مشاركة

Teman Arka

مؤلف: Lana Smrti
last update تاريخ النشر: 2026-10-15 09:24:37

Siska tidak percaya hantu.

Itu prinsip hidupnya sejak kecil. Neneknya di kampung dulu sering bercerita tentang pocong di pohon asam dan genderuwo di kebun pisang, tapi Siska hanya mengangguk sambil mengunyah kerupuk. Ia lebih percaya pada hal-hal yang bisa dihitung: gaji bulanan, tabungan untuk modal toko kue, dan jam tidur anak-anak yang ia asuh.

Anak kecil punya imajinasi liar. Itu saja.

Itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri sore ini, ketika ia berdiri diam di ujung koridor lantai atas, memandangi punggung kecil Arka yang duduk di anak tangga paling atas.

Tadi ia hanya berniat mengambil handuk di lemari. Ia sudah meninggalkan Arka bermain mobil-mobilan di ruang keluarga selama kurang dari lima menit. Tapi saat kembali, ruang keluarga kosong, dan mainannya berserakan di lantai.

Ia menemukan Arka di tangga.

Anak itu duduk bersila membelakanginya, menghadap ke bawah, ke arah ruang tamu yang remang. Boneka kelinci lusuhnya terjepit di ketiak. Dan ia sedang berbicara.

"...nggak boleh," kata Arka dengan suara cadelnya yang lucu. "Nanti Bunda marah."

Siska berhenti melangkah.

Ia tidak melihat siapa pun di bawah sana. Hanya ruang tamu yang kosong, sofa yang tertutup kain, dan sinar matahari sore yang menembus tirai.

"Tante mau main juga?" tanya Arka lagi, kali ini lebih ceria. "Aku punya mobil polisi. Ada yang warna biru juga. Tapi biru punya Kakak."

Jeda. Arka mengangguk-angguk, seperti sedang mendengarkan jawaban.

"Oh. Iya. Aku bilangin sama Ayah."

Teman imajiner, pikir Siska. Normal. Anak seusia ini biasa. Ia pernah bekerja di tiga keluarga sebelum ini, dan salah satu anak asuhnya punya sahabat khayalan bernama Pak Beruang yang selalu diajak makan malam. Itu bagian dari tumbuh kembang, bukan masalah.

Tapi ada sesuatu yang membuat tengkuknya merinding.

Cara Arka berbicara.

Anak-anak yang bermain dengan teman imajiner biasanya mengatur segalanya. Mereka yang bertanya, mereka yang menjawab, mereka yang menentukan alur permainan. Arka berbeda. Ia berhenti, menunggu, lalu bereaksi. Sama seperti seseorang yang sedang menyimak lawan bicara yang nyata.

"Arka," panggil Siska pelan.

Anak itu menoleh. Wajahnya cerah, pipinya merah. "Mbak Siska!"

"Lagi ngapain di sini, Sayang? Kan Mbak bilang, jangan duduk di tangga sendirian. Bahaya."

"Aku nggak sendirian."

Siska menelan ludah. Ia berjalan mendekat dan berjongkok di samping Arka, memasang senyum paling lembut yang ia punya. "Oh ya? Sama siapa?"

"Sama Tante."

"Tante siapa?"

Arka menggeleng, tidak mengerti pertanyaannya. "Tante aja."

"Tantenya di mana sekarang?"

Telunjuk mungil Arka terangkat. Ia menunjuk ke bawah tangga, ke arah ruang tamu, ke lorong gelap yang menuju kamar tamu.

"Di situ."

Siska mengikuti arah telunjuknya.

Kosong. Tentu saja kosong. Pintu kamar tamu tertutup rapat, dan di depannya hanya ada karpet kecil dan bayang-bayang sore yang memanjang.

"Dia cantik," tambah Arka sambil tersenyum polos. "Rambutnya panjang. Wangi."

Siska merasa napasnya tersangkut.

Wangi.

Sejak tadi ia berusaha mengabaikannya, tapi sekarang ia tidak bisa lagi. Di lorong atas ini, di sekitar tangga, ada aroma samar yang menyusup ke hidungnya. Manis, pekat, dingin. Bukan parfum Bu Maya. Bukan sabun Mbak Darmi.

Melati.

"Arka." Ia memaksa suaranya tetap tenang. "Ayo, kita turun. Mbak buatin susu cokelat."

"Tapi Tante belum pamit."

"Nanti ya. Tantenya pasti ngerti."

"Tante nggak suka kalau ditinggal."

Kalimat itu keluar dengan nada datar, terlalu datar untuk anak umur empat tahun. Siska merasakan lengan kecil itu mengeras dalam genggamannya.

"Kenapa nggak suka?"

Arka mengangkat bahunya. Mata bulatnya menatap kosong ke arah ruang tamu. "Katanya dia sering ditinggal."

Siska tidak tahu harus bilang apa.

Ia hanya berdiri, menggendong Arka dengan satu tangan, dan mulai menuruni tangga. Tangannya yang bebas mencengkeram pegangan kayu erat-erat. Setiap anak tangga berderit pelan di bawah kakinya, dan ia merasakan sesuatu yang aneh. Seolah-olah derit itu bukan hanya dari beban tubuhnya.

Seolah ada langkah lain, ringan sekali, di belakangnya.

Ia tidak menoleh.


Susu cokelat hangat berhasil membuat Arka kembali menjadi anak biasa. Ia meminumnya sambil bernyanyi tidak jelas, menggoyang-goyangkan kaki di kursi makan, dan sama sekali tidak menyinggung soal Tante lagi.

Siska duduk di seberangnya dan menatap anak itu lama.

Imajinasi. Ia mengulangi kata itu seperti mantra. Anak-anak mendengar orang tuanya bertengkar. Mereka butuh pelarian. Itu saja.

Tapi bayangan wajah Bu Maya yang pucat tadi pagi, mata sembabnya, dan cara Pak Bima menghindari tatapan siapa pun, tidak bisa begitu saja ia singkirkan.

Pintu dapur terbuka. Mbak Darmi masuk membawa keranjang cucian, wajahnya tegang. Sejak kemarin, ia berubah banyak. Lebih diam, lebih sering menoleh ke belakang, dan menolak masuk dapur sendirian sebelum matahari terbit.

"Mbak," bisik Siska setelah memastikan Arka sibuk dengan susunya. "Kemarin Mbak lihat apa sebenarnya?"

Mbak Darmi berhenti sebentar. Bibirnya mengerut.

"Nggak lihat apa-apa."

"Mbak..."

"Aku bilang, nggak lihat apa-apa, Sis." Suaranya pelan tapi tajam. "Kerja aja. Jangan mikir yang aneh-aneh."

Ia melenggang pergi dengan keranjangnya, tapi Siska sempat menangkap tangan perempuan itu yang gemetar saat memegang pegangan.

Ia menghela napas. Kalau Mbak Darmi, yang sudah dua tahun di rumah ini dan tidak pernah takut apa pun, sampai ketakutan begitu, mungkin...

Stop.

Siska menggeleng keras.

Ia tidak percaya hantu. Ia tidak percaya hantu. Rumah ini baru, besar, dan sedikit sepi, dan itu cukup untuk membuat siapa pun jadi paranoid.

"Mbak Siska."

Ia menoleh. Arka sudah selesai minum dan sedang menatapnya dengan kumis cokelat di bibir.

"Kenapa, Sayang?"

"Tante bilang makasih."

"Makasih apa?"

"Makasih Mbak Siska udah jagain aku."

Siska tertawa kecil, canggung. "Sama-sama."

Dan saat itulah ia mendengarnya.

Dari lantai atas. Dari arah tangga.

Bunyi roda kecil menggelinding di atas kayu.

Tak... tak... tak... tak...

Siska menahan napas. Ia berdiri pelan, berjalan ke ambang pintu dapur, dan menengok ke ruang tengah.

Sebuah mobil-mobilan polisi biru menggelinding turun dari tangga, anak tangga demi anak tangga, berdetak pelan seperti metronom. Mobil kecil milik Kinan, yang tadi pagi ia lihat tergeletak di kamar atas.

Ia melihat mobil itu sampai ke anak tangga terakhir.

Berhenti.

Roda-rodanya masih berputar pelan, seakan ada seseorang yang baru saja melepasnya.

Tepat di depan ujung sepatunya.

Dan di udara tipis di ruang tengah, begitu halus hingga ia pikir itu hanya bayangannya sendiri, Siska mendengar suara kikik tawa seorang perempuan.

Pelan.

Puas.

Seolah menikmati sesuatu yang lucu.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Kamar Tamu

    Sabtu pagi, Maya memutuskan untuk membuka pintu kamar tamu.Keputusan itu datang begitu saja, seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan napas dan akhirnya menyerah. Tiga minggu mereka tinggal di rumah ini, dan Maya belum sekali pun melangkah ke dalam ruangan itu. Selalu ada alasan. Kardus pindahan yang belum dibongkar, anak-anak yang rewel, pekerjaan yang menumpuk.Dan setiap kali Maya lewat, pintunya selalu tertutup rapat.Pagi itu, rumah terasa tenang. Bima sedang mengantar Kinan ke acara latihan menggambar di sekolah. Siska membawa Arka bermain di taman kompleks. Mbak Darmi menjemur di belakang. Maya berdiri sendirian di lorong lantai satu dengan secangkir kopi yang sudah mulai dingin, menatap pintu kayu cokelat itu.Maya bilang pada dirinya sendiri bahwa ini hanya soal ruang. Rumah ini punya empat kamar tidur, dan satu di antaranya terbuang percuma. Ia bisa menjadikannya ruang kerja. Atau gudang yang rapi, supaya kardus-kardus di garasi tidak menumpuk lagi.Itu alasan yang

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Gambar di Jendela

    Kinan tahu orang dewasa mengira ia tidak mengerti.Mereka pikir anak umur delapan tahun hanya memikirkan PR, boneka, dan es krim. Mereka bicara pelan saat ia lewat, menutup pintu kamar saat bertengkar, dan memasang senyum terlalu lebar saat ia bertanya, "Bunda kenapa?""Nggak apa-apa, Sayang. Bunda cuma capek."Tapi Kinan punya telinga. Dan dinding rumah ini tipis.Ia sudah mendengar semuanya beberapa malam lalu. Bunda yang bertanya dengan suara bergetar. Ayah yang membentak, lalu minta maaf dengan suara yang hampir menangis. Dan Adik, yang berdiri di pintu dengan piyama dinosaurus, mengatakan sesuatu yang membuat seisi kamar seperti membeku.Kinan sedang duduk di meja belajarnya sekarang, menggenggam pensil warna, menatap selembar kertas gambar yang masih kosong.PR dari Bu Guru: Gambarlah rumahmu dan orang-orang yang tinggal di dalamnya.Biasanya Kinan suka menggambar. Ia punya kotak pensil warna dua puluh empat warna, hadiah ulang tahun dari Ayah. Tapi hari ini tangannya terasa bera

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   HP yang Bersih

    Maya menyembunyikan ponselnya di dasar tas sebelum masuk rumah.Maya tidak mau melihat foto itu lagi. Tidak malam ini. Mungkin tidak sampai besok, atau lusa. Ia bilang pada dirinya sendiri bahwa itu hanya pantulan cahaya, atau bayangan lemari, atau efek kamera murahan Pak Anwar. Ia seorang manajer. Ia terbiasa memecahkan masalah dengan logika. Ia tidak akan membiarkan satu foto membuatnya kehilangan akal sehat.Dan malam ini, Maya punya masalah yang lebih nyata untuk diselesaikan.Bima menyambut Maya di ruang tengah.Ia berdiri dari sofa begitu mendengar pintu terbuka, dan wajahnya berubah seperti anak kecil yang menunggu hukuman. Kemejanya sudah berganti kaus rumah, rambutnya agak basah, dan di meja ada dua cangkir teh yang masih mengepul."Kamu pulang," katanya."Aku bilang akan pulang cepat.""Iya. Aku cuma..." Ia menggaruk tengkuknya. "Aku takut kamu nggak jadi."Maya ingin tetap kaku. Ia sudah melatih ekspresi itu sepanjang perjalanan, wajah datar, nada bicara dingin. Tapi meliha

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Teman Arka

    Siska tidak percaya hantu.Itu prinsip hidupnya sejak kecil. Neneknya di kampung dulu sering bercerita tentang pocong di pohon asam dan genderuwo di kebun pisang, tapi Siska hanya mengangguk sambil mengunyah kerupuk. Ia lebih percaya pada hal-hal yang bisa dihitung: gaji bulanan, tabungan untuk modal toko kue, dan jam tidur anak-anak yang ia asuh.Anak kecil punya imajinasi liar. Itu saja.Itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri sore ini, ketika ia berdiri diam di ujung koridor lantai atas, memandangi punggung kecil Arka yang duduk di anak tangga paling atas.Tadi ia hanya berniat mengambil handuk di lemari. Ia sudah meninggalkan Arka bermain mobil-mobilan di ruang keluarga selama kurang dari lima menit. Tapi saat kembali, ruang keluarga kosong, dan mainannya berserakan di lantai.Ia menemukan Arka di tangga.Anak itu duduk bersila membelakanginya, menghadap ke bawah, ke arah ruang tamu yang remang. Boneka kelinci lusuhnya terjepit di ketiak. Dan ia sedang berbicara."...nggak bol

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Harga yang Terlalu Murah

    Maya memarkir mobil di depan gerbang perumahan, mematikan mesin, dan tidak turun.Sudah lima menit ia duduk di sini. Jam di dashboard menunjukkan 17.42. Seharusnya ia sudah di rumah. Kemarin ia berjanji pada Bima, malam ini aku pulang cepat, kita bicara lagi. Tapi begitu mobilnya mendekati gerbang, tangannya seperti kehilangan tenaga.Ia menatap jalan yang membentang di depannya.Kompleks ini sebenarnya cantik. Pohon-pohon trembesi di kiri-kanan jalan, taman kecil di sudut blok, rumah-rumah bergaya minimalis dengan pagar rendah. Bima langsung jatuh cinta waktu pertama kali melihatnya. Maya juga.Dua bulan yang lalu.Ia menyandarkan kepala di jok dan memejamkan mata."Ini rumahnya, Bu Maya. Silakan, silakan."Pak Anwar, makelar yang ditunjukkan teman kantor Bima, berjalan di depan mereka sambil mengayun-ayunkan kunci. Orangnya sekitar lima puluhan, gemuk, berkeringat meski udara sore itu sejuk. Ia terus mengelap dahinya dengan saputangan kotak-kotak.Rumah itu berdiri di ujung jalan bu

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Lelah yang Aneh

    Bima terbangun dengan perasaan yang tidak masuk akal.Ia merasa bahagia.Padahal semalam ia membentak istrinya untuk pertama kali dalam sepuluh tahun. Padahal anak bungsunya baru saja mengucapkan kalimat yang membuat seluruh kamar membeku. Padahal Maya akhirnya tidur di kamar Arka sambil memeluk anak itu, meninggalkan Bima sendirian di ranjang besar yang dingin.Seharusnya ia terbangun dengan kepala berat dan dada sesak.Tapi tubuhnya terasa ringan. Hangat. Seperti baru dipeluk lama oleh seseorang yang sangat menyayanginya.Ia berbaring diam menatap langit-langit, mencoba memahami perasaan itu. Tidak ada mimpi yang bisa ia ingat. Hanya sisa-sisa sesuatu yang lembut, seperti telapak tangan di pipinya, suara bisikan di telinganya, dan satu kalimat yang tersangkut di ujung ingatan.Tidurlah, Mas. Aku di sini.Bima mengerjap.Itu bukan suara Maya.Ia buru-buru duduk. Sprei di sisi Maya rapi, tidak tersentuh. Jam di nakas menunjukkan 06.12. Dari lantai bawah terdengar bunyi sendok beradu d

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status