melatih ekspresi itu sepanjang perjalanan, wajah datar, nada bicara dingin. Tapi melihatnya berdiri di sana dengan mata lelah dan bahu merosot, semua pertahanan itu retak.

"Anak-anak?"

"Kinan di kamar, ngerjain PR. Arka sudah tidur sama Siska."

"Oke."

"May." Ia melangkah mendekat. "Aku minta maaf soal semalam. Aku bentak kamu. Itu nggak bisa dimaafkan."

"Kamu kaget. Aku juga."

"Tetap saja." Ia menarik napas dalam. "Aku nggak selingkuh, May. Aku sumpah demi anak-anak. Aku nggak tahu kenapa aku mengigau, aku nggak tahu siapa Laras, dan aku nggak tahu dari mana lukanya. Tapi aku nggak pernah, nggak akan pernah, mengkhianati kamu."

Ia mengucapkannya dengan mata menatap mata Maya langsung.

Maya ingin percaya. Ya Tuhan, betapa ia ingin percaya.

Tapi sesuatu di sudut matanya, tepatnya pada jeda sepersekian detik sebelum ia berkata nggak akan pernah, membuat dada Maya mengerut.

Seperti ada sesuatu yang ingin ia tambahkan, lalu ia telan lagi.

"Aku percaya," kata Maya akhirnya.

Itu bohong, tapi bohong yang Maya butuhkan malam ini.

Bima menariknya ke pelukannya. Tubuhnya hangat dan hafal, dan Maya memejamkan mata sambil menghirup aroma kayu dan rempah. Sesaat, hanya sesaat, ia merasa semuanya baik-baik saja.

"Sabtu ini," bisiknya di rambut Maya, "kita makan malam berdua. Aku sudah pesan tempat. Cuma kita."

"Kamu ingat aku suka tempat itu?"

"Aku selalu ingat."

Maya mengangguk di dadanya. Dan di belakang punggung Bima, di kejauhan lorong yang remang, pintu kamar tamu tetap tertutup.


Mereka tidur satu ranjang malam itu.

Bima tertidur lebih dulu, hanya lima menit setelah kepalanya menyentuh bantal. Napasnya dalam dan teratur. Wajahnya tenang. Terlalu tenang untuk lelaki yang sehari sebelumnya baru saja bertengkar dengan istrinya.

Maya berbaring menatap langit-langit sambil mendengarkan detak jam.

23.40.

00.15.

00.52.

Pikiran Maya terus berputar. Kamu bukan dia. Garis di punggungnya. Tante rambut panjang. Rambut hitam yang hangat. Semakin Maya coba mengabaikannya, semakin keras ia berdenyut di kepalanya.

Akhirnya Maya bangkit.

Ponsel Bima tergeletak di nakas, layarnya gelap, terisi daya. Maya menatapnya lama.

Maya bukan istri yang suka mengintip. Sepuluh tahun menikah, ia tidak pernah sekali pun membuka ponselnya tanpa izin. Bima juga tidak pernah menyembunyikannya. Ponselnya selalu tergeletak sembarangan di meja makan, di sofa, di kamar mandi, dengan kata sandi yang ia tahu sejak hari pertama.

Maya meraihnya dengan ujung jari.

Layar menyala. Bima di foto layar kunci, bersama Maya, Kinan, dan Arka, tersenyum lebar di pantai tahun lalu. Ia menahan getir di tenggorokan dan mengetik enam digit.

100514.

Tanggal pernikahan mereka. Sudah sepuluh tahun ia memakai kode itu.

Layar terbuka.

Maya bergeser ke sisi ranjang paling jauh, menunduk dalam bayangan, dan mulai mencari.

Pesan. Grup keluarga, grup kantor, grup sekolah Kinan. Percakapan dengan ibunya, dengan kakaknya, dengan teman-teman SMA yang sesekali mengajak mancing. Tidak ada satu pun yang aneh.

Maya membuka daftar kontak. Mencari nama Laras.

Tidak ada.

Mencari nama-nama perempuan lain. Beberapa rekan kerja, tetangga lama, dan Dinda, yang selama ini Bima sebut sebagai staf pemasaran yang rajin. Maya membuka percakapan mereka dengan jantung berdegup.

Isinya hanya pekerjaan. Jadwal pengiriman. Laporan stok. Satu stiker ucapan terima kasih. Beberapa pesan terakhir sudah berminggu-minggu lalu, dan semuanya singkat.

Terlalu singkat.

Dahinya berkerut. Dua perempuan yang bekerja satu divisi di perusahaan yang sama seharusnya lebih sering berbalas pesan dari ini. Tapi Maya tidak menemukan apa pun yang bisa ia jadikan alasan untuk curiga.

Maya beralih ke galeri. Foto anak-anak, foto kerjaan, foto makanan. Ia mencari foto perempuan lain, foto yang tidak seharusnya ada, atau foto yang diambil di tempat yang tidak ia kenal.

Tidak ada.

Riwayat panggilan. Hanya Maya, ibunya, kantornya, dan beberapa nomor yang ia kenali.

Maya bahkan memeriksa aplikasi belanja, riwayat peramban, dan catatan rahasia. Semua bersih. Sangat bersih. Bersih dengan cara yang membuat dadanya semakin tidak nyaman.

Maya meletakkan ponsel itu kembali ke nakas dengan tangan yang gemetar.

Seharusnya Maya lega.

Ya, Maya lega. Ia tidak menemukan perselingkuhan. Ia tidak menemukan pesan mesra, foto gelap, atau nama perempuan asing.

Tapi lega itu hanya bertahan beberapa detik. Karena di belakangnya segera datang pertanyaan yang jauh lebih menakutkan.

Kalau semuanya bersih, kalau tidak ada wanita lain di ponselnya, di pesan-pesannya, di hidupnya...

Lalu siapa yang membuat suami Maya tersenyum seperti itu dalam tidurnya?

Dan dari mana datangnya garis merah di punggungnya?

Maya menatap Bima. Cahaya bulan dari celah tirai menimpa wajahnya, memberi bayangan lembut di tulang pipi dan rahangnya. Ia tampak seperti lelaki yang Maya kenal pertama kali di bangnya kuliah dulu, sebelum cicilan, sebelum kerja lembur, sebelum rumah ini.

Maya mengulurkan tangan dan mengusap rambutnya.

Bibirnya bergerak.

Maya membenya.

"Nggak apa-apa," bisik Bima. Matanya masih terpejam. Suaranya rendah, lembut, nyaris tidak terdengar. "Dia cuma cek HP. Nggak ada apa-apa."

Seluruh tubuhnya dingin.

Ia tidak sedang berbicara pada Maya. Nada suaranya terlalu intim, terlalu akrab. Seperti seseorang yang sedang menenangkan kekasihnya.

"Iya... iya, aku di sini." Senyum tipis terbentuk di bibirnya. "Aku sayang kamu."

Tiga kata itu jatuh ke dalam keheningan kamar seperti batu ke dasar sumur.

Maya tidak bergerak. Tidak bernapas. Air matanya jatuh pelan-pelan, tanpa suara, menetes ke punggung tangannya.

Kamar itu masih gelap. Di sudut mata, Maya melihat tirai jendela bergerak sedikit, padahal jendelanya tertutup rapat.

Dan wangi melati itu, dingin dan manis, kembali menyelimuti ranjang mereka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Kamar Tamu

    Sabtu pagi, Maya memutuskan untuk membuka pintu kamar tamu.Keputusan itu datang begitu saja, seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan napas dan akhirnya menyerah. Tiga minggu mereka tinggal di rumah ini, dan Maya belum sekali pun melangkah ke dalam ruangan itu. Selalu ada alasan. Kardus pindahan yang belum dibongkar, anak-anak yang rewel, pekerjaan yang menumpuk.Dan setiap kali Maya lewat, pintunya selalu tertutup rapat.Pagi itu, rumah terasa tenang. Bima sedang mengantar Kinan ke acara latihan menggambar di sekolah. Siska membawa Arka bermain di taman kompleks. Mbak Darmi menjemur di belakang. Maya berdiri sendirian di lorong lantai satu dengan secangkir kopi yang sudah mulai dingin, menatap pintu kayu cokelat itu.Maya bilang pada dirinya sendiri bahwa ini hanya soal ruang. Rumah ini punya empat kamar tidur, dan satu di antaranya terbuang percuma. Ia bisa menjadikannya ruang kerja. Atau gudang yang rapi, supaya kardus-kardus di garasi tidak menumpuk lagi.Itu alasan yang

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Gambar di Jendela

    Kinan tahu orang dewasa mengira ia tidak mengerti.Mereka pikir anak umur delapan tahun hanya memikirkan PR, boneka, dan es krim. Mereka bicara pelan saat ia lewat, menutup pintu kamar saat bertengkar, dan memasang senyum terlalu lebar saat ia bertanya, "Bunda kenapa?""Nggak apa-apa, Sayang. Bunda cuma capek."Tapi Kinan punya telinga. Dan dinding rumah ini tipis.Ia sudah mendengar semuanya beberapa malam lalu. Bunda yang bertanya dengan suara bergetar. Ayah yang membentak, lalu minta maaf dengan suara yang hampir menangis. Dan Adik, yang berdiri di pintu dengan piyama dinosaurus, mengatakan sesuatu yang membuat seisi kamar seperti membeku.Kinan sedang duduk di meja belajarnya sekarang, menggenggam pensil warna, menatap selembar kertas gambar yang masih kosong.PR dari Bu Guru: Gambarlah rumahmu dan orang-orang yang tinggal di dalamnya.Biasanya Kinan suka menggambar. Ia punya kotak pensil warna dua puluh empat warna, hadiah ulang tahun dari Ayah. Tapi hari ini tangannya terasa bera

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   HP yang Bersih

    Maya menyembunyikan ponselnya di dasar tas sebelum masuk rumah.Maya tidak mau melihat foto itu lagi. Tidak malam ini. Mungkin tidak sampai besok, atau lusa. Ia bilang pada dirinya sendiri bahwa itu hanya pantulan cahaya, atau bayangan lemari, atau efek kamera murahan Pak Anwar. Ia seorang manajer. Ia terbiasa memecahkan masalah dengan logika. Ia tidak akan membiarkan satu foto membuatnya kehilangan akal sehat.Dan malam ini, Maya punya masalah yang lebih nyata untuk diselesaikan.Bima menyambut Maya di ruang tengah.Ia berdiri dari sofa begitu mendengar pintu terbuka, dan wajahnya berubah seperti anak kecil yang menunggu hukuman. Kemejanya sudah berganti kaus rumah, rambutnya agak basah, dan di meja ada dua cangkir teh yang masih mengepul."Kamu pulang," katanya."Aku bilang akan pulang cepat.""Iya. Aku cuma..." Ia menggaruk tengkuknya. "Aku takut kamu nggak jadi."Maya ingin tetap kaku. Ia sudah melatih ekspresi itu sepanjang perjalanan, wajah datar, nada bicara dingin. Tapi meliha

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Teman Arka

    Siska tidak percaya hantu.Itu prinsip hidupnya sejak kecil. Neneknya di kampung dulu sering bercerita tentang pocong di pohon asam dan genderuwo di kebun pisang, tapi Siska hanya mengangguk sambil mengunyah kerupuk. Ia lebih percaya pada hal-hal yang bisa dihitung: gaji bulanan, tabungan untuk modal toko kue, dan jam tidur anak-anak yang ia asuh.Anak kecil punya imajinasi liar. Itu saja.Itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri sore ini, ketika ia berdiri diam di ujung koridor lantai atas, memandangi punggung kecil Arka yang duduk di anak tangga paling atas.Tadi ia hanya berniat mengambil handuk di lemari. Ia sudah meninggalkan Arka bermain mobil-mobilan di ruang keluarga selama kurang dari lima menit. Tapi saat kembali, ruang keluarga kosong, dan mainannya berserakan di lantai.Ia menemukan Arka di tangga.Anak itu duduk bersila membelakanginya, menghadap ke bawah, ke arah ruang tamu yang remang. Boneka kelinci lusuhnya terjepit di ketiak. Dan ia sedang berbicara."...nggak bol

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Harga yang Terlalu Murah

    Maya memarkir mobil di depan gerbang perumahan, mematikan mesin, dan tidak turun.Sudah lima menit ia duduk di sini. Jam di dashboard menunjukkan 17.42. Seharusnya ia sudah di rumah. Kemarin ia berjanji pada Bima, malam ini aku pulang cepat, kita bicara lagi. Tapi begitu mobilnya mendekati gerbang, tangannya seperti kehilangan tenaga.Ia menatap jalan yang membentang di depannya.Kompleks ini sebenarnya cantik. Pohon-pohon trembesi di kiri-kanan jalan, taman kecil di sudut blok, rumah-rumah bergaya minimalis dengan pagar rendah. Bima langsung jatuh cinta waktu pertama kali melihatnya. Maya juga.Dua bulan yang lalu.Ia menyandarkan kepala di jok dan memejamkan mata."Ini rumahnya, Bu Maya. Silakan, silakan."Pak Anwar, makelar yang ditunjukkan teman kantor Bima, berjalan di depan mereka sambil mengayun-ayunkan kunci. Orangnya sekitar lima puluhan, gemuk, berkeringat meski udara sore itu sejuk. Ia terus mengelap dahinya dengan saputangan kotak-kotak.Rumah itu berdiri di ujung jalan bu

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Lelah yang Aneh

    Bima terbangun dengan perasaan yang tidak masuk akal.Ia merasa bahagia.Padahal semalam ia membentak istrinya untuk pertama kali dalam sepuluh tahun. Padahal anak bungsunya baru saja mengucapkan kalimat yang membuat seluruh kamar membeku. Padahal Maya akhirnya tidur di kamar Arka sambil memeluk anak itu, meninggalkan Bima sendirian di ranjang besar yang dingin.Seharusnya ia terbangun dengan kepala berat dan dada sesak.Tapi tubuhnya terasa ringan. Hangat. Seperti baru dipeluk lama oleh seseorang yang sangat menyayanginya.Ia berbaring diam menatap langit-langit, mencoba memahami perasaan itu. Tidak ada mimpi yang bisa ia ingat. Hanya sisa-sisa sesuatu yang lembut, seperti telapak tangan di pipinya, suara bisikan di telinganya, dan satu kalimat yang tersangkut di ujung ingatan.Tidurlah, Mas. Aku di sini.Bima mengerjap.Itu bukan suara Maya.Ia buru-buru duduk. Sprei di sisi Maya rapi, tidak tersentuh. Jam di nakas menunjukkan 06.12. Dari lantai bawah terdengar bunyi sendok beradu d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status