Home / Horor / Suamiku Digoda Kuntilanak / Gambar di Jendela

Share

Gambar di Jendela

Author: Lana Smrti
last update publish date: 2026-10-15 23:25:59
Kinan tahu orang dewasa mengira ia tidak mengerti.

Mereka pikir anak umur delapan tahun hanya memikirkan PR, boneka, dan es krim. Mereka bicara pelan saat ia lewat, menutup pintu kamar saat bertengkar, dan memasang senyum terlalu lebar saat ia bertanya, "Bunda kenapa?"

"Nggak apa-apa, Sayang. Bunda cuma capek."

Tapi Kinan punya telinga. Dan dinding rumah ini tipis.

Ia sudah mendengar semuanya beberapa malam lalu. Bunda yang bertanya dengan suara bergetar. Ayah yang membentak, lalu minta maaf den
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Kamar Tamu

    Sabtu pagi, Maya memutuskan untuk membuka pintu kamar tamu.Keputusan itu datang begitu saja, seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan napas dan akhirnya menyerah. Tiga minggu mereka tinggal di rumah ini, dan Maya belum sekali pun melangkah ke dalam ruangan itu. Selalu ada alasan. Kardus pindahan yang belum dibongkar, anak-anak yang rewel, pekerjaan yang menumpuk.Dan setiap kali Maya lewat, pintunya selalu tertutup rapat.Pagi itu, rumah terasa tenang. Bima sedang mengantar Kinan ke acara latihan menggambar di sekolah. Siska membawa Arka bermain di taman kompleks. Mbak Darmi menjemur di belakang. Maya berdiri sendirian di lorong lantai satu dengan secangkir kopi yang sudah mulai dingin, menatap pintu kayu cokelat itu.Maya bilang pada dirinya sendiri bahwa ini hanya soal ruang. Rumah ini punya empat kamar tidur, dan satu di antaranya terbuang percuma. Ia bisa menjadikannya ruang kerja. Atau gudang yang rapi, supaya kardus-kardus di garasi tidak menumpuk lagi.Itu alasan yang

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Gambar di Jendela

    Kinan tahu orang dewasa mengira ia tidak mengerti.Mereka pikir anak umur delapan tahun hanya memikirkan PR, boneka, dan es krim. Mereka bicara pelan saat ia lewat, menutup pintu kamar saat bertengkar, dan memasang senyum terlalu lebar saat ia bertanya, "Bunda kenapa?""Nggak apa-apa, Sayang. Bunda cuma capek."Tapi Kinan punya telinga. Dan dinding rumah ini tipis.Ia sudah mendengar semuanya beberapa malam lalu. Bunda yang bertanya dengan suara bergetar. Ayah yang membentak, lalu minta maaf dengan suara yang hampir menangis. Dan Adik, yang berdiri di pintu dengan piyama dinosaurus, mengatakan sesuatu yang membuat seisi kamar seperti membeku.Kinan sedang duduk di meja belajarnya sekarang, menggenggam pensil warna, menatap selembar kertas gambar yang masih kosong.PR dari Bu Guru: Gambarlah rumahmu dan orang-orang yang tinggal di dalamnya.Biasanya Kinan suka menggambar. Ia punya kotak pensil warna dua puluh empat warna, hadiah ulang tahun dari Ayah. Tapi hari ini tangannya terasa bera

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   HP yang Bersih

    Maya menyembunyikan ponselnya di dasar tas sebelum masuk rumah.Maya tidak mau melihat foto itu lagi. Tidak malam ini. Mungkin tidak sampai besok, atau lusa. Ia bilang pada dirinya sendiri bahwa itu hanya pantulan cahaya, atau bayangan lemari, atau efek kamera murahan Pak Anwar. Ia seorang manajer. Ia terbiasa memecahkan masalah dengan logika. Ia tidak akan membiarkan satu foto membuatnya kehilangan akal sehat.Dan malam ini, Maya punya masalah yang lebih nyata untuk diselesaikan.Bima menyambut Maya di ruang tengah.Ia berdiri dari sofa begitu mendengar pintu terbuka, dan wajahnya berubah seperti anak kecil yang menunggu hukuman. Kemejanya sudah berganti kaus rumah, rambutnya agak basah, dan di meja ada dua cangkir teh yang masih mengepul."Kamu pulang," katanya."Aku bilang akan pulang cepat.""Iya. Aku cuma..." Ia menggaruk tengkuknya. "Aku takut kamu nggak jadi."Maya ingin tetap kaku. Ia sudah melatih ekspresi itu sepanjang perjalanan, wajah datar, nada bicara dingin. Tapi meliha

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Teman Arka

    Siska tidak percaya hantu.Itu prinsip hidupnya sejak kecil. Neneknya di kampung dulu sering bercerita tentang pocong di pohon asam dan genderuwo di kebun pisang, tapi Siska hanya mengangguk sambil mengunyah kerupuk. Ia lebih percaya pada hal-hal yang bisa dihitung: gaji bulanan, tabungan untuk modal toko kue, dan jam tidur anak-anak yang ia asuh.Anak kecil punya imajinasi liar. Itu saja.Itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri sore ini, ketika ia berdiri diam di ujung koridor lantai atas, memandangi punggung kecil Arka yang duduk di anak tangga paling atas.Tadi ia hanya berniat mengambil handuk di lemari. Ia sudah meninggalkan Arka bermain mobil-mobilan di ruang keluarga selama kurang dari lima menit. Tapi saat kembali, ruang keluarga kosong, dan mainannya berserakan di lantai.Ia menemukan Arka di tangga.Anak itu duduk bersila membelakanginya, menghadap ke bawah, ke arah ruang tamu yang remang. Boneka kelinci lusuhnya terjepit di ketiak. Dan ia sedang berbicara."...nggak bol

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Harga yang Terlalu Murah

    Maya memarkir mobil di depan gerbang perumahan, mematikan mesin, dan tidak turun.Sudah lima menit ia duduk di sini. Jam di dashboard menunjukkan 17.42. Seharusnya ia sudah di rumah. Kemarin ia berjanji pada Bima, malam ini aku pulang cepat, kita bicara lagi. Tapi begitu mobilnya mendekati gerbang, tangannya seperti kehilangan tenaga.Ia menatap jalan yang membentang di depannya.Kompleks ini sebenarnya cantik. Pohon-pohon trembesi di kiri-kanan jalan, taman kecil di sudut blok, rumah-rumah bergaya minimalis dengan pagar rendah. Bima langsung jatuh cinta waktu pertama kali melihatnya. Maya juga.Dua bulan yang lalu.Ia menyandarkan kepala di jok dan memejamkan mata."Ini rumahnya, Bu Maya. Silakan, silakan."Pak Anwar, makelar yang ditunjukkan teman kantor Bima, berjalan di depan mereka sambil mengayun-ayunkan kunci. Orangnya sekitar lima puluhan, gemuk, berkeringat meski udara sore itu sejuk. Ia terus mengelap dahinya dengan saputangan kotak-kotak.Rumah itu berdiri di ujung jalan bu

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Lelah yang Aneh

    Bima terbangun dengan perasaan yang tidak masuk akal.Ia merasa bahagia.Padahal semalam ia membentak istrinya untuk pertama kali dalam sepuluh tahun. Padahal anak bungsunya baru saja mengucapkan kalimat yang membuat seluruh kamar membeku. Padahal Maya akhirnya tidur di kamar Arka sambil memeluk anak itu, meninggalkan Bima sendirian di ranjang besar yang dingin.Seharusnya ia terbangun dengan kepala berat dan dada sesak.Tapi tubuhnya terasa ringan. Hangat. Seperti baru dipeluk lama oleh seseorang yang sangat menyayanginya.Ia berbaring diam menatap langit-langit, mencoba memahami perasaan itu. Tidak ada mimpi yang bisa ia ingat. Hanya sisa-sisa sesuatu yang lembut, seperti telapak tangan di pipinya, suara bisikan di telinganya, dan satu kalimat yang tersangkut di ujung ingatan.Tidurlah, Mas. Aku di sini.Bima mengerjap.Itu bukan suara Maya.Ia buru-buru duduk. Sprei di sisi Maya rapi, tidak tersentuh. Jam di nakas menunjukkan 06.12. Dari lantai bawah terdengar bunyi sendok beradu d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status