Home / Horor / Suamiku Digoda Kuntilanak / Harga yang Terlalu Murah

Share

Harga yang Terlalu Murah

Author: Lana Smrti
last update publish date: 2026-10-15 09:24:12

Maya memarkir mobil di depan gerbang perumahan, mematikan mesin, dan tidak turun.

Sudah lima menit ia duduk di sini. Jam di dashboard menunjukkan 17.42. Seharusnya ia sudah di rumah. Kemarin ia berjanji pada Bima, malam ini aku pulang cepat, kita bicara lagi. Tapi begitu mobilnya mendekati gerbang, tangannya seperti kehilangan tenaga.

Ia menatap jalan yang membentang di depannya.

Kompleks ini sebenarnya cantik. Pohon-pohon trembesi di kiri-kanan jalan, taman kecil di sudut blok, rumah-rumah bergaya minimalis dengan pagar rendah. Bima langsung jatuh cinta waktu pertama kali melihatnya. Maya juga.

Dua bulan yang lalu.

Ia menyandarkan kepala di jok dan memejamkan mata.


"Ini rumahnya, Bu Maya. Silakan, silakan."

Pak Anwar, makelar yang ditunjukkan teman kantor Bima, berjalan di depan mereka sambil mengayun-ayunkan kunci. Orangnya sekitar lima puluhan, gemuk, berkeringat meski udara sore itu sejuk. Ia terus mengelap dahinya dengan saputangan kotak-kotak.

Rumah itu berdiri di ujung jalan buntu, dikelilingi halaman luas yang masih ditumbuhi rumput tinggi. Dua lantai, atap pelana, jendela-jendela besar. Cat luarnya putih gading, agak kusam tapi kokoh. Tangga kayu melingkar tampak dari kaca depan, mewah untuk ukuran rumah sebesar itu.

Bima langsung menggenggam tangan Maya. "May. Lihat."

"Aku lihat."

"Empat kamar tidur. Halaman luas. Dekat sekolah Kinan."

"Dan harganya?"

Bima menyebut angka yang hampir membuat Maya tertawa. Angka itu hanya sekitar enam puluh persen dari harga rumah-rumah serupa di kompleks ini.

"Pasti ada masalah," kata Maya.

"Nggak ada, Bu," potong Pak Anwar cepat. Terlalu cepat. "Pemilik lama pindah ke luar kota, butuh dana mendadak. Mereka nggak mau ribet. Banyak yang antre, Bu. Kalau Ibu nggak ambil sekarang, besok pasti sudah laku."

"Kalau banyak yang antre, kenapa belum laku sejak pasang iklan?"

Pak Anwar tersenyum, tapi matanya bergerak gelisah. "Namanya juga rezeki, Bu. Belum jodohnya aja."

Maya menatap Bima. Suaminya hanya mengangkat bahu dengan wajah polos yang berarti: ayolah, May, jangan terlalu curiga.

Mereka masuk.

Bagian dalamnya lebih bagus daripada yang Maya duga. Lantai marmer, ruang tamu yang lapang, dapur luas dengan jendela besar. Matahari sore menembus kaca dan membuat seluruh ruangan hangat. Bima berlari-lari kecil ke tangga, memanggil-manggil seperti anak SD, "Maya, sini! Kinan pasti suka naik turun ini!"

Maya tertawa. Ia masih ingat betapa ia tertawa waktu itu.

Pak Anwar mengikuti mereka ke tiap ruangan. Ia menjelaskan cepat, seperti pembawa acara yang dikejar waktu. "Di sini ruang makan, Bu. Di sana ruang keluarga. Kamar utama di atas. Kamar anak-anak di sebelahnya."

"Itu kamar apa?" tanya Maya sambil menunjuk pintu kayu cokelat di sudut lorong lantai satu, dekat ruang tamu.

"Oh, itu kamar tamu, Bu."

"Boleh dilihat?"

Ada jeda sepersekian detik.

"Kuncinya hilang, Bu. Pemilik lama bawa. Tapi nggak apa-apa, itu cuma kamar tamu biasa. Isinya kosong kok." Ia tertawa kecil dan mengelap dahinya lagi. "Kita lihat bagian atas saja, yuk. Lebih bagus."

Maya mengangguk. Tapi sebelum berpaling, tangannya tanpa sengaja menyentuh gagang pintu itu.

Dingin.

Bukan dingin biasa. Seperti memegang besi yang baru diambil dari dalam es.

Ia menarik tangannya cepat dan melihat telapaknya. Tidak ada apa-apa. Ia tertawa pada dirinya sendiri. Mungkin AC dari ruang tamu, pikirnya.

Tapi sampai sekarang, tiap kali Maya mengingat gagang pintu itu, telapak tangannya terasa dingin.


Hari itu, sebelum pulang, Maya mampir ke rumah tetangga terdekat.

Itu kebiasaannya. Ia tidak mau membeli rumah tanpa kenal tetangganya. Seorang ibu paruh baya sedang menyiram tanaman di halaman rumah sebelah. Maya menyapanya dengan senyum, memperkenalkan diri, dan bilang mereka berencana pindah ke rumah di ujung jalan.

Ibu itu berhenti menyiram.

Selang di tangannya terus memuntahkan air ke tanah, tapi ia tidak bergerak. Wajahnya, yang tadi ramah, perlahan kehilangan ekspresi.

"Oh. Rumah ujung itu."

"Iya, Bu. Ada yang perlu saya tahu soal rumahnya?"

Ibu itu menatap Maya lama. Sorot matanya sulit dibaca, antara iba dan takut. Lalu ia melirik ke belakang Maya, ke arah rumah itu, dan buru-buru memalingkan muka.

"Nggak ada, Mbak," katanya. "Rumahnya... bagus. Semoga betah."

"Bu, kalau ada apa-apa..."

"Permisi, Mbak. Saya mau masak."

Ia mematikan keran, masuk ke dalam rumah, dan menutup pintu. Maya mendengar bunyi kunci diputar dua kali.

Ia berdiri sendirian di pinggir jalan, memegang tas, merasa seperti orang yang baru bertanya sesuatu yang haram.

Waktu Maya menceritakannya pada Bima di mobil, suaminya hanya tertawa. "Mungkin tetangganya pemalu, May."

"Pemalu nggak mengunci pintu dua kali."

"Atau mungkin dia iri karena kita dapat rumah sebagus itu dengan harga segitu." Bima menyetir sambil bersiul. "Jangan overthinking. Kita sudah lama banget nunggu ini."

Dan itu benar. Mereka sudah lama menunggu. Lima tahun mengontrak, dua kali digusur karena rumah dijual, anak-anak bolak-balik ganti sekolah. Maya lelah. Bima lelah. Dan di tengah semua itu, ada rumah yang terlalu bagus, terlalu murah, terlalu pas.

Maya mengangguk.

Ia menandatangani surat-suratnya dua minggu kemudian.


Hari mereka pindah, Bima menggendong Maya masuk melewati ambang pintu.

"Tradisi!" seru Bima sambil tertawa saat Maya memukul bahunya. "Rumah baru, awal baru. Bunda harus digendong!"

Kinan bersorak-sorai di belakang mereka. Arka terkikik sambil menarik-narik celana ayahnya. Siska dan Mbak Darmi tersenyum sambil mengangkat kardus.

Maya ingat tertawa, dan menyembunyikan wajahnya di leher Bima, menghirup wangi kayu dan rempah yang selalu ia sukai.

Lalu kaki Bima melangkah melewati pintu.

Dan Maya merasakannya.

Hawa dingin yang menyapu punggungnya seperti tangan tak terlihat yang menyentuh dari belakang. Hanya sedetik. Sebelum Bima menurunkannya dan semua orang bergegas membongkar barang, Maya hanya merasa merinding, sekilas, lalu hilang.

Ia tidak menceritakannya pada siapa pun.

Siapa yang akan percaya pada hawa dingin di tengah hari yang bahagia?


Maya membuka mata.

Langit di balik kaca depan sudah gelap. Jam di dashboard menunjukkan 17.58. Ia menarik napas panjang dan meraih ponsel.

Entah kenapa, ia membuka galeri dan mencari foto lama. Foto iklan rumah itu, yang dikirimkan Pak Anwar lewat pesan dua bulan lalu. Ia belum pernah memperhatikannya baik-baik. Waktu itu, ia hanya menggulir cepat, terpesona oleh ruangan-ruangan luas dan cahaya yang hangat.

Foto ruang tamu. Dapur. Tangga. Kamar utama.

Ia terus menggeser.

Lalu berhenti.

Foto kamar tamu. Pak Anwar mengambilnya diam-diam, rupanya, entah dari lubang kunci atau saat pintu terbuka sedikit. Sudut gambar miring, agak buram. Kamar itu kosong, hanya ada ranjang tanpa sprei dan lemari tua di sisi kiri.

Dan di dinding seberang, ada cermin besar berbingkai kayu.

Maya memperbesar gambar.

Di dalam cermin, di sudut paling kanan, setengah tersembunyi di balik bingkai pintu, berdiri sesosok perempuan.

Berbaju putih. Rambut hitam panjang sampai ke pinggang. Kepalanya menunduk, wajahnya tertutup helai-helai rambut.

Tapi di dalam kamar itu, di dunia nyata yang tertangkap kamera, tidak ada siapa-siapa.

Maya menahan napas.

Jarinya masih menempel di layar, memperbesar gambar sedikit lagi, dan pada saat itulah ia melihatnya dengan jelas.

Kepala sosok itu mulai terangkat.

Bukan di foto. Foto tidak bisa bergerak.

Tapi Maya berani bersumpah, sepersekian detik sebelum ia membanting ponsel ke jok sebelah, kepala itu sudah terangkat satu sentimeter lebih tinggi dari sebelumnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Kamar Tamu

    Sabtu pagi, Maya memutuskan untuk membuka pintu kamar tamu.Keputusan itu datang begitu saja, seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan napas dan akhirnya menyerah. Tiga minggu mereka tinggal di rumah ini, dan Maya belum sekali pun melangkah ke dalam ruangan itu. Selalu ada alasan. Kardus pindahan yang belum dibongkar, anak-anak yang rewel, pekerjaan yang menumpuk.Dan setiap kali Maya lewat, pintunya selalu tertutup rapat.Pagi itu, rumah terasa tenang. Bima sedang mengantar Kinan ke acara latihan menggambar di sekolah. Siska membawa Arka bermain di taman kompleks. Mbak Darmi menjemur di belakang. Maya berdiri sendirian di lorong lantai satu dengan secangkir kopi yang sudah mulai dingin, menatap pintu kayu cokelat itu.Maya bilang pada dirinya sendiri bahwa ini hanya soal ruang. Rumah ini punya empat kamar tidur, dan satu di antaranya terbuang percuma. Ia bisa menjadikannya ruang kerja. Atau gudang yang rapi, supaya kardus-kardus di garasi tidak menumpuk lagi.Itu alasan yang

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Gambar di Jendela

    Kinan tahu orang dewasa mengira ia tidak mengerti.Mereka pikir anak umur delapan tahun hanya memikirkan PR, boneka, dan es krim. Mereka bicara pelan saat ia lewat, menutup pintu kamar saat bertengkar, dan memasang senyum terlalu lebar saat ia bertanya, "Bunda kenapa?""Nggak apa-apa, Sayang. Bunda cuma capek."Tapi Kinan punya telinga. Dan dinding rumah ini tipis.Ia sudah mendengar semuanya beberapa malam lalu. Bunda yang bertanya dengan suara bergetar. Ayah yang membentak, lalu minta maaf dengan suara yang hampir menangis. Dan Adik, yang berdiri di pintu dengan piyama dinosaurus, mengatakan sesuatu yang membuat seisi kamar seperti membeku.Kinan sedang duduk di meja belajarnya sekarang, menggenggam pensil warna, menatap selembar kertas gambar yang masih kosong.PR dari Bu Guru: Gambarlah rumahmu dan orang-orang yang tinggal di dalamnya.Biasanya Kinan suka menggambar. Ia punya kotak pensil warna dua puluh empat warna, hadiah ulang tahun dari Ayah. Tapi hari ini tangannya terasa bera

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   HP yang Bersih

    Maya menyembunyikan ponselnya di dasar tas sebelum masuk rumah.Maya tidak mau melihat foto itu lagi. Tidak malam ini. Mungkin tidak sampai besok, atau lusa. Ia bilang pada dirinya sendiri bahwa itu hanya pantulan cahaya, atau bayangan lemari, atau efek kamera murahan Pak Anwar. Ia seorang manajer. Ia terbiasa memecahkan masalah dengan logika. Ia tidak akan membiarkan satu foto membuatnya kehilangan akal sehat.Dan malam ini, Maya punya masalah yang lebih nyata untuk diselesaikan.Bima menyambut Maya di ruang tengah.Ia berdiri dari sofa begitu mendengar pintu terbuka, dan wajahnya berubah seperti anak kecil yang menunggu hukuman. Kemejanya sudah berganti kaus rumah, rambutnya agak basah, dan di meja ada dua cangkir teh yang masih mengepul."Kamu pulang," katanya."Aku bilang akan pulang cepat.""Iya. Aku cuma..." Ia menggaruk tengkuknya. "Aku takut kamu nggak jadi."Maya ingin tetap kaku. Ia sudah melatih ekspresi itu sepanjang perjalanan, wajah datar, nada bicara dingin. Tapi meliha

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Teman Arka

    Siska tidak percaya hantu.Itu prinsip hidupnya sejak kecil. Neneknya di kampung dulu sering bercerita tentang pocong di pohon asam dan genderuwo di kebun pisang, tapi Siska hanya mengangguk sambil mengunyah kerupuk. Ia lebih percaya pada hal-hal yang bisa dihitung: gaji bulanan, tabungan untuk modal toko kue, dan jam tidur anak-anak yang ia asuh.Anak kecil punya imajinasi liar. Itu saja.Itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri sore ini, ketika ia berdiri diam di ujung koridor lantai atas, memandangi punggung kecil Arka yang duduk di anak tangga paling atas.Tadi ia hanya berniat mengambil handuk di lemari. Ia sudah meninggalkan Arka bermain mobil-mobilan di ruang keluarga selama kurang dari lima menit. Tapi saat kembali, ruang keluarga kosong, dan mainannya berserakan di lantai.Ia menemukan Arka di tangga.Anak itu duduk bersila membelakanginya, menghadap ke bawah, ke arah ruang tamu yang remang. Boneka kelinci lusuhnya terjepit di ketiak. Dan ia sedang berbicara."...nggak bol

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Harga yang Terlalu Murah

    Maya memarkir mobil di depan gerbang perumahan, mematikan mesin, dan tidak turun.Sudah lima menit ia duduk di sini. Jam di dashboard menunjukkan 17.42. Seharusnya ia sudah di rumah. Kemarin ia berjanji pada Bima, malam ini aku pulang cepat, kita bicara lagi. Tapi begitu mobilnya mendekati gerbang, tangannya seperti kehilangan tenaga.Ia menatap jalan yang membentang di depannya.Kompleks ini sebenarnya cantik. Pohon-pohon trembesi di kiri-kanan jalan, taman kecil di sudut blok, rumah-rumah bergaya minimalis dengan pagar rendah. Bima langsung jatuh cinta waktu pertama kali melihatnya. Maya juga.Dua bulan yang lalu.Ia menyandarkan kepala di jok dan memejamkan mata."Ini rumahnya, Bu Maya. Silakan, silakan."Pak Anwar, makelar yang ditunjukkan teman kantor Bima, berjalan di depan mereka sambil mengayun-ayunkan kunci. Orangnya sekitar lima puluhan, gemuk, berkeringat meski udara sore itu sejuk. Ia terus mengelap dahinya dengan saputangan kotak-kotak.Rumah itu berdiri di ujung jalan bu

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Lelah yang Aneh

    Bima terbangun dengan perasaan yang tidak masuk akal.Ia merasa bahagia.Padahal semalam ia membentak istrinya untuk pertama kali dalam sepuluh tahun. Padahal anak bungsunya baru saja mengucapkan kalimat yang membuat seluruh kamar membeku. Padahal Maya akhirnya tidur di kamar Arka sambil memeluk anak itu, meninggalkan Bima sendirian di ranjang besar yang dingin.Seharusnya ia terbangun dengan kepala berat dan dada sesak.Tapi tubuhnya terasa ringan. Hangat. Seperti baru dipeluk lama oleh seseorang yang sangat menyayanginya.Ia berbaring diam menatap langit-langit, mencoba memahami perasaan itu. Tidak ada mimpi yang bisa ia ingat. Hanya sisa-sisa sesuatu yang lembut, seperti telapak tangan di pipinya, suara bisikan di telinganya, dan satu kalimat yang tersangkut di ujung ingatan.Tidurlah, Mas. Aku di sini.Bima mengerjap.Itu bukan suara Maya.Ia buru-buru duduk. Sprei di sisi Maya rapi, tidak tersentuh. Jam di nakas menunjukkan 06.12. Dari lantai bawah terdengar bunyi sendok beradu d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status